Tampilkan postingan dengan label cinta beradu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta beradu. Tampilkan semua postingan

21/01/12

Coretanku Tulisanku Ungkapku

Coretanku Tulisanku Ungkapku

SB6 Untukmu atau Untukku (Jangan Menangis)

:: Sedikit Bercerita
saya hanya seorang yang tiada memiliki kekayaan, saya pun terlahir dari keluarga yang hidup dengan keseharian pas-pasan, saya adalah putra kesepuluh dari sang Ayahanda Ahmad Zaenudin bin Ridwan dan Ibunda Laelatul Badriyah. saya memiliki 7 saudara dan 2 saudari kandung, dari kecil saya menjalani kehidupan yang serba cukup tak ada kemewahan, tak ada baluran keningratan bahkan makan sehari-hari pun seadanya itupun saat pepohonan sekitar rumah berbuahkan hasil.

semasa kecil saya tergolong sebagai orang yang bisa dikatakan sebagai orang malas lagi bodoh dalam pendirian, saya seringkali mendapatkan kekerasan dalam pendidikan ilmu agama maupun ilmu sehari-hari. ketika saya mulai bertambah usia _+4tahun, seringkali sang Ayahanda mengajak, menghibur, mengajar dan menggendong saya ketempat para sahabat beliau saat di pesantren juga di madrasah area kroya, banyumas, sampang, maos, mertelu dan lingkup kalisabuk dengan kayuh sepeda james (sapeda antik / sepeda unta). tak hanya itu saja beliau berikan ajaran kepada saya, beliau adalah seorang ayah yang bagi saya sangat istimewa, pula beliau sangat menyayangi saya pada usia _+5tahun, hingga saya mulai merasakan bangku ibtida di TPA yang kebetulan lokasinya depan rumah bersebelahan dengan mushola.

hampir semua anaknya terbimbing dengan pendidikan yang ketat, keras, baik dan sejahtera penuh kefahaman. sebelum saya duduk dibangku Madrasah Ibtidaiyyah, beliau seringkali menciptakan buah tangan berbentuk traktor mainan yang terbuat dari bambu dan kayu glondongan, uang mainan yang trbuat dari sobekan daun pisang berbentuk besar kecil dan banyak macam, saya sangat bersyukur bahwa apa yang beliau ajarkan semasa kecil sangat meluber segi didikan yang lebih mempunyai kemanfaatan dimasa datang.

tubuh kekar beliau sangat dihormati bukan karena memiki ilmu kadigdayan (jadog) pula bukan karena kepandaiannya, namun ia dikenal sebagai orang yang sanggup membanting tulang demi banyaknya keturunan, penuh kesetiaan bahkan penuh jabat silaturrahmi pada siapa saja ketika sebelum dan sesudah pulang (kondur) dari menunaikan haji.

saya mulai merasakan bangku Madrasah Ibtidaiyyah kelas 1 dan beliaulah yang mengantar saya dengan kayuhan tumit sepeda butut, sudah tua namun jiwa kesetiaan pada anaknya sungguh erat sampai saya merasakan bangku Madrasah Ibtidaiyyah kelas 2 beliau masih berikan rasa kesetiaan pada sang anaknya (saya).

singkat cerita, saya di masukkan ke Madrasah Tsanawiyyah karena ajaran yang keras dari beliau mengenai ilmu Al-Qur'an, Al-Hadist, Fiqih dan Akidah. beliau tidaklah menginginkan saya jatuh pula sia-sia dari ilmu Agama yang telah mengisi keseharian ajaran, hingga saya pun lulus dari sekolah tersebut.

saya melanjutkan ke SMT Pertanian, sebelum dah sesudah masuk ke sekolah tersebut tiap kali keluar kamar, saya pun mendapatkan Perintah (dawuhan):

"koe bali maring ngumah ya kepriwelah, seanane panganan karo sandingan, duwite sangu aja kelalen, aku ora nyangoni koe go lunga-lunga, tapi go mangan tok. krono koe siki doyan udud, kenganah golet duwit dewek tapi sing bener-bener Halal, Bagus tur Amal soleh, nek gelem ya nganah mbantu-mbantu nang pondok toriqoh sokaraja. pokoke intine aku ora mbiayani go udud karo lunga-lunga karepe dewek." [bahasa jawa]

