Tampilkan postingan dengan label marilah berhenti sejenak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label marilah berhenti sejenak. Tampilkan semua postingan

03/02/13

3 Hal Yang Menghidupkan Renungan Kita

Mari kita merenung sejenak, bagaimana perasaan kita ketika melihat tanah gersang tanpa tanaman? Mungkin hati akan bergetar dan bertanya, siapa pemilik tanah tersebut? Mengapa tanah itu dibiarkan kering dan mati? Semua orang ketika melihat tanah seperti itu umumnya merasa tidak nyaman. Boleh jadi akan muncul keinginan untuk menghidupkan tanah tersebut dengan cara menanaminya hingga tampak hijau. Keinginan tersebut merupakan fitrah Rabbaniyah yang ada dalam setiap manusia.

Fitrah tersebut, misalnya, bisa dilihat dari menggeloranya gerakan “Go Green”, sebuah gerakan yang mengajak setiap manusia untuk menanam pohon demi kelestarian bumi. Gerakan ini mendapat sambutan luar biasa dari seluruh penjuru dunia. Mereka menyambutnya karena memang gerakan itu sesuai dengan dorongan hati mereka.

Kebutuhan terhadap kelestarian bumi di masa mendatang, dan rasa khawatir akan dampak negatif kerusakannya, telah menggerakkan mereka untuk berupaya menyuburkan bumi.
Hanya saja tujuan mereka semata-mata demi kepentingan duniawi. Ini berbeda dengan orang-orang yang beriman. Motivasi kaum mukmin yang ikut menggelorakan gerakan tersebut jauh dari sekedar dorongan hati. Motivasi orang yang beriman adalah lillahi ta’ala, sementara tujuannya adalah mendapatkan ridha-Nya. Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dahulu, beliau tinggal di tanah kering berbatuan, baik di Makkah maupun di Madinah. Namun, beliau tidak pernah putus asa menghidupkan tanah yang mati. Di antara bebatuan, ketika didapati tanah yang bisa ditanami, apalagi di tanah yang subur, beliau gemar bertanam.

Beliau juga menganjurkan, bahkan tak jarang memerintahkan, para Sahabat untuk menanam pohon. Beliau bersabda, “Tidaklah seorang Muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman lalu tanaman tersebut dimakan oleh oleh manusia, binatang melata atau sesuatu yang lain kecuali hal itu bernilai sedekah untuknya,” (Riwayat Muslim).

Dalam kesempatan lain beliau berkata, “Jika tiba hari kiamat sedang pada tangan dari kalian ada bibit pohon kurma maka tanamlah,” (Riwayat Ahmad)’

“Menghidupkan” Manusia 
Jika terhadap tanah yang mati, seorang Muslim terpanggil untuk menghidupkannya, apalagi terhadap sesama manusia. Jika ada orang yang sedang sakit, selalu ada dorongan kuat dalam diri kita untuk “menghidupkan” kesehatannya kembali dengan cara mengobati dan menghiburnya.

Dalam dunia pengobatan itu sendiri, selalu ada usaha yang serius dari waktu ke waktu untuk mempelajari berbagai jenis penyakit dan mencarikan obatnya. Ada sekolah kedokteran, lembaga kesehatan, klinik, rumah sakit, dan apotik yang didirikan untuk membantu menyembuhkan orang yang sakit.

Fitrah Rabbaniyah itulah yang menyebabkan kita selalu bersimpati saat menyaksikan orang yang sakit, kita berempati kepada keluarga yang telah ditinggal mati, dan kita sendiri memelihara kesehatan, berdoa agar diberi kesembuhan, dan tidak putus asa untuk berobat.

Semua ini menunjukkan bahwa ada dorongan terpendam dalam diri setiap manusia untuk menghidupkan segala yang mati. Apalagi secara syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menegaskan, Barangsiapa yang menghidupkan seorang manusia, maka seolah-olah mereka telah menghidupkan seluruh manusia. (Al Maidah [5]: 32)

Menghidupkan Hati
“Menghidupkan” manusia tak sekadar dari sisi biologisnya, seperti pemulihan kesehatan atau pembebasan dari belenggu perbudakan, namun juga menghidupkan hati manusia. Mengapa? Karena banyak manusia yang hatinya sakit atau bahkan telah lama mati.

Masalahnya, banyak orang yang tidak sadar bahwa hatinya sedang sakit atau mati. Mereka bahkan marah atau tersinggung bila dikatakan hatinya mati. Kitalah yang berkewajiban membantu saudara-saudara kita yang hatinya seperti itu.

Hati yang sakit atau mati ditandai dengan hilangnya nurani kebaikan pada saat melakukan keburukan. Misalnya, ketika berbuat kecurangan tidak ada penyesalan, bahkan malah sebaliknya, bangga dengan kecurangan tersebut, dan mengumbar-umbarnya kepada orang lain.

