Tampilkan postingan dengan label Ilmu Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan

04/11/13

Perbedaan Air SENI - MANI - WADI dan MADZI



1. Kencing: Masyhur sehingga tidak perlu dijelaskan, dan dia najis berdasarkan Al-Qur`an, Sunnah, dan ijma’.

2. Wadi: Cairan tebal berwarna putih yang keluar setelah kencing atau setelah melakukan pekerjaan yang melelahkan, misalnya berolahraga berat. Wadi adalah najis berdasarkan kesepakatan para ulama sehingga dia wajib untuk dicuci. Dia juga merupakan pembatal wudhu sebagaimana kencing dan madzi.

3. Madz i: Cairan tipis dan lengket, yang keluar ketika munculnya syahwat, baik ketika bermesraan dengan wanita, saat pendahuluan sebelum jima’, atau melihat dan mengkhayal sesuatu yang mengarah kepada jima’. Keluarnya tidak terpancar dan tubuh tidak menjadi lelah setelah mengeluarkannya. Terkadang keluarnya tidak terasa. Dia juga najis berdasarkan kesepakatan para ulama berdasarkan hadits Ali yang akan datang dimana beliau memerintahkan untuk mencucinya.

4. Mani: Cairan tebal yang baunya seperti adonan tepung, keluar dengan terpancar sehingga terasa keluarnya, keluar ketika jima’ atau ihtilam (mimpi jima’) atau onani -wal ‘iyadzu billah-, dan tubuh akan terasa lelah setelah mengeluarkannya.

Berhubung kencing dan wadi sudah jelas kapan waktu keluarnya sehingga mudah dikenali, maka berikut kesimpulan perbedaan antara mani dan madzi:

a. Madzi adalah najis berdasarkan ijma’, sementara mani adalah suci menurut pendapat yang paling kuat.
b. Madzi adalah hadats ashghar (kecil) yang cukup dihilangkan dengan wudhu, sementara mani adalah hadats akbar (besar) yang hanya bisa dihilangkan dengan mandi junub.
c. Cairan madzi lebih tipis dibandingkan mani.
d. Mani berbau, sementara madzi tidak (yakni baunya normal).
e. Mani keluarnya terpancar, berbeda halnya dengan madzi. Allah Ta’ala berfirman tentang manusia, “Dia diciptakan dari air yang terpancar.” (QS. Ath-Thariq: 6)
f. Mani terasa keluarnya, sementara keluarnya madzi kadang terasa dan kadang tidak terasa.
g. Waktu keluar antara keduanyapun berbeda sebagaimana di atas.
h. Tubuh akan melemah atau lelah setelah keluarnya mani, dan tidak demikian jika yang keluar adalah madzi.

Karenanya jika seseorang bangun di pagi hari dalam keadaan mendapatkan ada cairan di celananya, maka hendaknya dia perhatikan ciri-ciri cairan tersebut, berdasarkan keterangan di atas. Jika dia mani maka silakan dia mandi, tapi jika hanya madzi maka hendaknya dia cukup mencuci kemaluannya dan berwudhu. Berdasarkan hadits Ali -radhiallahu anhu- bahwa Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda tentang orang yang mengeluarkan madzi :

اِغْسِلْ ذَكَرَكَ وَتَوَضَّأْ

“Cucilah kemaluanmu dan berwudhulah kamu.” (HR. Al-Bukhari no. 269 dan Muslim no. 303)

Tambahan:

1. Mandi junub hanya diwajibkan saat ihtilam (mimpi jima’) ketika ada cairan yang keluar. Adapun jika dia mimpi tapi tidak ada cairan yang keluar maka dia tidak wajib mandi. Berdasarkan hadits Abu Said Al-Khudri secara marfu’:

إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ

“Sesungguhnya air itu hanya ada dari air.” (HR. Muslim no. 343)
Maksudnya: Air (untuk mandi) itu hanya diwajibkan ketika keluarnya air (mani).

2. Mayoritas ulama mempersyaratkan wajibnya mandi dengan adanya syahwat ketika keluarnya mani -dalam keadaan terjaga. Artinya jika mani keluar tanpa disertai dengan syahwat -misalnya karena sakit atau cuaca yang terlampau dingin atau yang semacamnya- maka mayoritas ulama tidak mewajibkan mandi junub darinya. Berbeda halnya dengan Imam Asy-Syafi’i dan Ibnu Hazm yang keduanya mewajibkan mandi junub secara mutlak bagi yang keluar mani, baik disertai syahwat maupun tidak.

Wallahu a’lam.

Semoga Kita dapat mengambil pengetahuan yang bermanfaat dan bernilai ibadah dan semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati Kita yang telah lama terkunci. Aamiin.

(Cantumkan jika ada doa khusus untuk ibu dan juga doa yang lainnya,agar kami para jamaah bisa mengaminkannya)

Silahkan Klik Like dan Bagikan di halamanmu agar kamu dan teman-temanmu senantiasa istiqomah dan bisa meningkatkan ketakwaannya kepada ALLAH SWT.

Ya ALLAH...
✔ Muliakanlah orang yang membaca tausiah ini
✔ Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid
✔ Lapangkanlah hatinya
✔ Bahagiakanlah keluarganya
✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
✔ Mudahkan segala urusannya
✔ Kabulkan cita-citanya
✔ Jauhkan dari segala Musibah
✔ Jauhkan dari segala Penyakit,Fitnah,Prasangka Keji,Berkata Kasar dan Mungkar.
✔ Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang membaca dan membagikan tausiah ini.

Aamiin ya Rabbal'alamin

31/08/13

Silaturrahmi Berbalik Ridho Gusthi

Silaturrahmi merupakan salah satu ajaran dalam Islam akan tetapi masih banyak yang belum memahami hakikat dan faidah-faidah silaturahmi. Artikel ini mengupas pengertian, faidah dan tips dalam mempererat silaturahmi

Shilah artinya Hubungan atau menghubungkan sedangkan ar-Rahm berasal dari Rahima-Yarhamu-Rahmun/ Rahmatan yang berarti lembut dan kasih sayang. Taraahamal-Qaumu artinya kaum itu saling berkasih sayang. Taraahama 'Alayhi berarti mendo'akan seseorang agar mendapat rahmat. Sehingga dengan pengertian ini seseorang dikatakan telah menjalin silaturrahmi apabila ia telah menjalin hubungan kasih sayang dalam kebaikan bukan dalam dosa dan kema'siatan.

Selain itu kata ar-Rahm atau ar-Rahim juga mempunyai arti peranakan (rahim) atau kekerabatan yang masih ada pertalian darah (persaudaraan). Inilah keunikan Bahasa Arab, Satu kata saja sudah dapat menjelaskan definisinya sendiri tanpa bantuan kata-kata lain. Dengan demikian Shilaturrahmi atau Shilaturrahim secara bahasa adalah menjalin hubungan kasih sayang dengan saudara dan kerabat yang masih ada hubungan darah (senasab).

Seseorang tidak dapat dikatakan menjalin hubungan silaturrahmi bila ia berkasih sayang dengan orang lain sementara saudara dan kerabatnya dia jadikan musuh. Islam dalam hal ini mengajarkan kepada kita tentang skala prioritas, yaitu dahulukanlah keluarga dan kaum kerabatmu baru kemudian orang lain. Hubungan baik dengan orang lain jangan sampai merusak hubungan kekeluargaan. Hubungan kasih sayang dengan istri jangan sampai merusak hubungan kita dengan orang tua dan saudara.

Peliharalah Tali Silaturrahmi, maksudnya peliharalah hubungan kekeluargaan kamu. Jangan sampai kamu lupa dengan nasab kamu, orang tua kamu, saudara-saudara kamu dan kerabat-kerabat kamu. Setelah itu baru peliharalah hubungan kasih sayang dengan orang-orang mu`min sebagaimana dengan saudara sendiri.


Anjuran menjalin Silaturrahmi adalah anjuran untuk tidak melupakan nasab dan hubungan kekerabatan. Satu-satunya bangsa yang paling hebat dalam menjalankan silaturrahmi adalah bangsa Arab. Mengapa? Karena mereka tidak lupa nenek moyang mereka. Makanya mereka selalu mengaitkan nama mereka dengan bapak, dan kakek-kakek mereka ke atas. Oleh karena itu dalam nama mereka pasti ada istilah bin atau Ibnu yang artinya anak.


Nabi kita Muhammad Saw mengetahui nasabnya sampai beberapa generasi sebelumnya. Nasab beliau adalah Muhammad bin 'Abdullah bin 'Abdul-Muthalib bin Hasyim bin Abdul- Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan.

