Tampilkan postingan dengan label belajar ilmu hikmah dengan istadzul akhmad fauzan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar ilmu hikmah dengan istadzul akhmad fauzan. Tampilkan semua postingan

05/11/12

Aqidah Malam 1 Suro Seluruh Dunia


Bertemu lagi di Link Dahulu tentang Dibalik Meriahnya Malam 1 Suro
Sekarang kita telah memasuki bulan Suro. Nama ini begitu populer di kalangan orang Jawa, meskipun tak menutup kemungkinan banyak penduduk Indonesia lainnya yang mengenalnya. Bulan yang dinamakan Suro ini, tak lain adalah bulan Muharram menurut kalender Islam. Terlebih dahulu marilah kita melihat, bagaimanakah penilaian Islam mengenai bulan Suro (bulan Muharram). Semoga Allah memudahkan urusan ini.

Islam Menilai Bulan Suro Termasuk Bulan Haram
Dalam agama ini, bulan Muharram atau bulan Suro, merupakan salah satu di antara empat bulan yang dinamakan bulan haram. Lihatlah firman Allah Ta’ala berikut.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ
أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan suci. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah [9] : 36)

Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Hal ini dijelaskan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

« …السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ »
“… satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan suci. Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3025)

Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah
(1) Dzulqo’dah;
(2) Dzulhijjah;
(3) Muharram;
(4) Rojab.


Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram ? Berikut penjelasan ulama mengenai hal ini.
Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, “Dinamakan bulan haram karena dua makna.
Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian. Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula sangat diagungkan jika dilakukan pada bulan haram ini.” (Lihat Zadul Maysir, Ibnul Jauziy, tafsir surat At Taubah ayat 36)

Islam Menyebut Bulan Muharram sebagai Syahrullah (Bulan Allah)
Suri tauladan dan panutan kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”
(HR. Muslim no. 2812)

Sangat mulianya bulan Muharram ini. Bulan ini betul istimewa karena disebut syahrullah yaitu bulan Allah, dengan disandarkan pada lafazh jalalah Allah. Karena disandarkannya bulan ini pada lafazh jalalah Allah, inilah yang menunjukkan keagungan dan keistimewaannya. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 1/475)
Perkataan yang sangat bagus dari As Zamakhsyari, kami nukil dari Faidhul Qodir (2/53), beliau rahimahullah mengatakan, “Bulan Muharram ini disebut syahrullah (bulan Allah), disandarkan pada lafazh jalalah ‘Allah’ untuk menunjukkan mulia dan agungnya bulan tersebut, sebagaimana pula kita menyebut ‘Baitullah‘ (rumah Allah) atau ‘Alullah‘ (keluarga Allah) ketika menyebut Quraisy.

Penyandaran yang khusus di sini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini menunjukkan adanya keutamaan pada bulan tersebut. Bulan Muharram inilah yang menggunakan nama Islami. Nama bulan ini sebelumnya adalah Shofar Al Awwal. Bulan lainnya masih menggunakan nama Jahiliyah, sedangkan bulan inilah yang memakai nama islami dan disebut Muharram. Bulan ini adalah seutama-utamanya bulan untuk berpuasa penuh setelah bulan Ramadhan. Adapun melakukan puasa tathowwu’ (puasa sunnah) pada sebagian bulan, maka itu masih lebih utama daripada melakukan puasa sunnah pada sebagian hari seperti pada hari Arofah dan 10 Dzulhijah. Inilah yang disebutkan oleh Ibnu Rojab. Bulan Muharram memiliki keistimewaan demikian karena bulan ini adalah bulan pertama dalam setahun dan pembuka tahun.”

Al Hafizh Abul Fadhl Al ‘Iroqiy mengatakan dalam Syarh Tirmidzi, “Apa hikmah bulan Muharram disebut dengan syahrullah (bulan Allah), padahal semua bulan adalah milik Allah?” Beliau rahimahullah menjawab, “Disebut demikian karena di bulan Muharram ini diharamkan pembunuhan. Juga bulan Muharram adalah bulan pertama dalam setahun. Bulan ini disandarkan pada Allah (sehingga disebut syahrullah atau bulan Allah, pen) adalah untuk menunjukkan istimewanya bulan ini. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak pernah menyandarkan bulan lain pada Allah Ta’ala kecuali bulan Allah – Muharram. (Dinukil dari Syarh Suyuthi li Sunan An Nasa’i, 3/206)

Dengan melihat penjelasan Az Zamakhsyari dan Abul Fadhl Al ‘Iroqiy di atas, jelaslah bahwa bulan Muharram adalah bulan yang sangat utama dan istimewa. Selanjutnya kita melihat berbagai anggapan masyarakat mengenai bulan Muharram (bulan Suro).

Anggapan Masyarakat Mengenai Bulan Suro
Bulan suro adalah bulan penuh musibah, penuh bencana, penuh kesialan, bulan keramat dan sangat sakral. Itulah berbagai tanggapan masyarakat mengenai bulan Suro atau bulan Muharram. Sehingga kita akan melihat berbagai ritual untuk menghindari kesialan, bencana, musibah dilakukan oleh mereka. Di antaranya adalah acara ruwatan, yang berarti pembersihan. Mereka yang diruwat diyakini akan terbebas dari sukerta atau kekotoran. Ada beberapa kriteria bagi mereka yang wajib diruwat, antara lain ontang-anting (putra/putri tunggal), kedono-kedini (sepasang putra-putri), sendang kapit pancuran (satu putra diapit dua putri). Mereka yang lahir seperti ini menjadi mangsa empuk Bhatara Kala, simbol kejahatan.

Karena kesialan bulan Suro ini pula, sampai-sampai sebagian orang tua menasehati anaknya seperti ini: “Nak, hati-hati di bulan ini. Jangan sering kebut-kebutan, nanti bisa celaka. Ini bulan suro lho.”
Karena bulan ini adalah bulan sial, sebagian orang tidak mau melakukan hajatan nikah, dsb. Jika melakukan hajatan pada bulan ini bisa mendapatkan berbagai musibah, acara pernikahannya tidak lancar, mengakibatkan keluarga tidak harmonis, dsb. Itulah berbagai anggapan masyarakat mengenai bulan Suro dan kesialan di dalamnya.

Ketahuilah saudaraku bahwa sikap-sikap di atas tidaklah keluar dari dua hal yaitu mencela waktu dan beranggapan sial dengan waktu tertentu. Karena ingatlah bahwa mengatakan satu waktu atau bulan tertentu adalah bulan penuh musibah dan penuh kesialan, itu sama saja dengan mencela waktu. Saatnya kita melihat penilaian agama Islam mengenai dua hal ini.

Mencela Waktu atau Bulan

Perlu kita ketahui bersama bahwa mencela waktu adalah kebiasaan orang-orang musyrik. Mereka menyatakan bahwa yang membinasakan dan mencelakakan mereka adalah waktu. Allah pun mencela perbuatan mereka ini. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ
“Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa (waktu)’, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al Jatsiyah [45] : 24)

Jadi, mencela waktu adalah sesuatu yang tidak disenangi oleh Allah. Itulah kebiasan orang musyrik dan hal ini berarti kebiasaan yang jelek.