Coba tengok penampilan para artis di televisi. Mereka berlomba-lomba memperlihatkan aurat dan merasa bangga dengan semua itu. Bahkan, yang lebih parah, sebagian dari mereka sengaja merekam adegan tak pantas sekadar untuk koleksi pribadi. Ketika rekama adegan tersebut tersebar di publik, mereka tak merasa malu, apalagi bersalah dan menyesal. Hati mereka betul-betul telah sakit.

Karena menghidupkan hati adalah kebutuhan mutlak saat ini maka dakwah tak boleh semata-mata berdimensi pengajaran (ta’limah). Dakwah harus menyentuh hal yang sangat mendasar, yaitu pembersihan penyakit hati (tazkiyah). Bahkan, dimensi tazkiyah ini dalam banyak hal harus lebih didahulukan dari pada pengajaran. Allah Ta’ala berfirman,Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan (tazkiyah) mereka dan mengajarkan (ta’lim) mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). (Al Jumu’ah [62]: 2)

Mengapa tazkiyah lebih dahulu dari ta’lim? Karena bagi orang-orang yang hatinya sakit atau mati, pengajaran itu tidak ada gunanya. Ibaratnya, masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.
Yang harus dilakukan adalah membongkar kulit yang membungkus rapat-rapat hatinya. Tutup hati atau tutup otak itulah yang dibongkar terlebih dahulu, terutama yang berupa kesombongan, karena merasa lebih unggul, lebih pandai, atau lebih suci.

Menghidupkan Peradaban
Bayangkan jika orang yang hatinya sakit dan mati itu berkumpul dalam suatu komunitas, bahkan menyatu dalam sebuah lingkungan yang lebih luas. Apa yang terjadi?
Contohnya, jika sebuah negara dihuni oleh orang-orang yang tidak memiliki rasa malu, dipimpin oleh orang yang tidak memiliki mental malu, dan tidak ada undang-undang yang mengatur masalah kemaluan, apa yang terjadi?

Seperti kita saksikan saat ini, yang terjadi adalah pornografi dan porno aksi membudaya di mana-mana, pelacuran dan perjudian marak, seks bebas menjadi kebiasaan. Akibatnya sangat mengenaskan: ribuan anak lahir tanpa mengetahui siapa bapaknya, ribuan gadis hamil di luar nikah, aborsi menjadi halal, penyakit seksual berjangkit di mana-mana.

Tak hanya itu, berbagai penyakit sosial juga ikut menjamur, seperti mengonsumsi minuman keras dan narkoba. Dalam keadaan seperti itu, runtuhlah peradaban manusia. Manusia tidak lagi menjadi terhormat, mulia, dan unggul, sebab perilaku mereka sudah tak ada bedanya dengan binatang ternak, bahkan lebih rendah dan lebih hina dari itu. Firman Allah Ta’ala, Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al A’raf [7]: 179)

Dalam kondisi masyarakat yang rusak seperti itu maka tampilnya segolongan umat yang tak pernah berhenti menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, menjadi sebuah keharusan.

Di tengah mati dan hancurnya peradaban itu mesti lahir kaum yang bergelar Khairu Ummah. Mereka adalah orang-orang yang memiliki dorongan kuat untuk menghidupkan peradaban dan selalu memelihara fitrahnya untuk tetap istiqamah, sekalipun jalan terjal dan licin harus dilalui.

Mereka bukanlah siapa-siapa. Mereka adalah kita sendiri, hamba-hamba-Nya yang telah dimuliakan dengan risalah Islam dan dakwah, serta fitrah Rabbaniyah.
Masalahnya, maukah kita menghidupkan fitrah itu dan dengannya kita berjuang untuk menghidupkan peradaban Rabbani di muka bumi?

27/11/11

KETIKA KITA SINGGAH SEJENAK

Bayangkanlah bila suatu ketika ada seseorang yang menjan-
jikan hadiah berupa sebuah rumah mewah lengkap dengan isinya.
Begitu indah dan sempurnanya rumah itu, sehingga baru
membayangkannya saja Anda sudah merasakan suatu kenikmatan dan
kebahagiaan tersendiri. Rumah itu terletak di kota "A" dan
anda diminta untuk pergi sendiri ke sana. Diberinya anda
sejumlah ongkos untuk bekal selama perjalanan hingga sampai
tujuan. Tetapi di tengah perjalanan nanti Anda diminta singgah
terlebih dahulu disebuah kampung. Ya, sekedar singgah sejenak!

