17/05/12

MEMAKNAI SETIAP MUSIBAH


Musibah dalam sebuah definisi disebutkan,”(Kullu amrin makruhun”segala sesuatu yang tidak diinginkan). Sementara yang disebut “(Nik’mat” tentu adalah kebalikannya yaitu segala sesuatu yang dinginkan semua orang)”.Jadi antara nikmat dan musibah adalah sesuatu yang berlawanan.Tidak akan mungkin bertemu keduanya dalam satu kejadian. Bahkan segelintir orang bijak mengatakan Sengsara membawa nikmat,yang lebih ditekankan bahwa dengan perjuangan yang melehlahkan penuh kesabaran.derita berkepanjangan dengan tantangan dari semua arah walau babak belur tapi berhasil menggapai harapan yang penuh nikmat dengan ridha-Nya.

Hampir setiap saat kita menyaksikan betapa terpaan musibah begitu datang bertubi-tubi menimpa kehidupan manusia,dari beraneka ragam bencana alam, himpitan ekonomi,merosotnya akhlak,timbulnya gangguan keamanan,hingga penegakan keadilan dan lain-lain, Semua manusia dalam kehidupan ini selalu merasakan suka dan duka. Disatu sisi kehidupan ini sangat menyenangkan dan membahagiakan kita karena anugerah dan kebaikan yang kita peroleh berupa,taat beribadah,nikmat iman, rezeki,kesehatan, pernikahan, kelahiran, cinta kasih dll.

Di sisi lain kehidupan ini, terkadang manusia juga sering melewati kejadian yang bermuara pada pesimis leher seakan tercekik,mengiba dan belas kasihan tak seorang pun peduli, yang semua itu mengganggu ketentraman dan menakutkan yang membuat sedih dan berduka. Kejadian saat kita sakit, saat kita tidak lulus ujian,saat kita ditinggal seseorang yang kita cintai, kematian, kecelakaan, dan berbagai cerita duka yang merupakan musibah bagi kita.

Sebagai muslim yang tentu saja yang paling mendasar harus kita kembalikan kepada keimanan,Kita harus meyakini bahwa rentetan kejadian bencana atau musibah telah digariskan oleh-Nya, dan tersusun dalam rencanan-Nya,

Allah Subhanahu wa Ta’ala,Berfirman :

“Tiada suatu Musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami (ALLAH) menciptakannya.Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi ALLAH”.(Q.S. Al Hadid : 2)

Bahkan tidak hanya berlaku pada kejadian-kejadian besar,tetapi juga menyangkut kejadian-kejadian tentang jatuhnya selembar daun dan sebutir biji-bijian dari pohon,

Allah Subhanahu wa Ta’ala,Berfirman :

“Dan pada sisi ALLAH lah kunci-kunci semua yang gaib,tidak ada yang mengetahuinya kecuali DIA,dan DIA mengetahui apa yang ada di daratan dan di lauatan, dan tidak sehelai daun pun yang gugur melainkan DIA mengetahuinya,dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesatu yang basah dan kering,melainkan tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh)”.(Q.S. Al An’am : 59)

Kita tidak akan terlepas dan terhindar kecuali menempuh jalan lurus yaitu jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun untuk menempuhnya kita harus berbekal penuh kesabaran,ketenangan,keridhaan atas takdir-Nya, Dan jalan ini adalah satu-satunya jalan yang akan mengantarkan kita pada keselamatan.Dengan kembali kepada-Nya kita akan terhindar dari kehancuran,beban musibah berkurang ,dan Allah Subhanahu wa Ta’ala,akan menunjukkan kita ke jalan yang terang,

Allah Subhanahu wa Ta’ala, Berfirman :

“Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (Agama) ALLAH,maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus”.(Q.S. Ali Imran : 101).

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,Bersabda :

“Mintalah pada ALLAH akan karunia-Nya,ALLAH suka diminta, dan sebaik-baik ibadah adalah menunggu datangnya jalan keluar dari masalah” (Diriwayatkan oleh Al Tirmidzi)

Seorang Mukmin belum mencapai hakikat iman sebelum ia meyakini bahwa apa yang menimpanya sudah tertulis dalam takdir-Nya,dan apa yang bukan takdir-Nya tak akan menimpanya,Keyakinan inilah akan menjadikan hidup kita tenang, damai,ridha menerima kenyataan hidup senantiasa menunggu pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dengan berlindung dan mendekatkan diri kepada-Nya,akan terjauh dari kedzaliman, pemaksaan dan semua hal yang ditakuti,ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala, benar-ber ada dalam hati seorang mukmin,ia akan terselamatkan dari jebakan dan jeratan manusia-manusia dzalim maupun syaitan,

Allah Subhanahu wa Ta’ala, Berfirman :

“Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat ALLAH kepada kamu,tentulah kamu mengikuti syaitan,kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)”. (Q.S. Al Nisa : 83).

Kesempurnaan berlindung kepada-Nya dapat ditujukkan dengan senangtiasa mendekat pada-Nya saat lapang,sebagaimana yang kita lakukan saat kita tertimpa musibah. Karena siapa yang mendekat pada-Nya di waktu lapang, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mendekat padanya saat dirundung musibah,

Diriwayatkan oleh Al Hakiem dan Al Tarmidzi dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu,bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,bersabda yang artinya,

“Siapa yang ingin ALLAH kabulkan permintanya di waktu sempit,maka pebanyaklah berdoa di waktu lapang”.

Musibah-musibah yang menimpah kita, terkadang banyak disebabkan oleh ulah kita sendiri tanpa disadari ,entah berasal dari dosa,kejahatan,atau kehilafan,kesalahan kita Karena memang maksiat akan menarik datangnya musibah,

Allah Subhanahu wa Ta’ala, Berfirman :

“Apa yang menimpamu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri,dan ALLAH telah memaafkan sebagaian besar dari kesalahan-kesalahanmu”.(Q.S. Al Syuraa : 30).

Namun betapun banyak kekhilafan dan maksiat yang manusia lakukan , Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap akan memperlakukan-Nya dengan lembut dan penuh kasih sayang dengan Rahman dan Rahim-Nya.Ketika musibah bepihak kepada kita Sejenak melihat diri dan merenung,adakah khilaf dan kesalahan yang telah diperbuat sehingga melukai dan medzalimi saudara kita sendiri ,atau kita enggan membukakan pintu maaf karena kesalahan tidak seberapa,adakah maksiat yang tengah kita lakukan,adakah dosa yang mengotori badan, ataukah lebih parah kita berdiri diatas kedzaliman.Bila terdapat hal-hal diatas, Segeralah kita bertaubat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak pernah berbuat dzalim kepada hamba-hamba-Nya,bahkan Rahmat-Nya lebih didahulukan dari kemarahan-Nya,DIA memafkan sebagian besar kesalahan-kesalahan manusia,bahkan manusialah yang menentukan datangnya musibah, “Dan juga, manusialah yang menentukan keadaan hidup mereka bisa berubah sebagaimana firman-Nya yaitu :

Allah Subhanahu wa Ta’ala, Berfirman :

“”(Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri,dan bahwasanya ALLAH sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya”.(Q.S. Ali Imran : 182).

“Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,Supaya ALLAH merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka,agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.(Q.S. Al Ruum : 30).

:Sesungguhnya ALLAH tidak merubah nasib sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.(Q.S. Al Ra’d : 11)

Kita menjaga seluruh anggota badan dari perbuatan dosa, Beristigfar pada-Nya dengan lafadz-lafadz istighfar yang agung dan mulia,pilih waktu dan tempat yang mustajab agar permohonan bathin kita di dengar Oleh-Nya,dirikan Qiyamul lail,laksanakan shaum satu atau dua hari karena dengan shaum sunnah untuk mengokohkan kembali tiang ketakwaan dalam jiwa,dan bersedekah dengan niat menghilangkan musibah,mengusir kegelisahan,mengundang kembali datangnya ketentraman qalbu,serta agar dipermudah dalam menyelesaikan masalah.

Seorang muslim bila tertimpa musibah selalu diterimanya sabar dan tabah sebagai ujian untuk mengokohkan iman,karena yakin bahwa musibah yang menimpa bila diterima sabar ikhlas adalah maka hal itu adalah hakekatnya menjadi penghapus dosa,dan meningkatkan derajat kwalitas keimanan,

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,Bersabda :

“Seorang muslim yang ditimpa oleh keresahan dan kesusahan,oleh keletihan dan kesakitan,oleh kesedihan dan gangguan sekalipun,gangguan itu hanya berupa duri yang mengenainya,maka ALLAH menghapuskan dengannya kesalahan-kesalahannya”.(H.R. Bukhari).

