Tampilkan postingan dengan label ilmu kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu kehidupan. Tampilkan semua postingan

06/03/20

Kisah Nyata Sang Windowsbie7 2015 yang Lalu - Mirip Coronavirus


Ini Kisah Nyataku: Di Balik Gejala Penyakit Langka

Jika dipelajari secara menyeluruh, gejala yang muncul pada wabah COVID-19 (Coronavirus) mengingatkan saya pada pengalaman yang pernah saya alami pada tahun 2015. Selama kurang lebih dua minggu dua hari, saya merasakan kondisi tubuh yang sangat tidak menentu, seolah-olah rasa sakit itu bercampur menjadi satu, seperti “rujak pecel” yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Gejala tersebut muncul secara bertahap. Pada hari pertama, saya mengalami demam tinggi. Hari kedua disusul flu berat. Hari ketiga tenggorokan mulai terasa sakit. Hari keempat, napas terasa semakin sesak. Memasuki hari kelima dan seterusnya, jantung saya berdegup tidak beraturan. Setelah genap satu minggu, tubuh terasa sangat lemah. Paru-paru terasa seperti berguncang, terutama ketika tersedak, bangkit dari duduk, atau berjalan. Rasa sakit semakin menjadi, bahkan untuk berbicara dengan suara lantang pun saya tidak sanggup.

Pada hari ke-10, pikiran saya dipenuhi oleh berbagai imajinasi dan angan-angan. Saya sempat berpikir, “Seandainya ada tabung oksigen, mungkin saya masih bisa berbicara dengan suara lantang.” Dalam keterbatasan itu, saya mencoba mencari cara sederhana untuk bertahan. Saya melangkah ke sumur mushala, mengambil air dengan gayung, lalu menghirup udara di sekitar air tersebut dengan penuh rasa syukur. Saya mengucap, Alhamdulillahi Allahu Akbar, karena saya masih diberi kesempatan untuk bernapas tanpa harus bergantung pada tabung oksigen. Cara sederhana ini kerap saya ulangi setiap kali napas terasa sangat sesak dan suara tak lagi mampu keluar dengan bebas. Dari sanalah saya menemukan jalan menuju pemulihan—sebuah jalan yang terasa sangat mahal dan langka.

Pada saat itu, saya sempat berpikir bahwa tidak semua orang mampu melewati kondisi seperti yang saya alami. Bisa jadi, orang lain yang mengalami gejala serupa telah jatuh dalam kondisi koma, atau bahkan tidak mampu bangkit dari keterpurukan fisik dan mental akibat penyakit langka tersebut.

Memasuki hari ke-13 hingga ke-14, kondisi saya perlahan membaik. Napas tidak lagi terlalu sesak, demam tinggi mulai mereda, dan detak jantung kembali normal seperti sedia kala. Pada hari ke-15, saya akhirnya dapat menjalani hidup secara normal tanpa rasa terpaksa maupun canggung untuk beraktivitas seperti sebelumnya.

Dari pengalaman inilah saya belajar bahwa apa pun bentuk kegelisahan dan ketakutan yang datang, termasuk ketakutan terhadap penyakit, yang perlu dilakukan adalah mencari dukungan, menggali inspirasi, serta membangun imajinasi yang menumbuhkan keberanian. Tanamkan keyakinan dalam diri bahwa “Saya tidak boleh takut untuk hidup dan tidak boleh takut untuk mati.” Yakinlah bahwa setiap ujian adalah kesempatan untuk bangkit dari kegelisahan akal dan keterpurukan mental.

Bagi mereka yang masih terfokus pada penimbunan masker, cobalah sejenak berimajinasi: bagaimana menciptakan masker kesehatan yang alami, bersih, dan bebas dari jejak kontak fisik. Bagi oknum penjual masker dengan harga yang tidak wajar, renungkanlah apakah di hari esok atau lusa masih ada orang yang mau membantu kita tetap tegar menjalani hidup tanpa praktik riba. Bagi tenaga kesehatan yang memegang sarung tangan dan stetoskop, ingatlah bahwa kesehatan memang mahal, tetapi tidak seharusnya membedakan pasien berdasarkan kelas ekonomi maupun status sosial.