Sungguh termasuk orang yang malang apabila ketika sampai
di kampung tersebut Anda malah terpana dan lalu menganggap
kampung tersebut teramat indah. Melihat gubuk disangka istana.
Melihat kolam kecil disangka danau. Bahkan melihat kue serabi
anda sangka martabak spesial. Pendek kata, mata dan penilaian
Anda menjadi kabur dan tertipu oleh karena keterpanaan yang
menerpa.
Saking merasa senangnya Anda dengan kampung itu, sampai-
sampai lupa dengan pesan semula bahwa anda hanya disuruh
singgah sejenak saja. Anda tinggal berlama-lama di sana dan
tentu saja ongkos pemberian yang cukup untuk sampai tujuan itu
malah anda habiskan di kampung itu. Akibatnya, tidak usah
heran ketika yang menyuruh dan memberi ongkos akan murka
tatkala mengetahui Anda ternyata tidak pergi ke kota yang
diminta.

Nah, ketahuilah bahwa kota "A" itu tiada lain adalah
akhirat, sedangkan kampung yang anda hanya disuruh singgah
sejenak itu tak lain pula adalah kampung dunia ini.

Salahkah apabila Dia Yang Mahabaik itu, yang telah
menjajikan surga Jannatun Na'im - padahal apapun yang
dijanjikanNya pasti ditepati dan tidak akan meleset sedikitpun
- dan tak lupa pula memberi bekal perjalanan yang cukup berupa
karunia nikmat rizki, tidak menyembunyikan "kekecewaannya"
melihat tingkah laku kita yang tak pandai manjaga amanah,
dengan berfirman, "Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja)
dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan)
akhirat adalah lalai?" (Q.S. Ar Ruum 30: 7)
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, melainkan senda gurau dan
main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya
kehidupan kalau mereka mengetahui," demikian firmanNya pula.
(Q.S. Al Ankabuut 29: 64)

Kebanyakan di antara kita ternyata memang gemar bertindak
yang "mengecewakan" seperti itu. Kampung dunia ini sebenarnya
tidak ada apa-apanya, namun sebagian besar orang ternyata
terpedaya oleh keindahan fatamorgananya. Padahal, semua yang
dititipkan Alloh kepada kita, baik berupa otak, tenaga, harta,
waktu, dan sebagainya, itu semua sebenarnya bukan untuk
kampung dunia ini karena ia hanyalah tempat mampir atau
singgah sejenak saja.

Dunia tak lebih sekedar tempat transit belaka kendatipun
untuk ini Alloh Azza wa Jalla pasti mencukupi kita dengan
rizkinya. Dengan catatan, sepanjang "ongkos" tersebut tidak
dhamburkan sia-sia. Alloh memampirkan kita di dunia ini seraya

tahu persis akan segala apa yang kita butuhkan, lebih tahu
daripada apa yang sebenarnya kita perlukan, kalau ongkos yang
ada itu kita jadikan betul-betul untuk bekal kepulangan nanti,
maka subhanallah, kita akan kaget bahwa betapa Alloh akan
mencukupi kita dengan limpahan karunianya.

Akan tetapi, sayang sebagian besar orang tidak mengerti
bahwa semua yang dititipkan Alloh itu sebenarnya untuk bekal
pulang, sehingga seluruh waktunya habis tandas hanya untuk
mengejar-ngejar segala hal yang bersifat duniawi. Padahal
tidak akan kemana-mana dunia ini. Bukankah ketika masih
berada di rahim bundapun kita tetap diberi dunia (rizki)
padahal toh kita tidak berdoa, tidak shalat tidak ikhtiar ke
mana pun.

Kita memang disuruh menyempurnakan ikhtiar, tetapi bukan
semata-mata untuk mencari dunia. Ikhtiar kita secara sempurna
pada hakikatnya untuk bekal kepulangan kita ke akhirat kelak.
Jadi, jaminan dari Alloh untuk kehidupan dunia ini sebenarnya
ditujukan kepada orang yang bersungguh-sungguh menyempurnakan
ikhtiarnya.

Untuk bekal kehidupan dunia ini, rejeki itu oleh Alloh
dibiarkan tergantung. Lalu, Dia seolah-olah berfirman, "Ini
rejekimu, kalau engkau ikhtiar, akan kau dapatkan apa yang
telah ditetapkan bagimu. Kalau ikhtiarnya di jalanKu, maka
tidak hanya rejekimu yang kau dapati, tetapi pahalapun akan
engkau peroleh. Itulah keberkatan untukmu; di dunia
ternikmati, di akhiratpun jadi manfaat. Sebaliknya, bila
ikhtiarmu itu di jalan yang Aku murkai, yakni niat maupun
caranya tidak benar, maka tetaplah akan kau dapati apa yang
telah menjadi bagianmu, hanya, berubah statusnya menjadi
haram. Rejekinya tetap didapat tetapi tidak mengandung manfaat
dan keberkahan.