Bukan hanya Nabi yang seperti itu, hampir seluruh orang-orang Arab mengetahui nasabnya masing-masing sampai beberapa generasi sebelumnya. Hubungan kekeluargaan dan persaudaraan diantara mereka sangat kuat. Allah menjadikan mereka sebagai contoh untuk diteladani. Lalu bagaimana dengan bangsa-bangsa lain dan bangsa kita yang kebanyakan mengetahui hanya sampai kakek dan buyut. Akibat pengetahuan nasab yang terbatas ini maka efeknya sangat memprihatinkan. Diantaranya tidak mengetahui saudaranya yang jauh, menganggap bahwa dirinya tidak punya saudara, tidak mendapat bantuan dan pertolongan bila dirinya mengalami kesengsaraan, tidak punya tempat untuk mengadu dan meminta pertolongan kecuali orang lain. Akhirnya ujung-ujungnya timbullah kemiskinan, anak gelandangan, dan lain sebagainya. Padahal seandainya mereka mengetahui nasab mereka siapa tahu bahwa direktur perusahaan disamping gubuknya adalah saudaranya dari buyut kakeknya.

Inilah salah satu hikmah perintah bersilaturrahmi. Bersilaturrahmi atau menjalin hubungan kasih sayang yang kuat diantara saudara dan keluarga pihak kakek dan nenek ke atas. Kalau bisa kita menghafalnya sebagaimana bangsa Arab menghafal nasab-nasab mereka baik dari pihak bapak maupun dari pihak ibu.
Allah dalam al-Qur`an secara spesifik memerintahkan umat Islam untuk menjalin silaturrahmi/ silaturrahim;

يَاأيّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَ بَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَ نِسَآءً وَاتَّقُوْا اللهَ الًّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَ الأرْحَامَ إنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْـبًا (النساء : 1)

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu (an-Nisa`:1)

Dari Miqdam ra bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:

إنَّ اللهَ يُوْصِيْكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ إنَّ اللهَ يُوْصِيْكُمْ بِأبآئِكُمْ إنَّ اللهَ يُوْصِيْكُمْ بِالْأَقْرَبِ فَالْأقْرَبِ

Sesungguhnya Allah berwasiat agar kalian berbuat baik kepada ibu-ibumu, sesungguhnya Allah berwasiat agar berbuat baik kepada bapak-bapakmu dan sesungguhnya Allah berwasiat kepada kamu agar berbuat baik kepada sanak kerabatmu (Silsilah Hadits Shahih; al-Albani)

Menyambung hubungan kekerabatan adalah wajib dan memutuskannya merupakan dosa besar. Dari Jubair bin Muth'im bahwa Nabi Saw bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحْمٍ (متفق عليه)
Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan persaudaraan (Muttafaq 'Alaih)

Silaturrahmi tidak hanya bagi saudara sedarah (senasab) tapi juga saudara seiman. Allah Swt memerintahkan agar kita menyambung hubungan baik dengan orang tua, saudara, kaum kerabat, dan orang-orang mu`min yang lain. Namun dalam hubungan silaturrahmi yang diutamakan adalah sanak famili yang masih ada hubungan darah (senasab) baru kemudian orang-orang beriman yang tidak ada hubungan darah dengan kita. Karena mereka-lah yang lebih dekat hubungannya dengan kita.

Begitu juga apabila kita meminta bantuan maka yang lebih layak kita minta adalah sanak famili kita, baru kemudian orang lain. Karena mereka dan kita sama-sama punya hak dan kewajiban untuk saling tolong-menolong.
Di dalam Islam anjuran berinfak ditujukan kepada kaum kerabat kita yang miskin dulu baru kepada orang lain. Allah berfirman :

... وَ أُوْلُوْا الأرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِيْ كِتَابِ اللهِ مِنَ المُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُهَاجِرِيْنَ إلاَّ أنْ تَفْعَلُوْآ إلَى أوْلِيَآئِكُمْ مَّعْرُوْفًا ... (الأحزاب : 6)

... Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) menurut Kitab Allah daripada orang-orang Mukmin (lain) dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada mereka (saudaramu seiman)… (al-Ahzab: 6)

Apabila manusia memutuskan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah untuk dihubungkan. Maka ikatan sosial masyarakat akan hancur berantakan, kerusakan menyebar di setiap tempat, permusuhan terjadi dimana-mana, sifat egoisme muncul kepermukaan. Sehingga setiap individu masyarakat menjalani hidup tanpa petunjuk, seorang tetangga tidak mengetahui hak tetangganya, seorang faqir merasakan penderitaan dan kelaparan sendirian karena tidak ada yang peduli.


Dan jangan sampai kita memutuskan tali silaturrahmi hanya karena gara-gara pekerjaan dan jabatan. Silaturrahmi lebih tinggi nilainya dari itu semua. Allah berfirman :

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إنْ تَوَلَّيْتُمْ أنْ تُفْسِدُوْا فِي الأرْضِ وَتُقَطَِعُوْآ أرْحَامَكُمْ (محمد: 22)

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan (silaturrahim) ? (QS. Muhammad: 22)

Kiat-Kiat Mempererat Hubungan Silaturrahmi

1. Mendahulukan Sanak-Famili yang terdekat dalam segala kebaikan, terutama orang tua. Orang tua adalah kerabat terdekat yang mempunyai jasa tidak terhingga dan kasih sayang yang besar sehingga seorang anak wajib mencintai, menghormati dan berbuat baik kepada kedua orang tuanya walaupun keduanya musyrik. Kedua orangtuanya berhak mendapat perlakuan baik di dunia namun bukan mengikuti kesyirikannya. Apabila mereka faqir maka kewajiban kitalah yang membantunya pertama kali. Kemudian saudara-saudara kita seperti paman dan bibi baru setelah itu orang lain yang seiman. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra dari Nabi Saw :

أَمَّا شَعُرْتَ أَنَّ عَمَّ الرَّجُلِ صَنُوْ أبِيْهِ

Apakah kamu tidak sadar bahwa paman seseorang adalah saudara bapaknya.

2. Mengingat Kebaikan Sanak-Famili kita, tanpanya mungkin kita tidak akan berarti.

3. Menghafal Nasab dan seluruh nama-nama saudara kita, dari mulai kakek dan nenek ke atas sampai kepada keturunan-keturunan mereka. Untuk hal ini sebaiknya kita membuat diagram silsilah keluarga agar dapat diingat oleh generasi berikutnya supaya mereka tetap melanjutkan tali silaturrahmi setelah kita tiada (meninggal).

4. Jangan menyakiti, menzhalimi dan berbuat buruk kepada sanak-famili kita. Sebaiknya kita-lah yang menjadi solusi untuk memecahkan segala permasalahan mereka.

Sesungguhnya orang-orang yang selalu menjaga tali silaturrahmi akan diberkahi oleh Allah dalam usahanya, rizki dan umurnya. Dari Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda :

مَنْ أحَبَّ أنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَ يُنْسَأ لَهُ فِي أثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَه (متفق عليه)

Barangsiapa yang senang diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya (diberkahi), maka hendaklah ia bersilaturrahmi (Muttafaq 'Alaih)

01/05/13

Selembar Surat Bukan Surat Biasa

Di suatu kota, tersebutlah seorang pemuda yang mengidap suatu penyakit. Kian hari, sakitnya semakin parah hingga tubuhnya menjadi kurus dan semakin lemah. Secara medis penyakit yang dideritanya sudah diketahui obatnya. Namun, meskipun dia sudah meminum obat itu tetap saja penyakitnya tidak kunjung sembuh sehingga membuat seluruh dokter dan tabib di kota itu menjadi heran.

Hingga suatu ketika, pemuda itu mendapatkan kiriman sebuah surat. Ajaibnya, ketika membaca surat tersebut wajah pemuda yang selama ini pucat membeku menjadi cerah dan menunjukkan cahaya kehidupan. Dan semenjak itu, kesehatan pemuda itu berangsur-angsur membaik. Obat-obat yang diminumnya mulai menunjukkan pengaruh yang sangat nyata. Dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, pemuda itu telah sembuh dari penyakit yang menggerogoti tubuhnya.

Para dokter dan tabib yang merawatnya pun menjadi penasaran dengan isi surat tersebut. Ketika membaca surat itu, mereka masih juga heran. Didalam surat tersebut tidak ada kata-kata yang aneh, bahkan hanya terdapat sebaris kata sapaan dan dibawahnya tertulis resep dan saran-saran untuk pemuda tersebut. Resep dan saran-saran yang tertulis itu pun sama saja dengan resep dan saran yang pernah mereka berikan. Lalu mereka menyimpulkan bahwa surat itu hanya surat biasa, dan kesembuhan pemuda itu tidak ada hubungannya dengan surat tersebut.

Namun, tidak begitu bagi sang pemuda. Surat itu ternyata berasal dari seorang gadis yang sudah lama pergi meninggalkan kota itu. Dulu, gadis itu adalah sahabat yang selalu menemani pemuda itu, membantunya, juga menyemangatinya. Mereka bukan sepasang kekasih waktu itu, tak pernah terucap kata cinta dari mulut mereka, tak pernah pula mereka mengucap janji untuk bertemu lagi. Sehingga pemuda itupun tak pernah sadar kalau jauh di lubuk hatinya, dia begitu merindukan gadis yang setelah menyelesaikan pendidikan dokternya, pergi meninggalkan kota itu tanpa sempat berpamitan dengan sang pemuda yang sebenarnya telah sangat membutuhkannya.

