23/11/12

Mengapa emas diharamkan bagi pria?



Satu lagi, "Bukti Keilmiahan Hukum2 Islam dan Sunnah2 Nabi Kita Shalallahu Alaihi Wasalaam"Perlu diketahui hukum logam mulia atau EMAS yaitu:“Dari Abu Musa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‘Emas dan sutra dihalalkan bagi para wanita dari ummatku, namundiharamkan bagi para
pria’.” (HR. An Nasai dan Ahmad).

Syaikh Dr. Shalih Al Fauzan berkata, “Lelaki diharamkan memakai cincin emas. Sedangkan cincin perak, atau logam semacamnya,walaupun sama-sama logam mulia, hukumnya boleh memakainya karena yang diharamkan adalah emas. Dan tidak boleh pula memakai cincin dari campuran emas, tidak boleh memakai kacamata, pena, jam tangan yang ada campuran emas-nya.Intinya, lelaki tidak diperbolehkan berhias dengan emas secara mutlak.” (Muntaqa Fatawa Al Fauzan)


”Barangsiapa dari umatku mengenakan emas kemudian dia mati masih dalam keadaan mengenakannya maka Allah mengharamkan baginya emas di surga.Dan barangsiapa Dari umatku yang mengenakan sutera kemudian dia mati masih dalam keadaan mengenakannya maka Allah mengharamkan baginya sutera di surga.” (HR. Ahmad)

Kalau ditanya apa alasannya atau apa logikanya laki2 tidak boleh memakai emas???
banyak yang menjawab ...kalau laki2 diperbolehkan memakai emas bisa2 wanita tidak kebagian. Atau ada juga jawaban ..nanti tidak bisa membedakan mana laki2 mana perempuan karena sama2 memakai emas.

Sebenarnya jawabannya tidak seperti itu......
Inilah tinjauan ilmiah atau analisa medisnya...Para ahli fisika telah menyimpulkan bahwa atom pada emas mampu menembus ke dalam kulit dan masuk ke dalam darah manusia, dan jika kita (para pria) mengenakan
emas dalam jumlah tertentu dan dalam jangka waktu yang lama, maka dampak yang ditimbulkan yaitu di dalam darah dan urine akan mengandung atom emas dalam
prosentase yang melebihi batas (peristiwa ini juga dikenal dengan sebutan "migrasi emas") Dan apabila hal ini terjadi, maka akan mengakibatkan penyakit

Alzheimer, Zheimer adalah suatu penyakit di mana orang tersebut kehilangan semua kemampuan mental & fisik serta menyebabkan kembali seperti anak kecil. Zheimer bukan penuaan normal, tetapi merupakan penuaan paksaan atau terpaksa. Dan mengapa islam membolehkan wanita untuk mengenakan emas? Karena perlu dicatat bahwa wanita tidak menderita masalah ini karena setiap bulan, partikel berbahaya tersebut keluar dari tubuh wanita melalui haid (datang
bulan).

Source: Naim MyLieq Dya CLma'y

Ulasan Beberapa Alasan Rasulullah Sangat Menyayangi Kucing

Didalam perkembangan peradaban Islam, kucing hadir sebagai teman sejati dalam setiap nafas dan gerak geliat perkembangan Islam.

Diceritakan dalam suatu kisah, Nabi Muhammad SAW memiliki seekor kucing yang diberi nama Mueeza. Suatu saat, dikala Nabi hendak mengambil jubahnya, di temuinya Mueeza sedang terlelap tidur dengan santai diatas jubahnya. Tak ingin mengganggu hewan kesayangannya itu, Nabi pun memotong belahan lengan yang ditiduriMueeza dari jubahnya.

 Ketika Nabi kembali ke rumah, Muezza terbangun dan merunduk sujud kepada majikannya. Sebagai balasan, Nabi menyatakan kasih sayangnya dengan mengelus lembut ke badan mungil kucing itu sebanyak 3 kali.

Dalam aktivitas lain, setiap kali Nabi menerima tamu di rumahnya, nabi selalu menggendong mueeza dan di taruh dipahanya. Salah satu sifat Mueeza yang Nabi sukai ialah ia selalu mengeong ketika mendengar adzan, dan seolah-olah suaranya terdengar seperti mengikuti lantunan suara adzan.