Begitu juga dalam berbagai hadits disebutkan mengenai larangan mencela waktu. Dalam shohih Muslim, dibawakan Bab dengan judul ‘larangan mencela waktu (ad-dahr)’. Di antaranya terdapat hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ
“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Muslim no. 6000)

Dalam lafadz yang lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَقُولُ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ. فَلاَ يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ. فَإِنِّى أَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ لَيْلَهُ وَنَهَارَهُ فَإِذَا شِئْتُ قَبَضْتُهُمَا
“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mengatakan ‘Ya khoybah dahr’ [ungkapan mencela waktu, pen]. Janganlah seseorang di antara kalian mengatakan ‘Ya khoybah dahr’ (dalam rangka mencela waktu, pen). Karena Aku adalah (pengatur) waktu. Aku-lah yang membalikkan malam dan siang. Jika suka, Aku akan menggenggam keduanya.” (HR. Muslim no. 6001)

An Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shohih Muslim (7/419) mengatakan bahwa orang Arab dahulu biasanya mencela masa (waktu) ketika tertimpa berbagai macam musibah seperti kematian, kepikunan, hilang (rusak)-nya harta dan lain sebagainya sehingga mereka mengucapkan ‘Ya khoybah dahr’ (ungkapan mencela waktu, pen) dan ucapan celaan lainnya yang ditujukan kepada waktu.

Setelah dikuatkan dengan berbagai dalil di atas, jelaslah bahwa mencela waktu adalah sesuatu yang telarang. Kenapa demikian? Karena Allah sendiri mengatakan bahwa Dia-lah yang mengatur siang dan malam. Apabila seseorang mencela waktu dengan menyatakan bahwa bulan ini adalah bulan sial atau bulan ini selalu membuat celaka, maka sama saja dia mencela Pengatur Waktu, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla.

Perlu diketahui bahwa mencela waktu bisa membuat kita terjerumus dalam dosa bahkan bisa membuat kita terjerumus dalam syirik akbar (syirik yang mengekuarka pelakunya dari Islam). Perhatikanlah rincian Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah dalam Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid berikut.

Mencela waktu itu terbagi menjadi tiga macam:

Pertama; jika dimaksudkan hanya sekedar berita dan bukanlah celaan, kasus semacam ini diperbolehkan. Misalnya ucapan, “Kita sangat kelelahan karena hari ini sangat panas” atau semacamnya. Hal ini diperbolehkan karena setiap amalan tergantung pada niatnya. Hal ini juga dapat dilihat pada perkataan Nabi Luth ‘alaihis salam,

هَـذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ
“Ini adalah hari yang amat sulit.” (QS. Hud [11] : 77)

Kedua; jika menganggap bahwa waktulah pelaku yaitu yang membolak-balikkan perkara menjadi baik dan buruk, maka ini bisa termasuk syirik akbar. Karena hal ini berarti kita meyakini bahwa ada pencipta bersama Allah yaitu kita menyandarkan berbagai kejadian pada selain Allah. Barangsiapa meyakini ada pencipta selain Allah maka dia kafir. Sebagaimana seseorang meyakini bahwa ada sesembahan selain Allah, maka dia juga kafir.

Ketiga; jika mencela waktu karena waktu adalah tempat terjadinya perkara yang dibenci, maka ini adalah haram dan tidak sampai derajat syirik. Tindakan semacam ini termasuk tindakan bodoh (alias ‘dungu’) yang menunjukkan kurangnya akal dan agama. Hakikat mencela waktu, sama saja dengan mencela Allah karena Dia-lah yang mengatur waktu, di waktu tersebut Dia menghendaki adanya kebaikan maupun kejelekan. Maka waktu bukanlah pelaku. Tindakan mencela waktu semacam ini bukanlah bentuk kekafiran karena orang yang melakukannya tidaklah mencela Allah secara langsung. –Demikianlah rincian dari beliau rahimahullah yang sengaja kami ringkas-

Maka perhatikanlah saudaraku, mengatakan bahwa waktu tertentu atau bulan tertentu adalah bulan sial atau bulan celaka atau bulan penuh bala bencana, ini sama saja dengan mencela waktu dan ini adalah sesuatu yang terlarang. Mencela waktu bisa jadi haram, bahkan bisa termasuk perbuatan syirik. Hati-hatilah dengan melakukan perbuatan semacam ini. Oleh karena itu, jagalah selalu lisan ini dari banyak mencela. Jagalah hati yang selalu merasa gusar dan tidak tenang ketika bertemu dengan satu waktu atau bulan yang kita anggap membawa malapetaka. Ingatlah di sisi kita selalu ada malaikat yang akan mengawasi tindak-tanduk kita.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (16) إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17)
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan para malaikat Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.” (QS. Qaaf [50] : 16-17)

-bersambung insya Allah-

===========================
Bulan SURO identik dengan hal-hal berbau mistis dan religi.Suro adalah Mukharam dalam penanggalan jawa, sehingga dikaitkan pada kepercayaan masyarakat atau mitos bahwa dalam bulan tersebut tidak boleh berkata atau berperilaku sembrono, sebab akan mendatangkan bala atau yang disebut dengan bencana dadakan pada diri orang yang mengabaikan mitos tersebut.

materi referensi:
Artikel dan Mitos masyarakat

===========================
Malam awal tanggal 1 Suro merupakan perpaduan makna Mistik dari ajaran Islam dengan ajaran Jawa kuno.

Dalam hal ini, masyrakat Jawa menyakini bahwa pada malam 1 Suro semua Roh - Roh nenek moyang mereka yang sholeh datang kepada negeri mereka untuk menyampaikan amanat - amanat yang baru pada daerah tersebut. Mereka juga menyakini bahwa pada malam 1 Suro itu menjadi puncak penyampaian hajad-hajad mereka terhadap Allah s.w.t, karena pada malam itu banyak sekali malaikat pembawa Rahmat yang turun kedunia. Dan mereka juga berpendapat bahwa pada malam 1 Suro, merupakan malam yang sangat tepat untuk mensucikan benda-benda pusaka dan diri mereka sendiri.

Oleh sebab itu jangan heran jika pada malam 1 Suro orang jawa pada memandikan benda-benda pusaka mereka.

Namun oleh sebagian besar ulama agama Islam, istiadat ritual malam 1 Suro masyarakat jawa ini sangat tidak sesuai dengan akidah dan ajaran syari'at Islam. Jadi semuanya sekarang tergantung kenyakinan masing-masing.

==========================
Slide Share with Bangbie Afiz
==========================
:: Artikel ini Disusun dan Dirangkum dari berbagai Sumber;
=> Dunia Internet,
=> Masyarakat, dan
=> Catatan Lama.




13/05/12

Telinga yang Mendengar

"Sesungguhnya, aku menusukkan tongkatku ini ke lubang telinga mereka, tujuannya adalah untuk mengetahui kepala tengkorak yang mana ketika hidupnya menjadi ahli ilmu dan mana yang bukan"

Hasan Al-Bashri adalah salah seorang tokoh sufi yang lahir di Madinah dan besar di Bashrah. Ia bersahabat dengan banyak sahabat Rasulullah Saw. Di antaranya adalah Zaid bin Tsabit, juru tulis Rasulullah Saw. Sebagai seorang generasi tabi’in, Hasan Al- Bashri termasuk salah seorang yang dijuluki sebagai wali terbesar pada masanya.

Suatu ketika Hasan Al-Bashri mengisahkan sebuah pengalamannya yang cakup unik. Pada suatu hari, kisahnya, ia sedang berjalan-jalan. Pada saat itu, ia melintasi sebuah kuburan. Awainya, perjalanan itu biasa-biasa saja. Namun, ketika tatapannya mengarah ke sebuah kuburan, ia tertarik dengan sesuatu pemandangan yang luar biasa alias tidak wajar.

Hasan Al-Bashri segera menghentikan langkah kakinya dan membelokkan arah untuk masuk ke kawasan kuburan tersebut. Dari kejauhan, tampak olehnya seorang lelaki pirang tengah sibuk melakukan sesuatu di tanah pekuburan tersebut. Setelah mendekat beberapa langkah, Hasan Al-Bashri semakin terperangah melihat ulah lelaki pirang itu.