Setelah berlalu sekian lama, gadis itu mendapat kabar dari seorang temannya tentang pemuda yang sakit dan tak kunjung sembuh di kotanya. Saat mengetahui bahwa pemuda yang diceritakan itu adalah sahabatnya dulu, maka dia segera menulis surat untuknya. Bukan surat yang istimewa, hanya sapaan yang biasa, tak ada kata cinta dan tak ada ungkapan rindu tertulis disana. Namun, bagi pemuda itu pengaruhnya begitu besar. Dari sudut hatinya, muncul sinar kehidupan yang segera mempengaruhi seluruh tubuhnya, tiap sel di tubuhnya menjadi lebih kuat, setiap organnya bekerja dengan lebih baik dan sempurna.

======================================================

Ilustrasi diatas hanyalah sebuah pengantar untuk menggambarkan mukjizat dari suatu rangkaian kata. Jika sebuah surat yang demikian sederhana dan ditulis oleh seorang manusia saja bisa menunjukkan keajaiban semacam itu, maka pasti sebuah surat yang ditulis oleh Sang Kekasih Sejati akan memberikan mukjizat yang jaaaauuuuh lebih nyata. Demikianlah Al-Qur’an telah diturunkan oleh Sang Maha Pengasih, melalui kekasihNya yang paling mulia Rasulullah Muhammad SAW.

Al-Qur’an tertulis dengan sedemikian rupa hingga tiap suratnya, tiap ayatnya, tiap kalimatnya, bahkan tiap kata dan hurufnya terdengar indah ketika dilantunkan, dibaca dan didengarkan. Didalamnya, terdapat kata-kata cinta untuk kita hamba yang begitu dicintaiNya. Didalamnya pula, terdapat resep obat yang berkhasiat jika kita mengkonsumsinya. Juga jalan hidup yang begitu mulia jika kita mau menjalankannya.

Jadi, bukan hal yang mustahil jika lantunan ayat Al-Quran bisa menyembuhkan penyakit baik medis maupun non-medis. Baik penyakit  fisik maupun psikis. Apalagi jika kemudian diikuti dengan mengamalkan tiap syariat yang tercantum didalamnya, juga menjauhi larangan yang disebutkan didalamnya. Karena Al-Qur’an bukan sekedar surat cinta, Al-Qur’an lebih dari sekedar resep, Al-Qur’an bukan hanya syair ataupun kisah, bukan pula hanya kitab Undang-undang. Al-Qur’an adalah mukjizat yang begitu nyata, mencakup itu semua, tapi sekaligus lebih dari itu semua.

Di akhir tulisan ini, saya mengutip satu ayat Al-Qur’an surah Al-Israa’ ayat 82 yang berbunyi:

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌۭ وَرَحْمَةٌۭ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًۭا
Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.
======================================================

Saya menulis catatan ini, bukan berarti saya orang yang shalih. Bahkan sangat jauh dari kriteria baik apalagi hamba yang shalih. Saya hanya orang yang mencoba menjadi hamba yang baik, dengan lebih mencintai Al-Qur’an.


Mari saling memberi nasehat kebaikan
Barakallahu liy wa lakum
*Diilhami dari obrolan dengan seorang kawan waktu Januari 2011, dan dengan Abah liburan kemarin

19/03/13

Pengobatan Terhadap Pengaruh Sihir 1


Pengobatan Ilahi terhadap sihir ini terdapat dua bagian, yaitu:
Bagian pertama, hal-hal yang dipergunakan untuk mencegah datangnya sihir, yakni:
1.    Menunaikan seluruh kewajiban, meninggalkan semua larangan, serta bertaubat dari segala macam perbuatan dosa.
2.    Memperbanyak membaca al-Qur'an, yaitu dengan cara menjadikannya sebagai wirid yang dibaca setiap hari.
3.    Melindungi dan membentengi diri dengan banyak memanjatkan berbagai macam do'a, ta'awwudz, serta dzikir-dzikir yang disyari'atkan. Yang sesuai dengan sunnah Nabi صلي الله عليه وسلم yang shahih.
Diantaranya membaca:
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْـحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ
"Tidak ada Ilah (yang berhak untuk diibadahi) melainkan hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya lah seluruh kerajaan dan hanya bagi-Nya segala puji dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu."[1] (Bacaan ini dibaca 100x setiap hari).
Selain itu, harus selalu memelihara bacaan dzikir pagi dan petang, juga dzikir-dzikir setelah shalat, bacaan atau do'a pada saat akan tidur dan pada saat bangun tidur, bacaan atau do'a masuk dan keluar rumah, bacaan atau do'a menaiki kendaraan, do'a masuk dan keluar masjid, do'a masuk dan keluar wc, do'a ketika melihat orang yang sedang diuji (tertimpa musibah~ed) dan do'a-do'a lainnya yang telah dimuat dalam kitab ini sesuai dengan keadaan, kesempatan, tempat dan waktunya. Dan tidak diragukan lagi bahwa memelihara semuanya itu termasuk salah satu jalan mencegah datangnya sihir, syaitan dan jin, dengan seizin Allah Ta'ala, dan semuanya itu pula yang merupakan penyembuh yang paling ampuh bagi sihir atau hal lainnya yang sudah menimpa.[2]
4.    Jika memungkinkan, hendaklah memakan tujuh buah kurma pada pagi hari. Hal itu didasarkan pada sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم:
مَنِ اصْطَبَحَ بِسَبْعِ تَـمَرَاتٍ عَجْوَةٍ، لَـمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سَمٌّ وَلَا سِحْرٌ
"Barangsiapa di pagi hari makan tujuh buah kurma Ajwah (korma Nabi صلي الله عليه وسلم), maka dia tidak akan terkena racun atau sihir." [3]
Yang lebih sempurna ialah kurma yang ada di antara dua kampung (di Madinah), sebagaimana yang telah disebutkan di dalam riwayat Muslim.
Syaikh Allamah 'Abdul Aziz bin 'Abdullah bin Baaz رحمه الله berpendapat, bahwa seluruh kurma Madinah mempunyai sifat tersebut. Dan hal itu didasarkan pada sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم:
مَنْ أَكَلَ سَبْعَ تَـمَرَاتٍ مِـمَّا بَيْنَ لَابَتَيْهَا حِينَ يُصْبِحُ لَـمْ يَضُرَّهُ سُمٌّ حَتَّى يُمْسِيَ
"Barangsiapa yang memakan tujuh buah kurma di antara dua kampung (di Madinah) pada pagi hari, maka dia tidak akan dicelakakan oleh racun sampai sore hari..."[4]
Syaikh bin Baaz رحمه الله pun berpendapat, bahwa hal itu juga diharapkan berlaku bagi orang yang memakan tujuh buah kurma selain kurma Madinah secara mutlak.


1.  Al-Bukhari (IV/95). Dan Muslim (1V/2071)
2.  Lihat Zaadul Ma'aad (IV/126), juga Majmuu'u Fatawa 'Allamah Ibnu Baaz (III/277), lihat juga "Sepuluh hal yang dapat menolak kejahatan orang dengki dan tukang sihir", pada bagian ketiga Pengobatan Terhadap ‘Ain
3.  Al-Bukhari dalam al-Fath (X/247) dan Muslim (III/1618)
4.  Muslim (III/1618)

13/03/13

Tanya Jawab - Berdzikir, Berdoa dan Bersedekah untuk Mayat

Bagaimanakah hukum berdzikir atau berdoa untuk orang yang sudah meninggal dunia?

Berdoa merupakan perintah Allah. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu berdoa kepada Allah. Karena doa erupakah inti dari ibadah. Dalam setiap gerak ibadah yang dilakukan olelh seorang mukmin itu ada doa. Bahkan dalam sebuah hadits dinyatakan, bahwa doa itu merupakan pedang bagi seorang muslim. Islam membolehkan berdoa atau dzikir untuk orang yang sudah mati. Dalam sebuah ayat dinyatakan:
Orang-orang yang datang sesudah mereka(Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, "Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu daripada kami." (QS. Al-Hasyr)

Ayat tersebut secara jelas menyatakan bahwa para sahabat pernah berdoa untu saudara-saudara mereka yang telah lebih dahulu meninggal dunia. Ketika para sahabat melakukan hal itu, rasulullah pun tidak melarangnya. Nabi membiarkan dan membolehkannya. Perintah untuk mendoakan orang lain juga disebutkan dalam ayat:
"Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan." (QS. Muhammad: 19)

Nabi SAW.sendiri dalam beberapa haditsnya memerintahkan secara terang-terangan supya umat islam membacakan ayat-ayat al-Qur'an untuk orang yang telah meninggal dunia. Hal ini dapat dilihat dalam hadits berikut:
Dari Mu'aqqol ibn Yassar ra.: "barang siapa membaca surat yasin karena mengharap ridlo Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, maka bacakanlah surat yasin bagi orang yang mati diantar kamu." (Al-Baihaqi, Jami'us Shogir: bab Syu'abul Iman, Vol. 2, hal. 178, termasuk hadits shohih.)
Senada dengan itu, dalam hadits lain Rasulullah juga menganjurkan kepada kaum muslimin untuk memohonkan ampunan bagi si mayit atas dosa-dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan saat hidup di dunia. Dari Utsman bin Affan ra, dia berkata:
"Ketika Rasulullah selesai menguburkan jeazah, maka beliau berdiam diri atas mayit, lalu bersabda, "mohon ampunlah kalian semua kepada Allah SWT.untuk saudaramu. Dan mohonlah ketetapan untuk mayit sesungguhnya saat ini dia sedang diberi pertanyaan." (HR. Abu Daud dan Hakim, termasuk hadits shohih menurut Abu Daud, Bulughul Maram: 115/604)

Bagaimana hukum bersedekah untuk orang yang sudah meninggal dunia?

