Tampilkan postingan dengan label Ahmad Fauzan Ibnu Zaend. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahmad Fauzan Ibnu Zaend. Tampilkan semua postingan

29/12/18

Pertanyaan Generasi Teknologi

ilustrasi pencarian
Pertanyaan cerdas Generasi Teknologi
 - kemarin saat keluarga dan ponakan berkunjung karena masa liburan sekolah,
.
"lik kemaren pas aku cari kampung gebangkuning kok munculnya potonya lilik yak, kok bisa masuk google lik bagaimana caranya lik?" tanya ponakan yang mirip aja :)
.
"hmm sebenernya lik ozan suka nulis dan unggah foto aja sebagai sarana dokumentasi kearsipan naa, coba deh nanti Husna jagoin aja nulisnya kayak mbak yuli juga mbak unes nanti poto dan segala macam karyanya husna masuk ke Google seluruh dunia maya naa :)" jawabku
.
"emangnya mbak yuli suka nulis lik, nulis apaan lik" tanyanya
.
"ya masih coba-coba naa, seperti mbak unes dan mbak yuli mungkin masih suka nulis tentang apa kek, apalagi kayak lik jum naa tulisan dan karyanya udah lebih dikenal dunia maya naa, seperti halnya bapak husna, terus lik afik, juga pakde sugeng karyanya lebih dikenal ketimbang tulisan lik ozan." ungkapku
.
"berarti semua yang sudah bisa megang hape sama leptop seneng nulis, lalu diungkap di google ya lik biar terkenal. kemudian googlenya ngambil karyanya orang-orang??" lugunya
.
"yang pasti semua orang itu naa, sekedar ingin meluapkan perasaan, pikiran, unek-unek maupun apapun, lagipula karya milik orang-orang gak google ambil, melainkan memberikan jalan pintas atas karya itu. seperti misal Husna sekarang menginjak usia remaja kan naa, husna ingin cari nama kampungnya lik ozan 'Gebangkuning', nah dari situ google hanya memberikan arah atau jalan alternatif untuk mengetahui dimana desa 'gebangkuning' itu berada, alternatif satu melalui tulisan lik ozan, atau mungkin lik jum dan bisa jadi tulisan yang disusun sedemikian indahnya oleh pakde sugeng." ulasku
....

posted on Google+


ya bagaimana pun mereka tidak ingin hanya mendapat wawasan seputar usianya, melainkan mendapat wawasan yang ada dalam unek-uneknya tersebut terjawab.
.
Siapa lagi yang akan mereka tanyakan selain mesin pencari referensi seperti google, bing, yahoo dan lainnya. sebelum mereka betul-betul ngerti dan faham apa yang telah dilakukan keluarganya, kerabatnya, tetangganya, sahabatnya, maupun oranglain.
.
bisa saja mereka mengetahui segala hal tanpa bersumber, seperti halnya pada ilham "Ilmu Laduni" ilmu yang sengaja diturunkan Sang Pencipta kepada MakhluqNya (seperti pada kebanyakan anak Difabel, Disabilitas, Anak Yatim maupun Anak Yatim Piatu) yang mana ilmu tersebut jarang dijumpai, atau bahkan tidak ada sama sekali. Wallahu A'lam,
....
Generasi masa kini seakan hanya mengerti soal GAME, SOSMED, SELFIE, dan mungkin Sesuatu hal yang sangat merugikan dirinya sendiri, walaupun sering berkecimpung dengan aktifitas apapun bernilai religius. namun semua kembali kepada yang menikmatinya (pelaku),
.
saya mencoba mengajarkan sesuatu yang sebetulnya sering dilakukan orang ketika menulis status di jejaring sosial media, ya walaupun saya sendiri suka menulis status seperti anak remaja yang merasakan pubertas, padahal semua itu hanya hiburan ketika akal sudah sumpek dan buntu untuk mencari solusi.
.
kenapa mengajarkan sering dilakukan orang ketika menulis status di jejaring sosial media dengan "menulis di Blog, Web, dan KeepGoogle", karena kebanyakan tulisan seseorang belum tentu mengarah pada perasaan, pikiran bahkan keruwetan kepala, melainkan ada sisi dimana jiwa sastranya, falsafahnya terluapkan dengan berlampir gambaran yang mungkin masih kopas (copy/paste) atau bisa jadi foto dirinya sendiri. sehingga banyak orang ingin meniru sesuatu itu penuh dengan kewaspadaan pada masanya.
.
#Falsafah #Sastra #puisi #Pantun #Perasaan #Blogging #Wawasan #Generasi

11/02/13

Ulasan Hubungan Suami Istri

Rumah tangga adalah suatu tatanan masyarakat terkecil, dan dari rumah tanggalah suatu tatanan masyarakat terbentuk. Keberhasilan suatu masyarakat atau kegagalannya dimulai dari keberhasilan dan kegagalan anggotanya dalam menjalankan roda kehidupan dalam rumah tangga. Dan sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa setiap rumah tangga minimal terdiri dari suami dan istri.

