Tampilkan postingan dengan label Sebuah keteguhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sebuah keteguhan. Tampilkan semua postingan

26/10/12

Hindari Perpecahan


Di dalam sirah (buku sejarah) Ibnu Hisyam, As-Siroh an-Nabawiyah, diceritakan, suatu ketika sekelompok orang Yahudi berusaha memecah belah persatuan kaum Muslimin setelah suku Aus dan Khajraj masuk Islam. Salah seorang dari mereka menyusup di antara kedua suku tersebut. Tujuannya, berusaha memancing (memprovokasi) mereka sehingga muncul permusuhan. Orang Yahudi itu kembali mengungkit-ungkit Perang But'ah, yaitu perang saudara di zaman Jahiliyah antara suku Aus dan Khajraj. Selain itu, sajak-sajak yang mengandung permusuhan juga dibacakan untuk memanasi mereka. Akibatnya, orang-orang Aus dan Khajraj pun tersulut dan nyaris berperang.

Untungnya, kabar tersebut segera sampai kepada Rasulullah SAW. Di hadapan kedua suku itu, Rasulullah bersabda, ''Wahai orang-orang Islam, ingatlah Allah, ingatlah Allah. Apakah kalian akan bertindak seperti para penyembah berhala saat aku hadir di tengah kalian dan Allah telah menujukkan kepada kalian dengan Islam, yang karena itulah kalian menjadi mulia dan menjauhkan diri dari paganisme (berhala), menjauhkan kalian dari kekufuran dan menjadikan kalian bersaudara.'' Dalam peristiwa lain diceritakan, pernah terjadi kesalahpahaman antara sahabat Abu Dzar dan sahabat Bilal bin Rabah.

Abu Dzar berkata kepada Bilal, ''Kamu anak seorang budak hitam.'' Rasulullah SAW yang mendengar tentang hal ini sangat marah. Lalu, beliau mengingatkan Abu Dzar dengan sabdanya, ''Ini keterlaluan, Abu Dzar. Orang yang ibunya berkulit putih tidak memiliki kelebihan yang membuatnya menjadi lebih baik daripada seorang yang ibunya berkulit hitam.'' Peringatan tersebut sangat membekas pada diri Abu Dzar. Ia kemudian meletakkan kepalanya di atas tanah dan bersumpah tidak akan mengangkatnya sebelum Bilal menginjakkan kaki di atas kepalanya. Rasulullah memang terkenal sangat tegas menentang sikap ta'ashub ashabiyah.

Yakni, semangat golongan dan semangat kelompok (kepartaian/lihat kamus al-Munawwir hlm 1005). Ashabiyah merupakan ikatan manusia atas dasar golongan, kesukuan, maupun nasionalisme sempit. Islam sebagai agama rahmatan lil 'alamin tidak membeda-bedakan status, golongan, partai, atau warna kulit. Apakah itu kaya, miskin, berkulit putih atau hitam, semuanya sama di hadapan Allah SWT. Yang membedakan hanyalah tingkat ketakwaan. Sehingga, tidak sepatutnya orang-orang Islam itu, karena persoalan sepele, terus saling membenci, memaki, apalagi sampai bermusuhan. Apakah kita lupa bahwa ''Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara?'' (Al-Hujurat: 10).

Di sisi lain, Allah SWT memerintahkan agar umat Islam selalu bersatu dalam tali Allah, yakni agama Islam. Firman-Nya, ''Berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.'' (Ali Imran: 103). Rasulullah SAW juga menegaskan, ''Bukan dari golongan kami orang-orang yang menyerukan ashabiyah, orang yang berperang karena ashabiyah, serta orang-orang yang mati membela ashabiyah.'' (HR Abu Dawud). Nah, partai boleh beda, tetapi ukhuwah Islamiyah harus tetap diperkokoh. Jangan justru saling membenci, apalagi bermusuhan.

Menghargai Orang Lain


Esensi ajaran Islam adalah keselamatan dan membuat orang menjadi selamat. Karena itu, umat Islam harus menghindarkan diri dari perbuatan yang membuat orang lain terganggu, baik dari lisan maupun tangannya. ''Seorang Muslim adalah orang yang bisa membawa selamat bagi orang lain dari perkataan dan perbuatannya,'' Rasulullah SAW menjelaskan. Islam juga menganjurkan seseorang untuk menghormati dan memuliakan orang lain, seperti perintah menyebarkan salam, memuliakan tamu, serta menghormati tetangga.