Dalam islam, sedekah merupakan amalan mulia yang sangat dianjurkan, bahkan merupakan perintah yang harus dijalankan. Di dalam al-Qur'an digambarkan bahwa bersedekah merupakan salah satu cirri orang yang bertaqwa. Dengan kata lain seseorang tidak masuk dalam kategori  bertaqwa (muttaqin) manakala ia tidak mau menyisihkan sebagian hartanya untk disedekahkan kepada orang yang berhak. Allah befirman:
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Ali- Imron: 133-134)

Banyak hikmah yang dapat diambil dalam bersedekah. Oranng yang bersedekah tidak akan mengalami kerugian, baik materil maupun spiritual. Allah sendiri dalam wahyu-Nya menjanjkan mereka yang mau bersedekah untuk dilipatgandakan. Seseorang yang mensedekahkan hartanya digambarkan akan mendapatkan pahala berlipat-lipat ibarat dahan pohon yang memiliki tujuh ranting, dan setiap ranting memiliki seribu benih. Dalam ayat lain Allah secara tegas akan menjamin orang yang bersedekah, ia akan dilindungi dari kejahatan orang-orang dzalim. 
"Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)." (QS. A-Anfal : 60).

Bersedekah tidak saja dapat dilakukan ketika masih hidup. Tetapi sedekah juga dapt dilakukan untuk orang yang sudah meninggal dunia. Rasulullah pernah SAW.perah memerintah seseorang suaya bersedekah untuk keselamatan keluarganya yang telah meninggal dunia.
Dari Aisyah ra.bahwa seorang laki-laki berkata kepada rasulullah SAW. "Sesungguhnya ibuku telah meninggal, dan aku melihatnya seolah-olah dia berkata, bersedekahlah. Apakah baginya pahala jika aku bersedekah untuknya?". Rasulullah SAW. Bersabda,"ya".(Muttafaqu ‘alaih)
Perintah rasulullah yang senada itu juga dapat ditemukan dalam hadits-hadits yang lain. Bahkan beliau menyebut amalan sedekah sebagai amalan yang tidak akanpernah putus meskipun oranng yang bersedekah itu telah meninggal dunia. Pahala sedekah tidak saja dapat mengalir ketika yang bersangkutan masih hidup, tetapi juga ketika jasad sudah ditiggalkan oleh rohnya. Dari Abi Hurairah ra.bahwa rasulullah SAW.bersabda:
'Tatkala manusia meninggal maka putuslah semua amalnya, kecuali tiga perkara. Yaitu amal Jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh yang mendoakannya." (HR. Muslim).  

Apa hukum talqin (pengajaran) kepada mayit?

Di kalangan ulama ahli ijtihad, tidak ada perbedaan pendapat mengenai talqin (mengajarkan kalimal La ilaaha illa Allah) kepada orang yang sedang sekarat, berdasarkan hadits:
لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ بِلاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ
"Hendaklah kamu semua mengajarkan kepada orang-orang meninggal alian degan kalimat Laa ilaaha illa Allah(tidak ada Tuhan selain Allah)"
Adapun mengajari (talqin) orang yang baru dikuburkan menurut ulama madzhab Syafi'i, mayoritas ulama madzhab Hambali dan sebagian ulama madzhab Hanafi dan Maliki hukumya sunnah, berdasarkan riwayat At-Tabrani:
"Dari Abu Umamah ra., "Apabila salah seorang di antara saudaramu meninggal dunia dan tanah telah diratakan di atas kuburannya, maka hendaklah salah seorang diantara kamu berdiri di arah kepala, lalu ucapkanlah, ‘Hai Fulan bin fulanah (nama mayat dan nama ibunya). ‘Sesungguhnya si mayat itu mendengar, namun tidak dapat menjawab. Kemudian ucapkan ‘Hai fulan bin fulanah, ‘Sesungguhnya dia duduk. Lalu ucapkan lagi, ‘hai fulan bin fulanah, maka si mayat berkata, ‘Bimbinglah kami, semoga Allah merahmatimu. Kemudian katakanlah "ingatlah apa yang kamu pertahankan saat meninggal dunia berupa kalimat syahadat dan kerelaanmu trhadap Allah sebagai Tuhan, islam sebagai agama, Muhammad sebagai Nabi, dan Al-Qur'an sebagai panutan. Sesungguhnya malaikat munkar dan nakir saling berpegangan tangan dan berkata, ‘ayo pergi. Tidak perlu duduk di sisi orang yang diajarkan kepadanya jawabannya. Allah-lah yang dapat memintainya jawaban, bukan malikat munkar dan akir. Lalu ada seorang laki-laki bertanya, ya Rasulullah bagaimana jika ibu si mayat tidak diketahui? Beliau menjawab, sambungkan nasabnya ke ibu Hawa. (HR. At-Thabrani)
Hadits tersebut marfu', sekalipun dhoif, tetapi hadits ini boleh diamalkan dalam amal-amal kebaikan (fadhoilul a'mal) dan untuk mengingatkan orang-orang mukmin, dan juga mengingatkan firman Allah SWT:
"Dan tetaplah memberi peringatan, karena Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Adz-Dzariyat: 55)

Dan tentu saja nasehat yang paling dibutuhkan oleh setiap hamba adalah ketika baru saja dikebumikan. Imam ibnu Taimiyah dalam fatwa-fatwanya menjelaskan, sesungguhnya talqin sebagaimana tersebut diatas benar-benar dari sekelompok sahabat Nabi SAW.bahwa mereka menganjurkan talqin. Diatara mereka adalah Abu Umamah ra. Imam ibnu Taikiyah berkata, "Hadits-hadits yang menerangkan bahwa orang yang dalam kubur itu ditanya dan diuji dan perlu di doakan adalah sngat kuat. Oleh sebab itu talqin berguna baginya, sebab mayat itu dapat mendengar seruan, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang shohih:
"Sesungguhnya Nabi SAW. Bersabda: "Sesungguhnya mayat dalam kubur itu mendengar gesekan sandal-sandal kamu semua."
Sementara itu, dalam hadits yang lain disebutkan:
"Sesungguhnya beliau bersabda: "kamu semua tidaklah lebih mendengar apa yang kau ucapkan daripada mereka."

15/02/13

CARA LAPANG DADA DEMI TERHINDAR DARI SIHIR

Allah berfirman, ''Siapa-siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, maka Dia melapangkan dadanya. Dan siapa-siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, maka Allah menjadikan dadanya sesak dan sempit'' (Q. S. 6: 125).


Agar diri kita terhindar dari gangguan sihir, santet, pukulan jarak jauh, kiriman Virtual/khodam/jin perusak, dll...

Secara mental ada cara yg mudah, dan tanpa perlu baca mantra apapun. Cukup dengan menata sikap saja. Yaitu munculkan sikap Lapang dada, jembar dadane, jadikan dada kita seluas samudra. Yang mampu menetralisir apapun kotoran yg dilemparkan manusia....

Karena hanya hati yang sempit,  gelap, dan kotor yg akan menjadi sarang setan serta target empuk bagi kekuatan hitam. Maka, jernihkan hati lapangkanlah dada, dan jadilah penuh kasih & damai....

LAPANG DADA
Istilah lapang dada, secara simbolik digunakan Allah SWT untuk menunjuk orang-orang yang kepadanya Ia berkenan memberi petunjuk atau hidayah, terutama hidayah iman dan Islam. Karena itu, seperti dituturkan Muhammad Ghazali dalam bukunya Khuluq al-Muslim, tak ada nikmat dan anugerah yang amat besar selain nikmat bersih hati dan lapang dada.

Allah berfirman, ''Siapa-siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, maka Dia melapangkan dadanya. Dan siapa-siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, maka Allah menjadikan dadanya sesak dan sempit'' (Q. S. 6: 125).