Oleh karena itu syari’at Al Qur’an memberikan perhatian besar kepada hubungan antara suami dan istrinya, sampai-sampai Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menjadikan baik dan buruknya hubungan seseorang dengan istrinya sebagai standar kepribadian seseorang,

“Sebaik-baik kalian ialah orang yang paling baik perilakunya terhadap istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik dari kalian dalam memperlakukan istriku.” (HR. At Tirmizi dan dishahihkan oleh Al Albani)

Diantara syari’at Al Qur’an yang mengajarkan tentang metode hubungan suami istri yang baik ialah yang disebutkan dalam hadits berikut,

“Janganlah seorang lelaki mukmin membenci seorang mukminah (istrinya), bila ia membenci suatu perangai padanya, niscaya ia menyukai perangainya yang lain.” (HR. Muslim)

Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan hadits ini dengan menyebutkan contoh nyata, beliau berkata, “Tidaklah layak bagi seorang mukmin (suami yang beriman) untuk membenci seorang mukminah (istrinya yang beriman), bila ia mendapatkan padanya suatu perangai yang ia benci, niscaya ia mendapatkan padanya perangai lainnya yang ia sukai, misalnya bila istrinya tesebut berakhlak pemarah, akan tetapi mungkin saja ia adalah wanita yang taat beragama, atau cantik, atau pandai menjaga kehormatan dirinya, atau sayang kepadanya atau yang serupa dengan itu.” (Syarah Muslim Oleh Imam An Nawawi 10/58).

Diantara wujud nyata keindahan syari’at Al Qur’an dalam membina rumah tangga, ialah diwajibkannya seorang suami untuk menunaikan tanggung jawabnya secara penuh, tanpa terkurangi sedikitpun. Mari kita bersama-sama merenungkan kisah berikut,

“Dari Wahb bin Jabr, ia menuturkan, Sesungguhnya salah seorang budak milik Abdullah bin Amr pernah berkata kepadanya, Sesungguhnya aku berencana untuk tinggal selama satu bulan ini di sini di Baitul Maqdis. Maka Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash bertanya kepadanya, Apakah engkau telah meninggalkan untuk keluargamu bekal yang dapat mereka makan selama satu bulan ini? Ia menjawab, Tidak. Abdullah bin Amr berkata kepadanya, Maka kembalilah ke keluargamu, lalu tinggalkan untuk mereka bekalnya, karena aku pernah mendengar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Cukuplah sebagi dosa seseorang (yang akan mencelakakannya-pen) bila ia menyia-nyiakan orang-orang yang wajib ia nafkahi.” (HR. Ahmad, dan Al Baihaqi dan hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Muslim tanpa menyebutkan kisah sebelumnya)

Sebaliknya syari’at Al Qur’an juga mewajibkan atas kaum istri untuk senantiasa taat kepada suaminya, selama mereka tidak memerintahkannya dengan kemaksiatan. Agar kita dapat sedikit mengetahui betapa besar perhatian Islam dalam memerintahkan kaum istri untuk mentaati suaminya, maka marilah kita bersama-sama merenungkan dua hadits berikut,

“Seandainya aku diizinkan untuk memerintahkan seseorang agar bersujud kepada orang lain, niscaya aku akanperintahkan kaum istri untuk bersujud kepada suaminya.” (HR. Ahmad, At Tirmizi, dan Ibnu Majah)

Dan sabda beliau shollallahu ‘alaihi wasallam,

“Bila seorang wanita telah menunaikan sholat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, menjaga kesucian farjinya, dan mentaati suaminya, niscaya akan dikatakan kepadanya, Masuklah ke surga dari delapan pintu surga yang manapun yang engkau suka.” (HR Ahmad, Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Al Albani)

Pada hadits ini Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam memberikan suatu pelajaran penting kepada kaum istri agar hubungannya dengan suaminya bukan hanya di dasari oleh rasa cinta semata. Akan tetapi lebih dari itu semua, ketaatannya kepada suami adalah salah satu bagian dari ibadahnya, dan salah satu ibadah yang amat agung, sampai-sampai disejajarkan dengan sholat lima waktu, dan puasa bulan Ramadhan. Sehingga dengan cara demikian, ketaatan dan kesetiaan kaum istri akan kekal hingga akhir hayatnya, dan tidak mudah luntur oleh berbagai badai yang menerpa bahtera rumah tangganya.

Hal ini tentu berbeda dengan kaum istri yang hanya mengandalkan rasa cintanya, ia akan mudah terhanyutkan oleh godaan dan badai kehidupan, sehingga tatkala ia menghadapi kesusahan atau godaan setan walau hanya sedikit, dengan mudah tergoyahkan. Dari sini kita dapat mengetahui alasan mengapa banyak kaum istri yang dengan mudah melawan suaminya, tidak taat kepadanya, dan bahkan berbuat serong dengan pria lain. Ini semua karena rasa cintanya telah luntur, atau mulai luntur oleh godaan ketampanan, atau jabatan atau harta dan yang serupa.

Dari lain sisi, syari’at Al Qur’an juga membentengi kaum suami agar dapat tetap istiqomah menjalankan tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga, yaitu dengan menjadikan segala tugas dan kewajibannya sebagai bagian dari ibadah kepada Allah, sehingga kesetiaannya dan kewajibannya tidak mudah luntur atau lengkang karena terpaan masa atau godaan hijaunya rumput tetangga atau kawan sejawat dll.