"kamu pulang kerumah ya bagaimanalah, seadanya makanan plus cemilan, uang sakunya jangan lupa, bapak tidak berikan uang saku untuk pergi-pergi, tapi untuk makan saja. karena kamu sekarang doyan rokok, ya sanalah cari uang sendiri tapi harus yang Halal, Baik dan merupakan Amal Soleh, kalau kamu mau ya sana membantu dan melayani di Pondok Toriqoh Sokaraja. secara garis besar bapak tidak kasih biaya untuk beli rokok juga untuk sarana bepergian tanpa tujuan yang penting untuk dirimu sendiri." [terjemahan dari bahasa diatas]

saya betul-betul harus memahami apasaja perintah sang abah, karena disamping saya berbohong ataupun saya berdusta pada beliau juga akan melahirkan kwalat (dustakarone sesepuh) pun dikenal dengan peribahasa "siapa yang menanam, pasti dia memetik hasilnya" bisa juga di artikan keturunan yang ada nantinya yang berani berdusta kepada orangtua (saya sendiri yang menjadi orangtua). persingkat waktu dan saya pun lulus karena dukungan do'a dari beliau.

:: Sedikit Berbagi
pada hakikatnya seorang abah/ayah dan ummi/ibu dari masa kecil sampai dewasa kini, adakah yang bisa kita tarik usus dari sebuah alur hati. disaat orangtua sanggup merawat, membantu dan memberi sesuatu pada kita dari kecil hingga dewasa kini, meskipun balasan yang kita berikan dan rawatkan belum cukup... namun yakinlah bahwa kita hidup untuk saling bergotong royong...

pernahkah anda membaca secuil dialog kisah dibawah ini:

> nak, dahulu aku kekar dan bertenaga... hanya untuk ulurmu...
> nak, kini aku lemah tak berdaya... maukah kau ulurkan untukku...
> nak, dahulu aku sering merawatmu, membimbingmu, memandikanmu...
> nak, kini aku lemah tak berdaya... maukah kau ulurkan tanganmu untukku...
> nak, dahulu aku sering suapkan nasi padamu... hanya untuk mengisi perut kosongmu...
> nak, kini aku lemah tak berdaya... maukah kau ulurkan tanganmu  untukku...
> nak, dahulu aku sering mengajarmu bisa berbicara...
> nak, kini aku lemah tak berdaya... maukah kau ajariku berdo'a...
> nak, dahulu aku mengadzani kedua telingamu ketika kau lahir didunia ini...
> nak, kini aku lemah tak berdaya... maukah kau beri adzan untukku...

=> mungkin ini belum cukup untuk kita membuktikan kebaktian kita terhadap orangtua <=

untuk saya mereka adalah sebagian tanggung jawab saya, dan hanya ini yang bisa saya ungkapkan untuk anda... saya sendiri masih ingin tetap memperhatikan mereka daripada wujud kasih sayang yang anda miliki...

:: Sedikit Berkata
saya benar-benar sering melihat, mencoba dan memperhatikan anda dan mereka berkecimpung tanda tanya, mungkin saya sang pendengki dan pembawa kabar buruk mengenai isi, coretan, jari jemari dan celotehan. saya pun sebenarnya sudah faham apa yang anda dan mereka harapkan, saya bukan orang pintar lagi berpengalaman serta saya belum memiliki jutaan bait.

:: Sedikit Bertanya
apabila anda dan mereka memiki perasaan yang baik, cocok, saling dan sama, ungkapkan secara baik-baik. agar saya merasa tenang dan tak selalu saya sadar bahwa manusia takkan luput dari kesalahan, kekeliruan bahkan dosa. namun dengan ini saya hanya ingin bertanya, jika memang anda dan mereka saling mempunyai harapan cinta, izinkanlah anda dan mereka berungkap secara baik kepada diri saya untuk menghindari kericuhan.

:: Sedikit Berucap
hiasilah selalu dengan wujud dan rasa saling melengkapi, saling mengisi, saling memperhatikan, saling terbuka, saling bersapa dan saling berkarya. semoga anda dan mereka bahagia.

:: Sedikit Berpadu
Memberikan seluruh cinta, perhatian dan kasih sayang kepada seseorang belum tentu mendapatkan balasan serupa.Namun memberikan seluruh cinta kepada Allah tak kan pernah sia- sia.Sesungguhnya cinta-Nya dan kasih-Nya kepada makhluk tiada batas. Jika kita memberikan cinta yang tulus kepada Allah maka cinta-Nya akan kita dapat dan Dia akan menggerakkan hati makhluk-Nya yang terpilih untuk mencintai kita, Insya Allah.