Nabi Muhammad sendiri, disebut Allah SWT sebagai orang yang telah dilapangkan dadanya (Q. S. 94: 1). Menurut Muhammad Ali al-Shabuni dalam buku tafsirnya Shafwat al-Tafasir, yang dimaksud dengan dilapangkan dadanya ialah bahwa hati Nabi SAW telah dipenuhi dengan iman, diterangi dengan cahaya kebajikan dan kebenaran, serta disucikan dari berbagai kotoran dan dosa-dosa. Di dalam dada yang lapang dan hati yang bersih itulah bersemayam iman dan takwa. ''Tempat takwa itu di sini!'' sabda Nabi Muhammad SAW, sambil menunjuk ke dadanya.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Abdullah bin 'Amr dibikin penasaran oleh ''keistimewaan'' salah seorang Anshar. Pasalnya, setiap kali melihat orang itu, Nabi SAW selalu berkata, ''Ini dia calon penghuni surga!'' Setelah diteliti dan diselidiki, Abdullah menjadi tahu keistimewaan orang itu. Dia adalah orang yang bersih hati dan lapang dada. (H.R. Ahmad).

Orang yang bersih hati dan lapang dada, seperti dikemukakan di atas, tak lain adalah orang-orang yang mampu menekan secara maksimal kecenderungan-kecenderungan buruk yang ada dalam dirinya, seperti rasa benci, dengki, iri hati, dan dendam kusumat. Sebaliknya, ia juga mampu dan berhasil mengembangkan potensi-potensi baik yang ada dalam dirinya menjadi kualitas-kualitas moral (akhlaq al-karimah) yang nyata dan aktual dalam kehidupannya.

Hanya orang yang lapang dada dan bersih hati seperti itu mampu dan sanggup mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri, seperti dianjurkan oleh Nabi SAW. Juga hanya orang seperti itu yang dapat merasa senang dan gembira apabila melihat saudaranya mendapat kebaikan dan anugerah dari Allah SWT.

Orang yang demikian itu pula yang kelak akan mendapat perlindungan dari Allah SWT. Firman-Nya, ''(Ingatlah) pada hari di mana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih dan lapang.'' (Q.S. 26:89).

Semoga kita menjadi orang yang selalu berlapang dada. -

SALAM DAMAI....



13/02/13

ANTARA SYAFA'AT MALAIKAT VS KHODAM MALAIKAT


Syafaat Malaikat itu beda definisinya dg definisi Khodam Malaikat sebagaimana yg umum di fahami oleh masyarakat. Khodam itu konotasinya adalah suatu hubungan yg tidak sederajat, antara atasan dan bawahan. Sedangkan pemberian syafaat lebih mengarah kepada hubungan yang sederajat dan atas dasar sukarela. Syafaat itu suatu Source Power yg mempunyai TOS (Term of Service) khusus.

tidak bisa dibuat jargon ataupun label dagangan... umpama :
メ Ilmu ini mengandung Khodam Malaikat,
メ Jimat atau benda ini mengandung Khodam malaikat,
メ Tekhnik mengakses Energi Malaikat,
メ dll...

Karena yg menjadikan syafaat malaikat itu ada, adalah karena Izin & ridloNya, dan bukan karena amalan kita. Ini soal hati dan memang harus hati-hati.... demi untuk menjaga kemurnian akidah dan kesalahan dalam menata NIAT dan hadapnya Qolbu.

Wallahu a'lam

SYAFA'AT
Syafa'at adalah usaha perantaraan dalam memberikan sesuatu manfa'at bagi orang lain atau mengelakkan sesuatu mudharat bagi orang lain. Syafa'at yang tidak diterima di sisi Allah adalah syafa'at bagi orang-orang kafir (orang yang tidak percaya).

Syafa'at yang baik ialah : setiap sya'faat yang ditujukan untuk melindungi hak seorang muslim atau menghindarkannya dari sesuatu kemudharatan. Syafa'at yang buruk ialah kebalikan syafa'at yang baik.

ayat-ayat yg terkait dengan syafaat :

Katakanlah: "Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada- Nyalah kamu dikembalikan" ( QS. Az-Zumar 39:44 )

"Barangsiapa yang memberikan syafa'at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa'at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."( QS. An Nisaa 85 )

 "Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya)." [QS. An Najm 26]

"Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya." ( QS. Thaahaa 20:109 )

"Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat  melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya." ( QS. Al Anbiyaa' 21:28 )

HADITS :

Rasulullah SAW bersabda:
“Allah SWT berfirman: Malaikat akan memberikan syafaat, para nabi memberikan syafaat, dan kaum mukminin akan mem-berikan syafaat, dan tidak tersisa kecuali milik Allah.”
[ HR. Al-Imam Muslim di dalam Shahih beliau dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri z dalam hadits yang panjang tentang ru‘yatullah no. 183.}

Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya dari umatku ada orang yang akan memberikan syafaat kepada sekelompok orang. Dan di antara mereka ada juga yang akan memberikan syafaat kepada sebuah qabilah. Dan di antara mereka ada yang memberikan syafaat kepada al-’ushbah2. Dan di antara mereka ada yang akan memberikan syafaat kepada satu orang, sehingga mereka masuk surga.”
[HR. Al-Imam At-Tirmidzi dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri z dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil di dalam kitab Asy-Syafaat hal. 195]

MELIHAT GHOIB YANG SESUAI DAN TIDAK SESUAI SYARI'AT


Mempelajari fenomena perkara ghaib, berbeda dengan mengaku  mengetahui perkara ghaib. Surga dan Neraka adalah  termasuk dalam hal2 yg ghaib, tapi apakah mempelajari surga dan neraka dengan dalil2 yg ada dalam al-Quran dan al-Hadits dilarang?  Mimpi adalah termasuk hal ghaib, yg dalam salah satu Hadits  disebutkan mimpi yg baik adalah sebagian dari tanda-tanda kenabian, tapi apakah mempelajari fenomena terjadinya mimpi berdasarkan ilmu psikologi atau ilmu kedokteran dilarang? Listrik adalah hal yg  ghaib, tapi apakah mempelajari fenomena terjadinya listrik tidak  diperbolehkan?

Jadi mempelajari fenomena perkara ghaib berbeda dengan mengaku  mengetahui hal ghaib. Mempelajari fenomena alam jin dan terjadinya  kesurupan tidaklah dilarang, tapi kalau mempelajari melihat alam jin  dan mengaku bisa melihat jin dengan melakukan amalan tertentu seperti berpuasa sekian hari, mengamalkan bacaan dengan jumlah tertentu,bilangan tertentu tidak boleh lebih dan kurang, inilah yg harus dihindari..

Allah berfirman, "Alif Laam Miim. Kitab al-Qur'an ini tidak ada  keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, yaitu mereka  yang beriman pada yang gaib," (QS al-Baqarah: 1-3).

Ibnu Katsir dalam kitabnya Tafsir al-Qur'an al-`Azhim mengutip  ucapan Qatadah bahwa yang dimaksud dengan hal yang gaib dalam ayat  di atas adalah segala hal yang tak dapat dilihat atau dirasakan oleh  manusia. Karenanya, hakikat gaib tak ada yang tahu kecuali Allah SWT. Bahkan, Rasulullah saw sendiri pun tak mengetahui apa-apa  tentang hal gaib kecuali yang diberitahukan Allah SWT. Dia  berfirman, "Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib, tak  ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri," (QS al-An'am: 59).

"(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak  memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali  kepada rasul yang diridhaiNya, maka sesungguhnya Dia mengadakan  penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya." (QS Al Jin :  26,27).

Berikut Ini ayat lain yang menunjukkan kekufuran orang-orang yang  mengaku mengetahui perkara ghaib dengan belajar ilmu metafisika, belajar tenaga dalam, . Padahal Allah telah memerintahkan  Nabi Muhammad untuk mengumumkan kepada khalayak dengan firmanNya,

"Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan  Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan  tidak (pula) aku mengatakan kepadamu, bahwa aku ini Malaikat. Aku  tidak mengikuti, kecuali apa yang telah diwahyukan kepadaku." (QS Al  An'am : 50).

Jadi Nabi sendiripun dengan jelas mengatakan bahwa beliau tidaklah  mengetahui hal yg ghaib, kecuali berdasarkan wahyu yg diterimanya.

Jadi, jika ada yang mengaku bisa meramal apa yang akan terjadi di  masa mendatang, atau mengetahui hal-hal gaib dengan mengamalkan ilmu tertentu yang setiap hari diamalkan, menggunakan khodam jin jelas tak bisa  dipercaya. Seandainya pun benar, tetap tak bisa dibenarkan. Aisyah  meriwayatkan bahwa suatu ketika para sahabat bertanya pada  Rasulullah saw tentang para dukun. Rasulullah saw bersabda, "Mereka  tidak bisa berbuat apa pun." Para sahabat bertanya lagi, "Wahai  Rasulullah, mereka kadang-kadang bisa menceritakan sesuatu yang  benar kepada kami?" Rasulullah saw menjawab, "Ucapan mereka itu  berasal dari kebenaran yang dicuri oleh jin, kemudian dibisikkan ke  telinga para walinya (dukun). Para dukun itu mencampurkan kalimat  yang benar dengan seratus kedustaan," (HR Bukhari Muslim).

Mengenai alam jin, Allah SWT berfirman dalam surat al-A'raf ayat  27: "Sesungguhnya ia dengan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari  suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka."

