05/01/12

Belajar Dari Wajah



 
K.H. Abdullah Gymnastiar
 

Menarik sekali jikalau kita terus menerus belajar tentang fenomena apapun yang terjadi dalam hiruk-pikuk kehidupan ini. Tidak ada salahnya kalau kita buat semacam target. Misalnya : hari ini kita belajar tentang wajah. Wajah? Ya, wajah. Karena masalah wajah bukan hanya masalah bentuknya, tapi yang utama adalah pancaran yang tersemburat dari si pemilik wajah tersebut.

Ketika pagi menyingsing, misalnya, tekadkan dalam diri : "Saya ingin tahu wajah yang paling menenteramkan hati itu seperti apa? Wajah yang paling menggelisahkan itu seperti bagaimana?" karena pastilah hari ini kita akan banyak bertemu dengan wajah orang per orang. Ya, karena setiap orang pastilah punya wajah. Wajah irtri, suami, anak, tetangga, teman sekantor, orang di perjalanan, dan lain sebagainya. Nah, ketika kita berjumpa dengan siapapun hari ini, marilah kita belajar ilmu tentang wajah.

Subhanallaah, pastilah kita akan bertemu dengan beraneka macam bentuk wajah. Dan, tiap wajah ternyata dampaknya berbeda-beda kepada kita. Ada yang menenteramkan, ada yang menyejukkan, ada yang menggelikan, ada yang menggelisahkan, dan ada pula yang menakutkan. Lho, kok menakutkan? Kenapa? Apa yang menakutkan karena bentuk hidungnya? Tentu saja tidak! Sebab ada yang hidungnya mungil tapi menenteramkan. Ada yang sorot matanya tajam menghunjam, tapi menyejukkan. Ada yang kulitnya hitam, tapi penuh wibawa.

Pernah suatu ketika berjumpa dengan seorang ulama dari Afrika di Masjidil Haram, subhanallaah, walaupun kulitnya tidak putih, tidak kuning, tetapi ketika memandang wajahnya... sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung qolbu yang paling dalam. Sungguh bagai disiram air sejuk menyegarkan di pagi hari. Ada pula seorang ulama yang tubuhnya mungil, dan diberi karunia kelumpuhan sejak kecil. Namanya Syekh Ahmad Yassin, pemimpin spiritual gerakan Intifadah, Palestina. Ia tidak punya daya, duduknya saja di atas kursi roda. Hanya kepalanya saja yang bergerak. Tapi, saat menatap wajahnya, terpancar kesejukan yang luar biasa. Padahal, beliau jauh dari ketampanan wajah sebagaimana yang dianggap rupawan dalam versi manusia. Tapi, ternyata dibalik kelumpuhannya itu beliau memendam ketenteraman batin yang begitu dahsyat, tergambar saat kita memandang sejuknya pancaran rona wajahnya.

Nah, saudaraku, kalau hari ini kita berhasil menemukan struktur wajah seseorang yang menenteramkan, maka caru tahulah kenapa dia sampai memiliki wajah yang menenteramkan seperti itu. Tentulah, benar-benar kita akan menaruh hormat. Betapa senyumannya yang tulus; pancaran wajahnya, nampak ingin sekali ia membahagiakan siapapun yang menatapnya. Dan sebaliknya, bagaimana kalau kita menatap wajah lain dengan sifat yang berlawanan; (maaf, bukan bermaksud meremehkan) ada pula yang wajahnya bengis, struktur katanya ketus, sorot matanya kejam, senyumannya sinis, dan sikapnya pun tidak ramah. Begitulah, wajah-wajah dari saudara-saudara kita yang lain, yang belum mendapat ilmu; bengis dan ketus. Dan ini pun perlu kita pelajari.

Ambillah kelebihan dari wajah yang menenteramkan, yang menyejukkan tadi menjadi bagian dari wajah kita, dan buang jauh-jauh raut wajah yang tidak ramah, tidak menenteramkan, dan yang tidak menyejukkan.