Kepada para sahabatnya, Nabi berpesan untuk menyayangi kucing peliharaan, layaknya menyanyangi keluarga sendiri.

Hukuman bagi mereka yang menyakiti hewan lucu ini sangatlah serius, dalam sebuah hadist shahih Al Bukhari, dikisahkan tentang seorang wanita yang tidak pernah memberi makan kucingnya, dan tidak pula melepas kucingnya untuk mencari makan sendiri, Nabi Muhammad SAW pun menjelaskan bahwa hukuman bagi wanita ini adalah siksa neraka.

Dari Ibnu Umar ra bahwa rasulullah saw bersabda,

”Seorang wanita dimasukkan kedalam neraka karena seekor kucing yang dia ikat dan tidak diberikan makan bahkan tidak diperkenankan makan binatang-binatang kecil yang ada dilantai.” (HR. Bukhari)

Nabi menekankan di beberapa hadis bahwa kucing itu tidak najis. Bahkan diperbolehkan untuk berwudhu menggunakan air bekas minum kucing karena dianggap suci.

Kenapa Rasulullah Saw yang buta baca-tulis, berani mengatakan bahwa kucing suci, tidak najis? Lalu, bagaimana Nabi mengetahui kalau pada badan kucing tidak terdapat najis?

Keistimewaan dari Kucing

Fakta Ilmiah 1 :

Pada kulit kucing terdapat otot yang berfungsi untuk menolak telur bakteri. Otot kucing itu juga dapat menyesuaikan dengan sentuhan otot manusia.

Permukaan lidah kucing tertutupi oleh berbagai benjolan kecil yang runcing, benjolan ini bengkok mengerucut seperti kikir atau gergaji. Bentuk ini sangat berguna untuk membersihkan kulit. Ketika kucing minum, tidak ada setetes pun cairan yang jatuh dari lidahnya.

 Sedangkan lidah kucing sendiri merupakan alat pembersih yang paling canggih, permukaannya yang kasar bisa membuang bulu-bulu mati dan membersihkan bulu-bulu yang tersisa di badannya.

Fakta Ilmiah 2 :

Telah dilakukan berbagai penelitian terhadap kucing dan berbagai perbedaan usia, perbedaan posisi kulit, punggung, bagian dalam telapak kaki, pelindung mulut, dan ekor.

Pada bagian-bagian tersebut dilakukan pengambilan sample dengan usapan. Di samping itu, dilakukan juga penanaman kuman pada bagian-bagian khusus. Terus diambil juga cairan khusus yang ada pada dinding dalam mulut dan lidahnya.

Hasil yang didapatkan adalah:
Hasil yang diambil dari kulit luar tenyata negatif berkuman, meskipun dilakukan berulang-ulang.
Perbandingan yang ditanamkan kuman memberikan hasil negatif sekitar 80% jika dilihat dari cairan yang diambil dari dinding mulut.

Cairan yang diambil dari permukaan lidah juga memberikan hasil negatif berkuman. Sekalinya ada kuman yang ditemukan saat proses penelitian, kuman itu masuk kelompok kuman yang dianggap sebagai kuman biasa yang berkembang pada tubuh manusia dalam jumlah yang terbatas seperti, enterobacter, streptococcus, dan taphylococcus. Jumlahnya kurang dan 50 ribu pertumbuhan.
Tidak ditemukan kelompok kuman yang beragam.

Berbagai sumber yang dapat dipercaya dan hasil penelitian laboratorium menyimpulkan bahwa kucing tidak memiliki kuman dan mikroba. Liurnya bersih dan membersihkan.

Percaya Atau Gak percaya yayaya...


15/11/12

Kebersamaan di Tahun Baru ISLAM - 16 Muharram 1434

Assalamu'alaikum yaa Shahibaini Fillah,

Bismillahirrohmaanirrohiim

Sedikit Berbagi kepada Shahibaini Fillah, Namun Panjang yang Insya Alloh sangat Bermanfaat bagi Kita semua.

- Sesuatu yang membuat Manusia Takut, Malu, Tunduk untuk Setia Mengabdi dan MelayaniNya, dengan mempersatukan Kasih beserta Kekuatan yang Haq.