Jadi secara normal, manusia tidaklah dapat melihat jin. Kecuali  dalam kondisi tidak normal, hal itu mungkin saja terjadi. Kondisi tidak normal ini ada dua kategori yang sesuai syari’at dan menyimpang dari syari’at.

Yang sesuai syari’at:
1.  jika kemampuan dia melihat jin diluar kemauannya namun karena atas kehendak Allah Ta’ala.contoh : Saya pernah ditelepon seorang ibu yang terkena kelumpuhan, lalu ditiap malam melakukan sholat tahajud dengan berdoa kepada Allah menimta petunjuk apakah sebab musabab penyakitnya dan meminta pertolongan kepada Allah kesembuhan dari sakit lumpuhnya, lalu pada suatu malam dia bermimpi bertemu dengan jin yang mengaku dia yang membuat lumpuh ibu tersebut dengan alasan ingin merusak ibadah dan akidah ibu tersebut. Dan alhamdulillah setelah ibu tersebut membaca surat yasin tiap hati lalu dihembuskan ditempat yang lumpuh tidak beberapa lama kemudian sakitnya sembuh. Adapun setelah mimpi itu dia tidak bisa lagi melihat penampakan jin.

2.  Jika kemampuannya karena berdoa kepada Allah langsung seketika dikabulkan namun dia sama sekali tidak mengharap bisa melihat jin namun meminta petunjuk atas suatu kasus sihir yang dihadapi dirinya dan pasiennya lalu Allah memberinya vision hingga bisa melihat jin. Contoh kasus : ada seorang peruqyah menghadapi kasus sihir kelas berat dimana pasien mengalami sakit kulit yang parah dan berbau busuk ketika diruqyah sama sekali tidak ada reaksi apapun juga, lalu peruqyah tersebut meminta petunjuk kepada Allah bagaimana hakikat penyakit pasiennya, lalu tiba-tiba peruqyah tersebut mendapatkan vision bahwa dikulit pasien tersebut ada serbuk racun yang setiap hari ditembakkan/dihembuskan oleh sekelompok jin. Adapun setelah peruqyah tersebut selesai menerapi pasiennya kemampuannya lenyap dan tidak bisa lagi dia ulangi sekehendak hatinya, untuk tamasya melihat kealam jin misalnya.

Yang TIDAK sesuai syari’at:
1. Jika dia mempunyai amalan tertentu yang harus diamalkan dan jika dia berhenti mengamalkan maka kemampuannya itu hilang.
Contoh: tiap malam wajib dia membaca surat Al-Jin dan jika dia pada malam lain tidak membaca atau mengamalkan maka kemampuannya melihat alam ghoib akan lenyap.

2.  Dari hasil riyadhoh seperti dia berpuasa mutih 40 hari didalam lubang sebuah gua, maka jika dia lulus ujian dia mendapatkan ilmu melihat alam ghoib.
3.  Dari hasil latihan olah nafas dan meditasi.
Contohnya ada seorang praktisi ilmu tenaga dalam dia bisa melihat jin setelah melakukan konsentrasi pada titik dikening sembari mengerahkan energi tenaga dalamnya keningnya.
4. Dia bekerja sama dengan jin.
Contoh: ada khodam jin mengaku sebagai leluhur yang membantu seseorang untuk bisa melihat jin
5.  dll

Dalam kondisi tidak normal yang tidak sesuai syari’at  ini tentunya dilarang karena bertentangan  dengan firman2 Allah di atas. Saya dulu pernah melakukan suatu  amalan yg diberikan oleh guru saya, agar dapat melihat alam jin. Dan  memang benar, setelah beberapa lama saya kerjakan amalan itu, saya  sedikit demi sedikit dapat membuka "mata batin" untuk dapat melihat  Jin. Bahkan saya pernah diberi khodam, yg kata guru saya akan  membantu jika saya dalam kesulitan.

Alhamdulillah, setelah saya mempelajari ilmu tauhid dari guru saya  yg sekarang, saya baru tahu bahwa semua yg saya lakukan dan pelajari  itu tidaklah benar. Mengamalkan sesuatu yg tidak dicontohkan oleh  Nabi, dapat menyebabkan kesesatan sekalipun dibimbing oleh "seorang  guru" (kalau gurunya sendiri sesat, sudah tentu kitanya juga akan
ikut sesat).

Ada dikalangan tertentu (termasuk guru saya yg dulu) yg mengatakan  bahwa di balik setiap surat atau huruf dalam al-Qur'an memiliki  khodam, yg jika kita tahu merangkainya kemudian mengamalkannya, maka  akan memberikan "kelebihan" kepada kita. Padahal, jika kita  mengamalkan sesuatu yg bukan berasal dari Nabi saw, atau mengamalkan  sesuatu dengan niat yg salah, selain amalan itu tertolak, maka yg  akan datang menemani adalah Jin yg akan membawa kita kepada  kesesatan. Sehingga dikatakan dalam hadits bahwa bidah itu akan  membawa kesasatan kepada kita. Demikian penjelasan yg saya dapati  dari guru saya yg sekarang.

Yg dilakukan para peruqyah yg syar'i sewaktu mengobati orang yg  kesurupan adalah dengan melihat gejala2nya, bukan HARUS DAN MESTI melihat jin yg ada  di dalamnya baru ruqyahnya afdhol, ingatlah walau tidak diberi vision dari Allah Ta'ala tetaplah terapi ruqyah yang dilakukannya akan manjur dengan izin Allah. Mengenai "kelebihan" orang yg dapat melihat jin  atau mahluk halus dari hasil pelatihan yang berat, hal seperti itu bukanlah "kelebihan", melainkan kekurangan yg  harus dihilangkan, salah satu caranya dengan diruqyah. Karena orang  yg dapat melihat jin, selain terpengaruh oleh sihir, bisa juga  dibantu oleh jin sendiri. Karena pada kondisi normal, manusia  tidaklah dapat melihat jin.
Wallahua’lam

07/02/13

Ada Cinta dan Ukhuwah Dibalik Ziarah Kubur

Acara ngirim doa kepada mayyit sperti yg dilakukan Ulama2 di indonesia, hadramaut, zabid, 'adn, haudaidah, murowa'ah, alu syumailah, dan di belahan dunia manapaun. Karena shodaqoh tidak muqoyyad bil waqt(shadaqoh tdk dibatasi oleh waktu), dimanapaun dan kapanpun juga shadaqoh adalah amal perbuatan yg shalihah, yang pahalanya nyampai ke Mayyit secara Ijma' disamping Do'a.


*Mukaddimah*
1. 'amalu ahlu madinah adalah hujjah dan dalil.
2. 'amalu khulafaaur Rosyidin adalah Hujjah al qoothi'ah.
3. At Tark(Bahwa Rasul s.a.w tidak menjalankan sesuatu) bukanlah dalil bahwa hal yg ditinggalkan itu sebagai larangan.
4. Al hadits al uhad yaqtadhil amal la al 'ilm. Maka dari itu hadits al uhad bisa menjadi Hujjah dalam 'amal Syari'ah dan tdk bisa menjadi Hujjah atas hukum aqidah.

*adakah Dalil yang menperbolehkan slametan seperti 7 hari kematian, 100 hr, dan setahun (Haul).

Mari kita simak Hadits di bawah ini:
(Saya pernah kebingungan tentang dalil slametan dan haulan, dan hadits ini saya minta langsung dari Syaikhuna Saalim bin Abdillah Bin Umar As Syathiri al mulaqqob bi Sulthoonul 'Ulama', beliau adalah murid Dari Al Muhaddits As Sayyid 'Alawy bin 'abbas Al maaliky al maghriby).

روي أن سيدنا أبي بكر الصديق رضي الله عنه لما توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم وآله جمع أصحابه الكرام في المسجد على قراءة سورة البقرة وآل عمران بعد مرور عام من وفاة رسول الله صلى الله عليه وسلم وآله وحضر عمر وعثمان وعلي رواه ابن زنجويه في مسنده وابن حالويه والخرائطي في مسنده ويستفاد من المعنى أنه أهدى ثواب ذلك لرسول الله صلى الله عليه وسلم وآله
Artinya:
Di riwayatkan bahwa sesungguhnya sahabat Abu Bakar Shiddiq r.a mengumpulkan para Sahabat Nabi al kiram dalam masjid untuk menbaca surah al baqoroh dan ali imron setelah lewat setahun setelah wafatnya Rasulullah s.a.w, dan hadir dalam uzumah itu sahabat Umar, 'Utsman, dan Aly r.a.
Hr. Ibn znjaweh dlm karya al musnadnya, HR.ibnu halweh. HR. Al khorooithy dlm musnadnya,, dan dpat di ambil kesimpulan dari makna hadits bahwa pahala dr bacaan tersebut di hadiahkan kpd Rasulullah s.a.w.

Dari hadits di atas dapat kita simpulkan beberpa point penting di bawah ini:

1. Telah tsabit dengan jelas bahwa Sahabat Abu Bakar, Umar, 'Utsman, dan 'Aly R.A. Dan para sahabat .r.a telah menbacakan surat baqoroh dan aly imron setelah wafatnya Rasulullah s.a.w dan menghadiahkan ganjarannya kpd Rasulullah s.a.w.