Dan bagi sahabat yang tetap berfokus pada kesehatan, tetaplah tenang dan tidak perlu gelisah berlebihan. Jagalah kebersihan, tetapi jangan mudah termakan isu. Ingatlah bahwa di dalam tubuh kita terdapat mikroba baik dan mikroba yang tidak baik, yang hidup berdampingan sebagai bagian dari sistem alami manusia.

Salam berbagi,
Ini Kisah Nyataku: Di Balik Gejala Penyakit Langka


#TentangAku #CeritaFakta #BukanHoaks #PenyakitLangka #IniKisahNyatakuManaKisahNyatamu

Dikirim oleh Ahmad Fauzan pada Jumat, 06 Maret 2020
Klik Gambar dan Perbesar

03/02/13

3 Hal Yang Menghidupkan Renungan Kita

Mari kita merenung sejenak, bagaimana perasaan kita ketika melihat tanah gersang tanpa tanaman? Mungkin hati akan bergetar dan bertanya, siapa pemilik tanah tersebut? Mengapa tanah itu dibiarkan kering dan mati? Semua orang ketika melihat tanah seperti itu umumnya merasa tidak nyaman. Boleh jadi akan muncul keinginan untuk menghidupkan tanah tersebut dengan cara menanaminya hingga tampak hijau. Keinginan tersebut merupakan fitrah Rabbaniyah yang ada dalam setiap manusia.

Fitrah tersebut, misalnya, bisa dilihat dari menggeloranya gerakan “Go Green”, sebuah gerakan yang mengajak setiap manusia untuk menanam pohon demi kelestarian bumi. Gerakan ini mendapat sambutan luar biasa dari seluruh penjuru dunia. Mereka menyambutnya karena memang gerakan itu sesuai dengan dorongan hati mereka.

Kebutuhan terhadap kelestarian bumi di masa mendatang, dan rasa khawatir akan dampak negatif kerusakannya, telah menggerakkan mereka untuk berupaya menyuburkan bumi.
Hanya saja tujuan mereka semata-mata demi kepentingan duniawi. Ini berbeda dengan orang-orang yang beriman. Motivasi kaum mukmin yang ikut menggelorakan gerakan tersebut jauh dari sekedar dorongan hati. Motivasi orang yang beriman adalah lillahi ta’ala, sementara tujuannya adalah mendapatkan ridha-Nya. Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dahulu, beliau tinggal di tanah kering berbatuan, baik di Makkah maupun di Madinah. Namun, beliau tidak pernah putus asa menghidupkan tanah yang mati. Di antara bebatuan, ketika didapati tanah yang bisa ditanami, apalagi di tanah yang subur, beliau gemar bertanam.

Beliau juga menganjurkan, bahkan tak jarang memerintahkan, para Sahabat untuk menanam pohon. Beliau bersabda, “Tidaklah seorang Muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman lalu tanaman tersebut dimakan oleh oleh manusia, binatang melata atau sesuatu yang lain kecuali hal itu bernilai sedekah untuknya,” (Riwayat Muslim).

Dalam kesempatan lain beliau berkata, “Jika tiba hari kiamat sedang pada tangan dari kalian ada bibit pohon kurma maka tanamlah,” (Riwayat Ahmad)’

“Menghidupkan” Manusia 
Jika terhadap tanah yang mati, seorang Muslim terpanggil untuk menghidupkannya, apalagi terhadap sesama manusia. Jika ada orang yang sedang sakit, selalu ada dorongan kuat dalam diri kita untuk “menghidupkan” kesehatannya kembali dengan cara mengobati dan menghiburnya.

Dalam dunia pengobatan itu sendiri, selalu ada usaha yang serius dari waktu ke waktu untuk mempelajari berbagai jenis penyakit dan mencarikan obatnya. Ada sekolah kedokteran, lembaga kesehatan, klinik, rumah sakit, dan apotik yang didirikan untuk membantu menyembuhkan orang yang sakit.

Fitrah Rabbaniyah itulah yang menyebabkan kita selalu bersimpati saat menyaksikan orang yang sakit, kita berempati kepada keluarga yang telah ditinggal mati, dan kita sendiri memelihara kesehatan, berdoa agar diberi kesembuhan, dan tidak putus asa untuk berobat.

