Tampilkan postingan dengan label aku dan kamu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aku dan kamu. Tampilkan semua postingan

17/05/12

Tertidur Hingga Melewatkan Shalat Subuh

Shalat adalah tiang agama Islam. Shalat pun tidak mempunyai dispensasi dari Allah SWT, kecuali hanya bagi wanita yang berada pada masa haid.

Bagaimanapun kondisi seseorang, ia harus tetap melaksanakan shalat selagi nyawa masih berada dalam tubuhnya. Sekalipun dalam kondisi sesibuk apa pun, sakit, bahkan dalam kondisi perang sekalipun, shalat tetap harus dilaksanakan tanpa ada dispensasi absen.
Namun, bagaimana hukumnya jika kelupaan atau tertidur? Sebagaimana banyak kasus terjadi kepada orang-orang yang tertidur pulas sampai pagi hingga melewatkan shalat Subuh.

Bukanlah orang yang tertidur atau terlupa tidak dihitung berdosa? Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW, "Diangkat qalam (pena) bagi umatku (tidak ditulis sebagai dosa) bagi mereka yang terlupa, tertidur, dan yang belum baligh berakal."

Rasulullah bersama para sahabatnya suatu kali pernah dalam kondisi demikian. Ketika rombongan kaum Muslimin kala itu kembali dari perang dan beristirahat di sebuah lembah. Mereka semua termasuk Rasulullah tertidur karena kelelahan hingga matahari telah terbit.

Abu Bakar yang pertama bangun ketika itu berteriak histeris karena terlambat menunaikan shalat Subuh. Para sahabat yang lain termasuk Rasulullah terbangun mendengar teriakan Abu Bakar tersebut. Akhirnya, mereka menunaikan shalat Subuh berjamaah yang diimami Rasulullah sendiri, walaupun matahari sudah terbit.

Demikianlah yang harus dilakukan jika tertidur atau terlupa hingga melewatkan waktu shalat. Rasulullah Saw pernah bersabda, "Siapa yang tertidur hingga melewatkan satu waktu shalat atau terlupa waktu shalat, ia harus mengerjakan shalat yang terlewatkan itu seketika ia ingat dan tidak ada sanksinya (yang lain) kecuali itu."

Setelah beliau bersabda demikian, beliau lantas membacakan ayat, "
Kerjakanlah shalat untuk mengingat- Ku." (QS. Thaha: 14). Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Seketika seorang Muslim ingat dan sadar bahwa ia sudah melewatkan shalat, maka yang harus dilakukannya adalah segera menunaikan shalat tersebut. Ia harus mengerjakannya sekalipun pada waktu- waktu terlarang untuk shalat. Ia tidak boleh menunda-nundanya lagi. Wallahua'lam.

05/01/12

Belajar Dari Wajah



 
K.H. Abdullah Gymnastiar
 

Menarik sekali jikalau kita terus menerus belajar tentang fenomena apapun yang terjadi dalam hiruk-pikuk kehidupan ini. Tidak ada salahnya kalau kita buat semacam target. Misalnya : hari ini kita belajar tentang wajah. Wajah? Ya, wajah. Karena masalah wajah bukan hanya masalah bentuknya, tapi yang utama adalah pancaran yang tersemburat dari si pemilik wajah tersebut.

Ketika pagi menyingsing, misalnya, tekadkan dalam diri : "Saya ingin tahu wajah yang paling menenteramkan hati itu seperti apa? Wajah yang paling menggelisahkan itu seperti bagaimana?" karena pastilah hari ini kita akan banyak bertemu dengan wajah orang per orang. Ya, karena setiap orang pastilah punya wajah. Wajah irtri, suami, anak, tetangga, teman sekantor, orang di perjalanan, dan lain sebagainya. Nah, ketika kita berjumpa dengan siapapun hari ini, marilah kita belajar ilmu tentang wajah.

Subhanallaah, pastilah kita akan bertemu dengan beraneka macam bentuk wajah. Dan, tiap wajah ternyata dampaknya berbeda-beda kepada kita. Ada yang menenteramkan, ada yang menyejukkan, ada yang menggelikan, ada yang menggelisahkan, dan ada pula yang menakutkan. Lho, kok menakutkan? Kenapa? Apa yang menakutkan karena bentuk hidungnya? Tentu saja tidak! Sebab ada yang hidungnya mungil tapi menenteramkan. Ada yang sorot matanya tajam menghunjam, tapi menyejukkan. Ada yang kulitnya hitam, tapi penuh wibawa.