Tidak ada salahnya jika kita evalusi diri di depan cermin. Tanyalah; raut seperti apakah yang ada di wajah kita ini? Memang ada diantara hamba-hamba Allah yang bibirnya di desain agak berat ke bawah. Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. 

Subhanallaah, bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang amal bagi siapapun yang memilikinya untuk berusaha senyum ramah lebih maksimal lagi.

Sedangkan bagi wajah yang untuk seulas senyum itu sudah ada, maka tinggal meningkatkan lagi kualitas senyum tersebut, yaitu untuk lebih ikhlas lagi. Karena senyum di wajah, bukan hanya persoalan menyangkut ujung bibir saja, tapi yang utama adalah, ingin tidak kita membahagiakan orang lain? Ingin tidak kita membuat di sekitar kita tercahayai? Nabi Muhammad SAW, memberikan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang yang bertemu dengan beliau sehingga orang itu merasa puas. Kenapa puas? Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW – bila ada orang yang menyapanya – menganggap orang tersebut adalah orang yang paling utama di hadapan beliau. Sesuai kadar kemampuannya.

Walhasil, ketika Nabi SAW berbincang dengan siapapun, maka orang yang diajak berbincang ini senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang, cara bersikap, ternyata menjadi atribut kemuliaan yang beliau contohkan. Dan itu ternyata berpengaruh besar terhadap sikap dan perasaan orang yang diajak bicara.

Adapun kemuramdurjaan, ketidakenakkan, kegelisahan itu muncul ternyata diantara akibta kita belum menganggap orang yang ada dihadapan kita orang yang paling utama. Makanya, terkadang kita melihat seseorang itu hanya separuh mata, berbicara hanya separuh perhatian. Misalnya, ketika ada seseorang yang datang menghampiri, kita sapa orang itu sambil baca koran. Padahal, kalau kita sudah tidak mengutamakan orang lain, maka curahan kata-kata, cara memandang, cara bersikap, itu tidak akan punya daya sentuh. Tidak punya daya pancar yang kuat.

Orang karena itu, marilah kita berlatih diri meneliti wajah, tentu saja bukan maksud untuk meremehkan. Tapi, mengambil tauladan wajah yang baik, menghindari yang tidak baiknya, dan cari kuncinya kenapa sampai seperti itu? Lalu praktekkan dalam perilaku kita sehari-hari. Selain itu belajarlah untuk mengutamakan orang lain!

Mudah-mudahan kita dapat mengutamakan orang lain di hadapan kita, walaupun hanya beberapa menit, walaupun hanya beberapa detik, subhanallaah
Sumber: ManajenQolbu

Windowsbie7

04/01/12

Kita Adalah Bersaudara

Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara karena itu
damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya
kamu mendapat rahmat (QS. 49 ; 10)

Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin, Allahuma
shalli ‘ala Muhammad wa’ala aalihi washahbihii
ajmaiin, “Innamalmu’minuna ikhwatun faashlihu bayna akhowaikum
wattaqullooha la’allakum turhamuun” (Sesungguhnya orang-orang Mukmin
adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan
bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (QS. Al Hujurat
(49) ayat 10 ) Saudara-saudaraku, sahabat-sahabat sekalian Innamal
mu’minuuna ikhwah ,orang yang beriman itu adalah bersaudara bukan musuh
jika terjadi sedikit perbedaan seperti perbedaan qunut, ushali,atau
jumlah rakaat shalat tarawih , hal itu tidak harus menjadi musuh,
karena musuh kita adalah kaum dzolimin.