"HukumNya di Canangkan dalam HATI dan di Tuliskan dalam PIKIRAN."
(dikutip video Kisah Nabi Musa, a.s Pembelaan, Pembebasan Kaum Ibrani & Perlawanan sengit Ucap Kutukan dengan Fir'aun)

- Seperti halnya sosok ISTRI yang sederhana, tidak mengutamakan Kekayaan dan Macam keinginan untuk Dunia (Bermegah-megahan...).

"Aku tak butuh apa-apa, aku hanya diperintah untuk Melayanimu dan Mengabdi padamu (dari istri untuk suami), begitu juga Pelayananku kepadamu adalah sumber kepuasan bersama untuk meraih 'abdil jannah"

 "Cinta itu bukan SENI tapi KEHIDUPAN"

yang paling PENTING dan paling UTAMA ialah SAMARABA
SA kinah
MA waddah, wa
RA hmah, wa
BA rokah

(dikutip dari Mp3 Ceramah Kyai Tuban dengan Kajian Makna Syair Lir ilir ciptakarya Sunan Giri)

Sungguh aku/kami/mereka (MakhlukMU) telah menodai hati dan bathin saudara-saudariku (MakhlukMU) dari hal yang sangat Engkau Murkai, padahal segala sesuatu dapat dengan mudah dicapai dengan Do'a, Usaha, Iman, Taqwa, Tanda HALAL dan RidhoMu Yaa Allohu Jalla Jallaluh,

Ampuni aku/kami/mereka (MakhlukMU) Yaa Allohu Jalla Jallaluh,
Pertimbangkanlah Hukuman untuk aku/kami/mereka yang telah abai terhadap segala macam yang sangat Engkau Murkai,
Bimbinglah aku/kami/mereka menuju tempat yang Jamiil wa 'abdan,


Hidup itu tantangan - temuilah
Hidup itu berkah - terimalah
Hidup itu petualangan - tantangilah
Hidup itu penderitaan - atasilah
Hidup itu tragedi - hadapilah
Hidup itu kewajiban - jalankanlah
Hidup itu permainan - mainkanlah
Hidup itu misteri - ungkapkanlah
Hidup itu nyanyian - nyanyikanlah
Hidup itu kesempatan - ambillah
Hidup itu perjalanan - selesaikanlah

Apapun jalan hidup kita, kita harus terus dijalani kehidupan ini jangan sampai ada yang namanya PUTUS ASA.

(dikutip dari SudahTahukahAnda di Update Status Sahabat SMA Windowsbie7)

Untuk Saudaraku yang Sholih dan Saudariku yang Sholihah,
Mari RAWAT kembali Jaringan Speedy Sehat untuk saling Silaturrahmi,
Mari GUNAKAN CCleaner untuk menghapus History, File Temporary dan REGISTRY pada sitem OTAK kita,
Mari INSTALL ULANG System Operasi Fikir kita dengan semangat meraih Gelar manusia yang mendapat SERTIFIKAT ISO berupa MATI secara KHUSNUL KHOTIMAH.


Special STATUS Menyambut Tahun Baru ISLAM meskipun masih jauh pada:
:: 11 Januari 2013 (NASIONAL)
:: 28 Safar 1434 (Kalender ISLAMIYYAH)
:: bersamaan dengan Hari/Dinten Sedone Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan Wafatnya Imam Hasan bin Ali

Sumber dari Situs Nurmadinah

Salam Ahmad Fauzan Ibnu Zaend
Salam Berbagi Ilmu
Salam Aku Hanya Manusia Biasa
Salam Jendela Hati Kita
Salam Windowsbie7
Salam Kompak Selalu Ukhuwah ISLAMI Dalam dan Luar Negeri

05/11/12

Aqidah Malam 1 Suro Seluruh Dunia


Bertemu lagi di Link Dahulu tentang Dibalik Meriahnya Malam 1 Suro
Sekarang kita telah memasuki bulan Suro. Nama ini begitu populer di kalangan orang Jawa, meskipun tak menutup kemungkinan banyak penduduk Indonesia lainnya yang mengenalnya. Bulan yang dinamakan Suro ini, tak lain adalah bulan Muharram menurut kalender Islam. Terlebih dahulu marilah kita melihat, bagaimanakah penilaian Islam mengenai bulan Suro (bulan Muharram). Semoga Allah memudahkan urusan ini.