Lelaki pirang tersebut tengah asyik membongkar beberapa kuburan. Tampaknya, ia sedang melakukan sebuah penelitian. Ada beberapa kepala tengkorak manusia yang sudah ditemukannya dan dijejerkan di dekatnya. Satu per satu dari tengkorak itu diperhati­kan oleh lelaki tersebut. Namun, ada satu sikapnya yang cukup aneh di mata Hasan Al-Bashri. Yakni, ia menusukkan sebuah tongkat ke setiap lubang telinga para tengkorak tersebut.

Melihat tingkah aneh lelaki pirang itu, Hasan Al-Bashri mendekatinya. Tanpa mampu menyimpan rasa penasarannya lebih lama lagi, Hasan Al-Bashri langsung bertanya kepada lelaki pirang itu.

"Apakah yang tengah engkau lakukan? Aku melihat engkau menusukkan tongkatmu ke lubang telinga tiap-tiap kepala tengkorak itu, ada apa?" tanya Hasan Al-Bashri.

"Aku memang tengah membongkar beberapa kuburan. Apabila di antara mereka ada yang menjadi ahli ilmu selama hidupnya, maka aku menghormatinya dan ingin memperlaku­kannya dengan cara terhormat. Namun, jika sebaliknya, aku tak segan-segan untuk membuangnya begitu saja," ujar lelaki itu dengan santainya.

Kemudian ia melanjutkan. "Sesungguhnya, aku menusukkan tongkatku ini ke lubang telinga mereka, tujuannya adalah untuk mengetahui kepala tengkorak yang mana ketika hidupnya menjadi ahli ilmu, dan mana yang bukan."

"Apabila tongkatku ini mampu menembus kepala tengkorak ini dari lubang telinga yang satu ke lubang telinga yang lainnya, maka aku membuangnya begitu saja. Begitu pula jika tongkatku ini tak mampu menembus salah satu dari lubang telinganya, juga aku buang saja tengkoraknya itu," ujar lelaki tersebut tanpa merasa bersalah sama sekali.

"Mengapa demikian?" tanya Hasan Al-Bashri. "Sebab, mereka adalah kepala tengkorak dari orang-orang yang tak mau mendengarkan ilmu atau nasihat yang benar. Selama hidupnya, mereka justru cenderung menyibukkan diri untuk memenuhi kesenangan hawa nafsunya saja. Sehingga, ketika mereka mendengarkan ilmu atau nasihat yang baik, mereka hanya menjadikan telinga mereka sebagai tempat lalu lalangnya ilmu atau nasihat itu. Sama sekali tak menempel di benak mereka. Telinga seperti itu, sama saja seperti tak mendengarkan ilmu atau nashihat al-haqq yang disampaikan kepada mereka " jelas lelaki itu panjang lebar.

"Lalu, bagaimanakah cirinya telinga yang mau mendengar itu?" kembali Hasan Al-Bashri bertanya kepada lelaki pirang itu. Lelaki itu kemudian berkata: "Telinga yang mendengar itu dapat kuketahui manakala kutusukkan tongkatku ini lewat lubang telinga dari tengkorak ini, maka tongkatku akan menembusnya dan menancap tepat di bagian otaknya. Berarti, ketika mereka hidup dulu mau mendengarkan ilmu dan nashihat al-haqq (nasihat tentang kebenaran) yang disampaikan kepada mereka," ujar lelaki tersebut.

"Oleh karena itulah," lanjut lelaki pirang itu, "aku memperlakukan tengkorak dari telinga yang mendengar itu dengan cara terhormat. Aku tak segan-segan menciumnya dengan penuh rasa penghargaan dan menanamnya kembali dengan baik."

Hasan Al-Bashri terpana mendengar penjelasan lelaki yang meneliti kepala tengkorak manusia itu. Alangkah besarnya penghargaan Allah kepada manusia yang berilmu dan mau mengamalkan ilmunya, atau orang yang mau mendengarkan nasihat yang baik dan mempraktikkannya. Sehingga, ketika manusia itu sudah menjadi tengkorak sekalipun, Allah masih memberikan tanda kepadanya.

Subhanallah, Mahasuci Allah Yang Maha Mendengar dan menganugerahkan pendengaran kepada manusia agar dapat mendengar ilmu dan nasihat-nasihat yang baik. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang menggunakan telinga untuk mendengarkan ilmu dan nasihat guna diamalkan dalam kehidupan di muka bumi ini. Amin.

Disadur dari buku Mutiara Hikmah, Kisah Para Kekasih Allah, karya Ummi Alhan Ramadhan Mazayasyah, Penerbit Darul Hikmah

07/12/11

Riwayat Mbah Kyai Nur Iman Mlangi Yogyakarta


Silsilah Mataram Kertosuro ( Pustaka darah ) Silsilah Kyai Nur Iman / R. Sandeyo Mlangi
oleh Ravie Ananda

Sebelum mengupas tetentang Kyai Nur Iman Mlangi, penulis akan memaparkan secara singkat beberapa kejadian berdasarkan sejarah yang sangat erat kaitannya dengan riwayat Kyai Nur Iman Mlangi.
Pada tanggal 06 Juli 1704, Pangeran Puger yang mempunyai nama asli Raden Mas Drajat ( Beliau adalah putera dari Amangkurat I dengan isteri permaisuri keturunan Keluarga Kajoran ) diangkat menjadi raja bergelar Susuhunan Pakubuwana Senapati Ingalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa atau disingkat dengan Pakubuwana I. menurut catatan sejarah, Pangeran Puger juga pernah menyandang gelar sebagai Amangkurat II dikarenakan adanya pertentangan antara kakak pangeran Puger yang bernama Raden Mas Rahmat dengan Amangkurat I (Ayahanda mereka ), sehingga Pangeran Puger diangkat menjadi Putera Mahkota. Ketika terjadi pemberontakan Trunojoyo pada tahun 1677, Mas Rahmat menolak ditugasi ayahnya untuk mempertahankan kraton Mataram Kertosuro yang pada saat itu beribukota di Plered. Ia memilih mengungsi kearah Barat. Pangeran Puger kemudian tampil melaksanakan tugas itu sebagai bukti bahwa tidak semua keturunan Kajoran mendukung Trunojoyo. Dengan kejadian inilah kemudian Pangeran Puger menyandang gelar Amangkurat II. Namun , karena kekuatan pemberontak yang sangat besar akhirnya Pangeran Puger menyingkir ke Jenar. Di sana Beliau mendirikan kerajaan Purwakanda dan berpusat di Jenar. Ia mengangkat dirinya sebagai raja bergelar Susuhunan Ingalaga. Setelah Trunojoyo kembali ke Kediri, Susuhunan Ingalaga segera merebut Plered dan mengusir anak buah Trunojoyo yang ditempatkan di kota itu.
Amangkurat I meninggal di daerah Tegalwangi / Tegalarum. Raden Mas Rahmat menjadi Raja tanpa Tahta dengan Gelar Amangkurat II. Hal Ini disebabkan karena Plered sebagai ibukota Mataram saat itu diduduki dan dipertahankan oleh Pangeran Puger ( Amangkurat II ) yang lebih memilih mempertahankan Plered daripada mengungsi.
Amangkurat II Raden Mas Rahmat kemudian memilih membangun Kraton baru dengan nama Kartosuro pada bulan September 1680. Ia kemudian memanggil Susuhunan Ingalaga / Amagkurat II Pangeran Puger untuk bergabung dengannya, akan tetapi oleh Pangeran Puger ditolak, sehingga terjadilah perang saudara. Pada tanggasl 28 November 1681.