2. Sebgaimana amal perbuatan para sahabat tersebut di akui kebenaranya oleh Rasulullah s.a.w dlm sabda beliau:
لا تجتمع أمتي على ضلالة
Artinya: tidak bersepakat(baik qoul maupun fi'l) atas keseatan.
Kitapun juga di suruh mengukuti para Sahabat al kiram dalam sabda Rasulullah s.a.w yg berupa:
عليكم بسنتي وسنة خلفاؤ الراشدين من بعدي
Artinya:berpegang teguhlah kalian dengan sunnahKu dan Sunnah khulafaaur Rosyidin stlah Ku.

3. Hadits di atas adlah merupakan bentuk Ijma' fi'ly dari sahabat Rasulullah s.a.w r.a yg menjadi hujjah scr qoth'i.

4. Hadits ini scr Nash merupakan dalil bagi amalan Haul (ngirim do'a kpd mayyit stlah setahun dari kematiannya), namun dalam kode etik ushul bahwa ''haul(ba'da mururi aam)'' merupakan sebuah kalimat yang tidak menpunyai mafhum(laa mafhuuma lah).
Dengan demikian bahwa ngirim doa maupun surat kpd mayyit tidak tertentu harus setahun setelah wafatnya si mayyit, baik itu di hari ke tujuh, ke 100 atau hari ke 1000 stlah wafatnya si mayyit, itu sah sah saja.

5. Hadits ini juga menjadi dalil scr Qoth'i bahwa berkumpul dengan menbaca surah dan ngrim do'a bukanlah merupakan bidengah scr syar'i, namun hal itu merupakan Sunnah dari Khulafaa'u rosyidin yang patut kita contoh.

6. Hadist ini tidaklah menjadi hujjah atas bathilnya sedekahan pd acra ngirim doa kpd mayyit sperti yg dilakukan Ulama2 di indonesia, hadramaut, zabid, 'adn, haudaidah, murowa'ah, alu syumailah, dan di belahan dunia manapaun. Karena shodaqoh tidak muqoyyad bil waqt(shadaqoh tdk dibatasi oleh waktu), dimanapaun dan kapanpun juga shadaqoh adalah amal perbuatan yg shalihah, yang pahalanya nyampai ke Mayyit secara Ijma' disamping Do'a.

Di samping maqom Almaghfurlah Gus Dur.
Tebu Ireng-Jombang 20 -05-2011

03/02/13

11 Makna Al-Qur'an Yang Memiliki Rahmat


"sedikit banyaknya mungkin ini bisa menbantu kita memahami arti rahmat dalam al Qur'an... namun secara yuridis maupun ideology saya tidak bisa memastikan bila rahmat di luar al qur'an (Poro Pak Ustadz) bisa menpunyai arti yang seperti tertera diatas.."


Rahmat menurut interpretasi ulama Tafsir ad 11 makna:

1. Islam, dlm Q.s albaqoroh: 105,
يختص برحمته من يشاء
''Alloh mengkhususkan rahmat(islam)Nya kepada orang yang Alloh kehendaki''.

2. Iman, dlm Q.s Hud:28,
وآتاني رحمة من عنده

3. Surga, trdpt dlm Q.s Aly Imron : 107
ففي رحمة الله هم فيها خالدون

4. Hujan, trdpt dlm Q.s al a'rof: 57
بشرا بين يدي رحمته

5. Nikmat, trdpt dlm Q.s. An Nisa' : 112
ولولا فضل الله عليكم ورحمته

6. RizQi, dlm Q.s al isra' : 100,
خزائن رحمة ربي

7. Kemenangan, n Fath, Qs. Al ahzab: 17,
إن أراد بكم سوءا أو أراد بكم رحمة

8. Afiah. Qs. Az zumar: 38,
أو أرادني برحمة

9. Mawadah (damai dalam cinta), Qs. Al Hadiid: 27,
رأفة ورحمة

10. Maghfirah (ampunan), Q.s al an'am : 12,
كتب على نفسه الرحمة.
''dan Alloh mewajibkan atas DzatNya sifat pengampun''.

11. Ishmah (penjagaan) dr Allah, Q.s. HUD : 43,
لا عاصم اليوم من أمر الله إلا من رحم
 ''tiada yang menjaga di hari ini dari amruLlah (bencana) kecualai orang-orang yang Alloh lindungi..''.

"sedikit banyaknya mungkin ini bisa menbantu kita memahami arti rahmat dalam al Qur'an...
namun secara yuridis maupun ideology saya tidak bisa memastikan bila rahmat di luar al qur'an (Poro Pak Ustadz) bisa menpunyai arti yang seperti tertera diatas.."
hehehehehe..

27/10/12

Muqowwimat Itsbat Wujudud Dakwah



“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentar kan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahhuinya, sedang Allah mengetahui-Nya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya." (Q.S. 8:60)
                       
Ada seorang Al Akh akan pergi haji, meminta nasehat lebih dulu kepada saya.Saya katakan kepadanya haji itu merupakan bagian dari Ibadah lainnya yang kesemuanya dalam rangka “Faaqim wajhaka liddieni hanifa”.

Seluruh Ibadah kita sangat tergantung kepada tawajjuh (orientasi) kita terhadap dien secara lurus hanif. Pertama-tama tentu saja kita harus memiliki tawajjuh aqidi dalam setiap ibadah kita.

Orientasi aqidah atau menghadapnya kita secara aqidi. Dalam ibadah haji direflesikan dalam kalimat Labbaika Allahumma labbaik, Labbaika la syarikalaka labbaik. Kita menolak segala sambutan terhadap panggilan selain Allah. Dan bila harus menyambut                        panggilan istri, anak, tetaplah dalam kerangka menyambut panggilan Allah atau             dengan kata lain Lillah/Karena Allah.  Karena kita sudah menegaskan: Labbaika laa syarikalaka labbaik innal hamda wani’mata laka wal mulk laa syarikalah. Aku sambut panggilan MU ya Allah tak ada sekutu bagi-Mu sesungguhnya segala puji, kenikmatan dan kekuasaan ada ditanganMu. tak ada sekutu bagi-Mu.

Setelah tawajjuh aqidi, tawajjuh yang kedua adalah tawajjuh syar’i.  Dalam beribadah kita harus memperhatikan orientasi  syar’i, ini karena Allah bukan saja menurunkan a’daa melaikan juga syir’atan  wa min hajan dan dalam melangkah atau beribadah,                     kita harus melalui koridor tsb. Misalnya khudzuu ‘anni manasikakum dalam haji dan shallu kama roaitumuni ushalli sholat. Sejalan dengan itu tentunya juga terfleksi dalam hal jihad atau bisa diparalelkan: jaahidu kama roaitumuni ujaahid.

Tawajjuh yang ketiga, tawajjuh amaliyah (menghadap atau berorientasi pada Allah dan Al-Islam dalam beramal. Artinya kita harus “wa’aiddu mastatho’tum min kuwwah. Segala potensi secara operasianal harus dihimpun dan digabung secara syumul ( integral)
dan  takamul (terpadu) agar bisa merealisir tugas-tugas dan kewajiban-kewajiban dari Allah. Karena segala tugas dan kewajiban dari Allah tidak bisa kita persiapkan secara juz’iyah (parsial). Misalnya untuk sholat kita harus lebih dulu wudhu dan untuk wudhu tentu saja harus ada air. Kemudian untuk sholat harus syatrul aurat  (menutup aurat)                        jadi harus ada baju dan mukena. Lalu agar dengkul kita bisa tegak dan kuat ketika sholat, kita butuh makan lebih dulu. Jadi ada kesyumuliyahan dalam adaa’ish  sholah.
Ketiga tawajjuh tersebut, tawajjuh aqidi, syar’i dan amali harus selalu ada terhimpun secara sekaligus di setiap ibadah yang kita lakukan. yang jelas kita harus senantiasa mempersiapkan segala sarana dan prasarana serta potensi agar tugas-tugas dari Allah swt                          dapat kita kerjakan secara baik karena Allah telah menyuruh kita mengerahkan                      segenap potensi kekuatan “Waa’idduLahum mastatho’tum minquwwah” (Q.S. 8:60) disinilah letak ke syumuliyahan dan  ketakamulliyahannya.

Ikhwah Fillah, dalam lanjutan ayat tersebut (Q.S 8:60) ditegaskan oleh Allah swt., Bila kamu tidak disiplin tidak wala’ tidak menggantungkan diri kepada Allah dan tidak taat kepadaNya juga kepada Rasul-Nya dan Ullil Amri maka  “Iyyaka turhibkum waya’thi bi kholqinjadid wamaa dzalika Allalahi Aziz: Bila Allah menghendaki tak ada sulitnya bagi
Allah untuk meliquidir,menghapus generasi yang tidak disiplin dan membangkang ini menjadi kaum yang marjinal dan berada diemperan-emperan dakwah. Padahal seyogyanya kita menjadi pelaku-pelaku dakwah dan sejarah. Bukan sekedar penonton belaka.

