Tampilkan postingan dengan label Sholat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholat. Tampilkan semua postingan

31/03/13

Tidak Tuma'ninah dalam Sholat

“Sejahat-jahat pencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya, mereka bertanya : “ bagaimana ia mencuri dalam shalatnya? Beliau menjawab : (Ia) tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya [Hadits riwayat Imam Ahmad, 5 / 310 dan dalam Shahihul jami’ hadits no : 997]
Di antara kejahatan pencurian terbesar adalah pencurian dalam shalat. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :.
“Sejahat-jahat pencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya, mereka bertanya : “ bagaimana ia mencuri dalam shalatnya? Beliau menjawab : (Ia) tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya [Hadits riwayat Imam Ahmad, 5 / 310 dan dalam Shahihul jami’ hadits no : 997]
Thuma’ninah adalah diam beberapa saat setelah tenangnya anggota-anggota badan. Para Ulama memberi batasan minimal dengan lama waktu yang diperlukan ketika membaca tasbih. Lihat fiqhus sunnah, sayyid sabiq : 1/ 124 (pent)
Meninggalkan  Thuma’ninah, tidak meluruskan dan mendiamkan punggung sesaat ketika ruku’ dan sujud, tidak tegak ketika bangkit dari ruku’ serta ketika duduk antara dua sujud, semuanya merupakan kebiasaan yang sering dilakukan oleh sebagian besar kaum muslimin. Bahkan hampir bisa dikatakan, tak ada satu masjid pun kecuali di dalamnya terdapat orang-orang yang tidak thuma’ninah dalam shalatnya.
Thuma’ninah adalah rukun shalat, tanpa melakukannya shalat menjadi tidak sah. Ini sungguh persoalan yang sangat serius. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
“Tidak sah shalat seseorang, sehingga ia menegakkan (meluruskan) punggungnya ketika ruku’ dan sujud “ (HR. Abu Dawud : 1/ 533, dalam shahih jami’ hadits No :7224)
Tak diragukan lagi, ini suatu kemungkaran, pelakunya harus dicegah dan diperingatkan akan ancamannya.
Abu Abdillah Al Asy’ari berkata : “ (suatu ketika) Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam shalat bersama shahabatnya kemudian Beliau duduk bersama sekelompok dari mereka. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk dan berdiri menunaikan shalat. Orang itu ruku’ lalu sujud dengan cara mematuk, maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam barsabda :
“Apakah kalian menyaksikan orang ini ? barang siapa meninggal dalam keadaan seperti ini (shalatnya) maka dia meninggal dalam keadaan di luar agama Muhammad. Ia mematuk dalam shalatnya sebagaiman burung gagak mematuk darah. Sesungguhnya perumpamaan orang yang shalat dan mematuk dalam sujudnya bagaikan orang lapar yang tidak makan kecuali sebutir atau dua butir kurma, bagaimana ia bisa merasa cukup (kenyang) dengannya. [Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya : 1/ 332, lihat pula shifatus shalatin Nabi, Oleh Al Albani hal : 131]
Sujud dengan cara mematuk maksudnya : sujud dengan cara tidak menempelkan hidung dengan lantai, dengan kata lain, sujud itu tidak sempurna, sujud yang sempurna adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas bahwasanya ia mendengar Nabi Shallallahu’alaihi wasallam besabda : “jika seseorang hamba sujud maka ia sujud denga tujuh anggota badan (nya), wajah, dua telapak tangan, dua lutut dan dua telapak kakinya”. [HR Jamaah, kecuali Bukhari, lihat fiqhus sunnah, sayyid sabiq : 1/ 124]
Zaid bin wahb berkata : Hudzaifah pernah melihat seorang laki-laki tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, ia lalu berkata : kamu belum shalat, seandainya engkau mati (dengan membawa shalat seperti ini) niscaya engkau mati di luar fitrah (Islam )yang sesuai dengan fitrah diciptakannya Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam.
Orang yang tidak thuma’ninah dalam shalat, sedang ia mengetahui hukumnya, maka wajib baginya mengulangi shalatnya seketika dan bertaubat atas shalat-shalat yang dia lakukan tanpa thuma’ninah pada masa-masa lalu. Ia tidak wajib mengulangi shalat-shalatnya di masa lalu, berdasarkan hadits :
“Kembalilah, dan shalatlah, sesungguhnya engkau belum shalat.