“Sesungguhnya bila engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya, lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin dan meminta-minta kepada orang lain. Dan sesungguhnya engkau tidaklah menafkahkan suatu nafkah yang engkau mengharap dengannya keridhaan Allah, melainkan engkau akan diberi pahala karenanya, sampaipun suapan makanan yang egkau suapkan ke mulut istrimu.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dan lebih spesifik Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menjadikan hubungan sebadan dengan istri sebagai salah satu amal shalih, sebagaimana beliau tegaskan dalam sabdanya berikut ini,

“Dan hubungan sebadanmu dengan istrimu adalah sedekah. Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah, apakah salah seorang dari kita melampiaskan syahwatnya, kemudian ia dengannya mendapatkan pahala ? Beliau menjawab: bagaimana pendapat kalian, bila ia melampiaskan syahwatnya pada perbuatan yang haram, bukankah ia dengannya akan mendapatkan dosa? Demikian juga bila ia melampiaskannya pada tempat yang halal, maka ia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)

Imam An Nawawi menjelaskan hadits ini dengan berkata, “Pada hadits ini terdapat petunjuk bahwa perbuatan mubah akan menjadi amal ketaatan karena niat yang tulus. Hubungan sebadan akan menjadi ibadah bila pelakunya meniatkkan dengannya untuk memenuhi kebutuhan istri atau menggaulinya dengan cara-cara yang baik sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala, atau untuk mencari keturunan yang shalih atau untuk menjaga dirinya atau menjaga istrinya atau keduanya dari memandang kepada yang diharamkan atau memikirkannya atau menginginkannya atau untuk tujuan-tujuan baik lainnya.” (Syarah Muslim oleh Imam An Nawawi 7/92).

10/02/13

Aspek Hubungan Sosial

Bila dua sikap yang telah dijabarkan pada dua ayat di atas dipahami dan kemudian dihayati dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat, niscaya masyarakat tersebut akan aman, damai, sentausa dan makmur.

Allah Subhanahu wata'ala menciptakan manusia di dunia ini dalam keadaan berpasang-pasang, ada lelaki ada wanita, ada yang kaya ada yang miskin, ada yang pandai ada pula yang bodoh, ada yang sholeh dan ada pula yang jahat dan demikianlah seterusnya.

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.” (QS. Az Zariyat: 49)

Dan pada ayat lain Allah Ta’ala berfirman,

“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikanNya kepadamu. Sesungguhnya Rabbmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al An’am: 165)

Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa Allah Ta’ala telah menjadikan Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam beserta umatnya sebagai penguasa bumi dengan cara membinasakan umat-umat sebelum mereka dan menjadikan mereka sebagai pengganti orang-orang sebelum mereka dalam memakmurkan bumi. Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Ia dengan sengaja membeda-bedakan antara manusia dalam berbagai hal, sehingga sebagian orang memiliki kelebihan dibanding orang lain dalam hal harta benda, dan yang lain memiliki kelebihan dalam hal kekuatan badan, dan yang lain memiliki kelebihan dalam ilmu. Kemudian Allah Ta’ala juga menjelaskan maksud dan tujuan-Nya membeda-bedakan manusia dalam berbagai hal, tujuannya ialah untuk menguji sebagian mereka dengan sebagian yang lain, apakah yang kaya mampu menjalankan peranannya dengan kekayaannya, yaitu dengan menyantuni yang miskin, dan yang berilmu menjalankan peranannya dengan mengajarkan ilmunya, dan yang kuat perkasa menjalankan peranannya yaitu dengan melindungi yang lemah. Dan sebaliknya, yang miskin, bodoh, dan yang lemah apakah mampu untuk bersabar dan berterima kasih kepada yang telah berbuat baik kepadanya. (Baca Tafsir Ibnu Jarir At Thobari 8/114 & Tafsir Ibnu Katsir 2/201).

Dan telah menjadi sunnatullah di alam semesta ini bahwa mereka semua saling membutuhkan dan melengkapi. Orang kaya tidaklah akan dapat menikmati kekayaannya bila tidak ada yang miskin, orang pandai tidak akan dapat merasakan dan mendapat kemanfaatan dari kepandaiannya bila tidak ada yang bodoh, dan yang kuat perkasa tidak akan mendapatkan kemanfaatan dari kekuatannya bila tidak ada yang lemah, dan demikianlah seterusnya. Oleh karena itu pada ayat lain Allah Ta’ala berfirman,

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Rabbmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az Zukhruf: 32)

Dikarenakan seluruh lapisan masyarakat saling melengkapi, dan masing-masing menjalankan peranannya, maka syari’at Islam menggariskan satu prinsip indah agar kehidupan masyarakat dapat berjalan dengan baik dan damai. Prinsip tersebut ialah prinsip ta’awun dalam kebaikan dan larangan untuk ta’awun dalam kejelekan, sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala berikut ini,

“Dan bertolong-menolonglah dalam kebajikan dan ketaqwaan, dan janganlah bertolong-tolong dalam perbuatan dosa dan melampaui batas. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al Maidah: 2)

Penerapan nyata dari apa yang telah dipaparkan di atas tentang tatanan masyarakat Islam, dengan lebih jelas digambarkan dalam sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam berikut ini,

“Wajib atas setiap orang muslim untuk bersedekah. Dikatakan kepada beliau, ‘Bagaimana bila ia tidak mampu?’ Beliau menjawab, ‘Ia bekerja dengan kedua tangannya, sehingga ia menghasilkan kemanfaatan untuk dirinya sendiri dan juga bersedekah.’ Dikatakan lagi kepadanya, ‘Bagaimana bila ia tidak mampu?’ Beliau menjawab, ‘Ia membantu orang yang benar-benar dalam kesusahan.’ Dikatakan lagi kepada beliau, ‘Bagaimana bila ia tidak mampu?’ Beliau menjawab, ‘Ia memerintahkan dengan yang ma’ruf atau kebaikan.’ Penanya kembali berkata, ‘Bagaimana bila ia tidak (mampu) melakukannya?’ Beliau menjawab, ‘Ia menahan diri dari perbuatan buruk, maka sesungguhnya itu adalah sedekah.’” (HR. Muslim)

Sebagaimana syari’at Al Qur’an juga mengarahkan agar sebagian masyarakat yang memiliki kelebihan di atas sebagian yang lain dalam suatu hal, tidak bertindak sesuka hatinya, meremehkan selainnya, sombong, angkuh, dan congkak; sebab di atas mereka semua ada Dzat Yang Maha Kuasa, Maha Kaya, Maha Pandai, Maha Perkasa, Maha Pedih siksa-Nya.

Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman tetang orang-orang yang memiliki kelebihan ilmu dibanding yang lain,

“Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki: dan diatas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui.” (QS. Yusuf: 76)

Dan pada hadits berikut, Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang orang-orang yang memiliki kelebihan dalam hal kekuatan dan kekuasaan diatas yang lainnya,

“Abu Mas’ud Al Badri pernah menuturkan: “Pada suatu hari aku sedang memukul budakku dengan cambuk, kemudian aku mendengar suara dari arah belakangku, “Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud!” Aku tidak dapat memahami suara tersebut dikarenakan hanyut oleh rasa amarahku. Ketika orang yang bersuara itu mendekat dariku, ternyata ia adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau bersabda, Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud!” (maka ) akupun segera mencampakkan cambukku dari tanganku. Kemudian beliau bersabda, “Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud, bahwa Allah lebih Kuasa atas dirimu dibanding dirimu atas budak tersebut” Lalu Abu Mas’ud berkata, Aku tidak akan memukul seorang budak-pun setelah budak tersebut.” (HR. Muslim)

Dan sebaliknya, syari’at Al Qur’an juga mengingatkan orang-orang yang miskin, lemah, tidak berkedudukan, bila melihat orang-orang yang berkedudukan, kaya raya, dan perkasa, agar tidak bersedihan, atau merasa terhinakan atau timbul rasa hasad, iri atau dengki.

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan di dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Rabbmu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thoha: 131)

Pada ayat ini Allah Ta’ala melarang Nabi-Nya shollallahu ‘alaihi wasallam dan juga para pengikutnya bila dari sikap terkagum-kagum dan terpana dari kelebihan orang lain dalam hal kekayaan dunia dan yang serupa, sebab berbagai kekayaan dunia tersebut merupakan cobaan dari Allah yang ditimpakah kepada mereka, apakah mereka mensyukurinya atau sebaliknya malah mengkufurinya. Apalagi kekayaan tersebut bersifat semu dan sementara, tidak akan kekal, dan kelak di hari kiamat pemiliknya harus mempertanggung jawabkannya di hadapan Allah Ta’ala. Kemudian Allah Ta’ala mengingatkan Nabi-Nya shollallahu ‘alaihi wasallam dan juga kaum mukminin bahwa rezeki Allah Ta’ala yang telah dilimpahkan kepada mereka berupa keimanan, ilmu yang bermanfaat, amal shalih dan rezeki yang halal serta kenikmatan di akhirat berupa surga dan isinya lebih baik dan lebih kekal. (Baca Tafsir Taisirul Karimir Rahmaan Oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’dy 516-517).

Bila dua sikap yang telah dijabarkan pada dua ayat di atas dipahami dan kemudian dihayati dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat, niscaya masyarakat tersebut akan aman, damai, sentausa dan makmur.

Demikianlah sebagian dari konsep sosial yang diajarkan oleh syari’at Al Qur’an kepada umatnya.

02/12/12

Aturan-aturan Penting Penyusunan Portofolio Guru



Batas minimal kelulusan (passing grade) adalah 850 yang terdiri dari 3 unsur penilaian :


A. Unsur Kualifikasi dan Tugas Pokok
1. Kualifikasi akademik
2. Pengalaman mengajar
3. Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran
 Total skor unsur minimal 340Ø
 Komponen 3 minimal 120Ø
 Tidak boleh ada komponen yang kosongØ


B. Unsur Pengembangan Profesi

1. Pendidikan dan latihan/workshop
2. Penilaian atasan dan pengawas
3. Prestasi akademik
4. Karya pengembangan profesi
 Total skor unsur minimal 300Ø
 Skor komponen 2 minimal 35Ø
 Guru daerah khusus total skor unsur minimal 200Ø


C. Unsur Pendukung Profesi
1. Keikutsertaan dalam forum ilmiah
2. Pengalaman organisasi bidang kependidikan dan atau sosial
3. Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan
 
Total skor tidak boleh nol (minimal harus ada)Ø
Yang perlu diperhatikan

1. Kualifikasi akademik
Ijazah harus sesuai dengan bidang studi yang diampunya saat pengajuan portofolio


2. DIKLAT/WORKSHOP
 Sertifikat dikeluarkan oleh instansi/lembaga/organisasi pendidikanØ
 Disertai hasil kerja/produk untuk kegiatan workshop yangØ ditandatangani penyelenggara kegiatan dan atau kepala sekolah, sedang DIKLAT tidak disertakan hasil kerja
 Diklat/workshop 1 hari = 10 jamØ
 Pendidikan prajabatan/STTPL yang digunakan sebagai persyaratan PNS tidak diperhitungkanØ
 Sertifikat Diklat/workshop yang mendapat penilaian adalah kegiatanØ yang secara langsung meningkatkan kompetensi pedagogik dan profesional guru (relevan) atau kegiatan yang materinya mendukung kinerja profesional guru (kurang relevan)
 Kegiatan yang pelaksanaannya kurang dari 8 jam tidak dapat diajukan sebagai bahan penilaianØ


3. Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran
 Mengumpulkan 5 buah RP/RPP/SP yang berbeda materi/pokok bahasannyaØ
 RP/RPP/SP sekurang-kurangnya harus memuat :Ø
a. Rumusan tujuan pembelajaran
b. Pemilihan materi ajar/rangkuman materi esensial/pokok
c. Pengorganisasian materi ajar (pembagian waktu/kesesuaian antara materi dengan waktu yang tersedia)
d. Pemilihan sumber/media belajar (disesuaikan dengan skenario pembelajaran)
e. Kerincian skenario pembelajaran (diuraikan tahapan-tahapan kegiatan pembelajaran dari pendahuluan hingga kegiatan penutup)
f. Kesesuaian teknik penilaian dengan tujuan pembelajaran (contoh : jika ada kegiatan praktikum berarti salah satu jenis penilaian yang digunakan adalah penialaian kinerja/unjuk kerja dsb)
g. Kelengkapan instrumen pembelajaran (instrumen apa saja yang termuat dalam RPP harus ada penjabarannya, mulai materi, alat peraga, soal penilaian/tes dan pedoman penskoran)
 RPP merupakan indikator pertama untuk melakukan penilaian dokumen PFØ lainnya, jika RPP tidak memenuhi syarat kelayakan (Instrumen Penialaian RPP) maka dokumen lainnya tidak akan berpengaruh


4. Kecermatan dalam memasukkan setiap unsur penilaian akan sangat menentukan tingkat kelulusan


5. Dokumen berupa karya tulis/karya ilmiah/PTK harus dilampiri bukti photo pelaksanaan kegiatan


6. Alat peraga/media pembelajaran karya sendiri dilampiri bukti photo mulai 0% (bahan baku), proses pembuatan samapai penggunaan dalam KBM




1. Identitas mata pelajaran
Identitas mata pelajaran, meliputi: satuan pendidikan, kelas, semester, program/program keahlian, mata pelajaran atau tema pelajaran, jumlah pertemuan.


2. Standar kompetensi
Standar kompetensi merupakan kualifikasi kemam¬puan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran.


3. Kompetensi dasar
Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran ter¬tentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompe¬tensi dalam suatu pelajaran.


4. Indikator pencapaian kompetensi
Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja opera¬sional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan.


5. Tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.


6. Materi ajar
Materi ajar memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompe¬tensi.


7. Alokasi waktu
Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan un¬tuk pencapaian KD dan beban belajar.


8. Metode pembelajaran
Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembela¬jaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situ¬asi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran. Pendekatan pembelajaran tematik digunakan untuk peserta didik kelas 1 sampai kelas 3 SD/MI.


9. Kegiatan pembelajaran
a. Pendahuluan
Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan un¬tuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.
b. Inti
Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan pembelajaran di¬lakukan secara interaktif, inspiratif, menyenang¬kan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.
c. Penutup
Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan un¬tuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut.


10. Penilaian hasil belajar
Prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan dengan indikator pencapaian kom¬petensi dan mengacu kepada Standar Penilaian.


11. Sumber belajar
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kom-petensi.
PTK
Penelitian tindakan kelas/PTK adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan jalan merancang, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secar kolaboratifdan partisipatif dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.

Pelaporan PTK, minimal harus memenuhi hal – hal berikut :

1. Judul : ada permasalahan, pemecahan masalah, subyek PTK


2. Pengesahan oleh kepala sekolah, ketua PGRI, ketua UPT kecamatan (untuk guru SD), kepala dinas pendidikan


3. Abstrak meliputi : judul dan nama penulis, latar belakang tujuan dan manfaat, metode penelitian, hasil penelitian, kata kunci


4. Dafatr isi, daftar gambar, daftar tabel, pernyataan keaslian tulisan (jika dipandang perlu)


5. Pendahuluan :
a. Latar belakang masalah
b. Rumusan masalah
c. Tujuan penelitian
d. Manfaat penelitian
e. Ruang lingkup
f. Definisi operasional penelitian/definisi istilah (jika perlu)


6. Kajian Pustaka
a. Uraian tentang variabel 1
b. Uraian tentang variabel 2
c. Kaitan variabel 1 dengan 2


7. Metode penelitian
a. Perencanaan
b. Pelaksanaan
c. Pengamatan
d. Refleksi
e. Subyek penelitian
f. Teknik pengumpulan data
g. Instrumen penelitian
h. Penyiapan partisipan
i. Analisis data


8. Hasil pembahasan
a. Perencanaan siklus 1
b. Pelaksanaan siklus 1
c. Pengamatan siklus 1
d. Refleksi siklus 1
e. Perencanaan siklus 2
f. Pelaksanaan siklus 2
g. Pengamatan siklus 2
h. Refleksi siklus 2
i. De-es-te menyesuaikan
j. Pembahasan siklus/perbandingan antar siklus


9. Penutup
a. Simpulan : merupakan jawaban dari rumusan masalah
b. Saran : terkait dengan simpulan penelitian
c. Daftar pustaka : hanya buku yang dirujuk saja dan ditulis dengan aturan tata tulis ilmiah


10. Lampiran :
a. Kelengkapan RPP
b. Kelengakapan instrumen penelitian
c. Bahan perlakuan : materi ajar, perlengkapan, dan alat-alat tes
d. Surat ijin penelitian (jika ada)
e. Data pendukung lain (bukti otentik bahwa telah dilakukan penelitian) berupa photo kegiatan, denah/bagan, hasil karya siswa dsb

MEDIA/ALAT PERAGA PEMBELAJARAN


Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan peserta sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri peserta pembelajaran.
Sistematika pelaporan media/alat peraga pembelajaran


1. Halaman judul
2. Lembar pengesahan
3. Lembar pernyataan
4. Pendahuluan


MATA PELAJARAN : ……………..
KELAS / SEMESTER : ………………..
MATERI POKOK : ………………….