“Yaaayyuhalladzina aamanu laayasskhor qoumun minqaumin aasaa ayyakuunuu
khayrom minhum walaanisaaum minnisaain aasaa ayyakunna khoyrom minhunna
walaatalmizuu anfusakum walaatanabbazuu billalqob bi’sal ismullfusuqu
ba’dall iiman wamallam yatub faaulaaika humudloolimuun”(Hai orang-
orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain
(karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka
(yang mengolok-olokan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan)
wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-
olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan) dan janganlah
kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan
gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang
buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka
itulah orang-orang yang zalim) (QS. Al Hujurat(49) ayat 11)

ayat ini membahas mengenai larangan mengejek satu kaum terhadap kaum
yang lain yang sama-sama punya iman walaupun misalnya berbeda partai
akan tetapi sama-sama beriman kepada Alloh SWT,tidak boleh saling
mengejek. Begitu juga jika sama-sama kelompok majelis ta’lim ,sesama
ustadz saling mengejek ? Naudzubillah . Lalu kenapa disini disorot
wanita harus mampu mengendalikan ucapannya. Hal ini kemungkinan
disebabkan pekerjaannya kurang banyak sehingga waktu yang ada digunakan
untuk mengobrol. Jadi jelas sekali Al Quran melarang wanita atau akhwat
jangan suka mengejek yang lain karena bisa jadi wanita yang kita ejek
itu lebih mulia dihadapan Alloh daripada yang mengejek , ini harus
hati-hati karena Alloh-lah Yang Melarang Mengolok-olok ,selain itu
tidak boleh kita menghina diri sendiri, karena orang yang mengejek diri
sendiri dapat dikatakan kufur nikmat, jangan suka membanding-
bandingkan dengan orang lain, karena semuanya Alloh-lah Yang
Menciptakan.

Jangan suka mengolok-olok atau dengan panggilan yang buruk misal kafir,
fasik,munafik,monyet atau panggilan yang tidak baik yang berhubungan
dengan Iman atau menghina orang tua orang lain karena dengan begitu
berarti sama saja dengan menghina orang tua kita,tetapi panggilah
dengan gelaran-gelaran yang baik.

“Yaayuhalladzina aamanujtanibuu katsiromminadldlonni inna ba’dodzonni
itsmuwwalaa tajassasu walaayagtab ba’dlukum ba’dzoon ayyuhibbu ahadukum
ayya’ kula lahma akhihi maytan fakarihtumuuhu wattaqulloha
innalloohattawwaburrohim” (Hai orang-orang yang beriman, jauhilah
kebanyakan dari prasangka , sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah
dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah
sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di
antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Maka tentulah
kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya
Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang”) (QS. Al Hujurat(49)
ayat 12 )

Prasangka itu ada dua macam ; husnudzon atau Suudzon , ada baik sangka
dan ada buruk sangka , ketahuilah yang sebagian prasangka itu adalah
dosa,yang tidak boleh itu adalah Suudzon itu ,misalnya kita mengatakan
kepada rekan kita tentang rekan kita yang lain “hey hati-hati si fulan
suka buruk sangka kepada kita ? sebenarnya itu sudah termasuk berburuk
sangka kepada orang lain. Oleh karena itu kita harus waspada.

Tapi husnudzon pun jatuhnya hanya kepada orang yang beriman , misalkan
di bis ada yang membuka dompet kita , lalu kita berbaik sangka “ oh
mungkin dia akan menghitungkan uang saya…” , itu tentu baik sangka yang
konyol karena pasti orang itu adalah pasti copet. kepada orang yang
beriman jangan sering melakukan “walaa tajassasu” suka mengorek-ngorek
aib , suka mencari-cari kesalahan kecuali untuk tindakan keadilan
pencegahan kemunkaran , saudaraku dengan menceritakan keburukan orang
lain berarti kita telah ghibah , ghibah itu batasannya kalau ucapan
yang diceritakan membuat orang sakit hati andaikata mendengarnya

“Yaayyuhannasu innaa kholaqnakum mindzakarin auuntsa wajaalnaakum
syu’ubaw waqobaaila lita’arofu inna akromakum ‘inndalloohi attqookum
innallooha’ aliimun khobir” (Hai manusia , sesungguhnya Kami
Menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan
Menjadikan kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling
mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di
antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal )
(QS. Al Hujurat(49) ayat 13)

Manusia diciptakan berbagai suku,berbagai bangsa semua itu ditujukan
agar saling kenal-mengenal, kita jangan membenci orang Amerika karena
orang Amerika tidak pesan untuk dilahirkan di sana , di Amerika yang
sholeh ada yang bathil pun ada, persis sekali di kita yang sholehnya
hanya sedikit, darimana kita tahu di Indonesia yang sholehnya sedikit ?
karena kalau di kita yang orang yang sholehnya banyak tentu tidak
negara kita bangkrut seperti ini.