Semua ini menunjukkan bahwa ada dorongan terpendam dalam diri setiap manusia untuk menghidupkan segala yang mati. Apalagi secara syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menegaskan, Barangsiapa yang menghidupkan seorang manusia, maka seolah-olah mereka telah menghidupkan seluruh manusia. (Al Maidah [5]: 32)

Menghidupkan Hati
“Menghidupkan” manusia tak sekadar dari sisi biologisnya, seperti pemulihan kesehatan atau pembebasan dari belenggu perbudakan, namun juga menghidupkan hati manusia. Mengapa? Karena banyak manusia yang hatinya sakit atau bahkan telah lama mati.

Masalahnya, banyak orang yang tidak sadar bahwa hatinya sedang sakit atau mati. Mereka bahkan marah atau tersinggung bila dikatakan hatinya mati. Kitalah yang berkewajiban membantu saudara-saudara kita yang hatinya seperti itu.

Hati yang sakit atau mati ditandai dengan hilangnya nurani kebaikan pada saat melakukan keburukan. Misalnya, ketika berbuat kecurangan tidak ada penyesalan, bahkan malah sebaliknya, bangga dengan kecurangan tersebut, dan mengumbar-umbarnya kepada orang lain.

Coba tengok penampilan para artis di televisi. Mereka berlomba-lomba memperlihatkan aurat dan merasa bangga dengan semua itu. Bahkan, yang lebih parah, sebagian dari mereka sengaja merekam adegan tak pantas sekadar untuk koleksi pribadi. Ketika rekama adegan tersebut tersebar di publik, mereka tak merasa malu, apalagi bersalah dan menyesal. Hati mereka betul-betul telah sakit.

Karena menghidupkan hati adalah kebutuhan mutlak saat ini maka dakwah tak boleh semata-mata berdimensi pengajaran (ta’limah). Dakwah harus menyentuh hal yang sangat mendasar, yaitu pembersihan penyakit hati (tazkiyah). Bahkan, dimensi tazkiyah ini dalam banyak hal harus lebih didahulukan dari pada pengajaran. Allah Ta’ala berfirman,Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan (tazkiyah) mereka dan mengajarkan (ta’lim) mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). (Al Jumu’ah [62]: 2)

Mengapa tazkiyah lebih dahulu dari ta’lim? Karena bagi orang-orang yang hatinya sakit atau mati, pengajaran itu tidak ada gunanya. Ibaratnya, masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.
Yang harus dilakukan adalah membongkar kulit yang membungkus rapat-rapat hatinya. Tutup hati atau tutup otak itulah yang dibongkar terlebih dahulu, terutama yang berupa kesombongan, karena merasa lebih unggul, lebih pandai, atau lebih suci.

Menghidupkan Peradaban
Bayangkan jika orang yang hatinya sakit dan mati itu berkumpul dalam suatu komunitas, bahkan menyatu dalam sebuah lingkungan yang lebih luas. Apa yang terjadi?
Contohnya, jika sebuah negara dihuni oleh orang-orang yang tidak memiliki rasa malu, dipimpin oleh orang yang tidak memiliki mental malu, dan tidak ada undang-undang yang mengatur masalah kemaluan, apa yang terjadi?

Seperti kita saksikan saat ini, yang terjadi adalah pornografi dan porno aksi membudaya di mana-mana, pelacuran dan perjudian marak, seks bebas menjadi kebiasaan. Akibatnya sangat mengenaskan: ribuan anak lahir tanpa mengetahui siapa bapaknya, ribuan gadis hamil di luar nikah, aborsi menjadi halal, penyakit seksual berjangkit di mana-mana.

Tak hanya itu, berbagai penyakit sosial juga ikut menjamur, seperti mengonsumsi minuman keras dan narkoba. Dalam keadaan seperti itu, runtuhlah peradaban manusia. Manusia tidak lagi menjadi terhormat, mulia, dan unggul, sebab perilaku mereka sudah tak ada bedanya dengan binatang ternak, bahkan lebih rendah dan lebih hina dari itu. Firman Allah Ta’ala, Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al A’raf [7]: 179)

Dalam kondisi masyarakat yang rusak seperti itu maka tampilnya segolongan umat yang tak pernah berhenti menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, menjadi sebuah keharusan.

Di tengah mati dan hancurnya peradaban itu mesti lahir kaum yang bergelar Khairu Ummah. Mereka adalah orang-orang yang memiliki dorongan kuat untuk menghidupkan peradaban dan selalu memelihara fitrahnya untuk tetap istiqamah, sekalipun jalan terjal dan licin harus dilalui.