A. KOMPETENSI DASAR


B. INDIKATOR


C. JENIS MEDIA


D. RASIONAL DAN MANFAAT
Digunakan untuk menunjukkan bahwa makhluk hidup/hewan juga melakukan pernapasan.
E. RANCANGAN


1) Alat dan Bahan
2) Proses Pembuatan


F. PENGGUNAAN
 Digunakan untuk ………………………………………………… ;Ø
 Cara kerja : ………………………………………………………Ø


G. SIMPULAN DAN SARAN
1. Sebuah media yang tepat dan sesuai dengan materi pelajaran akan sangat membantu siswa dalam menyusun sebuah konsep pengetahuan ;
2. …………………………………………………………………………………………..


H. PHOTO PROSES
a) Photo alat dan bahan yang dibutuhkan
b) Photo proses pembuatan
c) Photo pemakaian alat peraga dalam KBM


23/11/12

Mengapa emas diharamkan bagi pria?



Satu lagi, "Bukti Keilmiahan Hukum2 Islam dan Sunnah2 Nabi Kita Shalallahu Alaihi Wasalaam"Perlu diketahui hukum logam mulia atau EMAS yaitu:“Dari Abu Musa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‘Emas dan sutra dihalalkan bagi para wanita dari ummatku, namundiharamkan bagi para
pria’.” (HR. An Nasai dan Ahmad).

Syaikh Dr. Shalih Al Fauzan berkata, “Lelaki diharamkan memakai cincin emas. Sedangkan cincin perak, atau logam semacamnya,walaupun sama-sama logam mulia, hukumnya boleh memakainya karena yang diharamkan adalah emas. Dan tidak boleh pula memakai cincin dari campuran emas, tidak boleh memakai kacamata, pena, jam tangan yang ada campuran emas-nya.Intinya, lelaki tidak diperbolehkan berhias dengan emas secara mutlak.” (Muntaqa Fatawa Al Fauzan)


”Barangsiapa dari umatku mengenakan emas kemudian dia mati masih dalam keadaan mengenakannya maka Allah mengharamkan baginya emas di surga.Dan barangsiapa Dari umatku yang mengenakan sutera kemudian dia mati masih dalam keadaan mengenakannya maka Allah mengharamkan baginya sutera di surga.” (HR. Ahmad)

Kalau ditanya apa alasannya atau apa logikanya laki2 tidak boleh memakai emas???
banyak yang menjawab ...kalau laki2 diperbolehkan memakai emas bisa2 wanita tidak kebagian. Atau ada juga jawaban ..nanti tidak bisa membedakan mana laki2 mana perempuan karena sama2 memakai emas.

Sebenarnya jawabannya tidak seperti itu......
Inilah tinjauan ilmiah atau analisa medisnya...Para ahli fisika telah menyimpulkan bahwa atom pada emas mampu menembus ke dalam kulit dan masuk ke dalam darah manusia, dan jika kita (para pria) mengenakan
emas dalam jumlah tertentu dan dalam jangka waktu yang lama, maka dampak yang ditimbulkan yaitu di dalam darah dan urine akan mengandung atom emas dalam
prosentase yang melebihi batas (peristiwa ini juga dikenal dengan sebutan "migrasi emas") Dan apabila hal ini terjadi, maka akan mengakibatkan penyakit

Alzheimer, Zheimer adalah suatu penyakit di mana orang tersebut kehilangan semua kemampuan mental & fisik serta menyebabkan kembali seperti anak kecil. Zheimer bukan penuaan normal, tetapi merupakan penuaan paksaan atau terpaksa. Dan mengapa islam membolehkan wanita untuk mengenakan emas? Karena perlu dicatat bahwa wanita tidak menderita masalah ini karena setiap bulan, partikel berbahaya tersebut keluar dari tubuh wanita melalui haid (datang
bulan).

Source: Naim MyLieq Dya CLma'y

Ulasan Beberapa Alasan Rasulullah Sangat Menyayangi Kucing

Didalam perkembangan peradaban Islam, kucing hadir sebagai teman sejati dalam setiap nafas dan gerak geliat perkembangan Islam.

Diceritakan dalam suatu kisah, Nabi Muhammad SAW memiliki seekor kucing yang diberi nama Mueeza. Suatu saat, dikala Nabi hendak mengambil jubahnya, di temuinya Mueeza sedang terlelap tidur dengan santai diatas jubahnya. Tak ingin mengganggu hewan kesayangannya itu, Nabi pun memotong belahan lengan yang ditiduriMueeza dari jubahnya.

 Ketika Nabi kembali ke rumah, Muezza terbangun dan merunduk sujud kepada majikannya. Sebagai balasan, Nabi menyatakan kasih sayangnya dengan mengelus lembut ke badan mungil kucing itu sebanyak 3 kali.