06/02/13

Ketahuilah Hal Mengenai Rabu Wekasan


"Maka barang siapa yang sholat empat reka’at dan di setiap raka’at dia menbaca al fatihah 1x, al kautsar 17x, al ikhlash 5x, dan falaq-an’naas masing-masing 1x, kemudian setelah salam dia menbaca do’a di bawah ini maka ALLOH s.w.t menjaganya dengan karamNya dari segala bencana yang turun di hari itu, sedikitpun dia tak akan pernah tersentuh dari bencana itu sampai akhir tahun."

sebagian ahli ma’rifat dari ahli kasyf, dan tamkiin, bahwasannya di tiap tahun Alloh s.w.t menurunkan 320000 bencana, dan itu terjadi di hari rabu terakhir dari bulan sofar, maka dari itu hari ini adalah hari terberat dalam setahun.

Maka barang siapa yang sholat empat reka’at dan di setiap raka’at dia menbaca al fatihah 1x, al kautsar 17x, al ikhlash 5x, dan falaq-an’naas masing-masing 1x, kemudian setelah salam dia menbaca do’a di bawah ini maka ALLOH s.w.t menjaganya dengan karamNya dari segala bencana yang turun di hari itu, sedikitpun dia tak akan pernah tersentuh dari bencana itu sampai akhir tahun, inilah doanya:

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم يا شديد القوي ويا شديد المحال يا عزيز ذللت بعزتك جميع خلقك اكفني من جميع خلقك يا محسن يا مجمل يا متفضل يا منعم يا مكرم يا من لا إله إلا أنت برحمتك يا أرحم الراحمين

اللهم بسر الحسن وأخيه وجده وأبيه اكفني شر هذا اليوم وما ينزل فيه يا كافي فسيكفيكم الله وهو السميع العليم وحسبنا الله ونعم الوكيل ولا حول ولا قوة ولا قوة إلا بالله العلي العظيم وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما

اللهم إني أعوذ بك من شر هذا الشهر ومن كل شدة وبلاء وبلية التي قدرت فيه يا دهري يا ديهور يا نيهار يا كان يا كينون يا كينان يا أبدي يا دهري يا معيد يا ذا العرش المجيد أنت تفعل ما تريد اللهم احرس نفسي وأهلي ومالي وأولائي ودنياي التي ابتليتني بصحبتها بحرمة الأبرار بحرمتك يا عزيز يا غفار يا كريم يا ستار

Diriwayatkan barang siapa yang sholat seperti disebutkan di atas, dan berdoa seperti doa diatas, lalu kemudian menuliskan beberapa ayat di bawah ini dan meleburkannya di air dan meminumnya maka dia akan aman dari balak yang turun di hari ini, ayat itu adalah:

سلام قولا من رب رحيم
سلام على نوح في العالمين إنا كذلك نجزى المحسنين
سلام على إبراهيم إنا كذلك نجزى المحسنين
سلام على موسى وهارون إنا كذلك نجزى المحسنين
سلام على آل يا سين إنا كذلك نجزى المحسنين
سلام عليكم طبتم فادخلوها خالدين
سلام هي حتى مطلع الفجر

 Diambil dari kitab Na’tul bidayaat wa tausyiifu Nihaayaat  hal: 195-195.
Ad-dayroby.

(*)Lantas apakah sholat ini bertentangan dengan apa yang di unngkapkan oleh sebagian fuqoha’ ?seperti as syaikh zainuddin al malaybari dalam irsyadul ‘ibad beliau berkata:”{bahwa sholat rogho’ib di nisfu sya’ban adalah bid’ah dan semisalnya adalah shlat di bulan shofar, maka dari itu sekehendaknya seseorang sholat nafl mutlaq tanpa terikat waktu, dan hitungan”.

Sholat ini sama sekali tidak bertentangan dengan apa yang di ungkapkan syaikh zainuddin al malaybary, dengan alasan sebagai berikut:

(1) Apa yang di khawatirkan fuqoha’ hanyalah kekuatiran terjebak dalam tasyri’ yaitu sangkaan bahwa sholat di hari rabu shofar ini di i’tikadi sebagai sebuah kewajiban, sebagaimana apa yang dilakukan Rasulullah s.a.w tentang sholat terawih, Rasulullah s.a.w bersabda: “aku khawatir sholat tarawih akan di wajibkan pada kalian”. (sunan al kabiir al Bayhaqy- mu’jam awsath at-Thobrony).  dan Rasulullah s.a.w bersabda :”barang siapa beribadah di bulan Ramadan dengan iman, dan mengharap pahala dari Alloh s.w.t maka diampuni baginya dosa yang telah lalu”. (sahih al bukhory- al Bayhaqi).
dari dua hadits diatas kita dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa Rasulullah s.a.w berhenti dari tarawih scr berjama’ah karna khawatir diwajibkannya tarawih itu sendiri, di sisi lain Rasulullah s.a.w menberikan motifasi scr mutlaq tanpa tafsil kpd siapapun yang menghidupkan Ramadhan akan mendapatkan ampunan, bahkan tidak pernah diriwayatkan Rasulloh s.a.w melarang sahabatNya dalam beribadah dalam bentuk tertentu. Ini merujuk kepada kaidah:”tarkul istifsool fi waqo’iul ahwal yunazzalu manzilatal ‘umuum fil maqool” (ghoyatul wushul- hasyiah at-turmusyi).

(2) Apa yang di katakan para ahli ma’rifat, kasyf, dan sufy dengan :”barang siapa yang sholat empat raka’at”. Adalah sangat tidak bertentangan dengan fuqoha’ karena, sholat ini adalah sholat bukan dzatul waqt-bukan dzaatu sabab- bahkan sholat ini mujarrod terwujudkannya dzatul fi’l, yang bisa diwujudkan dalam sholat fardhu, sholat qoblital-ba’diyatal dzuhur, maupun sholat ba;diyatal dzuhur, maupun sholat mutlaq biasa. Bahkan mengenai hal ini kita seharusnya bisa mengaca pada sholat tahiyatal masjid, tahiyatal masjid adalah sholat yang yang mujarrod fi’l yang dapat dirupakan dlam sholat fardu-rawatib-maupun sholat yang lain (an-nihayah- at tuhfah- hasyiah asyarwani), dengan tanpa lupa ada khilaf disana. Atau sholat setelah wudhu’.

(3) niat tolak bala’ adalah niat tambahan yang tanpa menberikan pengaruh apapun dalam sholat itu sendiri, bahkan satupun fuqoha tidak ada yang melarang seorang yang sholat dzuhur dengan niat” usholli fardho dhuhry arba’a raka’ati fardon liLlaahi ta’ala untuk tolak balak dari neraka”.

(4) Tentang takhsish di hari rabu terakhir, seharusnya kita dpt mengaca pada taksish dr puasa ‘asyuro’, bahkan terlebih lagi bila kita melihat tentang puasa hari kelahiran, sebagaimana Rasulullah s.a.w mentakhsishkan  hari senin dengan puasa karena hari itu adalah hari kelahiran Beliau. Memang hari senin semua ummat Muahammad ikut kesunahan, lantas apakah kita juga boleh menentukan hari rabu atau yg lain karna itu adalah hari kelahiran kita? dalam hal ini tidak ada satupun ulama yang melarang karna unsur sabda Rasulullah s.a.w tentang hari senin :”hari itu karena Aku dilahirkan”, na’am akan tetapi takhsish hari ini tentunya mengecualikan takhsish hari jum’at/menyendirikan puasa di hari jum’at karena itu adalah makruh, namun makruhnya disinipun tidak menjadi penghalang ke absahan puasa scr munfarid di hari rabu.

(5) Sholat di hari rabu ini adalah sesuatu yang ‘’matruk ‘anhu”, apa-apa yang tidak dijalankan oleh Rasulullah s.a.w, namun apakah “at-Tark” adalah sebuah dalil, sehingga kita bisa mengatakan sholat ini adalah haram/wajib..??

Secara tegas “tark” bukanlah sebuah dalil, segala permasalah “at-tark” akan merujuk kepada “qowaid ‘ammah” yang menimbang antara maslahat dan mafsadah, hal ini sebagaimana di riwayatkan dalam hadits al bazzar dari abi darda’:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما أحل الله في كتابه فهو حلال وما حرم فهو حرام وما سكت عنه فهو عفو فاقبلوا من الله عافيته فإن الله لم يكن لينسى شيئا، ثم تلا "وما كان ربك نسيا" مريم :64

Intinya sholat ini adalah al matruk ‘anhu, dan semua al matruk ‘anhu adalah jaaozu at-tark sedangkan jaaizu at-tark laysa biwaajib, maka dari itu kita tidak perlu mengolok-olok yang tidak menjalankan sholat, tidak lupa sholat ini masuk qowa’id amah, maka dari itu kita juga menyalahkan dan mengolok oaring yang mnejalankannya.