Susuhunan Ingalaga Amangkurat II Pangeran Puger menyerah kepada Jacob Couper, pemimpin pasukan VOC, yang membantu Amangkurat II Raden Mas Rahmat. Susuhunan Ingalaga kemudian kembali bergelar Pangeran Puger dan RM Rahmat bergelar Amangkurat II. Berdasar peristiwa inilah Kyai Nur Iman Mlangi kadang juga disebut sebagai Amangkurat III, akan tetapi bukan Amangkurat Jawa, karena Amangkurat Jawa yang ada dalam sejarah adalah RM. Suryo Putro ( putra Pengeran Puger/ Ayah Kyai Nur Iman Mlangi ).

Antara Amangkurat II RM. Rahmat dan Pangeran Puger memiliki perbedaan sikap yang sangat mencolok. Amangkurat II cenderung bersifat lemah hati dan tidak teguh pendirian, sedangkan Pangeran Puger bersifat sangat tegas. Maka gelar Amangkurat II pada saat itu seperti simbol belaka, karena yang lebih banyak menjalankan roda pemerintahan saat itu adalah Pangeran Puger yang memang ditunjuk sebagai tangan kanan Amangkurat II RM. Rahmat.

Pangeran Puger wafat pada tahun 1719.
Salah satu putera Pangeran Puger adalah RM. Suryo Putro. Dikisahkan ia meninggalkan kraton Mataram menuju ke arah timur / brang wetan, tepatnya sampai di Pondok Pesantren Gedangan Surabaya yang pada saat itu diasuh oleh Kyai Abdullah Muhsin. Hal ini dikarenakan adanya perebutan tahta dan perselisihan antar saudara di kalangan istana yang merupakan ulah adu domba Belanda. RM. Suryo Putro kemudian menjadi santri disana dengan berganti nama M. Ihsan. Pada suatu saat tepatnya dalam kegiatan rutin selapanan ( 35 hari sekali ) yang diadakan di ponpes tersebut, diadakan pengajian yang tanpa disangka dihadiri oleh Adipati Wironegoro ( ini adalah gelar anugrah yang diberikan Amangkurat II kepada Untung Suropati yang ikut membantuh dalam pembunuhan Pimpinan Kompeni yang bernama Kapten Tack), M. Ihsan menjadi ketua santri dan ikut menghidangkan hidangan untuk para tamu yang hadir. Saat mondar mandir di depan Adipati tersebut, ia diamati oleh sang Adipati. Karena merasa bahwa adipati pernah bertemu sebelumnya dan yakin bahwa santri tersebut adalah seorang bangsawan, maka setelah pengajian selesai, sang adipati tidak langsung pulang tetapi malah menyuruh Kyai A. Muhsin untuk memanggil Santri M. Ihsan tersebut. Setelah bertemu dan bercakap- cakap akhirnya diketahuilah bahwa M. Ihsan memang seorang bangsawan. M. Ihsan dan Adipati akhirnya berpesan agar Kyai merahasiakan keberadaan M. Ihsan dan menganggap ia sebagai santri biasa agar tidak sampai ketahuan oleh keluarga kerajaan. Sebelum pulang, Adipati Wironegoro berpesan agar M. Ihsan sudi berkunjung ke kadipaten dengan menyamar.
Akhirnya pada waktu yang telah ditentukan M Ihsan bersama Kyai datang ke kadipaten dengan alasan akan menyampaikan pesan kepada adipati tersebut agar tetap merahasiakan keberadaannya kepada kelurga Kraton. Setelah beberapa waktu berjalan dan melalui pertimbangan yang matang, akhirnya diambillah kesepakatan antara Adipati, kyai A. Muhsin dan M. Ihsan untuk menikahkan M Ihsan dengan Putri Adipati tersebut yang bernama RA. Retno Susilowati. Setelah menikah, putri tersebut diboyonglah ke ponpes Gedangan.

Sementara itu, sepeninggal RM. Suryo Putro ternyata keadaan kerajaan semakin kacau hingga akhirnya terciumlah keberadaan M. Ihsan oleh keluarga Kraton. Sang Raja kemudian mengirim utusan untuk menjemput pulang M. Ihsan ke Mataram. Karena itu merupakan perintah Raja, maka M. Ihsan tidak berani menolak. Sebelum ia pulang ke kraton, ia menitipkan istrinya yang sedang hamil ke kyai A. Muhsin dan berpesan "Kelak jika anaknya lahir laki laki harap diberi nama RM. Sandeyo, tetapi jika perempuan, pemberian nama terserah Kyai". Kyai juga diminta mengasuhnya dan mendidiknya hingga mumpuni, karena kelak ia kan dijemput pulang ke kraton Mataram. Ternyata bayi yang lahir itu benar laki - laki dan kemudian oleh kyai diberi nama RM. Sandeyo, selain itu oleh Kyai bayi itu juga diberi nama M. Nur Iman.

Setibanya di kraton Mataram, RM. Suryo Putro langsung dinobatkan sebagai raja bergelar Amangkurat JAWA/ Amangkurat IV. Ia memerintah pada tahun 1719 - 1726. Sebelum Beliau meninggal, Beliau teringat pernah menitipkan istri pertamanya yang sedang hamil di ponpes Gedangan yang diasuh oleh Kyai Abdullah Muhsin, dan mungkin anak dalam kandungan itu telah lahir dan telah dewasa. Akhirnya Beliau mengutus utusan untuk menjemput pulang anak tersebut.

Seiring waktu berlalu Nur Iman / RM Sandeyo telah tumbuh dewasa dan telah menjadi pemuda yang mumpuni dalam ilmu agama dan lainnya, hingga pada suatu saat datang lah utusan tersebut dan meminta RM Sandeyo untuk pulang ke Mataram. Akhirnya M. nur Iman mau untuk pulang, akan tetapi Beliau tidak mau pulang bersama dengan utusan tersebut. setelah pamit pada Kyai Abdullah Muhsin dan mendengarkan semua pesan nasihat dari Kyai, maka RM. Sandeyo berangkat ke Mataram dengan ditemani dua sahabat dekatnya yang bernama Sanusi dan Tanmisani. Sesuai dengan nasihat Kyai, maka sepanjang perjalanannya mereka tanpa henti berdakwah menyebarkan ilmu agama dan mendirikan Ponpes, hingga perjalan sampai ke Mataram memakan waktu agak lama. Ponpes yang didirikan M. Nur Iman antara lain ponpes yang ada di sepanjang Ponorogo dan Pacitan. Kyai Abdullah Muhsin juga mempunyai keyakinan kuat bahwa kelak M. Nur Iman akan menjadi Ulama besar dan termasyhur.

Sesampainya di Kraton, M. Nur Iman langsung sungkem kepada Ayahhandanya ( Amangkurat Jawa / IV ) dan kemudian dikenalkan kepada semua kerabat kraton , juga adik - adiknya. Selain itu ia juga dianugerahi gelar KGHP. Kertosuro dan mendapat rumah kediaman di Sukowati.
Pada saat terjadinya perang saudara antara adik - adiknya yakni Pangeran Sambernyowo / RM. Said dan Pangeran Mangkubumi / RM. Sujono, juga dengan terjadinya huru - hara antara bangsa Tionghoa dengan kompeni Belanda yang terkenal dengan GEGER Pecinan, M. Nur Iman bersama sahabatnya memilih meninggalkan istana ke arah barat. Selain berdakwah, mereka juga menanamkan jiwa patriotisme melawan kompeni kepada para rakyat yang mereka temui. Perjalanan ke barat itu sampai pada daerah yang bernama Kulon Progo. kedatangannya diterima dengan senang hati oleh demang yang bernama Hadiwongso ( penguasa daerah Gegulu ), yang kemudian demang beserta keluarganya tersebut memeluk islam. Dengan sangat hormat demang tersebut memohon agar M. Nur Iman sudi menikah dengan putrinya. Akhirnya M. Nur Iman dinikahkan dengan putri nya yang bernama Mursalah, sedangkan kedua sahabatnya juga dinikahkan dengan putrinya yang lain yang bernama Maemunah ( menikah dengan Sanusi ) dan Romlah ( menikah dengan Tanmisani).