Ayat-ayat yang serupa dan senada dengan itu begitu banyak dalam Al-Qur’an ”Wamaa dzalika allaihi Aziz” dan hal yang demikian bukan sesuatu yang besar bagi Allah. Kenapa banyak?  Kesemuanya tak lain sebagai peringatan bahwa segala sesuatunya menjadi begitu tak berarti bila komitmen atau ketergantungan kita kepada Allah, Rasul dan Ulil amri merosot.

Seperti misalnya dalam Qur’an surat 5:54,  artinya “ Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kalian murtad dari agama Allah maka Allah gantikan  dengan suatu kaum yang dicintai Allah dan mereka mencintai-Nya, lemah lembut terhadap mukmin, tegas terhadap orang kafir, berperang di jalan Allah dan tidak takut celaan orang yang  suka mencela. Itulah karunia Allah, diperuntukkan-Nya bagi siapa yang kehendaki-Nya. Dan Allah maha luas pemberian-Nya lagi maha mengetahui.”

Al jihadu maadhin ila yaumil qiyamah, jihad akan terus berlangsung sampai hari qiyamat,kata imam Syahid. Addakwah akan terus berjalan bina au ghairina, dengan atau tanpa kita. Kita ikut atau tidak dengan dakwah dan jihad, akan selalu ada orang atau generasi lain yang ditunjuk oleh Allah untuk melaksanakan-Nya karena memang dakwah atau jihad tidak bergantung kepada suatu individu atau kaum.

Dari dulu ada orang-orang yang futur, insilakh, dibantai, dipenjarakan dsb tetapi dakwah tetap saja besar. Ketika dulu dakwah sedang digebuk di Mesir seperti air digebuk, muncratnya kemana-mana. Termasuk ke Indonesia, Amerika, dan Eropa serta seluruh dunia. Mula-mula muncratnya dari emperan-emperan Mesir, kini orang-orang yang dari                   Mesirnya sendiri langsung datang kesemua negri. Jadi karena dakwah dan jihad adalah
proyek Allah maka ia akan tetapa eksis bina au ghairina, dengan atau  tanpa kita.

Masalah optimisme ini penting sebab sekarang banyak godaan  kepada kita. Mengapa kita begini-begini saja, diam-diam saja sementara si ini bermanuver, sianu bermanuver. Kalau kita saat ini bersifat seperti ini belum melakukan manuver-manuver yang                    berarti, semata-mata karena manhajatud da’watina dan bukan karena kita takut.
Hal ini merupakan  Ihtiyajatul Marhalah. Jadi bukan masalah takut enggak takut, melainkan karena kebutuhan marhalah kita saat ini adalah seperti ini dulu. Kita juga siap untuk melakukan marhalah-marhalah berikutnya. Bermanuver seperti yang dilakukan Bintang Pamungkas sebetulnya juga merupakan bagian dari Fikhu Dakwah asalkan memang terprogram.
Hal seperti itu pernah dilakukan Abdulah Bin Mas’ud ketika masih di Mekkah. Ia berniat
melakukan manuver berupa pembacaan Al-Qur’an di hadapan orang-orang Quraisy. Mula-mula sahabat-sahabatnya melarangnya, tetapi setelah bermusyawarah akhirnya                        membolehkannya.

Bacaan Al-Qur’an Ibnu Mas’ud memang sangat indah dan merdu sehingga Rasulloh menyamakannya dengan bacaan Qur’an Malaikat Jibril. Abdullah bin Mas’ud pun membaca surat Ar Rahman dan orang-orang Quraisy sempat terkesima mendengarkannya. Namun begitu mereka sadar bahwa itu ayat Al Qur’an mereka pun ramai-ramai memukuli Ibnu Mas’ud hingga babak belur dan akhirnya pulang kerumah dengan digotong oleh kawan-kawannya.

Hebatnya Ibnu Mas’ud masih berucap “Wallahi kalau kalian izinkan, Aku akan pergi lagi ke sana dan membacakan Al-Qur’an “ tetapi semuanya mencegah: Sudah… sudah cukup yang penting mereka sempat geger … heboh.”

Jadi memang ada fikhu dakwahnya, manuver seperti itu. Syaratnya harus muncul dulu syaksiyah barizah atau sosok pribadi yang berpengaruh sehingga kemunculannya menimbulkan goncangan atau kehebohan di kalangan musuh. Kalau belum berpengaruh, belum termashur sudah memaksakan diri akan terbentur sana sini kan kasihan.

Allah swt memperingatkan kita bahwa ketika implementasi aqidah kita secara moral dalam bentuk loyalitas (Q.S. 5:55) dan operasional dalam bentuk mentati Allah dan Rosul-Nya (Q.S. 4:69) merosot maka mudah saja bagi Allah (wamaadzalika alallahi bi Aziz) untuk menggantikan kita dengan orang lain atau generasi lain (Q.S. 5:54)

Selain itu adalagi dalam surat 6:133 Allah itu maha kaya sumber segala kasih sayang, jika Allah menghendaki kalian dihapus, maka akan digantikan dengan generasi sesudahmu sebagaimana kamu telah menggantikan generasi sebelummu. Diisyaratkan pergantian kaum itu terjadi jika suatu kaum atau bangsa sudah ingkar, menyimpang atau melampai batas maka akan digantikan dengan yang labih baru dan lebih baik.

Generasi baru yang harus melahirkan generasi yang lebih baik dan membanggakan karena Rasulullah ingin membanggakan umatnya di atas umat-umat yang lain tidak serta merta terkait dengan banyaknya anak melainkan mutu atau kualitas generasi. Hal itu bisa berarti generasi yang banyak dan membanggakan, namun bisa pula generasi yang  sedikit dan membanggakan, karena nashul hadits “fainni mubahi bikumul umam“                         Seandainya pun yang ditunjuk adalah kalimat nashul hadits yang lain  ”Fainni mukatsirun bikumul umam “ tetap saja tidak bisa diartikan serta merta sebagai berbanyak-banyakan karena  kata mukatsirun dalam bahasa arab, seperti misalnya dalam surat At Takatsur, adalah membanggakan.

Visi jamaah juga visi Islam dalam hal soal anak adalah silahkan banyak dan boleh juga sedikit asalkan membanggakan, tiga orang anak pun sudah terkatagori katsir.Bila sanggup melahirkan 12 atau 18 dan semuanya membanggakan Alahamdulilah.tetapi bila hanya dapat  melahirkan 2 atau 3, banggakanlah apa yang sudah diberikan oleh Allah kepada kita.

Anak adalah rizki dari Allah swt. kita tidak bisa mengukur atau mematoknya, yang penting generasi baru yang kita lahirkan adalah yang membanggakan. Sehingga kembali ke pembahasan kita di awal jangan sampai nanti kita disisihkan oleh Allah bahkan boleh jadi bukan hanya secara fisik (Q.S 17:85-86) tetapi juga ditilik dari segi hidayah, ilmu                     pengetahuan, dan fikhu da’wah bila kita menyimpang pasti Allah akan menghapus hidayah itu dari kita.

Jadi bahaya likudasi itu bukan hanya secara fisik tetapi juga dari segi-segi yang lainnya, misalnya bisa saja secara fisik kita tidak dilikuidasi oleh Allah, tetapi hidayah, ilmu, manhaj, tashowwur fikroh kita yang dilikuidasi oleh-Nya, bila kita tidak konsisten pada                         nilai-nilai kebenaran.

Oleh sebab itu Ikhwan fillah, saya mencoba mengingatkan kita semua akan pesan Ustadz Musthofa Mansyur tiga tahun yang lalu. Beliau berbicara tentang DHOMANATUL BAQO’ bahwa komitmen kita  terhadap arkanul bai’ah adalah jaminan eksistensi keberadaan kita di dalam dakwah. Suatu gerakan politik bila diterjemahkan sebagai                         sebuah gerakan dakwah baru bisa eksis dan survive bila memiliki muqowimat yang disebut MUQOWWIMA ITSBAT WUJUDUD DA’WAH:
1. Memiliki prinsip yang kokoh yang disebut RUSUKHUL MABDA. Aqidah kita jelas
    memiliki prinsip-prinsip yang kokoh.
2. Memiliki visi yang jelas.
3. Mempunyai konsep yang aplikatif. Minhaj kita yang berasal dari Qur’an memberikan
    pada kita konsep SYIR’ATAN WA MINHAJAN yang disebut juga sebagai konsep
    yang aplikatif dan qobilit tanfidz.
4. Memiliki kader-kader yang mumpuni. 
5. Memiliki organisasi yang efektif atau TANDZIMUN FA’AL.  Mmang Jama’ah bukan
    sebuah oganisasi, tetapi Jamaah menggunakan sistem organisasi untuk menata sistem
    organisasi.
6. Memiliki DA’AM SYA’BI atau dukungan masyarakat.
7. Mempunyai kemampuan ekonomi yang berkembang.
8. Dukungan birokrat.
9. Dukungan tentara.

Cari Blog Ini

Halaman

Popular Posts

Advertisement

Responsive Advertisement