Mereka bukanlah siapa-siapa. Mereka adalah kita sendiri, hamba-hamba-Nya yang telah dimuliakan dengan risalah Islam dan dakwah, serta fitrah Rabbaniyah.
Masalahnya, maukah kita menghidupkan fitrah itu dan dengannya kita berjuang untuk menghidupkan peradaban Rabbani di muka bumi?

18/08/12

Tahun-Tahun Terakhir Kehidupan

Dampak kemunduran dari lewatnya tahun-tahun kehidupan dapat teramati pada tubuh seseorang. Bersamaan berlalunya tahun demi tahun, tubuh, harta manusia yang paling berharga, melalui proses kemunduran yang tak dapat diubah lagi. Perubahan yang dialami seorang manusia sepanjang hidupnya disebutkan di dalam Al Quran sebagai berikut:
Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan sesudah kuat itu lemah dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa. (QS. Ar-Ruum, 30: 54)
Tahun-tahun terakhir kehidupan adalah waktu yang paling diabaikan dalam rencana masa depan seorang dewasa, kecuali di dalam proses menabung untuk pensiun hari tua yang mencemaskan. Sudah barang tentu, pada saat teramat dekat dengan kematian, orang biasanya bersikap ragu-ragu terhadap periode ini. Ketika seseorang mengajak berbincang tentang usia tua, yang lain akan merasa risau dan berusaha mengubah topik "yang tidak menyenangkan" ini secepat mungkin. Rutinitas sehari-hari juga merupakan jalan yang ampuh untuk melarikan dari memikirkan tahun-tahun kehidupan yang kemungkinan besar akan menyengsarakan ini. Jadi, hal ini dihindari hingga saatnya tak terelakkan lagi. Tak diragukan lagi, penyebab utama dari pengelakan seperti itu adalah anggapan bahwa seseorang memiliki waktu yang tak terbatas sampai kematian mendatanginya. Kesalahpahaman umum seperti ini dijelaskan di dalam Al Quran:
"Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan hingga panjanglah umur mereka." (QS. Al Anbiyaa', 21: 44)
Gagasan keliru ini seringkali membawa kepada kesedihan besar. Ini karena tak peduli berapa pun tuanya seseorang, milik nyata yang tersisa dari masa lalunya hanyalah kenangan yang teringat samar-samar. Seseorang hampir tidak ingat akan masa kanak-kanaknya. Malahan lebih sukar lagi untuk mengingat dengan tepat apa yang terjadi selama sepuluh tahun terakhir. Ambisi terbesar seorang muda, keputusan-keputusan besar, dan tujuan-tujuan yang paling ia kejar, semuanya kehilangan makna begitu dialami dan rampung. Karena itulah, menceritakan sebuah kisah hidup yang "panjang" adalah suatu upaya yang sia-sia.
Baik itu bagi seorang remaja ataupun dewasa, hal ini seharusnya mendorong manusia untuk membuat sebuah keputusan besar tentang hidupnya. Misalnya, jika Anda berumur empat puluh tahun dan berharap untuk hidup hingga pertengahan umur enam puluhan dan Anda tidak punya jaminan apa-apa sisa dua puluh lima tahun tersebut pasti akan segera berlalu secepat empat puluh tahun sebelumnya. Hal yang sama tetap terjadi walaupun hidup Anda dipanjangkan sekali, karena sisa tiga puluh atau empat puluh juga akan berlalu sebelum Anda sempat memerhatikan. Hal ini tentu saja merupakan peringatan abadi akan sifat sejati dari dunia ini. Suatu hari setiap jiwa yang hidup di muka bumi ini akan meninggalkan dunia ini dan tidak ada kata kembali.