Musibah yang menimpa dan kemudian disikapi dengan sabar akan mengantarkan ketinggian derajat keimanan bagi orang yang mengalaminya.’Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu,sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,yang digelar “(syaikhul mufassirin”^ guru para ahli tafsir), “Mengatakan Kesabaran dalam Al Quran ada tiga macam,(1).Pertama kesabaran untuk menunaikan kewajiban-kewajiban karena ALLAH,hal ini mempunyai tiga ratus derajat,(2).kedua kesabaran untuk tidak melanggar larang-larangan ALLAH,mempunyai enam ratus derajat,(3).ketiga kesabaran dalam menghadapi musibah pada pukulan pertama, hal ini mempunyai Sembilan ratus derajat”.

Seorang mukmin hendaknya menerima apapun yang Allah Subhanahu wa Ta’ala, berikan padanya,meski secara kasat berupa musibah.Karena musibah bertujuan untuk menegur atas kesalahan dan untuk mengangkat derajat manusia,dengan musibah juga dapat membersihkan jiwa manusia hingga benar-benar ikhlas Lillahi Ta’la,dan membantunya meraih kenikmatan-kenikmatan Surga yang Allah Subhanahu wa Ta’ala janjikan.Alasan ini juga yang membuat para shalafus shalih merasakan kebahagiaan yang sama,baik mendapat musibah (ujian), maupun menerima Nikmat-Nya.

Mereka tahu musibah bahkan bakal mendatangkan keuntungan yang lebih besar,karena nikmat-Nya tak jarang menjadikan manusia lalai,dan karena dia yakin, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melindunginya dari persaan takut,sedih,cemas,maupun gundah,ia tak takut saat yang lain merasa ketakutan,ia tak sedih ketika yang lain bersedih,karena disetiap musibah dating ia selalu yakin “Allah Subhanahu wa Ta’ala,menentukan, apa yang dikehendaki-Nya akan terjadi’.Dan berikut hadiah yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala siapkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala, Berfirman,

“Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-KU,niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka,dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(Q.S. Al Baqarah : 38).

Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan selalu melindungi kaum mukminin dari kehancuran,dan membebaskan mereka dari penderitaan musibah,dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menenangkan dan mendamaikan jiwa mereka,sehingga mereka bisa lebih cepat menata hati,menyesuaikan diri,menerima dan menghadapi keadaan yang ada,Mereka pun akan melihat musibah itu dari sisi yang berbeda Yaitu :

. Satu “ Karena musibah akan menghapus dosa dan kesalahan, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,bersabda yang artinya

“Tidaklah seorang muslim didera rasa sakit, penderitaan, kecemasan, kesedihan,,luka, kegundahan,hingga satu duri yang menancap,melainkan ALLAH hapuskan dosa-dosanya”(Muttafaq Alaih).

Dua, Karena musibah tersebut tidak menyerang iman dan keyakinan.
Tiga, Karena musibah tersebut relative ringan,mungkin saja sebenarnya lebih besar.
Empat ,Karena musibah merupakan Sunnatullah yang pasti dialami setiap mukmin,sebagai bukti bagi mereka,untuk membedakan mana benar-benar beriman,mana yang tidak.

Source [id=100001732950012]