Pun perintah mencintai sesama Muslim sebagaimana mencintai diri sendiri. Bahkan, kepada mereka yang beragama lain pun Islam memerintahkan orang beriman agar menghormati dan menjalin kehidupan yang damai dan rukun. Sikap menghargai orang lain meliputi aspek kehidupan, seperti bersikap baik kepada saudaranya dan memiliki sifat-sifat yang baik serta bermurah hati kepadanya. Seperti ungkapan yang digambarkan oleh Allah, bahwa orang-orang beriman bersikap kasih sayang kepada sesama mukmin dan bersikap tegas kepada orang-orang kafir (QS 48: 29).

Sikap tegas kepada kaum non-Muslim yang dimaksud adalah tegas dalam prinsip akidah dan ibadah. Tidak ada kompromi dan pencampuradukan dalam akidah dan ibadah. Tetapi, tetap menjalin hubungan yang baik selama mereka juga berbuat baik dan bersedia hidup damai dengan umat Islam. Termasuk dalam sikap hormat dan menghargai orang lain adalah menggunakan tutur kata yang baik dan sopan dalam berkomunikasi. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari disebutkan Nabi SAW tidak pernah menggunakan bahasa yang jorok atau mengucapkan caci-makian dan hinaan. Jika beliau ingin memperingatkan seseorang, beliau mengatakan, ''Apa yang terjadi pada dirinya, mungkin keningnya tertutupi debu.'' Menghargai orang lain juga dapat berupa menghormati pendapat orang lain yang berbeda, bahkan bertentangan.

Tetapi, tetap mengajak berpikir kritis mencari kebenaran. Namun, apabila akhirnya tidak bisa dipertemukan, karena masing-masing memiliki argumen dan acuan berpikir yang kuat, maka harus ditumbuhkan sikap saling menghormati dan menghargai pandangan orang lain. Bukankah perbedaan pendapat yang diikuti sikap saling memahami dan menghormati justru akan menjadi rahmat bagi masing-masing? Karena, dengan perbedaan tersebut akan tumbuh dinamika berpikir. Untuk menumbuhkan sikap saling menghargai dan menghormati orang lain, harus diawali dari perbaikan kepribadian seseorang. Dimulai dengan menyadari diri yang penuh keterbatasan dan kekurangan.

Selanjutnya diikuti dengan menghilangkan sikap yang menganggap benar sendiri, atau bahwa pendapatnya atau pendapat kelompoknya yang paling benar dan orang lain salah. Apabila sikap-sikap kepribadian tersebut telah tertanam kuat dalam jiwa seorang Muslim, maka sikap saling menghargai antara yang satu dan lainnya akan mudah diwujudkan. Sehingga, esensi ajaran Islam yang bermakna selamat, keselamatan, dan membuat orang lain selamat menjadi kenyataan. Namun, apabila pembinaan kepribadian tersebut tidak dapat terwujud, maka perbedaan pendapat justru akan membuahkan konflik dan perpecahan, bahkan bencana bagi umat.

Hakikat Kemenangan


Kemenangan dan kesuksesan dalam kehidupan selalu didambakan oleh setiap orang dan kelompok orang meskipun dengan ukuran dan kriteria yang berbeda-beda. Banyak yang berpendapat, indikator kemenangan itu adalah banyaknya pengikut. Pendekatan itu dilakukan semata-mata berorientasi pada jumlah, seolah-olah kemenangan dan kesuksesan identik dan berbanding lurus dengan kuantitas. Padahal, betapa banyak kesesatan dan kekeliruan yang diikuti oleh sebagian besar orang.

Tentang hal tersebut, Allah SWT menyatakan dalam QS Al-Maidah ayat 116-117, ''Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkannmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang orang-orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapatkan petunjuk.''

Ayat tersebut sekaligus menjelaskan bahwa kemenangan itu hakikatnya adalah keberpihakan dan kekuatan komitmen kepada segala ketentuan yang bersumber dari ajaran Allah SWT. Kelompok inilah yang hakikatnya akan mendapatkan anugerah dari Allah berupa kemenangan dunia maupun akhirat, meskipun dalam jumlah yang tidak banyak.

Hal tersebut dikemukakan dalam QS Al-Baqarah ayat 249, ''... Betapa banyak terjadi golongan yang sedikit mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.'' Tentu saja akan lebih baik jika kebenaran itu diikuti pula oleh jumlah yang banyak.