Islam Menilai Bulan Suro Termasuk Bulan Haram
Dalam agama ini, bulan Muharram atau bulan Suro, merupakan salah satu di antara empat bulan yang dinamakan bulan haram. Lihatlah firman Allah Ta’ala berikut.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ
أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan suci. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah [9] : 36)

Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Hal ini dijelaskan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

« …السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ »
“… satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan suci. Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3025)

Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah
(1) Dzulqo’dah;
(2) Dzulhijjah;
(3) Muharram;
(4) Rojab.


Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram ? Berikut penjelasan ulama mengenai hal ini.
Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, “Dinamakan bulan haram karena dua makna.
Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian. Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula sangat diagungkan jika dilakukan pada bulan haram ini.” (Lihat Zadul Maysir, Ibnul Jauziy, tafsir surat At Taubah ayat 36)

Islam Menyebut Bulan Muharram sebagai Syahrullah (Bulan Allah)
Suri tauladan dan panutan kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”
(HR. Muslim no. 2812)

Sangat mulianya bulan Muharram ini. Bulan ini betul istimewa karena disebut syahrullah yaitu bulan Allah, dengan disandarkan pada lafazh jalalah Allah. Karena disandarkannya bulan ini pada lafazh jalalah Allah, inilah yang menunjukkan keagungan dan keistimewaannya. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 1/475)
Perkataan yang sangat bagus dari As Zamakhsyari, kami nukil dari Faidhul Qodir (2/53), beliau rahimahullah mengatakan, “Bulan Muharram ini disebut syahrullah (bulan Allah), disandarkan pada lafazh jalalah ‘Allah’ untuk menunjukkan mulia dan agungnya bulan tersebut, sebagaimana pula kita menyebut ‘Baitullah‘ (rumah Allah) atau ‘Alullah‘ (keluarga Allah) ketika menyebut Quraisy.

Penyandaran yang khusus di sini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini menunjukkan adanya keutamaan pada bulan tersebut. Bulan Muharram inilah yang menggunakan nama Islami. Nama bulan ini sebelumnya adalah Shofar Al Awwal. Bulan lainnya masih menggunakan nama Jahiliyah, sedangkan bulan inilah yang memakai nama islami dan disebut Muharram. Bulan ini adalah seutama-utamanya bulan untuk berpuasa penuh setelah bulan Ramadhan. Adapun melakukan puasa tathowwu’ (puasa sunnah) pada sebagian bulan, maka itu masih lebih utama daripada melakukan puasa sunnah pada sebagian hari seperti pada hari Arofah dan 10 Dzulhijah. Inilah yang disebutkan oleh Ibnu Rojab. Bulan Muharram memiliki keistimewaan demikian karena bulan ini adalah bulan pertama dalam setahun dan pembuka tahun.”

Al Hafizh Abul Fadhl Al ‘Iroqiy mengatakan dalam Syarh Tirmidzi, “Apa hikmah bulan Muharram disebut dengan syahrullah (bulan Allah), padahal semua bulan adalah milik Allah?” Beliau rahimahullah menjawab, “Disebut demikian karena di bulan Muharram ini diharamkan pembunuhan. Juga bulan Muharram adalah bulan pertama dalam setahun. Bulan ini disandarkan pada Allah (sehingga disebut syahrullah atau bulan Allah, pen) adalah untuk menunjukkan istimewanya bulan ini. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak pernah menyandarkan bulan lain pada Allah Ta’ala kecuali bulan Allah – Muharram. (Dinukil dari Syarh Suyuthi li Sunan An Nasa’i, 3/206)

Dengan melihat penjelasan Az Zamakhsyari dan Abul Fadhl Al ‘Iroqiy di atas, jelaslah bahwa bulan Muharram adalah bulan yang sangat utama dan istimewa. Selanjutnya kita melihat berbagai anggapan masyarakat mengenai bulan Muharram (bulan Suro).