Dalam kehidupan ini tidak boleh saling menghina karena perbedaan
Negara, ada yang diciptakan di Amerika, Cina, jangan menghina
negaranya ! yang buruk itu adalah keputusan-keputusan politiknya,
ketidakadilannnya dalam menyelesaikan suatu masalah. Pernikahan tidak
boleh terhadang oleh perbedaan suku, karena semuanya sama-sama
diciptakan Allah SWT. Ketika zaman Rasulullah Muhammad SAW ,Bilal yang
hitam legam tetap mulia disisisi Allah , lalu Salman Al Farisi dari
Persia tetap saja mulia disisi Allah ,sebenarnya perbedaan lintas
Negara, suku, bangsa merupakan nilai Ukhuwah inna
akromakum ‘inndalloohi attqookum yang mulia bukan warna, kulit,
jabatan, gelar, pangkat,akan tetapi yang shleh dan taat pada Alloh SWT
itulah yang mulia. Wallahua’lam

03/01/12

6 Manfaat dari daun pepaya untuk tubuh manusia


Berikut beberapa manfaat daun pepaya yang wajib anda tahu :

1. Sebagai Obat jerawat
Bagi kamu yang merasa tidak pede mempunyai wajah berjerawat. Terutama bagi wanita yang selalu memperhatikan kecantikan. Daun pepaya dapat mengobatinya yaitu dengan membuatnya menjadi masker.

Cara membuat maskernya : ambil 2-3 lembar daun pepaya yang sudah tua.Kemudian jemur dan tumbuk sampai halus. Tambahkan satu setenagh sendok air, baru deh dapat di manfaatkan untuk muka penuh jerawatmu.

2. Manfaat Memperlancar pencernaan
Daun dari tumbuhan pepaya memiliki kandungan kimia senyawa karpain. Zat itu dapat membunuh mikroorganisme yang sering mengganggu fungsi pencernaan.

3. Menambah nafsu makan
Manfaat ini terutama untuk anak-anak yang sulit untuk makan. Ambil daun pepaya yang segar dan memiliki ukuran sebesar telapak tangan. Kalau sudah ketemu tambahkan sedikit garam dan air hangat setengah cangkir. Campur semua lalu diblender. Kemudian saring airnya, nah air itulah yang dapat dimanfaatkan untuk menambah nafsu makan.

4. Demam berdarah
Siapa sangka kalau pepaya juga dapat untuk menyembuhkan demam berdarah. Coba ambil 5 lembar daun. Tambahkan setengah liter air lalu direbus. Ambil air tersebut jika sudah tertinggal tiperempatnya saja. Bintang sendiri belum pernah membuktikannya, jadi jika keadaan tidak membaik segera segera ke dokter (bahkan kalaupun memabaik segera bawa ke dokter). Anggap saja ini untuk pertolongan pertama!

5. Nyeri haid
Wanita jawa zaman dulu sering memanfaatkan daun pepaya untuk mengobati nyeri haid. Cukup Ambil 1 lembar daun saja, Tambahkan asam jawa dan garam. Lalu campur dengan segelas air dan Rebus. Dinginkan sebelum meminum ramuan pepaya tersebut.

6.Anti kanker
Hal ini masih belum pasti, tapi dari beberapa penelitian bahwa manfaat daun pepaya juga dapat dikembangkan sebagai anti kanker. Sebenarnya bukan hanya daunnya saja melainkan batang pepaya juga dapat digunakan. Karena kedanya memiliki milky latex (getah putih seperti susu).

Pengen gak Suami Anda Tampil Awet Muda Seperti Saya??


Tanamilah Lingkungan Rumah Anda Dengan Tanaman Pepaya dan Petiklah Daunnya Tiap Pertengahan Bulan untuk di konsumsi.