Perselisihan antar kedua saudara M.Nur Iman tersebut akhirnya berakhir dengan perjanjian di desa Giyanti pada tahun 1755, kemudian dikenal dengan perjanjian Giyanti yang isinya antara lain :
1. Kerajaan Mataram Kertosuro dibagi menjadi 2 bagian,
- dari Prambanan ke timur menjadi milik Susuhunan Pakubuwono III, beribukota di Surokarto
- dari Prambanan ke barat menjadi milik Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwana I, beribukota di Yogyakarta.
2. Pangeran Sambernyowo / RM. Said diberi kedudukan sebagai adipati dengan gelar Adipati Mangkunegara I dan diperbolehkan mendirikan sebuah Puro yang kemudian diberi nama Puro Mangkunegara.
Setelah keadaan menjadi tenteram, raja - raja yang merupakan adik dari M. Nur Iman tersebut teringat akan kakaknya yang bernama RM. Sandeyo / M. Nur Iman, kemudian masing- masing raja mengutus prajuritnya untuk mencari keberadaan M. Nur Iman.

Sementara itu , setelah demang Hadiwongso ( mertua KGPH Sandeyo / M. Nur Iman ) wafat, M. Nur Iman sekeluarga pindah ke utara, di sebelah timur Kali Progo tepatnya di desa Kerisan. Di desa inilah RM. Sandeyo bertemu dengan Sultan Hamengku Buwana I ( yang tidak lain adalah adiknya ). Sultan Hamengku Buwana I kemudian meminta agar M. Nur Iman kembali ke kraton.
Pada tahun 1776, saat Jumenengan Pangeran Mangkubumi menjadi raja Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat dengan gelar Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senopati Ing Ngalaga Khalifatulloh Ngabdurrohman Sayidin Panotogomo ingkang Jumeneng Sepisan, yang kemudian lebih umum disebut Hamengku Buwana I, M. Nur Iman Mlangi diberi hadiah tanah oleh Hamengku Buwana I berupa tanah Perdikan / tanah bebas pajak . Tanah tersebut kemudian dijadikan desa dan dugunakan untuk pengembangan agama Islam. Didirikan pula Pondok pesantren untuk mulangi atau mengajar agama. Atas dasar kata mulangi inilah kemudian desa tersebut dikenal menjadi desa Mlangi.

Zaman Pemerintahan Hamengku Buwana I menrupakan zaman keemasan Yogyakarta Hadiningrat. Setelah Hamengku Buwana I wafat, pemerintahan digantikan oleh putranya yan g bernama RM. Sundoro yang bergelar Hamengku Buwana II. Beliau sangat nasionalis dan rela berkorban untuk rakyatnya. Terlebih dalam pengembangan agama. hal ini terlihat dengan baiknya hubungan antara ulama dan umaro pada saat itu.

Pada masa pemerintahaan Hamengku Buwana II inilah Kyai Nur Iman Mlangi mengarahkan agar Raja membangun Empat Masjid besar untuk melengkapi dan mendampingi masjid yang sudah berdiri terlebih dahulu yaitu masjid yang berada di kampung Kauman , di samping kraton. Masjid yang akan dibangun tersebut disaranklan oleh Kyai Nur iman dibangun di empat arah dan diberi nama Masjid Patok Nagari. Keempat masjid tersebut adalah :
di sebelah Barat terletak di dusun Mlangi
di sebelah Timur terletak di desa Babadan
di sebelah Utara terletak di desa Ploso Kuning
Di sebelah Selatan terletak di desa Dongkelan.
Adapun pengurus masjid tersebut adalah putra - putra Kyai Nur Iman Mlangi yakni :

Masjid Ploso Kuning di urus oleh Kyai Mursodo
Masjid babadan diurus oleh kyai Ageng Karang Besari
Masjid Dongklelan diurus oleh Kyai Hasan Besari
Masjid Mlangi diurus oleh Kyai Nur Iman Mlangi sendiri
Masjid - masjid tersebut kemudian terkenal dengan Masjid Kagungan Dalem atau Masjid Kasultanan, dan pengurus takmir pada saat itu termasuk abdi dalem kraton.

Sesuai dengan Amanah Hamengku Buwana II, maka Hamengku Buwana III melakukan perlawanan kepada penjajah. Sikap patroitisme dan nasionalisme tersebut beliau wariskan kepada putranya yang bernama Kanjeng Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro dengan semangat tinggi dan keyakinan Jihad Fi sabillillah memerangi Belanda. Hal ini tercermin dari pakaian yang ia kenakan. Perang Diponegoro berlangsung pada tahun 1825 - 1830. Perang Diponegoro ini pun melibatkan anak cucu dari Mbah Kyai Nur Iman Mlangi. salahsatu putr a Kyai Nur Iman Mlangi yang gugur dalam perang ini bernama Kyai Salim. Beliau wafat di desa Ndimoyo. Selanjutnya beliau terkenal dengan sebutan Kyai Sahid.
Tipu daya licik Belanda akhirnya dapat mengakhiri perang Diponegoro. Pangeran Diponegoro tertangkap di Magelang dalam sabuah perundingan. Pengawal Pribadi Pangeran Diponegoro juga iku ditangkap saat itu. Ia bernama Kyai Hasan Besari yang merupakan putra dari Kyai Nur Iman Mlangi. Mereka kemudian diasingkan ke Menado.
Setelah Perang Diponegoro berakhir, kompeni berani menghadap Hamengku Buwana III. Kompeni membujuk dan memutar balikkan fakta kepada Sultan dengan mengatakan bahwa Pangeran Diponegoro dan pengikutnya adalah pemberontak. hal ini membuat pengikut Pangeran Diponegoro yang masih tersisa termasuk para putra wayah Mbah Kyai Nur Iman Mlangi tidak berani kembali ke desanya karena takut ditangkap kompeni. Di mana tempat yang dianggap aman, disanalah mereka tinggal. Sehingga secara tidak langsung terjadilah penyebaran penduduk dan keturunan dari Kyai Nur Iman Mlangi yang tidak hanya tersebar di daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah saja , tetapi juga menyebar hingga ke Jawa Barat dan Jawa Timur, bahkan ada yang di luar Jawa. Sementara itu Mbah Kyai Nur Iman memilih tinggal di desa Mlangi sampai akhir hayatnya. Kyai Nur Iman Mlangi dimakamkan di belakang masjid. Makam tersebut kemudian terkenal denan sebutan makan Pangeran Bei / Pesareyan Kagungan Dalem Kasultanan, sehingga gapura masuk Kompeks tersebut bercirikan Kraton.
Seperti makam para Auliya' dan Ulama besar yang lain, makam Mbah Kyai Nur Iman juga banyak dikunjungi peziarah baik rombongan maupun perorangan yang berasal dari luar daerah, bahkan ada yang berasal dari luar pulau Jawa.

Putra mbah Kyai Nur Iman Mlangi ada yang diangkat sebagai Bupati Kedu, Beliau bernama Kyai Taptojani. Ada juga yang diangkat sebagai penghulu Kraton Yogyakarta. Beliau bernama Kyai Nawawi.

