Tampilkan postingan dengan label kutemukan jodohku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kutemukan jodohku. Tampilkan semua postingan

10/10/15

Perihal Jodoh atau Tuntutan Hal Bodoh

 


Dia datang sebagai ujian bukan jodoh

Seseorang bertanya,

Aku tertarik kepada seseorang, bagaimana aku harus menyikapi?

Seseorang menjawab,

"Hanya ada dua indikasi untuk menentukan langkah selanjutnya"

Pertama jika ia jodohmu, maka kau sedang dalam keadaan siap menikah, begitupun dia.

Kedua, jika dia ujian bagimu maka salah satu diantara kalian belum siap untuk menikah atau keduanya.

Karena,

Kalau dia jodohmu maka segerakan, sebab memperlambat hanya akan menimbulkan banyak kemaksiatan.

Kalau dia ujian bagimu, panjangkan sabarmu, lapangkan dadamu, mulailah melepaskan secara perlahan.

Ilustrasi couple. ©shutterstock.com/Preto Perola



Karena,

Solusi terbaik untuk dua orang yang jatuh cinta adalah menikah,

Jika belum siap, tapi memaksa melanjutkan cintanya maka, kau sendiripun tau apa yang akan terjadi.

Menjaga seseorang yang belum jelas untuk kita adalah kebodohan, sebab hanya mengotori hati.

Kemudian saat dia menemukan jodohnya dan berbahagia, kita adalah orang ketiga dengan patah hati terhebat.

Kau kehilangan besar, kehilangan dia, dan kehilangan Allah SWT. (Ucap seorang teman)


Sebenarnya tolak ukurnya bukan menikah atau tidaknya,

Tetapi sejauh mana kita menaati perintah Allah,

Menjaga dirinya sesuai apa yang Allah perintahkan.

Sebab kalau menikah, banyak yang menikah karna hamil duluan, atau diiringi jutaan kemaksiatan yang lainnya

Mereka yang menjaga akan tahu, bagaimana melepaskan penjagaannya saat menikah nanti.

Terimakasih Sayangku yang masih dimana kamu menantikan kedatanganku


26/10/12

Hakikat Kemenangan


Kemenangan dan kesuksesan dalam kehidupan selalu didambakan oleh setiap orang dan kelompok orang meskipun dengan ukuran dan kriteria yang berbeda-beda. Banyak yang berpendapat, indikator kemenangan itu adalah banyaknya pengikut. Pendekatan itu dilakukan semata-mata berorientasi pada jumlah, seolah-olah kemenangan dan kesuksesan identik dan berbanding lurus dengan kuantitas. Padahal, betapa banyak kesesatan dan kekeliruan yang diikuti oleh sebagian besar orang.

Tentang hal tersebut, Allah SWT menyatakan dalam QS Al-Maidah ayat 116-117, ''Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkannmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang orang-orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapatkan petunjuk.''

Ayat tersebut sekaligus menjelaskan bahwa kemenangan itu hakikatnya adalah keberpihakan dan kekuatan komitmen kepada segala ketentuan yang bersumber dari ajaran Allah SWT. Kelompok inilah yang hakikatnya akan mendapatkan anugerah dari Allah berupa kemenangan dunia maupun akhirat, meskipun dalam jumlah yang tidak banyak.

Hal tersebut dikemukakan dalam QS Al-Baqarah ayat 249, ''... Betapa banyak terjadi golongan yang sedikit mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.'' Tentu saja akan lebih baik jika kebenaran itu diikuti pula oleh jumlah yang banyak.

Pemilihan Umum 5 April 2004 sudah berlangsung dan sudah diketahui (walaupun masih bersifat sementara) partai yang mendapatkan kursi legislatif yang cukup banyak dan partai yang jumlah pemilihnya sangat sedikit. Hampir setiap orang berpendapat bahwa partai yang mendapatkan jumlah anggota legislatif yang banyak, itulah yang menang, sedangkan yang kalah adalah yang jumlahnya sedikit.

Tentu penilaian itu tidaklah seluruhnya salah, tetapi juga tidak seluruhnya benar, jika mengabaikan cara dan usaha partai tersebut dalam memenangkan pemilu. Jika cara-cara yang dilakukan sarat dengan money politics, disertai dengan upaya untuk melakukan pembodohan dan pengelabuan terhadap rakyat banyak, maka kemenangan yang bersifat sumir itu hakikatnya merupakan suatu kekalahan, apalagi jika nanti para wakil rakyat tersebut melakukan berbagai macam pengkhianatan.