Anggapan Masyarakat Mengenai Bulan Suro
Bulan suro adalah bulan penuh musibah, penuh bencana, penuh kesialan, bulan keramat dan sangat sakral. Itulah berbagai tanggapan masyarakat mengenai bulan Suro atau bulan Muharram. Sehingga kita akan melihat berbagai ritual untuk menghindari kesialan, bencana, musibah dilakukan oleh mereka. Di antaranya adalah acara ruwatan, yang berarti pembersihan. Mereka yang diruwat diyakini akan terbebas dari sukerta atau kekotoran. Ada beberapa kriteria bagi mereka yang wajib diruwat, antara lain ontang-anting (putra/putri tunggal), kedono-kedini (sepasang putra-putri), sendang kapit pancuran (satu putra diapit dua putri). Mereka yang lahir seperti ini menjadi mangsa empuk Bhatara Kala, simbol kejahatan.

Karena kesialan bulan Suro ini pula, sampai-sampai sebagian orang tua menasehati anaknya seperti ini: “Nak, hati-hati di bulan ini. Jangan sering kebut-kebutan, nanti bisa celaka. Ini bulan suro lho.”
Karena bulan ini adalah bulan sial, sebagian orang tidak mau melakukan hajatan nikah, dsb. Jika melakukan hajatan pada bulan ini bisa mendapatkan berbagai musibah, acara pernikahannya tidak lancar, mengakibatkan keluarga tidak harmonis, dsb. Itulah berbagai anggapan masyarakat mengenai bulan Suro dan kesialan di dalamnya.

Ketahuilah saudaraku bahwa sikap-sikap di atas tidaklah keluar dari dua hal yaitu mencela waktu dan beranggapan sial dengan waktu tertentu. Karena ingatlah bahwa mengatakan satu waktu atau bulan tertentu adalah bulan penuh musibah dan penuh kesialan, itu sama saja dengan mencela waktu. Saatnya kita melihat penilaian agama Islam mengenai dua hal ini.

Mencela Waktu atau Bulan

Perlu kita ketahui bersama bahwa mencela waktu adalah kebiasaan orang-orang musyrik. Mereka menyatakan bahwa yang membinasakan dan mencelakakan mereka adalah waktu. Allah pun mencela perbuatan mereka ini. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ
“Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa (waktu)’, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al Jatsiyah [45] : 24)

Jadi, mencela waktu adalah sesuatu yang tidak disenangi oleh Allah. Itulah kebiasan orang musyrik dan hal ini berarti kebiasaan yang jelek.

Begitu juga dalam berbagai hadits disebutkan mengenai larangan mencela waktu. Dalam shohih Muslim, dibawakan Bab dengan judul ‘larangan mencela waktu (ad-dahr)’. Di antaranya terdapat hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ
“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Muslim no. 6000)

Dalam lafadz yang lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَقُولُ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ. فَلاَ يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ. فَإِنِّى أَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ لَيْلَهُ وَنَهَارَهُ فَإِذَا شِئْتُ قَبَضْتُهُمَا
“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mengatakan ‘Ya khoybah dahr’ [ungkapan mencela waktu, pen]. Janganlah seseorang di antara kalian mengatakan ‘Ya khoybah dahr’ (dalam rangka mencela waktu, pen). Karena Aku adalah (pengatur) waktu. Aku-lah yang membalikkan malam dan siang. Jika suka, Aku akan menggenggam keduanya.” (HR. Muslim no. 6001)

An Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shohih Muslim (7/419) mengatakan bahwa orang Arab dahulu biasanya mencela masa (waktu) ketika tertimpa berbagai macam musibah seperti kematian, kepikunan, hilang (rusak)-nya harta dan lain sebagainya sehingga mereka mengucapkan ‘Ya khoybah dahr’ (ungkapan mencela waktu, pen) dan ucapan celaan lainnya yang ditujukan kepada waktu.

Setelah dikuatkan dengan berbagai dalil di atas, jelaslah bahwa mencela waktu adalah sesuatu yang telarang. Kenapa demikian? Karena Allah sendiri mengatakan bahwa Dia-lah yang mengatur siang dan malam. Apabila seseorang mencela waktu dengan menyatakan bahwa bulan ini adalah bulan sial atau bulan ini selalu membuat celaka, maka sama saja dia mencela Pengatur Waktu, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla.