Salam,

Sabtu, 21 Januari 2012

Ahmad Fauzan Ibnu Zaend
Windowsbie7 - Jendela Hati Kita

29/11/11

Cinta & Nafsu

LANTAS... APA SIH BEDANYA cinta dan nafsu ? 1. Cinta itu membahagiakan, Nafsu itu membahayakan Cinta yang sebenarnya selalu menunjukkan jalan atau arah
menuju kebahagiaan bagi orang-orang yang menjalaninya karena ALLAH. Seorang pecinta yang sudah menemukan dan memahami makna cinta sejati dalam
dirinya akan berada pada kondisi yang membahagiakan. Sebaliknya, orang-orang yang terkecoh dengan nafsu dan menganggap nafsu adalah cinta akan berada
dalam kondisi yang membahayakan. Kita tidak bisa memungkiri, di mana ada kebaikan, di situlah setan menggoda manusia agar terjerumus ke dalam
keburukan. Cinta dan nafsu seperti dua sisi dari mata uang yang sama. Cinta adalah sisi positif, nafsu adalah sisi negatif dan uang itu adalah hubungan.
Seseorang yang mencintai pasangannya dengan sebenar-benarnya cinta karena ALLAH akan mengarahkan hubungannya menuju kebahagiaan sejati dengan
cara menjaga dan menyayangi pasangannya. Tanpa bermaksud untuk merusak dan menyakiti. Lain halnya dengan orang-orang yang menjalin hubungan dengan
landasan nafsu, mereka akan membawa hubungannya kearah kebahagiaan yang semu dan hanya berorientasi pada fisik, dalam hal ini sex. Yang justru akan
menjerumuskan mereka ke dalam situasi yang membahayakan. 2. Cinta bikin kita ketawa, Nafsu bikin kita kecewa Kalau diibaratkan hubungan seperti sawah,
maka cinta adalah padi dan nafsu adalah rumput liar. Nah, ketika ketika seseorang menanam padi (cinta) di sawah (hubungan) maka secara otomatis akan
tumbuh juga rumput liiar (nafsu). Kalau orang itu sudah mengetahui dan memahami apa itu padi (apa itu cinta), maka dia akan segera memangkas rumput liar itu
(nafsu) yang tumbuh di sawahnya (hubungan). Ketika tiba masa panen, orang ini akan menuai hasil sawahnya (hubungan) yang ditanami padi (cinta) itu tadi
berupa buah padi (kebahagiaan) . Lain dengan orang-orang yang terkecoh yang menyangka rumput liar (nafsu) sebagai padi (cinta). Mereka akan memelihara
rumput liar (nafsu) dan tanaman padinya (cinta) akan mati. Pada saat panen, tentu yang mereka dapat hanyalah sekarung rumput liar (nafsu) yang tidak enak
dimakan (kekecewaan). 3. Cinta selalu ingin memberi, Nafsu hanya ingin diberi Saya rasa maksud dari poin ketiga ini sudah jelas . Cinta adalah memberi. Ketika
seseorang menjalin hubungan atas dasar cinta maka hal pertama yang dilakukannya adalah memberikan yang terbaik kepada pasangannya, bukan ingin diberi.
Logikanya, kalau kita dan pasangan sama-sama ingin memberi (kita ingin memberi kepada pasangan dan pasangan ingin memberi kepada kita) secara otomatis
keduanya akan menerima. Tapi kalau kita dan pasangannya inginnya diberi (pasangan ingin diberi dan kita juga ingin diberi) lalu siapa yang akan memberi..?
Pada akhirnya yang terjadi justru tidak ada yang akan diberi karena tidak ada yang ingin memberi. 4. Cinta ingin menyayangi, Nafsu ingin menggerayangi
Bagaimana cara kamu memperlakukan pasanganmu? Dan bagaimana cara pasanganmu memperlakukan kamu? Ini adalah cara termudah untuk membedakan
mana cinta, mana nafsu..? Landasan seseorang dalam menjalin hubungan akan sangat menentukan pada bagaimana cara orang tersebut memperlakukan
pasangannya. Orang yang menjalin hubungan dengan landasan cintakarena ALLAH akan senantiasa memperlakukan pasangannya dengan cara-cara yang baik.
Menjaga, menyayangi, memperhatikan.MENUNTUN dan selalu memberikan yang terbaik. Sebaliknya orang orang yang menjalin hubungan karena nafsu
cenderung memperlakukan pasangan ke arah fisik. Setiap kali bertemu, inginnya menciumi dan diciumi, setiap kali berdua inginnya dipeluk dan memeluk,
digerayangi dan menggerayangi, dan yang lebih parah lagi kalau sampai kearah hubungan sex. 5. Cinta yang terbaik, Nafsu yang terbalik Cinta karena ALLAH
selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik, berusaha memberikan yang terbaik untuk pasangan dan selalu memperlakukan pasangan dengan cara-cara yang
baik. Bagaimana dengan nafsu..? Sebaliknya, nafsu selalu ingin diberi dan cenderung memperlakukan pasangan ke arah yang menyesatkan NB.......pake HP /
LAPTOP / PC bisa tag/menandai sendiri,,, silahkan menandai / TAG foto sendiri ." silahkan di share/ di BAGIKAN saling bantu-membantu teman2 yg lain ..buat taq
foto ya" ( klo ada tulisan gagal, berarti quota penuh,,coba berpindah-pindah ke foto berikutnya,,).... terdapat banyak foto yg sama di dalam satu album.. di
persilahkan menandai teman2 anda.