Tetapi, jika kursi legislatif didapatkan dengan cara-cara yang bersih, adil, jujur dan transparan, maka itulah kemenangan hakiki meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak. Dan ini pula yang harus menjadi rujukan orang-orang yang beriman. Sebab, kita yakin para wakil rakyatnya pun kelak akan menjadi para wakil rakyat yang amanah dan bertanggung jawab terhadap Allah SWT maupun terhadap rakyat pemilihnya. Wallahu A'lam bi ash-Shawab.

16/07/11

HIDUNG PESEK DANMATA SIPIT


Mengatakan atau dikatakan berwajah jelek adalah sesuatu yang tidak enak. Kejam dan tidak adil rasanya karena penghormatan masyarakat, sukses kerja dan perjodohan banyak dipengaruhi oleh citra fisik seseorang. Sudah tradisi umum untuk mengkaitkan keindahan dengan kebaikan dan keburukan dengan kejahatan. Meskipun tidak benar selalu saja keburukan dijadikan ciri kejahatan dan ketampanan sebagai ciri kebaikan. Kita selalu menontonnya dalam film-film. Sementara itu kita menyaksikan banyak orang yang tidak puas dengan wajah asli mereka. Anak-anak perempuan kita menyesali rambut keriting dan hidung peseknya. Banyak wanita di China mengoperasi mata sipit mereka supaya nampak universal dan mengoperasi bibir mereka supaya lebih mudah untuk mengucapkan bahasa Inggris. Mata sipit dan hidung pesek orisinil dari Allah yang Maha Pencipta ternyata banyak yang tidak suka. Demi karir dan penampilan. Bisa kita maklumi dan tidak mungkin dicegah karena sudah menjadi kegiatan industri.

Konon Socrates filosof Yunani yang terkenal itu berwajah buruk. Matanya menonjol keluar seperti mata kepiting, hidungnya pesek dengan lubang yang lebar menghadap kedepan. Tetapi ia membela cacat tubuhnya dengan mengatakan bahwa mata yang demikianlah yang lebih sempurna dan sesuai dengan tujuan penciptaannya. Dengan sedikit menggerakkan bola mata, mata kepiting bisa melihat hampir kesegala arah daripada mata indah yang hanya dapat mengarah kedepan. Hidung pesek juga lebih unggul daripada hidung mancung karena tidak menimbulkan penghalang diantara kedua mata dan memungkinkan pandangan bebas tanpa halangan apapun. Sementara hidung mancung menyekat pandangan satu mata dengan yang lain. Lubang hidungnya yang terlalu lebar, bukankah hidung berfungsi untuk mencium? Lubang yang lebar dan mengarah kedepan lebih baik karena dapat menangkap bau-bauan dari segala arah ketimbang lubang sempit dari hidung mancung yang mengarah kebawah. Socrates menggunakan kejelekan wajahnya sebagai sentuhan filosofis dengan menyimpulkan bahwa filsafat dapat menyelamatkan kita dari keburukan lahiriah.

Yang lebih buruk muka dari Socrates adalah Jean-Paul Sartre, filosof eksitensialis kiri dari Perancis (1905-1980) dengan mata malas dan juling, wajah tak simetris dan tubuh pendek. Baginya cacat fisiknya itu merupakan aspek sentral dari kepribadiannya. Ide-ide filsafatnya banyak berkaitan dengan perjuangan seumur hidupnya untuk berdamai dengan cacat fisiknya yang menyolok mata itu. Semasa kecil Sartre adalah anak mama, dimanja dan diperlakukan seperti boneka. Rambutnya dipanjangkan dan disisir rapih dengan baju yang berenda-renda. Ibunya memanggilnya Polo yang manis. Kakeknya Karl Schweitzer, tokoh terhormat dengan jenggot yang berwibawa merasa sebal melihat cucunya yang seperti anak perempuan. Dibawanya ia ketukang cukur dan dipangkasnya rambutnya. Ibunya menangis frustrasi karena wajah Paul nampak jelek sekali. Tanpa rambut keriting panjang dan pakaian mewah Sartre kecil nampak sekali cacatnya. Para biographer menggambarkan wajah Sartre memang jelek. Dengan mata juling dan rabun sebelah ia kelihatan selalu curiga dan tidak jelas perhatiannya. Teman-temannya menggambarkannya seperti kodok berkaca-mata dan kelewat pendek. Satu-satunya kepuasan Jean-Paul adalah rasa percaya dirinya; ia tahu bahwa ia lebih cerdas dari anak-anak lain.

Menyikapi ketidak-sempurnaan fisik orang lain maupun diri sendiri dengan rendah hati adalah penting karena karena dapat berakhir dengan kufur atau syukur, sombong atau frustrasi.

Sumber: Pakde Jum'an Basalim
Copyright@PKPTII

Cari Blog Ini

Halaman

Popular Posts

Advertisement

Responsive Advertisement