Oleh karena itu, manusia hendaknya mengesampingkan prasangkanya dan lebih realistik tentang hidupnya. Waktu berlalu sangat cepatnya dan setiap hari menyebabkan makin lemahnya fisik berkurangnya ingatan, bukannya dinamisme yang lebih segar dan sosok yang lebih muda. Singkatnya, menjadi tua adalah perwujudan dari ketidakmampuan manusia mengendalikan tubuh, hidup dan nasibnya sendiri. Efek waktu yang merugikan terhadap tubuh terlihat selama periode ini. Allah menjelaskan kepada kita tentang hal ini dalam ayat berikut:
Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa. (QS. An-Nahl, 16: 70)
Dalam kedokteran, usia lanjut juga disebut "masa kanak-kanak kedua". Oleh sebab itu, selama tahap kehidupan akhir ini, orang-orang tua seperti anak-anak, membutuhkan perawatan, karena fungsi-fungsi tubuh dan mental mereka telah mengalami perubahan-perubahan tertentu.
Begitu seseorang menjadi tua, berbagai karakteristik fisik dan kejiwaan menjadi semakin jelas. Orang-orang tua gagal melakukan banyak tugas yang berhubungan dengan kekuatan fisik. Perubahan penilaian, pemikiran yang berkurang, kesulitan berjalan, menjaga keseimbangan dan pembicaraan, berbagai kesukaran, memori yang berkurang dan kehilangan memori secara perlahan-lahan, dan perubahan suasana hati dan tingkah laku hanyalah beberapa gejala penyakit yang umum diderita pada usia tua.
Pendeknya, setelah periode tertentu, manusia sering mengalami kemunduran ke keadaan ketergantungan kanak-kanak baik secara fisik maupun mental.
Kehidupan berawal dan berakhir dalam keadaan kanak-kanak. Hal ini jelas bukan suatu proses acak. Mungkin saja seseorang tetap muda sampai ia mati. Namun Allah mengingatkan manusia tentang sifat fana dunia ini dengan membuat kualitas hidupnya memburuk pada tahapan tertentu dalam kehidupan. Proses ini bekerja sebagai pengingat yang jelas bahwa hidup terus mendekati akhirnya. Allah menjelaskan ini di dalam ayat berikut:
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (QS. Al Hajj, 22: 5)
Berbagai Masalah Fisik yang Berkaitan dengan Umur
Tak peduli betapa pun banyaknya uang yang Anda miliki atau betapa pun sehatnya Anda, setiap orang pada akhirnya menghadapi ketidak-mampuan dan berbagai komplikasi lain yang berkaitan dengan umur, sebagiannya dijelaskan di bawah ini:
Kulit merupakan faktor penting yang menentukan penampilan seseorang. Kulit adalah bagian mendasar dari kecantikan. Jika beberapa milimeter persegi saja jaringan dibuang, tak bisa tidak akan tampak gambaran yang mengganggu bagi pecinta keindahan. Ini karena kulit —selain melindungi tubuh dari ancaman luar — juga memberi tubuh penampilan yang halus dan estetis. Tak diragukan, ini adalah fungsi penting kulit. Bagaimanapun, jika seseorang menganggap dirinya cantik, adalah karena tubuhnya dilapisi kulit, potongan daging yang total beratnya sekitar dua seperempat kilogram. Namun yang mengherankan, hanya inilah organ tubuh yang menampakkan kerusakan ketika seseorang menua.
Jeanne Clement (Gambar atas) , wanita Prancis tertua. Terdapat rentang waktu seabad antara kedua foto ini.