16/05/12

Kitab Zikir, Doa, Tobat Dan Istigfar

1. Anjuran untuk ingat (berzikir) kepada Allah Taala
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
    Rasulullah saw. bersabda: Allah Taala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jemaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari. (Shahih Muslim No.4832)
2. Tentang nama-nama Allah Taala dan keutamaan orang yang menghafalnya
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
    Nabi saw. bersabda: Allah itu memiliki sembilan puluh sembilan nama yang bagus. Barang siapa yang mampu menghafalnya, maka dia akan masuk surga. Sesungguhnya Allah itu ganjil dan Dia menyukai yang ganjil. (Shahih Muslim No.4835)
3. Berteguh hati dalam berdoa dan tidak berdoa dengan ucapan: Jika Engkau berkenan
  • Hadis riwayat Anas ra., ia berkata:
    Rasulullah saw. bersabda: Apabila seorang di antara kamu berdoa maka hendaklah dia berteguh hati dalam berdoa serta jangan pula dia berdoa dengan mengucapkan: Ya Allah! Jika Engkau sudi maka berilah aku. Sesungguhnya Allah tidak ada yang memaksanya. (Shahih Muslim No.4837)
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
    Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Apabila seorang di antara kamu berdoa, maka janganlah dia berkata: Ya Allah! Ampunilah aku jika Engkau sudi. Tetapi bersungguh-sungguhlah dia dalam memohon dan mohonlah perkara-perkara yang besar dan mulia (surga atau pengampunan), karena Allah tidak ada sesuatu pun yang besar bagi-Nya dari apa yang telah dianugrahkan. (Shahih Muslim No.4838)
4. Larangan mengharapkan kematian karena musibah yang menimpa
  • Hadis riwayat Anas ra., ia berkata:
    Rasulullah saw. bersabda: Janganlah seorang di antara kamu mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya dan apabila dia memang harus mengharapkan, sebaiknya dia berkata: Ya Allah! Hidupkanlah aku selama kehidupan itu yang terbaik bagiku, dan matikanlah aku jika kematian itu yang terbaik bagiku. (Shahih Muslim No.4840)
  • Hadis riwayat Khabbab ra.:
    Dari Qais bin Abu Hazim ia berkata: Saya datang menemui Khabbab yang sedang menderita tujuh luka bakar di perutnya, lalu dia berkata: Seandainya Rasulullah saw. tidak melarang kita untuk memohon kematian niscaya aku telah memohonnya. (Shahih Muslim No.4842)
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
    Rasulullah saw. bersabda: Janganlah seorang di antara kamu mengharapkan kematian dan jangan pula memohonnya sebelum kematian itu datang menjemputnya. Sesungguhnya apabila seorang di antara kamu meninggal dunia maka terputuslah amal perbuatannya dan sesungguhnya usia seorang mukmin itu akan menambah kebajikan (bagi dirinya). (Shahih Muslim No.4843)
5. Barang siapa yang suka bertemu Allah, maka Allah akan suka bertemu dengannya dan barang siapa yang tidak suka bertemu Allah, maka Allah tidak akan suka bertemu dengannya
  • Hadis riwayat Ubadah bin Shamit ra.:
    Bahwa Nabi saw. bersabda: Barang siapa menyukai pertemuan dengan Allah, maka Allah akan menyukai pertemuan dengannya, dan barang siapa yang tidak menyukai pertemuan dengan Allah, maka Allah tidak akan menyukai pertemuan dengannya. (Shahih Muslim No.4844)
  • Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
    Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang menyukai pertemuan dengan Allah, maka Allah akan menyukai pertemuan dengannya. Dan barang siapa yang tidak menyukai pertemuan dengan Allah, maka Allah tidak akan menyukai pertemuan dengannya. Aku bertanya: Wahai baginda, bagaimana dengan kebencian terhadap kematian karena semua kita membenci kematian? Beliau menjawab: Bukan begitu, tetapi seorang mukmin apabila diberi kabar gembira dengan rahmat Allah, keridaan dan surga-Nya, maka dia akan senang bertemu dengan Allah dan Allah akan senang bertemu dengannya. Dan sesungguhnya orang kafir apabila diberitahukan tentang siksaan serta kemurkaan Allah, maka dia akan membenci pertemuan dengan Allah sehingga Allah pun akan membenci pertemuan dengannya. (Shahih Muslim No.4845)
  • Hadis riwayat Abu Musa ra.:
    Nabi saw. bersabda: Barang siapa yang menyukai pertemuan dengan Allah, maka Allah menyukai pertemuan dengannya. Dan barang siapa yang tidak menyukai pertemuan dengan Allah, maka Allah tidak akan menyukai pertemuan dengannya. (Shahih Muslim No.4848)
6. Makruh berdoa agar segera diturunkan siksaan di dunia
  • Hadis riwayat Anas ra.:
    Bahwa Rasulullah saw. menjenguk seorang lelaki kaum muslimin yang telah lemah sekali sehingga (keadaannya) seperti anak burung. Rasulullah saw. bertanya kepada lelaki itu: Apakah kamu pernah berdoa memohon sesuatu? Lelaki itu menjawab: Ya, aku berdoa: Ya Allah! Apa yang hendak Engkau siksa aku di akhirat, maka laksanakanlah segera di dunia. Lalu Rasulullah saw. bersabda: Maha Suci Allah! Kamu tidak akan kuat atau tidak akan mampu menanggungnya. Kenapa kamu tidak berdoa dengan: Ya Allah! Berikan kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta jagalah kami dari siksa neraka. Ia (Anas) berkata: Kemudian Rasulullah saw. berdoa kepada Allah untuknya sehingga Allah pun menyembuhkannya. (Shahih Muslim No.4853)
7. Keutamaan majelis zikir
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
    Dari Nabi saw., beliau bersabda: Sesungguhnya Allah Yang Maha Memberkahi lagi Maha Tinggi memiliki banyak malaikat yang selalu mengadakan perjalanan yang jumlahnya melebihi malaikat pencatat amal, mereka senantiasa mencari majelis-majelis zikir. Apabila mereka mendapati satu majelis zikir, maka mereka akan ikut duduk bersama mereka dan mengelilingi dengan sayap-sayapnya hingga memenuhi jarak antara mereka dengan langit dunia. Apabila para peserta majelis telah berpencar mereka naik menuju ke langit. Beliau melanjutkan: Lalu Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung menanyakan mereka padahal Dia lebih mengetahui daripada mereka: Dari manakah kamu sekalian? Mereka menjawab: Kami datang dari tempat hamba-hamba-Mu di dunia yang sedang mensucikan, mengagungkan, membesarkan, memuji dan memohon kepada Engkau. Allah bertanya lagi: Apa yang mereka mohonkan kepada Aku? Para malaikat itu menjawab: Mereka memohon surga-Mu. Allah bertanya lagi: Apakah mereka sudah pernah melihat surga-Ku? Para malaikat itu menjawab: Belum wahai Tuhan kami. Allah berfirman: Apalagi jika mereka telah melihat surga-Ku? Para malaikat itu berkata lagi: Mereka juga memohon perlindungan kepada-Mu. Allah bertanya: Dari apakah mereka memohon perlindungan-Ku? Para malaikat menjawab: Dari neraka-Mu, wahai Tuhan kami. Allah bertanya: Apakah mereka sudah pernah melihat neraka-Ku? Para malaikat menjawab: Belum. Allah berfirman: Apalagi seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku? Para malaikat itu melanjutkan: Dan mereka juga memohon ampunan dari-Mu. Beliau bersabda kemudian Allah berfirman: Aku sudah mengampuni mereka dan sudah memberikan apa yang mereka minta dan Aku juga telah memberikan perlindungan kepada mereka dari apa yang mereka takutkan. Beliau melanjutkan lagi lalu para malaikat itu berkata: Wahai Tuhan kami! Di antara mereka terdapat si Fulan yaitu seorang yang penuh dosa yang kebetulan lewat lalu duduk ikut berzikir bersama mereka. Beliau berkata lalu Allah menjawab: Aku juga telah mengampuninya karena mereka adalah kaum yang tidak akan sengsara orang yang ikut duduk bersama mereka. (Shahih Muslim No.4854)
8. Keutamaan membaca tahlil, membaca tasbih dan berdoa
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
    Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang membaca: "Tidak ada Tuhan selain Allah semata, Yang tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nyalah segenap kerajaan dan milik-Nyalah segala pujian serta Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu", setiap hari sebanyak seratus kali, maka dia akan mendapat pahala yang sama besarnya dengan membebaskan sepuluh orang budak dan akan dicatat untuknya seratus kebajikan serta dihapus darinya seratus keburukan. Baginya hal itu adalah satu perlindungan dari setan mulai dari pagi hari sampai sore. Tidak ada seorang pun yang lebih utama dari orang yang melakukan hal itu kecuali orang yang lebih banyak dari itu. Barang siapa yang membaca: "Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya", sebanyak seratus kali setiap hari, maka akan terhapuslah semua dosanya sekalipun dosanya itu sebanyak buih di lautan. (Shahih Muslim No.4857)
  • Hadis riwayat Abu Ayyub Al-Anshari ra.:
    Dari Nabi saw., beliau bersabda: Barang siapa yang membaca: "Tidak ada Tuhan selain Allah semata, Yang tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nyalah segenap kerajaan dan milik-Nyalah segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu", sebanyak sepuluh kali, maka dia laksana orang yang telah memerdekakan empat orang budak dari putra Ismail. (Shahih Muslim No.4859)
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
    Rasulullah saw. bersabda: Dua kalimat yang ringan untuk diucapkan, tetapi berat dalam timbangan dan disukai oleh Allah Yang Maha Pengasih, yaitu: "Maha Suci Allah dengan segala pujian-Nya dan Maha Suci Allah Tuhan Yang Maha Agung". (Shahih Muslim No.4860)
9. Anjuran merendahkan suara ketika berzikir
  • Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata:
    Ketika kami sedang bersama Rasulullah saw. dalam suatu perjalanan, mulailah orang-orang mengeraskan suara mereka dalam membaca takbir lalu bersabdalah beliau: Wahai manusia, rendahkanlah suara kamu sekalian! Karena kamu sekalian sesungguhnya tidak sedang memohon kepada yang tuli maupun yang gaib bahkan kamu sekalian sedang memohon kepada Tuhan Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat Yang selalu bersama kamu sekalian. Aku pada saat itu berada di belakang beliau sambil mengucapkan: "Laa haula wa laa quwata illa billah", (Tidak ada daya dan kekuatan kecuali berkat bantuan Allah). Rasulullah saw. berkata: Wahai Abdullah bin Qais! Maukah kamu aku tunjukkan kepada salah-satu kekayaan surga yang tersimpan? Aku menjawab: Tentu, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Yaitu ucapan: "Laa haula wa laa quwata illa billah". (Shahih Muslim No.4873)
  • Hadis riwayat Abu Bakar ra.:
    Bahwasanya ia pernah berkata kepada Rasulullah saw.: Ajarkanlah kepadaku suatu doa yang akan aku baca dalam salatku. Beliau bersabda: Bacalah! "Ya Allah, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, suatu penganiayaan yang cukup besar", menurut Qutaibah penganiayaan yang banyak, "Dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau. Berikanlah kepadaku ampunan dari sisi-Mu dan kasihanilah aku, karena sesungguhnya Engkau adalah Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih". (Shahih Muslim No.4876)
10. Mohon perlindungan dari kelemahan, kemalasan dan lainnya
  • Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
    Rasulullah saw. biasa berdoa: Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, menyia-nyiakan usia dan dari sifat kikir. Aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur dan dari fitnah kehidupan serta kematian. (Shahih Muslim No.4878)