(6) lantas bagaimana dengan kaidah “al ashlu fil ‘ibaadah at-tahriim”(asal sebuah  ibadah adalah haram -hingga ada perintah)...???
Jawabnya adalah:”kaidah ini punya objek yang tertentu, dan yang dimaksud adalah sgl ibadah yang tidak ada dalil secara khos maupun ikut dalam dalil ‘ammah” –kama sabaq.

Lantas bila ditelisik, siapakah yang mencetuskan sunnahnya sholat dua raka’at sblm muslim di bunuh? Jawabnya adalah HUBAIB.r.a, Dan siapakah yang menbuat sholat setelah wudhu? Jawabnya adalah BILAL r.a, dan siapakah yang pertama kali menbuat wirid didalam sholat ketika i’tidaal..? jawabny adalah salah satu orang Sahabat Rasulullah s.a.w.

Kalo kita pikir-pikir, bukankah Rasulullah s,a.w adalah sebagai penerjemah Alloh s.w.t? di tanganNya sgl sesuatu tentang syari’at.....lantas bagaiman mungkin para sahabat itu menbuat sholat dan MENTAKHSISH sholat pada waktu tertentu dan menambahkan perkara dalam sholat tanpa seizin Rasulullah s.a.w..???? bukankah sebid’ah-bid’ahnya perkara adalah perkara  yang di buat bid’ah pada zaman dimana pencetusnya bisa langsung menanyakannya kepada SHOHIBU SYARI’AT...??

Jawabnya adalah: karena para Sahabat r.a tahu dan faham benar akan kaidah ini.

(Qultu):”berangkat dari sini munkin HUJJATUL ISLAM MUHAMMAD AL GHOZZALY mengatakan sholat ar roghoib adalah masyru’, begitu juga imam yang sependapat sprti SHOHIBU QUUTUL QULUUB”.

Lantas bagaimana dengan syaikh zainuddin al malaybary? WALLOHU A’LAM BI AS-SHOWAAB, sebagaimana IMAM MALIK r.a. berkata:” setiap orang kalamuhu yu’khodzu wa yutroku kecuali SHOHIBU HAADZAL QOBR (RASULULLAH S.A.W).

Wallohu a’lam.

22/04/11

Rasanya Ngutang Kalau Nggak Sholat..........

oleh Ahmad Fauzan Zaend pada 04 April 2010 jam 14:18
(Di salin Dari Facebook Lama "zanskiey@hotmail.com")

Nada suaranya besar. Barangkali dua rumah di kiri dan kanan rumah saya bisa mendengarkan kata-kata pria ini ketika ngomong. Memang sih artikulasinya tidak sekinclong para pemain teater ketika pentas di atas panggung. Lebih dari itu, ia cukup talkactive. Ketika saya menanyakan satu pertanyaan, pria ini akan menjawab minimal tiga jawaban.

Nama pria ini Durhadi. Pria kelahiran Cirebon, Jawa Barat ini adalah tukang service payung keliling. Namanya tukang, sudah pasti fisiknya tidak seindah majikan. Hitam kelam, karena tersengat matahari. Bau badannya menyengat, karena keringat yang menempel di t-shirt-nya kering dipakai.

Namun ada yang membuat saya respek pada ayah tiga anak ini. Ia tidak pernah absen sholat lima waktu dengan alasan apapun. Tidak heran, ketika saya izin meninggalkannya untuk sholat dzuhur, ia pun mengaku ingin sholat.

“Sholat di rumah saya aja, Pak,” ajak saya. “Nggak apa-apa. Sholat dulu, baru benerin payung. Nanti saya siapkan sajadahnya.”

“Ah, enggak, Pak. Makasih,” ucap pak Durhadi. “Nanti saya sholat di musholla aja.”

Sungguh luar biasa pak Durhadi ini. Kenapa luar biasa? Bukankah sholat itu memang wajib hukumnya? Memang, tetapi nggak semua orang Islam melakukan kewajiban utama ini. Namun dalam kondisi serba kekurangan, pak Dulhadi masih menjalankan kewajiban sholat.

Saya berani jamin, nggak semua orang miskin kayak pak Durhadi masih ingat sholat. Boro-boro ingat sholat, ingat Allah aja belum tentu. Kalo itu kejadiannya, saya cuma bisa menyebut: Astagfirullah!