Naty Revuelta (Gambar tengah), di masa muda dan usia tua.

Setiap orang mengalami perubahan yang tampak pada gambar-gambar ini. Proses penuaan merupakan bukti yang paling nyata bahwa kita tinggal di dunia yang sementara. Manusia datang ke dunia ini, tumbuh dewasa dan tua, lalu mati. Namun, hanya tubuh yang mengalami proses tak terelakkan ini. Sedangkan ruh, hidup selamanya.
Begitu seseorang menua, kulit kehilangan struktur elastisnya karena protein-protein struktural yang membentuk "kerangka" dari lapisan dasar kulit menjadi sensitif dan lemah. Karena inilah di wajah muncul keriput dan garis, mimpi buruk bagi banyak orang. Fungsi kelenjar-kelenjar minyak di lapisan atas kulit melambat, mengakibatkan kekeringan yang akut. Perlahan-lahan, tubuh terkena pengaruh-pengaruh luar karena permeabilitas kulit meningkat. Akibat proses ini, orang-orang lanjut usia menderita ketidakteraturan tidur yang berat, luka-luka luaran, dan rasa gatal yang disebut "rasa gatal usia tua". Begitu pula, kerusakan terjadi pada lapisan-lapisan dasar kulit. Penggantian jaringan kulit dan mekanisme pertukaran zat gagal berfungsi, menyediakan landasan untuk tumbuhnya tumor.
Kekuatan tulang juga sangat penting bagi tubuh manusia. Berbagai upaya untuk memperoleh postur tubuh yang tegak jarang berhasil bagi orang tua, namun jauh lebih mudah bagi orang muda. Saat seseorang berjalan dengan postur membungkuk, hilanglah keangkuhannya, menunjukkan bahwa ia tidak lagi berdaya mengontrol tubuhnya sendiri. Karenanya, ini juga merupakan hilangnya "keanggunan" seseorang.
Yang dipegang wanita tua ini adalah potret
dirinya di waktu muda
Gejala-gejala penuaan tak terbatas pada ini saja. Orang-orang lanjut usia lebih gampang mengalami kehilangan rasa karena sel-sel saraf berhenti memperbarui diri setelah usia tertentu. Orang-orang lanjut usia menderita disorientasi ruang karena melemahnya respon mata yang terhadap intensitas cahaya. Hal ini sangat penting karena membuat terbatasnya penglihatan: kecemerlangan warna, posisi dan dimensi objek-objek menjadi kabur. Tak diragukan, ini adalah situasi sulit yang harus dihadapi para lanjut usia.
Manusia mungkin saja tidak akan pernah mengalami kerusakan fisik akibat penuaan: dia mungkin saja tumbuh makin kuat dan sehat seiring dengan bertambahnya usia. Walau kita tidak lazim dengan model demikian, hidup yang lebih lama mungkin menawarkan berbagai kesempatan yang tak terduga bagi kehidupan yang penuh secara personal dan sosial. Waktu mungkin telah memperbaiki kualitas hidup, membuatnya jauh lebih menyenangkan daripada sebelumnya. Namun, sistem yang ditakdirkan sebagai yang terbaik bagi manusia adalah yang berdasarkan pada menurunnya kualitas hidup begitu seseorang semakin tua.
Inilah satu lagi bukti dari sifat fana dunia ini. Allah berulang kali mengingatkan kita tentang fakta ini di dalam Al Quran dan menyuruh orang-orang yang beriman memikirkannya:
Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai perhiasannya, dan pemilik-pemilik-nya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan kepada orang-orang berfikir. (QS. Yunus, 10: 24)
Setelah suatu periode hidup di mana manusia menganggap dirinya kuat secara fisik dan mental dan memandang seluruh dunia dari sudut pandangnya sendiri, dia tiba-tiba melalui suatu masa di mana dia kehilangan banyak hal yang sebelumnya ia nikmati. Proses ini tak terelakkan dan tak dapat diubah. Ini tak lain karena Allah menciptakan dunia ini sebagai tempat sementara untuk hidup dan membuatnya tidak sempurna sebagai pengingat akan Hari Akhir.
Pelajaran yang Ditarik dari Usia Lanjut Para Pesohor
Menjadi tua tak dapat dielakkan. Tidak seorang pun, tanpa kecuali, dapat menghindarinya. Namun, mengamati bagaimana para pesohor menjadi tua mempunyai pengaruh yang lebih dalam bagi kita karena kemunduran fisik mereka dapat diamati secara terbuka. Menyaksikan penuaan dari orang-orang yang terkenal karena kemasyhuran, kekayaan, dan kecantikannya tentulah merupakan pengingat akan betapa pendek dan tidak berartinya hidup ini.
Setiap hari kita dapat mengamati fakta ini dari ratusan contoh di sekitar kita. Seorang yang cerdas, sehat, dan terkenal, yang pernah menjadi simbol kecantikan atau kesuksesan, suatu hari akan muncul di koran, majalah, dan televisi dengan ketidakmampuan fisik atau mental. Inilah akhir yang akan ditemui hampir semua orang. Namun para pesohor punya tempat khusus di pikiran kita; bagaimana mereka menjadi tua dan kehilangan pesona lebih dalam menyentuh emosi. Pada halaman-halaman berikut, Anda akan melihat foto-foto dari sebagian para pesohor. Masing-masingnya merupakan bukti nyata bahwa bagaimanapun cantik, sukses, atau mudanya Anda, akhir yang tak terelakkan bagi manusia adalah usia tua.
 
BRIGITTE BARDOT
ELISABETH TAYLOR
ANGELA LANSBURY
MARLON BRANDO
ALAIN DELON
CHARLIE CHAPLINE

Cari Blog Ini

Halaman

Popular Posts

Advertisement

Responsive Advertisement