Pemilihan Umum 5 April 2004 sudah berlangsung dan sudah diketahui (walaupun masih bersifat sementara) partai yang mendapatkan kursi legislatif yang cukup banyak dan partai yang jumlah pemilihnya sangat sedikit. Hampir setiap orang berpendapat bahwa partai yang mendapatkan jumlah anggota legislatif yang banyak, itulah yang menang, sedangkan yang kalah adalah yang jumlahnya sedikit.

Tentu penilaian itu tidaklah seluruhnya salah, tetapi juga tidak seluruhnya benar, jika mengabaikan cara dan usaha partai tersebut dalam memenangkan pemilu. Jika cara-cara yang dilakukan sarat dengan money politics, disertai dengan upaya untuk melakukan pembodohan dan pengelabuan terhadap rakyat banyak, maka kemenangan yang bersifat sumir itu hakikatnya merupakan suatu kekalahan, apalagi jika nanti para wakil rakyat tersebut melakukan berbagai macam pengkhianatan.

Tetapi, jika kursi legislatif didapatkan dengan cara-cara yang bersih, adil, jujur dan transparan, maka itulah kemenangan hakiki meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak. Dan ini pula yang harus menjadi rujukan orang-orang yang beriman. Sebab, kita yakin para wakil rakyatnya pun kelak akan menjadi para wakil rakyat yang amanah dan bertanggung jawab terhadap Allah SWT maupun terhadap rakyat pemilihnya. Wallahu A'lam bi ash-Shawab.

24/10/12

Keteguhan



''Ya Allah! Aku memohon kepada-Mu keteguhan hati di dalam urusan (agama) ini dan kemauan yang kuat dalam mengikuti kebenaran,'' demikian doa Nabi Muhammad SAW dalam memohon keteguhan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam al-Kabir wal-Ausath.

Dalam riwayat lain, Nabi juga berdoa, ''Allahumma, ya Muqallibal-qulub, tsabbit qalbi 'ala dinik (Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku atas agama-Mu).'' (HR Ahmad). Doa, sebagai salah satu formula untuk meraih dan mempertahankan keteguhan, tidak hanya dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Bahkan, Allah SWT, selain memuji orang yang teguh, juga mengajarkan redaksi doanya sekalian dalam rangkaian ayat-Nya. Misalnya, dalam surat Al-Baqarah ayat 250, ''Wahai Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.

'' Keteguhan atau ats-tsabat memang mutlak diperlukan dalam kehidupan ini, dalam medan apa pun. Bukan hanya dalam kehidupan beragama, tapi juga dalam percaturan politik, jaringan ekonomi atau bisnis, juga dalam kehidupan sosial pada umumnya. Banyak pemimpin di dunia ini terjungkal dari kursi kekuasaannya karena tidak teguh dalam menjalankan amanah kekuasaannya dan tergiur untuk menggunakan aji mumpung, sehingga menyelewengkan kekuasaannya.

Para pelaku bisnis juga banyak yang kandas di tengah jalan lantaran keteguhannya hilang dan lebih terpikat pada kesenangan sesaat, entah perjudian, kemaksiatan, dan lain-lain. Para mantan aktivis menjadi bahan cibiran publik, karena keteguhannya dalam mengusung idealisme luntur bersamaan dengan target kekuasaan yang telah diraihnya. Demikian pula dengan orang-orang yang berilmu (ulama), banyak di antara mereka yang menanggalkan muru'ah dan jubah keulamaannya karena tergiur pada iming-iming jabatan. Padahal, semua itu merupakan cobaan untuk memperkokoh keteguhannya.

Siapa pun tak bisa lepas dari cobaan, karena dunia ini memang medan ujian, bukan tempat balasan. Firman Allah SWT, ''Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?'' (Al-Baqarah: 214). Ujian adalah sunnatullah, dan kalau seseorang telah selamat dari jebakan, rayuan, perangkap, intimidasi, hantaman, dan beragam ujian yang datang bertubi-tubi itu, maka barulah kemudahan dan pertolongan Allah datang.

Karena, pertolongan dan segenap kemudahan itu disimpan untuk orang-orang yang berhak menerimanya. Hanya orang-orang yang mempunyai keteguhan hingga akhir perjalananlah, yang berhak menerima beragam anugerah itu. Dan, sebuah keberhasilan memang bisa dinikmati secara penuh kalau ia merupakan hasil dari perjuangan yang berat dan melelahkan. Wallahu a'lam bis-shawab.

Cari Blog Ini

Halaman

Popular Posts

Advertisement

Responsive Advertisement