01/01/12

Sabar

Definisi sabar mungkin sudah banyak beredar di masyarakat, baik yang subyektif maupun yang sudah menjadi kesepakatan bersama. Di sini saya hanya menuliskan apa yang menjadi uneg-uneg mengenai pengertian sabar. Ini adalah pendapat pribadi saya, dengan keilmuan yang dangkal, sehingga sangat mungkin untuk disangkal.

Menurutku: sabar adalah bertahan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang _seharusnya_ dilakukan, bukan berdasarkan apa yang ingin dilakukan, walaupun kondisi saat itu mempengaruhi dia untuk melakukan hal yang salah.

Kata _seharusnya_ di atas adalah variabel sekali, tergantung kebenaran yang diyakini oleh seseorang. Meskipun kata "benar" adalah relatif dan bisa mengacu pada hal yang berbeda, namun kebenaran yang diyakini, tentulah sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan.

Beberapa pengertian yang sudah memasyarakat:

Sabar Adalah Diam

Ketika si A yang yakin tidak bersalah, dituduh dan ditampar oleh B namun A diam saja, bukan berarti A adalah orang yang sabar. Bisa jadi dia orang yang lemah.

Seharusnya A melakukan sesuatu untuk menjaga situasi tetap pada jalurnya yang benar. Jika dituduh ya harus menjelaskan, ajak untuk mendiskusikan masalah. Jika tetap mau dipukul ya menghindar, atau tangkis, atau menjauh kalau tidak berani. Yang jelas jangan diam saja.

Solusi pada contoh di atas mungkin idealis sekali, karena kondisi di kenyataan bisa berbeda. Namun intinya adalah jangan sampai menyalahartikan kata sabar dengan lemah. Proses di lapangan bisa bervariasi untuk mewujudkannya.

Kebalikannya, ketika dituduh kemudian A ganti memukuli B karena menuduh sembarangan, jelas itu juga bukan tindakan sabar, karena menurutkan hawa nafsu, bukan berdasarkan kebenaran yang diyakini.

Contoh lain:

Saat petani mengetahui tanamannya diserbu hama, maka tindakan sabarnya adalah dengan menyemprot hama tersebut dengan obat antihama, bukan berdiam diri.

Sabarnya murid adalah dengan telaten mengikuti setiap matapelajaran yang diajarkan kepadanya, suka maupun tidak, karena itu adalah konsekwensi dari pendidikan yang dijalaninya.

Sabarnya pegawai adalah menyelesaikan tugas yang dibebankan kepadanya dengan penuh tanggung jawab.

Dan lain sebagainya.

Kembali ke definisi utama: sabar adalah bertahan melakukan yang seharusnya dilakukan.

Sabar Ada Batasnya

Sabar adalah melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan, sehingga hal tersebut hendaknya tidak dihentikan. Jadi, sabar itu tidak ada batasnya.

Jika ada batasnya, maka ketika batas itu telah tiba, kita akhirnya melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan. Jelas hal tersebut adalah salah.

Sabar Selalu Dikaitkan Dengan Musibah

Penggunaan kata sabar biasanya dihubungkan dengan sesuatu yang menyedihkan, berat untuk diterima, dan lain sebagainya.

Padahal tindakan "bertahan melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan" tidak boleh dihentikan. Harus selalu dilakukan.

Saat mendapatkan harta berlimpah, ketika tidak sabar, besar kemungkinan harta tersebut tidak dipergunakan secara tepat dan terarah sehingga memiliki manfaat lebih, bukan sekedar dihamburkan.

Ketika terpilih menjadi kepala desa, jarang sekali (atau tidak ada?) orang yang memberikan ucapan "yang sabar ya". Padahal pesan itu sangat penting. Jangan sampai menjadi kepala desa kemudian terpengaruhi untuk melakukan sesuatu, yang mungkin saja benar menurut aturan, tapi tidak dibernarkan secara etika.

Kesimpulannya, bersabarlah selalu.

Cari Blog Ini

Halaman

Popular Posts

Advertisement

Responsive Advertisement