Memang, ada sebagian orang yang selama hidupnya begitu
sibuknya banting tulang, seakan-akan takut tidak kebagian
makan. Apa yang telah diperolehnya dikumpulkannya dengan
seksama demi agar anak-anaknya terjamin masa depannya.

Ada juga orang yang ketika hidup ini teramat sibuk
merindukan penghargaan sehingga dia capek menata rumah, capek
membeli ini itu, capek mematut-matut diri dengan motivasi
semata-mata ingin dihargai orang. Disisi lain ada juga orang
yang hidupnya hanya mencari kepuasan, sehingga uang yang telah
dikumpul-kumpulkannya dipakainya untuk pergi melancong kemana
saja yang dia suka.

Bagi orang yang tahu hakikat kehidupan ini, maka pastilah
yang dicarinya itu bukan dunia, melainkan Yang Memiliki Dunia!
Kalau orang lain bekerja banting tulang untuk mencari uang,
maka kita bekerja demi mencari Yang Membagikan Uang. Kalau
orang lain belajar ingin mencari ilmu, maka kita belajar
karena mencari Yang Memberi Ilmu. Kalau orang lain sibuk
mengejar prestasi demi ingin dihargai dan dipuji sesama,
maka kitapun sibuk mengejar prestasi demi mendapatkan
penghargaan dan pujian dari yang Yang Maha Menggerakkan
siapapun yang menghargai.

Jadi jelas perbedaannya, Bagi orang yang tujuannya dunia,
pasti kesibukannya hanya sebatas ingin mendapatkan itu saja.

Sedangkan bagi yang tahu ilmunya, maka yang dicari itu
langsung tembus kepada pemilik dan penguasa segala-galanya.
Bagi sebagian orang, tatkala membutuhkan uang, tetapi uang itu
tidak didapatkan, jelas yang muncul adalah rasa kecewa.
Sebaliknya bagi kita, saat membutuhkan uang, maka kita
berikhtiar sekuat tenaga bukan untuk mengejar uang semata,
malainkan Allohlah yang kita kejar. Soal dapat atau tidak
dapat tak ada masalah karena Alloh tidak akan pernah lupa
memberikan karuniaNya. Kesibukan kita berikhtiar pasti sudah
dicatat oleh Alloh. Tidak ada yang rugi, tidak ada pula yang
gagal.

Kalau orang bekerja karena ingin dihargai, maka bagi kita
semua itu tidak ada apa-apanya karena Allohlah sebagai
penguasa alam semesta yang menjadi tujuan segala perbuatan
kita. Kadang-kadang penghargaan manusia justeru menjadi ujian
bagi kita. Sebab manakala seseorang memuji kita, maka
hakikatnya bukanlah karena kita layak dipuji, melainkan karena
Alloh saja yang menutupi segala aib dan keburukan kita,
sehingga orang menyangka kita ini layak dipuji.

Bagi orang yang mengetahui rahasia di balik suatu
kejadian, datangnya pujian itu akan membuatnya tambah malu
karena itu berarti Alloh memperlihatkan sesuatu, bahkan tidak
jarang pujian itu ternyata lebih baik dari kenyataan
sebenarnya yang ada pada diri kita. Kalau kita mau jujur,
sungguh tidak pantas dan tidak cocok pujian itu dialamatkan
kepada kita. Karenanya, janganlah lekas terpana oleh pujian
manusia .

Mengapa ada orang yang bisa mendaki gunung walaupun
dengan bekal dan alat seadanya? Mengapa ada orang yang berani
menyeberangi lautan walaupun hanya dengan menggunakan perahu
sederhana?
Jawabnya, karena kekuatan terbesar adalah motivasinya.
Demikian halnya kalau motivasi kita hanya sebatas dunia ini,
maka tidak usah heran kalau dia akan mudah terpedaya. Akan
tetapi, tidak akan pernah lelah kita mencari apapun juga
karena yang kita tuju adalah Dia Yang Maha Perkasa!

Walhasil, tampaknya wajib bagi siapapun menyadari bahwa
dunia ini hanya tempat singgah sejenak belaka, kalaulah Alloh
berfirman, "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan
Alloh kepadamu (Kebahagiaan) negeri akhirat, (tetapi)
janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi"
(QS. Al Qashas 28: 77). Maka itu semata-mata dimaksudkan agar
kita pandai mensyukuri apapun yang telah dianugerahkan Alloh
kepada kita selama hidup didunia ini. Adapun kebahagiaan dan
kenikmatan yang kekal dan hakiki, itulah yang akan kita dapati
di akhirat.

Klik

Cari Blog Ini

Halaman

Popular Posts

Advertisement

Responsive Advertisement