11. Mohon perlindungan dari takdir yang buruk dan kesengsaraan serta lainnya
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
    Bahwa Nabi saw. selalu memohon perlindungan dari takdir yang jelek, bencana kesengsaraan, kejahatan musuh serta dari cobaan yang sangat berat. (Shahih Muslim No.4880)
12. Doa ketika akan tidur dan berbaring di atas peraduan
  • Hadis riwayat Barra' bin Azib ra.:
    Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Apabila kamu hendak berbaring ke tempat peraduanmu, maka berwudulah seperti wudu untuk salat, kemudian berbaringlah di atas sisi kananmu lalu bacalah doa: (Ya Allah! Sesungguhnya aku menyerahkan diriku kepada-Mu, dan aku serahkan segala urusanku kepada-Mu, dan aku baringkan tubuhku ke hadapan-Mu karena mengharapkan pahala-Mu dan takut akan siksa-Mu, tidak ada tempat berlindung dan tidak ada pula yang dapat menyelamatkan diri kecuali kembali kepada-Mu, aku beriman dengan kitab-Mu yang Engkau turunkan dan dengan nabi-Mu yang Engkau utus). Jadikanlah semua itu sebagai ucapanmu yang terakhir karena apabila kamu mati pada malam itu, maka kamu telah mati dalam keadaan fitrah. (Barra') berkata: Aku mengulang-ulangi kalimat-kalimat tersebut untuk mengingatnya. Aku ucapkan: Aku beriman kepada rasul-Mu yang Engkau utus. Rasulullah saw. bersabda: Ucapkanlah! Aku beriman dengan nabi-Mu yang telah Engkau utus. (Shahih Muslim No.4884)
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
    Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Apabila seorang dari kamu sekalian ingin berbaring ke tempat tidurnya, maka hendaklah ia memegang ujung kainnya lalu kirapkanlah tempat tidurnya (menghilangkan debu) serta bacalah bismillah, sebab dia tidak mengetahui apa yang tinggalkan setelahnya di atas tempat tidurnya itu. Kemudian jika ia hendak berbaring, maka berbaringlah di atas sisi kanannya dan bacalah doa: "Maha Suci Engkau, ya Allah Tuhanku, karena Engkaulah aku membaringkan tubuhku dan karena Engkau pulalah aku mengangkatnya. Apabila Engkau mencabut jiwaku, maka ampunilah ia dan apabila Engkau melepaskannya (menghidupkan) maka jagalah ia sebagaimana Engkau menjaga hamba-hamba-Mu yang saleh". (Shahih Muslim No.4889)
13. Mohon perlindungan dari kejahatan yang dilakukan dan yang belum dilakukan
  • Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.:
    Bahwa Rasulullah saw. pernah berdoa dengan membaca: "Ya Allah, kepada-Mulah aku berserah diri dan kepada-Mulah aku beriman, terhadap-Mu aku bertawakkal dan kepada-Mu aku kembali serta dengan (pertolongan) Engkau aku berperang. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu, tidak ada Tuhan selain Engkau, agar Engkau tidak menyesatkan aku, Engkaulah Yang Maha Hidup dan tidak akan mati sedang jin dan manusia semuanya akan mati". (Shahih Muslim No.4894)
  • Hadis riwayat Abu Musa Al-Asy`ari ra.:
    Bahwa Nabi saw. selalu berdoa dengan membaca: "Ya Allah, ampunilah kesalahan dan kebodohanku, dan juga sikap berlebihanku dalam segala urusanku dan segala yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah! Ampunilah kesungguhanku dan kelakarku, dan ketidaksengajaanku dan kesengajaanku serta semua yang ada di sisiku. Ya Allah, ampunilah dosa yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan, yang aku lakukan secara sembunyi maupun yang aku lakukan secara terang-terangan serta segala yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Engkaulah Yang Maha Mendahului dan Yang Maha Mengakhiri dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu". (Shahih Muslim No.4896)
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
    Bahwa Rasulullah saw. berdoa: "Tidak ada Tuhan selain Allah semata, Tuhan Yang memenangkan tentara-Nya, Tuhan Yang menolong hamba-Nya, Tuhan Yang mengalahkan golongan-golongan kafir, maka tidak ada sesuatu pun (yang abadi) selain-Nya". (Shahih Muslim No.4903)
14. Bertasbih pada permulaan siang dan ketika hendak tidur
  • Hadis riwayat Ali bin Abu Thalib ra.:
    Bahwa Fatimah mengeluhkan tangannya (yang terluka) akibat alat penumbuk biji-bijian. Dan Nabi saw. mendapatkan seorang tawanan (untuk dijadikan pelayan), maka berangkatlah Fatimah menemui Nabi saw. namun ia tidak menjumpai beliau tetapi ia bertemu dengan Aisyah, lalu diceritakanlah maksud kedatangannya kepada Aisyah. Ketika Nabi saw. datang, Aisyah menceritakan kepada beliau tentang kedatangan Fatimah. Nabi saw. segera menemui kami pada saat kami telah berbaring di tempat tidur, kemudian kami pun beranjak bangun ingin menghampiri beliau tetapi Nabi saw. berkata: Tetaplah di tempat kalian! Lalu beliau duduk di antara kami berdua sehingga aku dapat merasakan di dadaku dinginnya telapak kaki beliau. Kemudian beliau bersabda: Maukah kamu berdua aku ajarkan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kamu berdua minta yaitu ketika kalian hendak berbaring ke tempat tidur, bacalah takbir sebanyak tiga puluh empat kali, tasbih sebanyak tiga puluh tiga kali serta tahmid sebanyak tiga puluh tiga kali karena hal itu lebih baik bagi kamu berdua daripada seorang pelayan. (Shahih Muslim No.4906)
15. Anjuran berdoa ketika mendengar suara ayam jantan
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
    Bahwa Nabi saw. bersabda: Jika kamu sekalian mendengar suara kokok ayam jantan, maka mohonlah karunia Allah karena sesungguhnya binatang tersebut telah melihat malaikat dan jika kamu sekalian mendengar suara ringkikan keledai, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari godaan setan, karena binatang tersebut telah melihat setan. (Shahih Muslim No.4908)
16. Doa ketika tertimpa kesusahan
  • Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.:
    Bahwa Nabi saw. ketika tertimpa Kesusahan, beliau berdoa: "Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun, tidak ada Tuhan selain Allah Tuhan Yang Memiliki Arsy nan Agung, tidak ada Tuhan selain Allah Tuhan segenap langit, Tuhan bumi serta Tuhan Arsy nan Mulia". (Shahih Muslim No.4909)
17. Menerangkan seorang yang berdoa akan dikabulkan selama dia tidak cepat berkata: Aku telah berdoa tetapi tidak dikabulkan
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
    Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Akan dikabulkan doa seseorang di antara kamu sekalian selama dia tidak terburu-buru berkata: Aku sudah berdoa, tetapi aku tidak atau belum dikabulkan. (Shahih Muslim No.4916)
18. Tentang mayoritas ahli surga adalah dari orang-orang miskin dan mayoritas ahli neraka dari kaum wanita serta mengenai fitnah kaum wanita
  • Hadis riwayat Usamah bin Zaid ra., ia berkata:
    Rasulullah saw. bersabda: Aku berdiri di depan pintu surga, tiba-tiba aku melihat mayoritas yang memasukinya adalah orang-orang miskin dan aku juga melihat para penguasa (di dunia) dalam keadaan tertahan, kecuali penghuni neraka yang telah diperintahkan kepada mereka untuk memasuki neraka. Dan aku juga berdiri di depan pintu neraka, ternyata mayoritas yang memasukinya adalah dari kaum wanita. (Shahih Muslim No.4919)
  • Hadis riwayat Imran bin Hushain ra.:
    Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya yang paling sedikit menempati surga adalah kaum wanita. (Shahih Muslim No.4921)
  • Hadis riwayat Usamah bin Zaid ra., ia berkata:
    Rasulullah saw. bersabda: Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun setelahku yang lebih membahayakan kaum lelaki daripada kaum wanita. (Shahih Muslim No.4923)
19. Kisah tiga orang penghuni gua dan tawasul dengan amal saleh
  • Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra.:
    Dari Rasulullah saw., beliau bersabda: Ketika tiga orang pemuda sedang berjalan, tiba-tiba turunlah hujan lalu mereka pun berlindung di dalam sebuah gua yang terdapat di perut gunung. Sekonyong-konyong jatuhlah sebuah batu besar dari atas gunung menutupi mulut gua yang akhirnya mengurung mereka. Kemudian sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: Ingatlah amal saleh yang pernah kamu lakukan untuk Allah, lalu mohonlah kepada Allah dengan amal tersebut agar Allah berkenan menggeser batu besar itu. Salah seorang dari mereka berdoa: Ya Allah, sesungguhnya dahulu aku mempunyai kedua orang tua yang telah lanjut usia, seorang istri dan beberapa orang anak yang masih kecil di mana akulah yang memelihara mereka. Setelah aku mengandangkan hewan-hewan ternakku, aku segera memerah susunya dan memulai dengan kedua orang tuaku terdahulu untuk aku minumkan sebelum anak-anakku. Suatu hari aku terlalu jauh mencari kayu (bakar) sehingga tidak dapat kembali kecuali pada sore hari di saat aku menemui kedua orang tuaku sudah lelap tertidur. Aku pun segera memerah susu seperti biasa lalu membawa susu perahan tersebut. Aku berdiri di dekat kepala kedua orang tuaku karena tidak ingin membangunkan keduanya dari tidur namun aku pun tidak ingin meminumkan anak-anakku sebelum mereka berdua padahal mereka menjerit-jerit kelaparan di bawah telapak kakiku. Dan begitulah keadaanku bersama mereka sampai terbit fajar. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mengharap keridaan-Mu, maka bukalah sedikit celahan untuk kami agar kami dapat melihat langit. Lalu Allah menciptakan sebuah celahan sehingga mereka dapat melihat langit. Yang lainnya kemudian berdoa: Ya Allah, sesungguhnya dahulu aku pernah mempunyai saudara seorang puteri paman yang sangat aku cintai, seperti cintanya seorang lelaki terhadap seorang wanita. Aku memohon kepadanya untuk menyerahkan dirinya tetapi ia menolak kecuali kalau aku memberikannya seratus dinar. Aku pun bersusah payah sampai berhasillah aku mengumpulkan seratus dinar yang segera aku berikan kepadanya. Ketika aku telah berada di antara kedua kakinya (selangkangan) ia berkata: Wahai hamba Allah, takutlah kepada Allah dan janganlah kamu merenggut keperawanan kecuali dengan pernikahan yang sah terlebih dahulu. Seketika itu aku pun beranjak meninggalkannya. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mencari keridaan-Mu, maka ciptakanlah sebuah celahan lagi untuk kami. Kemudian Allah pun membuat sebuah celahan lagi untuk mereka. Yang lainnya berdoa: Ya Allah, sesungguhnya aku pernah mempekerjakan seorang pekerja dengan upah enam belas ritel beras (padi). Ketika ia sudah merampungkan pekerjaannya, ia berkata: Berikanlah upahku! Lalu aku pun menyerahkan upahnya yang sebesar enam belas ritel beras namun ia menolaknya. Kemudian aku terus menanami padinya itu sehingga aku dapat mengumpulkan beberapa ekor sapi berikut penggembalanya dari hasil padinya itu. Satu hari dia datang lagi kepadaku dan berkata: Takutlah kepada Allah dan janganlah kamu menzalimi hakku! Aku pun menjawab: Hampirilah sapi-sapi itu berikut penggembalanya lalu ambillah semuanya! Dia berkata: Takutlah kepada Allah dan janganlah kamu mengolok-olokku! Aku pun berkata lagi kepadanya: Sesungguhnya aku tidak mengolok-olokmu, ambillah sapi-sapi itu berikut penggembalanya! Lalu ia pun mengambilnya dan dibawa pergi. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mengharap keridaan-Mu, maka bukakanlah untuk kami sedikit celahan lagi yang tersisa. Akhirnya Allah membukakan celahan yang tersisa itu. (Shahih Muslim No.4926)