klik

16/07/11

HIDUNG PESEK DANMATA SIPIT


Mengatakan atau dikatakan berwajah jelek adalah sesuatu yang tidak enak. Kejam dan tidak adil rasanya karena penghormatan masyarakat, sukses kerja dan perjodohan banyak dipengaruhi oleh citra fisik seseorang. Sudah tradisi umum untuk mengkaitkan keindahan dengan kebaikan dan keburukan dengan kejahatan. Meskipun tidak benar selalu saja keburukan dijadikan ciri kejahatan dan ketampanan sebagai ciri kebaikan. Kita selalu menontonnya dalam film-film. Sementara itu kita menyaksikan banyak orang yang tidak puas dengan wajah asli mereka. Anak-anak perempuan kita menyesali rambut keriting dan hidung peseknya. Banyak wanita di China mengoperasi mata sipit mereka supaya nampak universal dan mengoperasi bibir mereka supaya lebih mudah untuk mengucapkan bahasa Inggris. Mata sipit dan hidung pesek orisinil dari Allah yang Maha Pencipta ternyata banyak yang tidak suka. Demi karir dan penampilan. Bisa kita maklumi dan tidak mungkin dicegah karena sudah menjadi kegiatan industri.

Konon Socrates filosof Yunani yang terkenal itu berwajah buruk. Matanya menonjol keluar seperti mata kepiting, hidungnya pesek dengan lubang yang lebar menghadap kedepan. Tetapi ia membela cacat tubuhnya dengan mengatakan bahwa mata yang demikianlah yang lebih sempurna dan sesuai dengan tujuan penciptaannya. Dengan sedikit menggerakkan bola mata, mata kepiting bisa melihat hampir kesegala arah daripada mata indah yang hanya dapat mengarah kedepan. Hidung pesek juga lebih unggul daripada hidung mancung karena tidak menimbulkan penghalang diantara kedua mata dan memungkinkan pandangan bebas tanpa halangan apapun. Sementara hidung mancung menyekat pandangan satu mata dengan yang lain. Lubang hidungnya yang terlalu lebar, bukankah hidung berfungsi untuk mencium? Lubang yang lebar dan mengarah kedepan lebih baik karena dapat menangkap bau-bauan dari segala arah ketimbang lubang sempit dari hidung mancung yang mengarah kebawah. Socrates menggunakan kejelekan wajahnya sebagai sentuhan filosofis dengan menyimpulkan bahwa filsafat dapat menyelamatkan kita dari keburukan lahiriah.

Yang lebih buruk muka dari Socrates adalah Jean-Paul Sartre, filosof eksitensialis kiri dari Perancis (1905-1980) dengan mata malas dan juling, wajah tak simetris dan tubuh pendek. Baginya cacat fisiknya itu merupakan aspek sentral dari kepribadiannya. Ide-ide filsafatnya banyak berkaitan dengan perjuangan seumur hidupnya untuk berdamai dengan cacat fisiknya yang menyolok mata itu. Semasa kecil Sartre adalah anak mama, dimanja dan diperlakukan seperti boneka. Rambutnya dipanjangkan dan disisir rapih dengan baju yang berenda-renda. Ibunya memanggilnya Polo yang manis. Kakeknya Karl Schweitzer, tokoh terhormat dengan jenggot yang berwibawa merasa sebal melihat cucunya yang seperti anak perempuan. Dibawanya ia ketukang cukur dan dipangkasnya rambutnya. Ibunya menangis frustrasi karena wajah Paul nampak jelek sekali. Tanpa rambut keriting panjang dan pakaian mewah Sartre kecil nampak sekali cacatnya. Para biographer menggambarkan wajah Sartre memang jelek. Dengan mata juling dan rabun sebelah ia kelihatan selalu curiga dan tidak jelas perhatiannya. Teman-temannya menggambarkannya seperti kodok berkaca-mata dan kelewat pendek. Satu-satunya kepuasan Jean-Paul adalah rasa percaya dirinya; ia tahu bahwa ia lebih cerdas dari anak-anak lain.

Menyikapi ketidak-sempurnaan fisik orang lain maupun diri sendiri dengan rendah hati adalah penting karena karena dapat berakhir dengan kufur atau syukur, sombong atau frustrasi.

Sumber: Pakde Jum'an Basalim
Copyright@PKPTII

Cari Blog Ini

Halaman

Popular Posts

Advertisement

Responsive Advertisement