Sampai saat ini di desa Mlangi berdiri beberapa Ponpes yaitu :
1. PP. Al Miftah yang diasuh oleh Kyai Sirrudin dan diteruskan oleh KH. Munahar
2. PP As Salafiyyah yang diasuh oleh Kyai Masduqi dan diteruskan oleh KH. Suja'i Masduqi
3. PP. Al Falahiyyah yang diasuh oleh KH. Zamrudin dan diteruskan oleh Nyai hj. Zamrudin
4. PP. Al Huda yang diasuh oleh KH. Muchtar Dawam
5. PP. Mlangi Timur yang diasuh oleh KH. Wafirudin dan diteruskan oleh Nyai Hj. Wafirudin
6. PP. Hujjatul Islam yang diasuh oleh KH. Qothrul Aziz
7. PP. As Salimiyyah yang diasuh oleh KH. Salimi
8. PP. An Nasyath yang diasuh oleh KH. Sami'an
9. PP. Ar Risalah yang diasuh oleh KH. Abdullah
10. PP. Hidayatul Mubtadin yang diasuh oleh KH. Nur Iman Muqim

Adapun Ponpes yang ada diluar Yogyakarta dan masih keturunan Mbah Kyai Nur Iman Mlangi adalah :
1. PP. Watu Congol Muntilan yang diasuh oleh KH. Ahmad Abdul Haq
2. PP. Tegalrejo Magelang yang diasuh oleh KH. Abdurrahman Khudlori
3. PP. Al Asy'ariyyah Kalibeber Wonosobo yang diasuh oleh KH. Muntaha
4. PP. Bambu runcing Parakan Temanggung yang diasuh oleh KH. Muhaiminan
5. PP. Secang Sempu Magelang yang diasuh oleh KH. Ismail Ali
6. PP. Nurul Iman Jambi yang diasuh oleh KH. Sohib dan Nyai Hj, Bahriyah

Karya Mbah Kyai Nur Iman Mlangi antara lain :
1. Kitab Taqwim ( Ringkasan Ilmu Nahwu )
2. Kitab Ilmu Sorof ( Ringkasan Ilmu Sorof )
Di museum Diponegoro Magelang juga terdapat peninggalan dari Pangeran Diponegoro berupa kitab yang selalu Beliau baca. Kitab tersebut adalah kitab karya Mbah Kyai Nur Iman Mlangi

Pada Tahun 1953 Masjid Mlangi diserahkan kepada rakyat dan diberi nama Masjid Jami' Mlangi. Serah terima dari Hamengku Buwana IX kepada masyarakat diwakili oleh alim ulama dan tokoh masyarakat, antara lain :
1. Kyai Sirudin
2. Kyai Masduki
3. M. Ngasim

Tradisi peninggalan Mbah Kyai Nur Iman Mlangi yang masih dilestarikan sampai saat ini antara lain :
1. Ziaroh / ngirim ahli kubur dengan membaca tahlil dan Al Quran, surat Al Ikhlas dan lain lain.
2. Membaca sholawat Tunjina ( untuk memohon keselamatan di dalam setiap hajatan )
3. Membaca sholawat Nariyah ( untuk memohon keselamatan pada hajatan seperti orang hamil dan lain lain )
4. Membaca kalimat Thoyyibah, tahlil Pitung Leksa ( Khususnya jika diperlukan untuk obat / tombo sapu jagad )
5. Manakib Abdulqodiran
6. Barjanji / Rodadan
7. Sholawatan / Kojan dan lain- lain.

Untuk mengenang dan menghormati jasa Mbah Kyai Nur Iman Mlangi, para Alim Ulama dan tokoh masyarakat sepakat mengadakan khaul yang diselenggarakan setiap tahun pada bulan Suro / Muharram malam tanggal 15.

Silsilah Mataram Kertosuro ( PUSTAKA DARAH ) dan Kyai Ageng Mlangi
Brawijaya terakhir;

R. Bondan Gejawan ( Ki Ageng tarub III );

Ki Ageng Getas Pandawa;

Ki Ageng Sela;

Ki Ageng Nis;

Kyai Ageng Pemanahan;
Panembahan Senopati;
Prabu Anyokrowati;
Prabu Sultan Agung Anyokrokusumo
Prabu Amangkurat I
Prabu Amangkurat II ( Pangeran Puger )
Prabu Amangkurat IV ( Amangkurat Jawa ) RM. Suryo Putro

RM Suryo Putro menurunkan;
1. RM. Sandeyo ( Kyai Nur Iman Mlangi / KGP Angabehi Kertosuro )
2. KPA. Mangkunegoro I
3. KPA. Danupojo
4. RA. Pringgolojo
5. K. Susuhunan PB. II Surokarto
6. KPA. Pamot
7. KPA. Hadiwidjojo
8. KPA. Hadinegoro
9. K. Ratu Madunegoro
10. K. Sultan HB. I Ngajogjakarta
11. KP. Rogo Purboyo
12. KGPA. Panular
13. KGPA. Blitar
14. RA. Surodiningrat
15. KPA. Buminoto - Sultan Dandun Mertengsari - Adipati Setjoningrat - Panembahan Bintoro
16. KP. Singosari ( KP. Joko )
17. KGPA. Mataram
18. KGP. Martoseno
19. RA. Hendronoto
20. KGPA. Selarong
21. KGPA. Prang Uledono
22. KGPA. Buminoto

RM. sandeyo ( Kyai Nur Iman Mlangi ) mempungai 5 orang istri yaitu :
1. Garwa Gegulu, dari istri ini beliau menurunkan ;
1. RM. Mursodo
2. RM. Nawawi
3. RM Syafangatun
4. RM. TAptojani - Kyai Kedu
5. RA. Cholifah / Kyai Mansyur
6. RA. Muhammad
7. RA. Nurfakih / Murfakiyyah
8. RA. Muso - Kyai Sragen
9. RM Chasan Bisri / Muhsin Besari
10. RA. Mursilah Ngabdul Karim

2. Garwa Surati, dari istri ini beliau menurunkan ;
1. RA Muhammad Soleh
2. RM Salim
3. RA. Jaelani

3. Garwa Kitung, dari istri ini beliau menurunkan ;
1. RA. Abutohir
2. RA. Mas Tumenggung

4. Garwa Bijanganten, dari istri ini beliau menurunkan ;
1. RA. Nurjamin

5. Garwa Putri Campa, dari istri ini beliau menurunkan ;
1. RM. Masyur Muchyidinirofingi ( Kyai Guru Loning )

RM. Masyur Muchyidinirofingi ( Kyai Guru Loning ) mempunyai 5 istri yaitu :
1. Garwa Putri penghulu Demak, dari Istri ini beliau menurunkan ;
1. RM . Haji Ngabdurrochman

2. Garwa Alang - Alang Amba, dari istri ini beliau menurunkan ;
1. RA. Fatimah / Kyai Sayyid Taslim
2. RA. Djamilah Sangid
3. RM. Haji Muhammad Nur
4. RM. Kyai Bustam

3. Garwa Putri Dipodirjo, dari istri ini beliau menurunkan ;
1. RA. Muhammad Zein
2. RM. Kyai Machmud
3. RA. Yai Istad
4. RM Haji Soleh

4. Garwa Putri Lurah Krojo, dari istri ini beliau menurunkan ;
1. RM. Chamid Tritis

5. Garwa Putri Kyai Soleh Qulhu Magelang,dari istri ini beliau menurunkan ;

1. RM. Haji Ngabdullah Mahlan 

 Tarikh Nur Iman Mlangi RM. Sandeyo

"Kampung Mlangi akan menyapa ketika anda haus kebutuhan spritual lewat masjid yang berusia ratusan tahun hingga pesantren yang legendaris."
  