Perlu diketahui bahwa mencela waktu bisa membuat kita terjerumus dalam dosa bahkan bisa membuat kita terjerumus dalam syirik akbar (syirik yang mengekuarka pelakunya dari Islam). Perhatikanlah rincian Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah dalam Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid berikut.

Mencela waktu itu terbagi menjadi tiga macam:

Pertama; jika dimaksudkan hanya sekedar berita dan bukanlah celaan, kasus semacam ini diperbolehkan. Misalnya ucapan, “Kita sangat kelelahan karena hari ini sangat panas” atau semacamnya. Hal ini diperbolehkan karena setiap amalan tergantung pada niatnya. Hal ini juga dapat dilihat pada perkataan Nabi Luth ‘alaihis salam,

هَـذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ
“Ini adalah hari yang amat sulit.” (QS. Hud [11] : 77)

Kedua; jika menganggap bahwa waktulah pelaku yaitu yang membolak-balikkan perkara menjadi baik dan buruk, maka ini bisa termasuk syirik akbar. Karena hal ini berarti kita meyakini bahwa ada pencipta bersama Allah yaitu kita menyandarkan berbagai kejadian pada selain Allah. Barangsiapa meyakini ada pencipta selain Allah maka dia kafir. Sebagaimana seseorang meyakini bahwa ada sesembahan selain Allah, maka dia juga kafir.

Ketiga; jika mencela waktu karena waktu adalah tempat terjadinya perkara yang dibenci, maka ini adalah haram dan tidak sampai derajat syirik. Tindakan semacam ini termasuk tindakan bodoh (alias ‘dungu’) yang menunjukkan kurangnya akal dan agama. Hakikat mencela waktu, sama saja dengan mencela Allah karena Dia-lah yang mengatur waktu, di waktu tersebut Dia menghendaki adanya kebaikan maupun kejelekan. Maka waktu bukanlah pelaku. Tindakan mencela waktu semacam ini bukanlah bentuk kekafiran karena orang yang melakukannya tidaklah mencela Allah secara langsung. –Demikianlah rincian dari beliau rahimahullah yang sengaja kami ringkas-

Maka perhatikanlah saudaraku, mengatakan bahwa waktu tertentu atau bulan tertentu adalah bulan sial atau bulan celaka atau bulan penuh bala bencana, ini sama saja dengan mencela waktu dan ini adalah sesuatu yang terlarang. Mencela waktu bisa jadi haram, bahkan bisa termasuk perbuatan syirik. Hati-hatilah dengan melakukan perbuatan semacam ini. Oleh karena itu, jagalah selalu lisan ini dari banyak mencela. Jagalah hati yang selalu merasa gusar dan tidak tenang ketika bertemu dengan satu waktu atau bulan yang kita anggap membawa malapetaka. Ingatlah di sisi kita selalu ada malaikat yang akan mengawasi tindak-tanduk kita.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (16) إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17)
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan para malaikat Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.” (QS. Qaaf [50] : 16-17)

-bersambung insya Allah-

===========================
Bulan SURO identik dengan hal-hal berbau mistis dan religi.Suro adalah Mukharam dalam penanggalan jawa, sehingga dikaitkan pada kepercayaan masyarakat atau mitos bahwa dalam bulan tersebut tidak boleh berkata atau berperilaku sembrono, sebab akan mendatangkan bala atau yang disebut dengan bencana dadakan pada diri orang yang mengabaikan mitos tersebut.

materi referensi:
Artikel dan Mitos masyarakat

===========================
Malam awal tanggal 1 Suro merupakan perpaduan makna Mistik dari ajaran Islam dengan ajaran Jawa kuno.

Dalam hal ini, masyrakat Jawa menyakini bahwa pada malam 1 Suro semua Roh - Roh nenek moyang mereka yang sholeh datang kepada negeri mereka untuk menyampaikan amanat - amanat yang baru pada daerah tersebut. Mereka juga menyakini bahwa pada malam 1 Suro itu menjadi puncak penyampaian hajad-hajad mereka terhadap Allah s.w.t, karena pada malam itu banyak sekali malaikat pembawa Rahmat yang turun kedunia. Dan mereka juga berpendapat bahwa pada malam 1 Suro, merupakan malam yang sangat tepat untuk mensucikan benda-benda pusaka dan diri mereka sendiri.