Pernah suatu ketika berjumpa dengan seorang ulama dari Afrika di Masjidil Haram, subhanallaah, walaupun kulitnya tidak putih, tidak kuning, tetapi ketika memandang wajahnya... sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung qolbu yang paling dalam. Sungguh bagai disiram air sejuk menyegarkan di pagi hari. Ada pula seorang ulama yang tubuhnya mungil, dan diberi karunia kelumpuhan sejak kecil. Namanya Syekh Ahmad Yassin, pemimpin spiritual gerakan Intifadah, Palestina. Ia tidak punya daya, duduknya saja di atas kursi roda. Hanya kepalanya saja yang bergerak. Tapi, saat menatap wajahnya, terpancar kesejukan yang luar biasa. Padahal, beliau jauh dari ketampanan wajah sebagaimana yang dianggap rupawan dalam versi manusia. Tapi, ternyata dibalik kelumpuhannya itu beliau memendam ketenteraman batin yang begitu dahsyat, tergambar saat kita memandang sejuknya pancaran rona wajahnya.

Nah, saudaraku, kalau hari ini kita berhasil menemukan struktur wajah seseorang yang menenteramkan, maka caru tahulah kenapa dia sampai memiliki wajah yang menenteramkan seperti itu. Tentulah, benar-benar kita akan menaruh hormat. Betapa senyumannya yang tulus; pancaran wajahnya, nampak ingin sekali ia membahagiakan siapapun yang menatapnya. Dan sebaliknya, bagaimana kalau kita menatap wajah lain dengan sifat yang berlawanan; (maaf, bukan bermaksud meremehkan) ada pula yang wajahnya bengis, struktur katanya ketus, sorot matanya kejam, senyumannya sinis, dan sikapnya pun tidak ramah. Begitulah, wajah-wajah dari saudara-saudara kita yang lain, yang belum mendapat ilmu; bengis dan ketus. Dan ini pun perlu kita pelajari.

Ambillah kelebihan dari wajah yang menenteramkan, yang menyejukkan tadi menjadi bagian dari wajah kita, dan buang jauh-jauh raut wajah yang tidak ramah, tidak menenteramkan, dan yang tidak menyejukkan.

Tidak ada salahnya jika kita evalusi diri di depan cermin. Tanyalah; raut seperti apakah yang ada di wajah kita ini? Memang ada diantara hamba-hamba Allah yang bibirnya di desain agak berat ke bawah. Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. 

Subhanallaah, bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang amal bagi siapapun yang memilikinya untuk berusaha senyum ramah lebih maksimal lagi.

Sedangkan bagi wajah yang untuk seulas senyum itu sudah ada, maka tinggal meningkatkan lagi kualitas senyum tersebut, yaitu untuk lebih ikhlas lagi. Karena senyum di wajah, bukan hanya persoalan menyangkut ujung bibir saja, tapi yang utama adalah, ingin tidak kita membahagiakan orang lain? Ingin tidak kita membuat di sekitar kita tercahayai? Nabi Muhammad SAW, memberikan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang yang bertemu dengan beliau sehingga orang itu merasa puas. Kenapa puas? Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW – bila ada orang yang menyapanya – menganggap orang tersebut adalah orang yang paling utama di hadapan beliau. Sesuai kadar kemampuannya.

Walhasil, ketika Nabi SAW berbincang dengan siapapun, maka orang yang diajak berbincang ini senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang, cara bersikap, ternyata menjadi atribut kemuliaan yang beliau contohkan. Dan itu ternyata berpengaruh besar terhadap sikap dan perasaan orang yang diajak bicara.

Adapun kemuramdurjaan, ketidakenakkan, kegelisahan itu muncul ternyata diantara akibta kita belum menganggap orang yang ada dihadapan kita orang yang paling utama. Makanya, terkadang kita melihat seseorang itu hanya separuh mata, berbicara hanya separuh perhatian. Misalnya, ketika ada seseorang yang datang menghampiri, kita sapa orang itu sambil baca koran. Padahal, kalau kita sudah tidak mengutamakan orang lain, maka curahan kata-kata, cara memandang, cara bersikap, itu tidak akan punya daya sentuh. Tidak punya daya pancar yang kuat.

Orang karena itu, marilah kita berlatih diri meneliti wajah, tentu saja bukan maksud untuk meremehkan. Tapi, mengambil tauladan wajah yang baik, menghindari yang tidak baiknya, dan cari kuncinya kenapa sampai seperti itu? Lalu praktekkan dalam perilaku kita sehari-hari. Selain itu belajarlah untuk mengutamakan orang lain!

Mudah-mudahan kita dapat mengutamakan orang lain di hadapan kita, walaupun hanya beberapa menit, walaupun hanya beberapa detik, subhanallaah
Sumber: ManajenQolbu

Windowsbie7

Cari Blog Ini

Halaman

Popular Posts

Advertisement

Responsive Advertisement