Dalam aktivitas lain, setiap kali Nabi menerima tamu di rumahnya, nabi selalu menggendong mueeza dan di taruh dipahanya. Salah satu sifat Mueeza yang Nabi sukai ialah ia selalu mengeong ketika mendengar adzan, dan seolah-olah suaranya terdengar seperti mengikuti lantunan suara adzan.

Kepada para sahabatnya, Nabi berpesan untuk menyayangi kucing peliharaan, layaknya menyanyangi keluarga sendiri.

Hukuman bagi mereka yang menyakiti hewan lucu ini sangatlah serius, dalam sebuah hadist shahih Al Bukhari, dikisahkan tentang seorang wanita yang tidak pernah memberi makan kucingnya, dan tidak pula melepas kucingnya untuk mencari makan sendiri, Nabi Muhammad SAW pun menjelaskan bahwa hukuman bagi wanita ini adalah siksa neraka.

Dari Ibnu Umar ra bahwa rasulullah saw bersabda,

”Seorang wanita dimasukkan kedalam neraka karena seekor kucing yang dia ikat dan tidak diberikan makan bahkan tidak diperkenankan makan binatang-binatang kecil yang ada dilantai.” (HR. Bukhari)

Nabi menekankan di beberapa hadis bahwa kucing itu tidak najis. Bahkan diperbolehkan untuk berwudhu menggunakan air bekas minum kucing karena dianggap suci.

Kenapa Rasulullah Saw yang buta baca-tulis, berani mengatakan bahwa kucing suci, tidak najis? Lalu, bagaimana Nabi mengetahui kalau pada badan kucing tidak terdapat najis?

Keistimewaan dari Kucing

Fakta Ilmiah 1 :

Pada kulit kucing terdapat otot yang berfungsi untuk menolak telur bakteri. Otot kucing itu juga dapat menyesuaikan dengan sentuhan otot manusia.

Permukaan lidah kucing tertutupi oleh berbagai benjolan kecil yang runcing, benjolan ini bengkok mengerucut seperti kikir atau gergaji. Bentuk ini sangat berguna untuk membersihkan kulit. Ketika kucing minum, tidak ada setetes pun cairan yang jatuh dari lidahnya.

 Sedangkan lidah kucing sendiri merupakan alat pembersih yang paling canggih, permukaannya yang kasar bisa membuang bulu-bulu mati dan membersihkan bulu-bulu yang tersisa di badannya.

Fakta Ilmiah 2 :

Telah dilakukan berbagai penelitian terhadap kucing dan berbagai perbedaan usia, perbedaan posisi kulit, punggung, bagian dalam telapak kaki, pelindung mulut, dan ekor.

Pada bagian-bagian tersebut dilakukan pengambilan sample dengan usapan. Di samping itu, dilakukan juga penanaman kuman pada bagian-bagian khusus. Terus diambil juga cairan khusus yang ada pada dinding dalam mulut dan lidahnya.

Hasil yang didapatkan adalah:
Hasil yang diambil dari kulit luar tenyata negatif berkuman, meskipun dilakukan berulang-ulang.
Perbandingan yang ditanamkan kuman memberikan hasil negatif sekitar 80% jika dilihat dari cairan yang diambil dari dinding mulut.

Cairan yang diambil dari permukaan lidah juga memberikan hasil negatif berkuman. Sekalinya ada kuman yang ditemukan saat proses penelitian, kuman itu masuk kelompok kuman yang dianggap sebagai kuman biasa yang berkembang pada tubuh manusia dalam jumlah yang terbatas seperti, enterobacter, streptococcus, dan taphylococcus. Jumlahnya kurang dan 50 ribu pertumbuhan.
Tidak ditemukan kelompok kuman yang beragam.

Berbagai sumber yang dapat dipercaya dan hasil penelitian laboratorium menyimpulkan bahwa kucing tidak memiliki kuman dan mikroba. Liurnya bersih dan membersihkan.

Percaya Atau Gak percaya yayaya...


25/10/12

Keutamaan Amal Jariyah


Rasulullah SAW pernah mengungkapkan keutamaan amal jariyah di antara semua jenis kebajikan, yaitu pahalanya tetap mengalir walaupun orang yang melakukannya telah tiada (wafat). Kata beliau, ''Apabila meninggal anak cucu Adam (manusia), maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal saja, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya oleh manusia, dan anak yang saleh yang berdoa untuknya.'' (HR Ahmad).

Dalam hadis berikut dan beberapa hadis lain yang bersamaan maksudnya, Rasulullah menyebut beberapa jenis amal jariyah yang terkait langsung dengan kepentingan masyarakat. Beliau bersabda, ''Sesungguhnya amal saleh yang akan menyusul seorang mukmin setelah dia meninggal dunia kelak ialah ilmu yang dia ajarkan dan sebarkan, anak saleh yang dia tinggalkan, mushaf Alquran yang dia wariskan, masjid yang dia bangun, rumah tempat singgah musafir yang dia dirikan, air sungai (irigasi) yang dia alirkan, dan sedekah yang dia keluarkan di kala sehat dan masih hidup.

Semua ini akan menyusul dirinya ketika dia meninggal dunia kelak.'' (HR Ibnu Majah dan Baihaqi). Islam memberi nilai lebih terhadap amal yang manfaatnya lebih lama dan lebih berbekas dalam kehidupan sesama makhluk. Amal jariyah itu dapat dikelompokkan dalam tiga bidang pembangunan, yaitu pembangunan pendidikan dan ilmu pengetahuan, pembangunan fisik atau kebendaan, dan pembangunan rohani atau keagamaan. Sebesar manfaat yang dirasakan orang lain, sebesar itu pula keutamaan dan pahalanya di sisi Allah.