Jalan beraspal yang kanan kirinya ditumbuhi pohon kelapa akan ditemui bila berjalan ke arah utara melewati ring road barat Yogyakarta. Melaju mengikuti arah jalan itu, anda akan sampai ke sebuah dusun bernama Mlangi, tepatnya di sebuah masjid bernama Jami' Mlangi. Sekeliling masjid itu berupa kompleks pemakaman dengan yang paling terkenal adalah makam Kyai Nur Iman.
Nama Mlangi tak lepas dari sosok Kyai Nur Iman yang sebenarnya adalah kerabat Hamengku Buwono I, bernama asli Pangeran Hangabehi Sandiyo. Kisahnya, Nur Iman yang sudah lama membina pesantren di Jawa Timur diberi hadiah berupa tanah oleh Hamengku Buwono I. Tanah itulah yang kemudian dinamai 'mlangi', dari kata bahasa Jawa 'mulangi' yang berarti mengajar. Dinamai demikian sebab daerah itu kemudian digunakan untuk mengajar agama Islam.
Masjid Jami' Mlangi adalah bangunan paling legendaris di dusun ini karena dibangun pada masa Kyai Nur Iman, sekitar tahun 1760-an. Meski telah mengalami renovasi dan beberapa perubahan, arsitektur aslinya masih dapat dinikmati. Diantaranya adalah gapura masjid dan dinding sekitar masjid yang didesain seperti bangunan di daerah Kraton. Di dalam masjid yang oleh warga sekitar disebut "Masjid Gedhe" itu juga tersimpan sebuah mimbar berwarna putih yang digunakan sejak Kyai Nur Iman mengajar Islam.

Makam Kyai Nur Iman dapat dijangkau dengan melewati jalan di sebelah selatan masjid atau melompati sebuah kolam kecil yang ada di sebelah tempat wudlu. Makam itu terletak di sebuah bangunan seperti rumah dan dikelilingi cungkup dari bahan kayu. Makam itu selalu ramai sepanjang tahun, terutama pada tanggal 15 Suro yang merupakan tanggal wafatnya Kyai Nur Iman dan bulan Ruwah. Hanya pada bulan ramadan saja makam itu agak sepi. Biasanya, para peziarah membaca surat-surat Al-Qur'an dengan duduk di samping atau depan cungkup makam.
Berkeliling ke dusun Mlangi, anda akan menjumpai setidaknya 10 pesantren. Diantaranya, sebelah selatan masjid pesantren As-Salafiyah, sebelah timur Al-Huda, dan sebelah utara Al-Falakiyah. Pesantren As-Salafiyah merupakan yang paling tua, dibangun sejak 5 Juli 1921 oleh K.H. Masduki. Mulanya, As-Salafiyah bukanlah pesantren, hanya komunitas yang belajar agama di sebuah mushola kecil. Komunitas itu lantas berkembang menjadi pesantren karena banyak yang berminat. Meski bangunannya tak begitu besar, pesantren ini memiliki 300-an santri dan menggunakan metode mengajar yang tak kalah maju dengan sekolah umum.

Keakraban penduduk dengan Islam bukan sesuatu yang dibuat-buat. Buktinya dapat dilihat dari cara berpakaian penduduk. Di Mlangi, para lelaki biasa memakai sarung, baju muslim, dan peci meski tidak hendak pergi ke masjid. Sementara hampir semua perempuan di dusun ini mengenakan jilbab di dalam maupun di luar rumah. Pengamalan ajaran Islam seolah menjadi prioritas bagi warga Mlangi. Konon, warga rela menjual harta bendanya agar bisa naik haji.
Meski banyak warga punya kesibukan dalam mendalami agama Islam, tak berarti mereka tidak maju dalam hal duniawi. Dusun Mlangi sejak lama dikenal sebagai salah satu penghasil tekstil terkemuka, hanya jenis produknya saja yang berubah sesuai perkembangan jaman. Pada tahun 1920-an, usaha tenun dan batik cetak marak di kampung ini hingga tahun 1965-an. Usaha itu mulai pudar sejak batik sablon menguasai pasar dan harga kain bahan batik terus meningkat. Akhirnya, hanya tersisa beberapa pengusaha batik, diantaranya Batik Sultan agung yang juga mulai meredup akhir 1980-an. Kini, usaha yang sedang berkembang adalah celana batik, peci, jilbab, net bulutangkis, dan papan karambol.
Setiap Ramadan, dusun ini selalu ramai dengan ritual ibadah yang dijalankan warganya. Mulai dari tadarus, pengajian anak-anak, dan sebagainya. Tak sedikit pula masyarakat dari luar Mlangi yang datang untuk 'wisata' agama, semacam pesantren kilat. Nah, bila anda ingin berkunjung ke Mlangi, inilah saat yang tepat. Sepanjang siang selama bulan Ramadhan, anda juga akan melihat betapa akrab anak-anak bermain petasan.
Naskah & Photo: Yunanto Wiji Utomo
Artistik: Sutrisno 

:: cetusan murid pesantren mlangi ::

Windowsbie7 juga sering ke desa mlangi.
Lokasinya di Ring Road Barat (Jalur ke Terminal Jombor Magelang)
Dari Depan Rumah Sakit Queen Latifah nanti ada Gang yang terpampang jelas "Makam Kyai Nur Iman"
dari Jalan Raya sampai dengan Masjid Pathok Negara Mlangi itu 1 arah tanpa belok.

:: Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman, Yogyakarta, Indonesia