Kitab Takdir

1. Proses penciptaan manusia dalam perut ibunya dan penentuan rezeki, ajal dan amalnya serta nasibnya sengsara ataukah bahagia
  • Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:
    Rasulullah saw. sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami: Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nutfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu: menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia. Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga. (Shahih Muslim No.4781)
  • Hadis riwayat Anas bin Malik ra.:
    Sesungguhnya Allah Taala mengutus seorang malaikat di dalam rahim. Malaikat itu berkata: Ya Tuhan! Masih berupa air mani. Ya Tuhan! Sudah menjadi segumpal darah. Ya Tuhan! Sudah menjadi segumpal daging. Manakala Allah sudah memutuskan untuk menciptakannya menjadi manusia, maka malaikat akan berkata: Ya Tuhan! Diciptakan sebagai lelaki ataukah perempuan? Sengsara ataukah bahagia? Bagaimanakah rezekinya? Dan bagaimanakah ajalnya? Semua itu sudah ditentukan dalam perut ibunya. (Shahih Muslim No.4785)
  • Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:
    Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda: Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia. Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (Shahih Muslim No.4786)
  • Hadis riwayat Imran bin Hushain ra., ia berkata:
    Rasulullah saw. ditanya: Wahai Rasulullah! Apakah sudah diketahui orang yang akan menjadi penghuni surga dan orang yang akan menjadi penghuni neraka? Rasulullah saw. menjawab: Ya. Kemudian beliau ditanya lagi: Jadi untuk apa orang-orang harus beramal? Rasulullah saw. menjawab: Setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang telah menjadi takdirnya. (Shahih Muslim No.4789)
2. Tentang perdebatan antara Adam as. dan Musa as.
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
    Rasulullah saw. bersabda: Pernah Adam dan Musa saling berdebat. Kata Musa: Wahai Adam, kamu adalah nenek moyang kami, kamu telah mengecewakan harapan kami dan mengeluarkan kami dari surga. Adam menjawab: Kamu Musa, Allah telah memilihmu untuk diajak berbicara dengan kalam-Nya dan Allah telah menuliskan untukmu dengan tangan-Nya. Apakah kamu akan menyalahkan aku karena suatu perkara yang telah Allah tentukan empat puluh tahun sebelum Dia menciptakan aku? Nabi saw. bersabda: Akhirnya Adam menang berdebat dengan Musa, akhirnya Adam menang berdebat dengan Musa. (Shahih Muslim No.4793)
3. Ketentuan nasib manusia terhadap zina dan lainnya
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
    Bahwa Nabi saw. bersabda: Sesungguhnya Allah telah menentukan kadar nasib setiap manusia untuk berzina yang pasti akan dikerjakan olehnya dan tidak dapat dihindari. Zina kedua mata ialah memandang, zina lisan (lidah) ialah mengucapkan, sedangkan jiwa berharap dan berkeinginan dan kemaluanlah (alat kelamin) yang akan membenarkan atau mendustakan hal itu. (Shahih Muslim No.4801)
4. Pengertian tentang setiap orang dilahirkan dalam keadaan fitrah serta hukum anak-anak kafir dan anak-anak muslim yang meninggal dunia
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
    Rasulullah saw. bersabda: Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang Majusi. Sebagaimana seekor binatang yang melahirkan seekor anak tanpa cacat, apakah kamu merasakan terdapat yang terpotong hidungnya?. (Shahih Muslim No.4803)
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
    Bahwa Rasulullah saw. pernah ditanya tentang anak orang-orang musyrik, lalu beliau menjawab: Allah lebih tahu tentang apa yang pernah mereka kerjakan. (Shahih Muslim No.4808)

14/05/12

Potensi Qolbu

Ada beberapa potensi qalbu yang terus-menerus saling berebut kekuasaan, yaitu fu’ad, shadr, dan hawaa. Setiap potensi mempunyai fungsinya masing- masing mengatur sirkulasi antara diri manusia sebagai pribadi dengan ling­kungannya, seraya memancarkan kualitas batinnya sambil berinteraksi dalam tiga dimensi, yaitu Allah, aku, dan alam. Apabila cahaya qalbu meredup, gelap- lah saluran batin, sehingga saluran itu kehilangan api penghangat cinta, dan berganti dengan kejahatan, kemunafikan serta berbagai keputusan yang diambil alih sifat setan.

Al-Qur’an mengisyaratkan kekuatan potensial dari struktur kepribadian manusia yang diberikan potensi cahaya cinta Ilahi (nurullah) yang menerangi dan memberikan energi kepada qalbu untuk mengendalikan caranya dia ber-interaksi dengan lingkungan. Pada awainya cinta mendahului benci. Dan kalau­pun ada benci, itu pun karena ingin mempertahankan cinta. Membenci karena cinta dan tidak mungkin mencintai karena benci!

Sagava cinta yang membentang menerangi qalbu adalah hubb, sebuah energi cahaya yang sangat orisinal dari Ilahi yang menggerakkan fungsi moral dan caranya manusia berinteraksi atas dasar prinsip kebenaran (truth and mo­rality principles), sedangkan sisi lain dari energi cahaya selain hubb adalah iman yang pada hakikatnya tampil untuk membela hubb. Iman bukan hanya diartikan sebagai percaya, melainkan harus dipahami sebagai energi yang selalu membela cinta. Dengan iman dia mencinta dan karena dia mencinta maka dia beriman.

Hubb bertugas untuk memberi dan melimpahkan, sedangkan iman ber­tugas untuk menjaga keinginan hubb agar cahaya cinta yang putih, orisinal dan membawa keluhuran budi dapat diamankan. Iman selalu berpihak kepada hubb. Iman bersifat memaksa, memerintah, dan mengendalikan. Iman adalah partner sejati dari cinta yang membela kepentingan cinta. Iman adalah kekuatan yang positif, sedangkan hawa adalah kekuatan negatif. Iman akan membentengi hubb dari bentuk kekuatan negatif yang akan menyimpangkan dan melumpuh­kan cinta. Manusia yang kehilangan hubb, pada dasamya berpusat pada ketidak­berdayaan dirinya untuk mempertahankannya dari kekuatan negatif hawa.

Hubb dan iman memberikan energi batin di atas energi vital yang dimiliki jiwa manusia. Dia mempunyai kewajiban untuk mengisi qalbu dengan fitrah Ilahi yang kemudian oleh sang qalbu dialirkan dan dipancarkan ke seluruh saluran menjadi satu potensi.

Kewajiban qalbu mengendalikan dan membagi kedua energi tersebut dan membersihkan berbagai potensi batin yang berada dalam struktur jiwa setiap saat, sehingga potensi batin ini tetap berfungsi, hidup dengan sensitivitas tinggi untuk memelihara dan sekaligus menangkap cahaya kebenaran, moral, dan tanggung jawabnya sebagai hamba Allah.

Cahaya Ilahi harus terus hidup dan benderang dengan mengaktifkan hubb dan iman sehingga manusia selamat menempuh perjalanan hidupnya sebagai manusia yang hanya berpihak dan beriman kepada Allah,

"Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).... "(al-Baqarah: 257)

Al-Qur’an selalu mengaitkan (nisbat) antara cahaya dan kemampuan manusia melihat tanda-tanda (ayat, informasi, fakta, universum), agar melalui ayat-ayat tersebut manusia mendapatkan pencerahan qalbu (al-Hadiid: 9). Nisbat yang lain adalah keterkaitan manusia dengan zikir, yaitu bentuk ke­sadaran Ilahi yang sangat dicintai Allah dan para malaikat, sehingga manusia selamat dari perangkap setan yang gelap (al-Ahzab: 43).

Allah yang mencipta cahaya tersebut, sangat mencintai ciptaan-Nya, yaitu manusia yang paling indah, sehingga Dia mengajarkan agar setiap jiwa me- nerangi dirinya dengan Al-Qur’an, apabila manusia ingin mendapatkan pen­cerahan atau percikan keabadian cahaya-Nya,

.. (Ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu me­ngeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka...." (Ibrahim: 1)

Hubb yang kemudian membuahkan mahabbah, rasa cinta kasih, adalah akar dari sebuah pohon, sedangkan iman adalah batangnya yang kuat, dan takwa adalah cabang ranting serta daunnya yang rimbun.

* KH. Toto Tasmara, Penerbit Gema Insani Press

13/05/12

8 Dirham Milik Rasulullah

Pagi itu Rasulullah berniat pergi ke pasar untuk membeli sepotong baju. Baju Beliau yang selama ini dipakai sudah sangat tipis karena terlalu sering dicuci. Tak lupa Rasulullah membawa uang sebanyak delapan dirham. Langkah-langkah Rasulullah selalu cepat dan lurus. Tidak belok sana sini. Di satu jalan sebelum pasar terlihat ada seorang wanita yang sedang menangis. Rasul pun mendekatinya.

"Apakah gerangan yang membuatmu menangis?" tanya Rasul.

"Wahai Rasul. Saya hendak ke pasar, tetapi uang saya hilang di tengah jalan. Padahal uang itu pemberian suami saya. Dia pasti akan marah sekali sama saya," jawab wanita itu.