Dalam Fiqih Prioritas, ulama besar Yusuf Al-Qardhawi menyatakan, ''Kalau kaum Muslimin mau memahami dan memiliki keimanan yang benar, serta mengetahui makna fikih prioritas, maka dia akan merasakan kebahagiaan yang lebih besar dan suasana kerohanian yang lebih kuat, setiap kali dia dapat mengalihkan dana ibadah haji (bagi yang telah pernah menunaikan hal yang wajib) itu untuk memelihara anak-anak yatim, memberi makan orang-orang yang kelaparan, memberi tempat perlindungan orang-orang yang telantar, mengobati orang sakit, mendidik orang-orang yang bodoh, atau memberi kesempatan kerja kepada para penganggur.'' Menurut Prof Dr Muhammad Al-Bahi dalam bukunya Islam dalam Kehidupan Umatnya, orang yang tujuan hidupnya mencari keridhoan Allah pasti akan berbuat untuk kepentingan sesama hidup.

Dengan begitu, setiap Muslim diingatkan jangan pernah berhenti menanam kebajikan dan jasa baik dalam hidup ini. Itulah sarana yang akan mengantarkan kita pada kebahagiaan dunia dan keselamatan di akhirat. Rasulullah menyatakan, ''Meskipun kiamat sedang terjadi, sedang di tangan salah seorang di antara kamu masih ada bibit kurma dan dia masih kuat untuk menanamnya, hendaklah dia tanam bibit itu, karena baginya ada ganjaran pahala.'' (HR Bukhari). Wallahu a'lam.

Teladan Abu Bakar Ash Shidiq


Abu Bakar As-Shiddiq merupakan sahabat Rasulullah SAW yang sangat istimewa. Selain setia pada Rasulullah, dalam dirinya juga menonjol sifat jujur dan bijaksana. Ia juga selalu berkata yang benar sehingga dijuluki dengan as-shiddiq (orang yang jujur). Abu Bakar sangat jujur dalam mengemban amanat dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.

Selama menjadi khalifah, ia selalu memperhatikan rakyatnya. Hidupnya sangat sederhana dan tidak pernah menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi maupun keluarganya. Dikisahkan, ketika Khalifah Abu Bakar merasa ajalnya hampir datang menjemput, beliau memanggil putri tercintanya, Siti Aisyah, untuk menyampaikan sebuah wasiat. ''Wahai Aisyah putriku, aku telah diserahi urusan kaum Muslimin, aku telah memakan makanan yang sederhana dan aku juga telah memakai pakaian yang sederhana dan kasar.

Yang tersisa dari harta kaum Muslimin padaku adalah seekor unta, seorang pelayan (pembantu) rumah tangga, dan sehelai permadani yang sudah usang. Kalau aku wafat, kirimkan semuanya kepada Umar bin Khattab. Karena, aku tidak ingin menghadap Allah sedangkan di tanganku masih ada harta kaum Muslimin walaupun sedikit,'' demikian wasiat Abu Bakar kepada putrinya. Ada beberapa hal yang bisa ditarik dari wasiat itu. Pertama, gambaran bahwa seorang pemimpin tidak boleh menggunakan fasilitas umat (negara) untuk kepentingan pribadi dan keluarga. Hidup sederhana merupakan keharusan pemimpin. Hidup sederhana seperti ini sulit dilakukan bila keimanan tidak melekat pada diri sang pemimpin.

Rasulullah SAW bersabda, ''Tidak dikatakan seorang itu beriman apabila tidak amanat dan tidak dikatakan beragama seseorang yang tidak berakal.'' (HR Dailami). Kedua, Khalifah Abu Bakar merupakan salah seorang tipe pemimpin yang sangat bertanggung jawab. Sebagai bukti, meskipun ajal hampir datang menjemput, ia masih juga memikirkan harta umat, amanat kaum Muslimin. Padahal, apalah artinya seekor unta, seorang budak, dan sehelai permadani yang sudah usang dibandingkan dengan kekuasaan besar yang digenggamnya. Namun, itulah bukti nyata bahwa Abu Bakar adalah pemimpin yang selalu mengutamakan amanat dan tanggung jawab tanpa melihat nilai yang terkandung pada barang-barang itu.

Sikap dan perilaku Abu Bakar yang demikian sebenarnya tidak mengherankan apabila mengingat hadis Rasulullah yang berbunyi, ''Barang siapa diserahi kekuasaan (tanggung jawab) urusan manusia lalu menghindar (mengelak) melayani kaum lemah dan orang yang membutuhkannya, maka Allah tidak akan mengindahkannya pada hari kiamat.'' (HR Ahmad). Hanya pemimpin yang beriman dan punya hati nuranilah yang mampu memahami pesan yang tersirat pada wasiat yang disampaikan oleh Khalifah Abu Bakar Shiddiq tersebut. Perangai pemimpin yang demikianlah harapan seluruh umat. Semoga lahir abu bakar-abu bakar modern yang memiliki sifat jujur dan amanah, sebagai pemimpin masa depan yang kita dambakan. Wallahu a'lam.

Cari Blog Ini

Halaman

Popular Posts

Advertisement

Responsive Advertisement