03/12/11

Tazkiyatun Nufus

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang”. (QS. Al- A’la: 14-15)
Tanda-tanda Kebahagiaan
Imam Ibnu Al-Qayyim Rahlinaluillah menyebutkan bahwa indikasi kebahagiaan seorang hamba ada tiga perkara. Yakni, jika diberi nikmat maka ia bersyukur, jika diuji dengan musibah dia bersabar dan jika dia berdosa maka segera memohon ampun.
Beliau berkata, “ketiga perkara tersebut adalah indikasi kebahagiaan seorang hamba, tanda-tanda bahwa la mendapat keberuntungan di dunia dan di akhirat. Seorang hamba tidak akan stabil posisinya di antara tiga hal tersebut. Dan seorang hamba akan senantiasa turun naik derajatnya dalam tiga kondisi tersebut.
Syukur Terhadap Nikmat
Nikmat-nikmat Allah Ta’ala melimpah ruah, sedangkan pengikatnya adalah Syukur. Syukur dibangun di atas tiga rukun, yakni: mengakuinya di dalam bathin, menyebutnya secara dhahir dan mempergunakan nikmat tersebut sesuai dengan ridha Pemberinya. Jika seorang melakukan hal itu, berarti dia telah bersyukur kendati terkadang ada kekurangan dalam mensyukurinya.
Sabar Menghadapi Bala’
Terhadap ujian dari Allah Ta’ala yang menimpa seorang hamba, wajib baginya untuk bersabar dan merelakannya. Adapun rukun sabar adalah menahan jiwa dari perasaan jengkel terhadap takdir yang menimpa dirinya, mencegah lisan mengeluh dan menjaga anggota badan dari berbuat maksiat seperti menampar pipi, merobek baju, menjambak rambut (karena histeris) dan semisalnya.
Maka ruang lingkup sabar berkisar pada tiga rukun tersebut, jika seorang hamba menegakkan sebagaimana mestinya, niscaya ujian akan berubah menjadi anugerah, bala’ menjadi karunia dan benci menjadi rasa cinta.
Hikmah dari Bala’
Jika Allah Ta’ala menguji hamba-Nya dengan bala’, tidaklah hal itu bertujuan untuk menyengsarakan hamba-Nya. Akan tetapi Dia menimpakan bala’ adalah untuk menguji kesabaran dan kesungguhan ibadahnya. Karena bagi Allahlah ibadah seorang hamba tatkala berada dalam kesempitan, sebagaimana bagi-Nya pula ubudiyah hamba di kala lapang. Bagi-Nyalah ubudiyah hamba dalam perkara yang tidak ia suka, sebagaimana bagi-Nya pula ubudiyah hamba dalam perkara yang dia suka.
Kebanyakan manusia hanya mempersembahkan ubudiyah dalam hal-hal yang mereka sukai, namun bakhil untuk memberikan ubudiyah dalam hal yang tidak mereka suka. Oleh karena itulah kedudukan hamba itu bertingkat-tingkat di sisi Allah Ta’ala sesuai dengan tingkatan ubudiyahnya kepada-Nya.
Wudhu dengan air dingin dalam suasana yang amat panas adalah ibadah, bermuka manis di hadapan istri cantik yang dicintai adalah ibadah, memberikan nafkah kepadanya, keluarganya dan dirinya sendiri adalah ibadah.
Demikian halnya wudhu dengan air dingin di saat suasana yang sangat dingin adalah ibadah, meninggalkan maksiat di saat nafsu sangat memuncak adalah ibadah, dan menafkahkan harta dikala sempit merupakan ibadah. Akan tetapi kendati sama-sama ibadah ada perbedaan tingkatan yang jauh anatar dua macam ibadah di atas.
Nikmat Dibukanya Pintu Taubat
Taubat adalah penyesalan. Jika Allah Ta’ala menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya maka akan dibukakan baginya pintu-pintu taubat, penyesalan dan kekecewaan, merasa hina di hadapan Allah Ta’ala, fakir dihadapan-Nya, memohon pertolongan-Nya, tulus kembali kepada-Nya, terus menerus tadharru’, berdo’a, taqarrub kepada-Nya dengan segala kebaikan semaksimal mungkin yang dapat ia kerjakan, hingga keburukan yang telah ia kerjakan menjadi sebab baginya  untuk mendapatkan rahmat (karena ia mau bertaubat).
Sampai-sampai musuh Allah Ta’ala (syetan) berkata, “duhai seandainya dahulu aku tidak menggodanya dan menjerumuskannya ke dalam dosa..!” Inilah maksud perkataan sebagian salaf, “sesungguhnya ada seorang hamba yang berbuat dosa namun ia masuk jannah karenanya, dan ada seorang hamba yang berbuat baik namun ia masuk neraka karenanya.” Orang-orang bertanya, “bagaimana hal itu bisa terjadi?” Beliau menjawab,”seorang hamba melakukan dosa namun kemudian meneteslah air matanya karena takut, khawatir, menangis karena menyesal dan malu kepada Allah Ta’ala. Dia menundukkan kepalanya di hadapan Allah Ta’ala, seakan hatinya pecah, hingga dosa yang dia kerjakan menjadi sebab baginya untuk mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan. Sehingga dosa yang ia kerjakan (lalu dia bertaubat) itu lebih bermanfaat dari banyaknya ketaatan yang dapat menyebabkan datangnya kebahagiaan seorang hamba dan keberun-tungannya. Maka dosa tersebut menjadi sebab baginya untuk masuk jannah.
Bahaya Ujub dan Ghurur
Adapun seseorang yang melakukan kebaikan lalu dengannya ia membangga-banggakan di hadapan Allah Ta’ala, berlaku takabbur dengannya, pamer, ujub dan membesar-besarkannya, dia berkata, “aku telah mengerjakan, aku telah mengerjakan” kemudian menyebabkan dirinya berbangga dan sombong, menonjolkan diri dan membesar-besarkan amalnya hingga akhimya la binasa karenanya. Jika Allah Ta’ala menghendaki orang ini baik,maka Allah Ta’ala akan memberikan bala’kepadanya dengan sesuatu yang akan menghancurkan kesombongannya, membuat lehernya tertunduk, dan merasa hina dihadapanNya. Namun jika Allah Ta’ala menghendaki selain itu, maka dibiarkannya ia dengan rasa ujub dan kesombongannya, dan jika Allah Ta’ala membiarkannya, itu pertanda ia akan binasa.
Tanda Diberi Taufik
Sesungguhnya orang-orang bijak telah sepakat bahwa taufik berarti Allah Ta’ala tidak menelantarkan jiwamu, sedangkan khudzlan adalah Allah Ta’ala  menyerahkan jiwamu kepada dirimu sendiri (menelantarkan Jiwamu-). Maka barangsiapa yang dikehendaki Allah Ta’ala mendapat kebaikan, niscaya Allah Ta’ala membuka baginya perasaan hina di hadapan Allah Ta’ala, senantiasa bersandar kepada Allah Ta’ala, merasa butuh dengan-Nya, menyadari akan aib dan kebodohan dirinya, kedzalimandan pembangkangannya. Dalam waktu yang bersamaan dia mengakui akan karunia Allah Ta’ala dan kebaikan-Nya, rahmat-Nya, wujud-Nya, Maha kaya dan segala sifat-Nya yang terpuji.
Seorang yang bijak, berjalan menuju Allah Ta’ala dengan kedua sayap ini, tidak mungkin berjalan melainkan dengan keduanya. Manakala hilang salah satu darinya, maka bagaikan burung yang kehilangan sebelah sayapnya.
Syaikhul Islam Rahimahullah berkata, “Seorang yang bijak berjalan menuju Allah Ta’ala di antara dua keadaan yakni mengakui karunia Allah Ta’ala dan menyadari aib diri dan kekurangan amalnya.”Inilah makna yang terkandung dalam sabda Rasulullah SAW di dalam hadits yang shahih: “Sayyidul istighfar adalah hendaknya seseorang membaca: “Ya Allah, Engkaulah Rabbku, tidak ada ilah yang haq kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakan aku, clan aku adalah hamba-Mu, dan aku berusaha memenuhi janji-Mu semampuku. Aku memohon perlindungan kepada-Mu dari buruknya apa yang aku kerjakan, aku mengakui nikmat-Mu atasku, dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau.” (HR Al-Bukhari) Terkumpullah dalam hadits Nabi SAW tersebut “aku mengakui nikmat-Mu atasku, dan aku mengakui dosaku “yakni mengakui nikmat Allah Ta’ala dan mengakui aib dirinya dan kekurangan amalnya. Merasakan nikmat akan menumbuhkan kecintaan, dan rasa syukur kepada Pemberi nikmat dan kebaikan. Sedangkan mengakui aib dirinya dan kekurangan amalnya akan menumbuhkan rasa rendah, fakir di hadapan Allah Ta’ala dan bertaubat pada setiap kesempatan.
Inti Ibadah
Inti ibadah terletak pada dua kaidah dasar, yakni hubbun kaamil (kecintaan yang sempurna) dan dzullun taam (perasaan rendah secara sempurna). Kedua asas tersebut tergantung kepada dua asas yang sebelumnya. Yakni merasakan nikmat/karunia yang akan menimbulkan kecintaan  dan merasakan aib dan kekuarangan amalnya yang akan menimbulkan perasaan rendah secara sempurna. Jika seorang hamba membangun kepribadiannya di jalan Allah Ta’ala dengan dua landasan tersebut, niscaya musuh tidak akan berhasil mengalahkannya, kecuali jika ia dalam keadaan lengah dan lalai, itupun kemudian Allah Ta’ala akan segera memenangkan musuhnya kembali, dan ia mendapatkan miliknya kembali dengan rahmat-Nya.
Wallahu “Alam
Iqbal Quro

Cari Blog Ini

Halaman

Popular Posts

Advertisement

Responsive Advertisement