Hati Rasulullah tersentuh oleh penderitaan wanita itu. Rasul lalu mengambil dua keping dirham dan diberikannya kepada wanita itu. Rasulullah melanjutkan perjalanannya. Di pasar beliau membeli sepotong baju seharga 2 dirham. Untuk ukuran Rasul, baju tersebut sangat sederhana. Hanya memenuhi syarat menutupi aurat. Rasul pun pulang.

Di tengah jalan ada seorang laki-laki tua yang tidak mengenakan apa-apa. Ketika Rasul bertanya, pria tua itu mengatakan tidak punya uang untuk membeli baju. "Siapa saja yang memberiku pakaian, semoga Allah memberinya pakaian dari sutra hijau di surge nanti."

Rasul lalu memberikan baju yang baru dibelinya tadi kepada kepada pak tua itu. Rasul kembali ke pasar untuk membeli sepotong baju lagi seharga 2 dirham. Dalam perjalanan pulang rasul mendapati seorang budak menangis.

"Apa yang membuatmu menangis?" Tanya Rasul.

"Ya Rasul, saya ini budak. Saya disuruh majikan saya ke pasar untuk menjual sesuatu dengan harga 2 dirham. Ketika ke luar dari pasar, saya baru sadar bahwa uang itu telah hilang. Gara-gara itu saya telambat pulang. Saya takut majikan saya memarahi saya berkali-kali karena sudah melakukan dua kesalahan, menghilangkan uangnya dan telambat pulang," jawab wanita budak itu.

Rasul mengambil 2 dirham dan memberikannya kepada wanita itu. Sekarang uang delapan dirham milik Rasul sudah habis.

"Sekarang aku akan mengantarmu pulang dan menjelaskannya kepada majikanmu," ujar Rasul.

Setiba di rumah majikan wanita itu, rasul mengucapkan salam. Namun tidak dijawab. Rasul mengulanginya lagi hingga tiga kali baru mendapatkan jawaban. Tuan rumah keluar menemui Rasul.

"Kenapa kamu tidak menjawab salamku? Apakah kamu tidak mendengarnya?" Rasul bertanya.

"Saya mendengarnya ya Rasul, tetapi saya ingin lebih banyak mendengarkan salamu. Jadi saya biarkan hingga tiga kali."

"Pembantumu ini terlambat pulang dan tidak berani pulang sendirian. Sekiranya dia harus menerima hukuman, akulah yang akan menerimanya," terang Rasul. Ucapan ini sangat mengejutkan mereka. Kasih saying Nabi begitu murni, budi pekerti utama, yang tampak indah di hadapan mereka. Beliau mau berjalan panjang dan jauh hanya untuk mengantarkan seorang budak yang takut dimarahi majikannya. Lagipula hanya terlambat pulang. Bahkan memeohon maaf baginya pula.

"Kami memaafkan dan bahkan membebaskannya. Kedatangannya kemari bersama engkau ya Rasul adalah berkah bagi kami semua," kata tuan rumah itu. Si budak itu sangat gembira dan bersyukur atas karunia Allah SWT dan kebebasannya karena dari Rasulullah Saw.

Rasulullah Saw pulang dengan hati gembira. Dengan delapan dirham telah menghilangkan ketakutan seorang istri, memberi pakaian seorang tua, dan membebaskan seorang budak. "Sungguh aku tidak pernah melihat perkara yang lebih berkah daripada uang delapan dirham ini, " kata Rasul.  

Sumber: Buku Mutiara-Mutiara Hati, Penulis Hadi S. Khuly, Penerbit Gava Media

Terbang Bersama Keheningan

Berat, itulah kata yang bisa mewakili tantangan hidup kekinian. Orang miskindihadang penyakit di sana-sini. Orang kaya alisnya dibikin berkerut oleh berbagaimasalah. Sebagian malah sudah dipenjara, sebagian lagi menuggu giliran untukberistirahat di tempat yang sama. Manusia biasa menggendong berbagai beban kesana ke mari (dari mencari nafkah, menyekolahkan anak sampai dengan mempersiapkan hari tua), pejabat maupun pengusaha juga serupa: senantiasa ditemani masalah kemanapun ia pergi. Di desa banyak orang mengeluh, luas tanah tetap namun jumlah manusia senantiasa tambah banyak. Sehingga setiap tahun memunculkan tantangan penciptaan lapangan kerja. Bila tidak terselesaikan ia bisa lari kemana-mana. Dari kejahatan sampai dengan kekerasan.

Digabung menjadi satu, jadilah kehidupan berwajah serba berat di sana-sini. Tidak saja di negara berkembang, di negara maju sekali pun tantangannya serupa.Kemajuan ekonomi Jepang yang demikian fantastis tidak bisa mengerem angka bunuh diri. Kemajuan peradaban Amerika tidak membuat negara ini berhenti menjadi konsumen obat tidur per kapita paling tinggi di dunia. Jangankan berbicara negeri Afrika seperti Botswana. Rata-rata harapan hidup hanya 30-an tahun. Orang dewasa di sana lebih dari 80 persen positif terjangkit HIV. Sehingga menimbulkan pertanyaan,"Demikian beratkah beban manusia untuk hidup?"Ada sahabat yang menghubungkan beratnya hidup manusia dengan hukum gravitasinya Newton yang berpengaruh itu. Sudah menjadi pengetahuan publik,kalau Newton menemukan hukum ini ketika duduk di bawah pohon apel, dan tiba-tiba buahnya jatuh.Sehingga Newton muda berspekulasi ketika itu, ada serangkaian hukum berat (baca:gravitasi) yang membuat semua benda jatuh ke bawah.

Sahabat ini bertanya lebih dalam, "kalau gravitasi yang menarik apel jatuh ke bawah, lantas hukum apa yang membawanya naik ke puncak pohon apel?" Dengan jernih ia menyebut "The law of levitation" (hukum penguapan). Kalau gravitasi menarik apel ke bawah, penguapan menariknya ke arah atas. Dalam bahasa yang lugas sekaligus cerdas, sahabat ini mengaitkan kedua hukum fisika ini ke dalam dua hukum kehidupan: "Hate is under the law of gravity, love isunder the law of levitation." Kebencian berkait erat dengan gravitasi karena mudah sekali membuat manusia hidup serba berat dan ditarik ke bawah. Cinta berkaitandengan gerakan-gerakan ke atas. Karena hanya cinta yang membuat manusiaringan dan terbang ke atas.

Sungguh sebuah bahan renungan kehidupan yang cerdas dan bernas. Kembali ke soal hidup manusia yang serba berat, tidak ada manusia yang bebas sepenuhnya dari masalah. Bahkan ada yang menyederhanakan kehidupan dengan sebuah kata: penderitaan! Hanya saja kebencian berlebihan yang membuat semua ini menjadi semakin berat dan semakin berat lagi. Ada yang benci pada diri sendiri,ada yang membenci orang tua, suami, istri, teman, tetangga, atasan kerja, sampai dengan ada yang membenci Tuhan. Perhatikan wajah-wajah manusia kekinian yang miskin senyum, yang mudah tersinggung, yang senantiasa minta diperhatikan, penerimaan bulanan yang serba kurang, dan masih bisa ditambah lagi dengan yang lain. Semuanya berakar pada yang satu: kebencian! Sehingga mudah dimengerti kalau perjalanan hidup seperti buah apel, semakin tua semakin berat dan semakin ditarik ke bawah.

Terinspirasi dari sinilah, kemudian sejumlah guru mengurangi sesedikit mungkin berjalan dalam hidup dengan beban-beban kebencian. Dan mencoba menarik kehidupan ke atas menggunakan sayap-sayap cinta. Semua perjalanan cinta mulai dari sini: mencintai kehidupan. Makanya sahabat-sahabat penekun meditasi Vipasana berkonsentrasi pada keluar masuknya nafas. Tidak saja karena membuatmanusia mudah terhubung dengan hidup, tetapi berpelukan penuh cinta dengankehidupan. Dan segelintir penekun Vipasana yang telah berjalan amat jauh,kemudian mengalami cosmic orgasm.

Semacam orgasme kosmik yang ditandai oleh terlihatnya keindahan di mana-mana. Karena semuanya terlihat serba indah, tidakada lagi dorongan untuk mencari jawaban. Bahkan pertanyaan sekalipun sudah lenyap dari kepala. Ini yang disebut seorang guru dengan terbang bersama keheningan. Ada yang menyebut ini dengan emptiness. Sebuah terminologi timur yang amat susah untuk dijelaskan dengan kata-kata manusia. Namun Dainin Katagiri dalam Returning to Silence, menyebutkan: "The final goal is that we should not beobsessed with the result, whether good, bad or neutral.