Nggak cuma orang yang serba kekurangan yang malas untuk sholat. Mereka yang sebetulnya berpendidikan tinggi, berasal dari keluarga baik-baik, sehat wal afiat, dan tentu saja punya otak, malas sholat. Mereka lebih peduli meng-update status Facebook-nya, atau membalas e-mail. Yang paling menyebalkan, ketika adzan berkumandang, orang-orang yang cuek akan panggilan Allah ini lebih suka meng-update Twitter atau merespon update status Twitter orang. Dasar!

Jauh beda dengan pak Durhadi. Berbicara dengan pria ini bikin merinding. Bayangkan, sebagai tukang service payung keliling, ia nggak selalu dapat pelanggan. Kalo nggak dapat pelanggan artinya ia nggak dapat rezeki. Meski nggak dapat rezeki, ia tetap sabar dan nggak lupa sholat. Nggak ada kata mengeluh.

“Saya paling sedikit dapat limaribu per hari, Pak,” jelas pak Durhadi. “Paling besar 50 ribu. Bahkan pernah sampai 70 ribu. Tapi itu jarang. Jarang sekali.”

Setiap hari, dari rumah kontrakannya di Sunter, Jakarta Utara, ia naik Metromini P 24 jurusan Sunter-Senen menuju ke daerah Cempaka Putih dan sekitarnya. Dari situ, ia keliling tanpa tujuan. Kalo ada rezeki, pasti ada orang yang panggil dan butuh tenaganya untuk membetulkan payung. Tapi kalo nggak ada yang panggil, ia pulang tanpa uang.

“Ya rezeki-rezekian lah, Pak. Biasanya musim hujan banyak yang butuh tenaga saya,” ujar pak Durhadi yang mengaku sudah 13 tahun menjalani profesi sebagai tukang service payung keliling. “Kalo panas kayak begini ya nggak sebanyak pada saat musim hujan.”

Dengan pendapatan yang kecil sekali, ia tetap mengirimkan uang ke istri dan anak-anaknya di kampung. Anda tahu berapa sekali kirim? Kadang Rp 200 ribu, kadang Rp 300 ribu. Sungguh miris kalo mengetahui uang hasil service payung yang dikirim ke kampung itu. Bandingkan dengan mereka yang biasa nongkrong di mal atau cafe atau yang terakhir berlomba-lomba antri untuk dapat diskon produk sepatu karet.

Itulah kenapa Allah menciptakan orang miskin, yakni agar kita bisa melihat ke ‘bawah’. Bahwa masih banyak orang lain yang jauh kurang beruntung dari kita. Masih banyak orang yang boro-boro tahu Blackberry, mikir untuk masuk ke Ancol yang menurut kita murah saja, ia pasti nggak terbayangkan. Di sinilah kita wajib bersyukur. Saat berjumpa dengan pak Durhadi inilah saya terus diingatkan tentang arti sholat.

“Rasanya saya sedih kalo ninggalin sholat,” kata pak Durhadi yang di dalam tas yang dipikulnya selaian alat untuk service, ia juga membawa sarung dan baju bersih untuk keperluan sholat. “Rasanya saya kayak punya hutang.”

Luar biasa! Kaum intelek seperti kita belum tentu berpikir, hubungan sholat dan hutang. Boro-boro mikir, sadar kalo Allah itu eksis saja masih abu-abu. Bener nggak ya Allah ada? Yakin nggak ya surga itu ada?

Kini, usia Durhadi nggak muda lagi. Namun, saya masih melihat semangat untuk berjuang dalam hidup, masih bersinar. Apalagi ia mengaku masih punya anak yang masih kecil, yang masih duduk di bangku SD di pesantren di kampungnya di Cirebon. Sementara dua anaknya sudah besar-besar.

Sebelum meninggalkan rumah saya, pak Durhadi juga bercerita bagaimana dirinya percaya pada rezeki. Saking percaya, ia tidak takut libur kerja di hari Jum’at. Sepanjang hari, khusus di hari Jum’at, ia nggak berkeliling mencari pelanggan.

“Tiap Jum’at, saya libur khusus buat beribadah,” ungkap pak Durhadi yang selama puasa di bulan Ramadhan juga nggak pernah ‘bolong’ puasanya ini. Subhannallah!

Cari Blog Ini

Halaman

Popular Posts

Advertisement

Responsive Advertisement