"
Keseluruhan upaya untuktidak terikat dengan hasil. Itulah keheningan. Sehingga yang tersisa persis sepertihukum alam: kerja, kerja dan kerja. Dalam kerja seperti ini, manusia seperti matahari.Ditunggu tidak ditunggu, besok pagi ia terbit. Ada awan tidak ada awan, mataharitetap bersinar. Disukai atau dibenci, sore hari dimana pun ia akan terbenam.Mirip dengan matahari yang tugasnya berbeda dengan awan dan bintang. Kitamanusia juga serupa. Pengusaha bekerja di perusahaan. Penguasa bekerja dipemerintahan. Pekerja bekerja di tempat masing-masing. Penulis menulis. Pertapabertapa. Pencinta yoga beryoga. Pengagum meditasi bermeditasi. Semuanya adatempatnya masing-masing. Ada satu hal yang sama di antara mereka: "Menjadisemakin sempurna di jalan kerja". Soal hasil, sudah ada kekuatan amat sempurnayang sudah mengaturnya. Keinginan apalagi kebencian, hanya akan membuatnya jadi berat dan terlempar ke bawah.

*Penulis: Gede Prama, Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Empat Isteri Kehidupan

Dalam banyak kesempatan, saya kerap disebut orang liar. Baik dari segi disiplin ilmu, maupun cara menjalani kehi­dupan, banyak rekan menyebut saya seenaknya saja ber­jalan ke mana saja saya suka tanpa mengenal batas. Demikian juga dengan hobi, ada yang menyebut saya liar. Salah satu sebabnya, karena saya memiliki hobi aneh: melayat. Sebab, inilah kelas pelatihan kehidupan yang tidak bisa ditandingi oleh kelas pelatihan lainnya. Kalau kelas pelatihan pada umumnya, hanya mengundang refleksi seba­gian orang, di depan orang meninggal hampir semua orang berefleksi.

Dalam rangkaian kehidupan yang penuh renungan seper­ti ini, saya bersyukur sekali kepada Tuhan karena pada suatu malam, seorang sahabat mengirimi saya e-mail yang berisi sebuah cerita sangat reflektif. Konon, di suatu waktu ada seorang kaya raya yang memiliki empat isteri. Di depan gerbang kematian, ia diberi kesempatan untuk mengajak hanya salah satu dari empat isterinya.

Pertama-tama ia panggil isterinya yang keempat. Maklum, ini yang paling muda, paling cantik, paling menawan, paling disayang, sekaligus menguras paling banyak uang. Dengan nada suara yang mengundang rasa kasihan, orang kaya yang


sudah renta ini bertanya: `Maukah engkau menemani aku sampai ke alam kematian?` Seperti disambar petir rasanya, ketika orang tua ini mendengar jawaban ketus isterinya yang keempat: `Ndak!`.

Kecewa dengan isterinya yang keempat, ia pun memang­gil isteri yang ketiga. Bisa dimaklumi, karena ini adalah isteri ranking ke dua dalam banyak hal. Belajar dari kegagalan sebelumnya, ia pun bertanya sambil memeluk mesra isteri ketiga: `Sudikah kamu menjadi pendampingku memasuki gerbang kematian?`. Yang ini jawabannya lebih sopan: `Maafkan kanda, saya hanya bisa mengantarmu sampai di sini`.

Menangis mengakhiri pengalaman kedua ini, ia pun tidak putus asa. Dipanggillah isteri yang kedua, tentu saja dengan pertanyaan dan permintaan yang sama. Isteri kedua ini men­jawab lembut: `Saya akan antar kanda, tapi hanya sampai di liang lahat`. Untuk ketiga kalinya, orang kaya yang meng­habiskan seluruh hidup dan keringatnya untuk mengum­pulkan kekayaan demi anak dan isteri ini, kecewa berat lagi.

Sehingga, yang tersisa hanya isteri pertama yang terkulai kurus, layu, lemah tanpa tenaga, dan kecantikannya sudah lama sekali memudar. Dengan pasrah orang kaya tadi ber­tanya dan meminta hal yang sama. Dan yang mengejutkan, kendati isteri pertama ini jarang diperhatikan, sering disakiti, dan paling sedikit mendapat uang, ia menganggukkan kepalanya tanda bersedia menemani sang suami sampai di dunia mana pun.

Saya tidak tahu, apakah cerita ini riil atau hanya karangan manusia semata. Yang jelas, ia menghadirkan refleksi yang sangat dalam. Isteri-isteri ini perilakunya sama serupa de­ngan empat isteri kehidupan. Isteri keempat adalah atribut- atribut yang kita perjuangkan, pertahankan dan kita man- jakan dengan banyak sekali tenaga. Ia bisa berupa jabatan, kekayaan materi, dan segala bentuk pembungkus badan kasar. Dan ketika kita mati, semuanya menjawab tidak ikut secara ketus kepada kita.

Isteri ketiga adalah badan kasar kita. Sebentuk badan yang juga dimanjakan banyak orang. Diberi makan yang enak. Diajak ke tempat-tempat indah. Hampir semua lubangnya kita puaskan semampunya. Dan ia hanya bisa mengantar kita sampai di tempat kita dijemput sang maut.

Isteri kedua adalah teman dan keluarga kita. Sebaik- baiknya mereka, hanya bisa menangis mengantar kita sam­pai di liang lahat. Isteri pertama yang sangat kurang dari perhatian kita, dan mendapat alokasi dana dan tenaga pa­ling sedikit, ia bernama sang jiwa. Dialah satu-satunya `isteri` yang menemani kita selamanya.

Titipan pertanyaan saya buat Anda: seberapa banyakkah dana dan tenaga yang telah kita alokasikan khusus buat sang jiwa?

Pengalaman dan pengamatan saya bahkan menunjukkan, dalam ketidaksadaran kolektif, kita sering malah menyiksa dan membuat sang jiwa menderita. Semua itu dilakukan, untuk memuaskan `isteri-isteri` yang lain. Sebut saja orang- orang yang berebut kekuasaan dengan segala cara. Atau mereka yang memuaskan pancaindranya tanpa rem yang memadai.

Hebatnya, kendati ia disiksa dan dibuat menderita, sang jiwa akan senantiasa ikut bersama kita. Dalam hidup mau­pun mati. Dalam suka dan duka. Di tengah pujian maupun makian, ia senantiasa setia menemani kita. Entah karena lupa, entah karena khilaf, secara kolektif kita sudah lama tidak peka akan getaran-getaran sang jiwa.

Ada orang yang menyebut bahwa bencana alam, keru­suhan, krisis yang tidak berhenti, adalah cermin dari marah- nya sang jiwa. Saya tidak berpendapat demikian, sang jiwa hanya bisa mengangguk terhadap kita. Ketika kita bilang bencana, ia mengangguk. Tatkala kita katakan rusuh, ia mengangguk. Mungkin sudah menjadi cirinya sejak dulu, kalau jiwa hanya bisa mengangguk.

Anda bebas memilih bagaimana Anda akan `tidur` ber­sama isteri pertama. Di tengah-tengah keterbatasan saya sebagai manusia, di tengah-tengah kritik orang tentang kekurangan saya, selalu saya usahakan untuk berbicara de­ngan sang jiwa. Tulisan ini pun, sebenarnya hanya pem­bicaraan saya bersama sang jiwa. Kebetulan Anda ada di sini, dan ikut mendengarkannya. Sebagaimana pendengar di kesempatan lain, hanya Andalah yang bisa memutuskan, dengan isteri mana Anda akan tidur.

*Penulis: Gede Prama, Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Telinga yang Mendengar

"Sesungguhnya, aku menusukkan tongkatku ini ke lubang telinga mereka, tujuannya adalah untuk mengetahui kepala tengkorak yang mana ketika hidupnya menjadi ahli ilmu dan mana yang bukan"

Hasan Al-Bashri adalah salah seorang tokoh sufi yang lahir di Madinah dan besar di Bashrah. Ia bersahabat dengan banyak sahabat Rasulullah Saw. Di antaranya adalah Zaid bin Tsabit, juru tulis Rasulullah Saw. Sebagai seorang generasi tabi’in, Hasan Al- Bashri termasuk salah seorang yang dijuluki sebagai wali terbesar pada masanya.

Suatu ketika Hasan Al-Bashri mengisahkan sebuah pengalamannya yang cakup unik. Pada suatu hari, kisahnya, ia sedang berjalan-jalan. Pada saat itu, ia melintasi sebuah kuburan. Awainya, perjalanan itu biasa-biasa saja. Namun, ketika tatapannya mengarah ke sebuah kuburan, ia tertarik dengan sesuatu pemandangan yang luar biasa alias tidak wajar.

Hasan Al-Bashri segera menghentikan langkah kakinya dan membelokkan arah untuk masuk ke kawasan kuburan tersebut. Dari kejauhan, tampak olehnya seorang lelaki pirang tengah sibuk melakukan sesuatu di tanah pekuburan tersebut. Setelah mendekat beberapa langkah, Hasan Al-Bashri semakin terperangah melihat ulah lelaki pirang itu.

Lelaki pirang tersebut tengah asyik membongkar beberapa kuburan. Tampaknya, ia sedang melakukan sebuah penelitian. Ada beberapa kepala tengkorak manusia yang sudah ditemukannya dan dijejerkan di dekatnya. Satu per satu dari tengkorak itu diperhati­kan oleh lelaki tersebut. Namun, ada satu sikapnya yang cukup aneh di mata Hasan Al-Bashri. Yakni, ia menusukkan sebuah tongkat ke setiap lubang telinga para tengkorak tersebut.

Melihat tingkah aneh lelaki pirang itu, Hasan Al-Bashri mendekatinya. Tanpa mampu menyimpan rasa penasarannya lebih lama lagi, Hasan Al-Bashri langsung bertanya kepada lelaki pirang itu.

"Apakah yang tengah engkau lakukan? Aku melihat engkau menusukkan tongkatmu ke lubang telinga tiap-tiap kepala tengkorak itu, ada apa?" tanya Hasan Al-Bashri.

"Aku memang tengah membongkar beberapa kuburan. Apabila di antara mereka ada yang menjadi ahli ilmu selama hidupnya, maka aku menghormatinya dan ingin memperlaku­kannya dengan cara terhormat. Namun, jika sebaliknya, aku tak segan-segan untuk membuangnya begitu saja," ujar lelaki itu dengan santainya.

Kemudian ia melanjutkan. "Sesungguhnya, aku menusukkan tongkatku ini ke lubang telinga mereka, tujuannya adalah untuk mengetahui kepala tengkorak yang mana ketika hidupnya menjadi ahli ilmu, dan mana yang bukan."

"Apabila tongkatku ini mampu menembus kepala tengkorak ini dari lubang telinga yang satu ke lubang telinga yang lainnya, maka aku membuangnya begitu saja. Begitu pula jika tongkatku ini tak mampu menembus salah satu dari lubang telinganya, juga aku buang saja tengkoraknya itu," ujar lelaki tersebut tanpa merasa bersalah sama sekali.

"Mengapa demikian?" tanya Hasan Al-Bashri. "Sebab, mereka adalah kepala tengkorak dari orang-orang yang tak mau mendengarkan ilmu atau nasihat yang benar. Selama hidupnya, mereka justru cenderung menyibukkan diri untuk memenuhi kesenangan hawa nafsunya saja. Sehingga, ketika mereka mendengarkan ilmu atau nasihat yang baik, mereka hanya menjadikan telinga mereka sebagai tempat lalu lalangnya ilmu atau nasihat itu. Sama sekali tak menempel di benak mereka. Telinga seperti itu, sama saja seperti tak mendengarkan ilmu atau nashihat al-haqq yang disampaikan kepada mereka " jelas lelaki itu panjang lebar.

"Lalu, bagaimanakah cirinya telinga yang mau mendengar itu?" kembali Hasan Al-Bashri bertanya kepada lelaki pirang itu. Lelaki itu kemudian berkata: "Telinga yang mendengar itu dapat kuketahui manakala kutusukkan tongkatku ini lewat lubang telinga dari tengkorak ini, maka tongkatku akan menembusnya dan menancap tepat di bagian otaknya. Berarti, ketika mereka hidup dulu mau mendengarkan ilmu dan nashihat al-haqq (nasihat tentang kebenaran) yang disampaikan kepada mereka," ujar lelaki tersebut.

"Oleh karena itulah," lanjut lelaki pirang itu, "aku memperlakukan tengkorak dari telinga yang mendengar itu dengan cara terhormat. Aku tak segan-segan menciumnya dengan penuh rasa penghargaan dan menanamnya kembali dengan baik."

Hasan Al-Bashri terpana mendengar penjelasan lelaki yang meneliti kepala tengkorak manusia itu. Alangkah besarnya penghargaan Allah kepada manusia yang berilmu dan mau mengamalkan ilmunya, atau orang yang mau mendengarkan nasihat yang baik dan mempraktikkannya. Sehingga, ketika manusia itu sudah menjadi tengkorak sekalipun, Allah masih memberikan tanda kepadanya.

Subhanallah, Mahasuci Allah Yang Maha Mendengar dan menganugerahkan pendengaran kepada manusia agar dapat mendengar ilmu dan nasihat-nasihat yang baik. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang menggunakan telinga untuk mendengarkan ilmu dan nasihat guna diamalkan dalam kehidupan di muka bumi ini. Amin.

Disadur dari buku Mutiara Hikmah, Kisah Para Kekasih Allah, karya Ummi Alhan Ramadhan Mazayasyah, Penerbit Darul Hikmah

11/05/12

Beri Aku Waktu Sedikit Lagi

Kita tidak perlu menunggu hasil jajak pendapat mutakhir untuk mengetahui bahwa yang paling dibutuhkan orangtua adalah waktu yang lebih banyak. Kita berusaha mengatur waktu kita yang sangat berharga, tetapi kita justru Iebih sering merasa bahwa waktulah yang mengendalikan kita—membuat kita frustrasi, mudah marah, jengkel, cemas,dan tertekan.

Saya pernah mengamati seorang ibu yang kelelahan menjemput putrinya dari taman kanak-kanak. Dia menangkap tangan gadis kecil itu dan menariknya menuju mobilnya yang sudah menunggu, dan cepat-cepat melepaskan tangannya pada saat si tubuh anak belum seimbang. Gadis itu berjuang untuk tegak di belakang ibunya, sambil berteriak-teriak menceritakan pengalamannya hari itu. Ibunya tidak menengok sama sekali.

Seberapa sering kita memburu-buru diri kita sendiri atau anak-anak kita, tanpa menyadari akibat buruknya? Tentu saja kita bisa bersabar jika punya waktu, menawarkan bantuan jika tidak merasa tertekan, dan menjalin komunikasi yang mendalam jika tidak terburu-buru.

Putri saya, Elizabeth, sedang membuat kolase untuk sekolahnya yang tujuannya adalah mengemukakan aspek-aspek tentang siapa dia sebenarnya. Dalam huruf tebal dia menulis kata WAKTU. Saya kaget bahwa masalah waktu ternyata begitu melekat dalam kesadaran anak sekecil itu. Saya jadi mencermati sikap saya yang selalu ingin tepat waktu, bagaimana saya menanggapi keterlambatan orang lain, waktu yang tersedia untuk menyelesaikan tugas, waktu tidur, waktu diam. Apakah saya terlalu sadar waktu atau sekadar ikut mengalir di dunia tempat saya hidup?

Saya berusaha mengubah sikap saya, tidak lagi menganggap waktu sebagai sesuatu yang harus diatur, dan mencoba berdamai dengannya. Saya sadar bahwa mengatur waktu berarti mengatur diri sendiri, bukan waktu itu sendiri. Rasanya lega ketika akhirnya saya bisa berkata kepada anak-anak saya, "Dunia tidak akan kiamat meskipun kita terlambat.”


Disadur dari buku SQ untuk Ibu, Penulis: Mimi Doe, Penerbit KAIFA

Tiga Macam Manusia

Kafir Mukmin Dan Munafik

DITINJAU dari segi keimanan, manusia dibagi menjadi tiga, yaitu kafir, mukmin, dan munafik.

Al-Qur`an menegaskan bahwa sesungguhnya Allah SWT telah menunjukkan jalan iman kepada semua manusia.

"Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur (kafir)." (QS. 76/Al-Insan: 3)
.

"Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)Nya, maka Dia (Allah) mengilhamkan kepadanya(jalan) kejahatan dan ketakwaannya`." (QS. 91 /Asy-Syams: 7-8)


 Akan tetapi hanya sebagian kecil saja yang beriman. ``Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman, walaupun engkau sangat menginginkannya." (QS. 12/Yusuf 103)

Nabi Muhammad Rosulullah saw. bersabda, "lngatlah, sesung­guhnya anak Adam (umat manusia) diciptakan dari berbagai macam lapisan. Di antara mereka ada yang dilahirkan sebagai orang mukmin, hidup sebagai orang mukmin, dan mati dalam keadaan beriman."

Ada pula yang dilahirkan dalam keadaan kafir, hidup sebagai orang kafir, dan matipun dalam keadaan kafir. Juga ada yang dilahirkan sebagai orang mukmin, lalu hidup sebagai orang mukmin, tetapi mati dalam keadaan kafir.

Sebaliknya ada yang lahir dalam keadaan kafir, dan hidup sebagai orang kafir, tetapi ia mati dalam keadaan beriman. (HR. Tirmidzi dari Abu Sa`id Al-Khudri ra., dengan sanad sahih).

Agar hati kita tetap dalam ketaatan kepada Allah SWT, alangkah baiknya jika kita amalkan doa yang diajarkan dalam sebuah hadits. Muhammad Rosulullah saw. bersabda, "Wahai Dzat yang memalingkan hati, teguhkanlah hati kami pada agama-Mu. Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami dalam ketaatan kepada-Mu". (HR. Tirmidzi, dan Hakim)

Cari Blog Ini

Halaman

Popular Posts

Advertisement

Responsive Advertisement