Oleh sebab itu jangan heran jika pada malam 1 Suro orang jawa pada memandikan benda-benda pusaka mereka.

Namun oleh sebagian besar ulama agama Islam, istiadat ritual malam 1 Suro masyarakat jawa ini sangat tidak sesuai dengan akidah dan ajaran syari'at Islam. Jadi semuanya sekarang tergantung kenyakinan masing-masing.

==========================
Slide Share with Bangbie Afiz
==========================
:: Artikel ini Disusun dan Dirangkum dari berbagai Sumber;
=> Dunia Internet,
=> Masyarakat, dan
=> Catatan Lama.




Bersin dan Menguap


Rasulullah bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (( إن الله يحب العطاس ويكره التثاؤب، فإذا عطس فحمد الله فحق على كل مسلم سمعه أن يشمته، وأما التثاؤب فإنما هو من الشيطان فليرده ما استطاع، فإذا قال: ها، ضحك منه الشيطان )) صحيح البخاري في الأدب 6223

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ta'alaa anhu, Rasulullah bersabda, "Sungguh Allah mencintai orang yang bersin dan membenci orang yang menguap, maka jika kalian bersin maka pujilah Allah, maka setiap orang yang mendengar pujian itu untuk menjawabnya; adapun menguap, maka itu dari syaitan, maka lawanlah itu sekuat tenagamu. Dan apabil seseorang menguap dan terdengar bunyi: Aaaa, maka syaitan pun tertawa karenanya". Shahih Bukhari, 6223.

Imam Ibn Hajar berkata, "Imam Al-Khathabi mengatakan bahwa makna cinta dan benci pada hadits di atas dikembalikan kepada sebab yang termaktub dalam hadits itu. Yaitu bahwa bersin terjadi karena badan yang kering dan pori-pori kulit terbuka, dan tidak tercapainya rasa kenyang. Ini berbeda dengan orang yang menguap. Menguap terjadi karena badan yang kekenyangan, dan badan terasa berat untuk beraktivitas, hal ini karena banyaknya makan . Bersin bisa menggerakkan orang untuk bisa beribadah, sedangkan menguap menjadikan orang itu malas (Fath-hul Baari: 10/6077)
Nabi menjelaskan bagaimana seseorang yang mendengar orang yang bersin dan memuji Allah agar membalas pujian tersebut.
Rasulullah bersabda:


(( إذا عطس أحدكم فليقل الحمد لله، وليقل له أخوه أو صاحبه: يرحمك الله، فإذا قال له يرحمك الله فليقل: يهديكم الله ويصلح بالكم )) صحيح البخاري في الأدب: 6224

Apabila salah seorang diantara kalian bersin, maka ucapkanlah Al-Hamdulillah, dan hendaklah orang yang mendengarnya menjawab dengan Yarhamukallahu, dan bila dijawab demikian, maka balaslah dengan ucapan Yahdikumullahu wa Yushlihubaalakum (HR. Bukhari, 6224)
Dan para dokter di zaman sekarang mengatakan, "Menguap adalah gejala yang menunjukkan bahwa otak dan tubuh orang tersebut membutuhkan oksigen dan nutrisi; dan karena organ pernafasan kurang dalam menyuplai oksigen kepada otak dan tubuh. Dan hal ini terjadi ketika kita sedang kantuk atau pusing, lesu, dan orang yang sedang menghadapi kematian. Dan menguap adalah aktivitas menghirup udara dalam-dalam melalui mulut, dan bukan mulut dengan cara biasa menarik nafas dalam-dalam !!! Karena mulut bukanlah organ yang disiapkan untuk menyaring udara seperti hidung. Maka, apabila mulut tetap dalam keadaan terbuka ketika menguap, maka masuk juga berbagai jenis mikroba dan debu, atau kutu bersamaan dengan masuknya udara ke dalam tubuh. Oleh karena itu, datang petunjuk nabawi yang mulia agar kita melawan "menguap" ini sekuat kemampuan kita, atau pun menutup mulut saat menguap dengan tangan kanan atau pun dengan punggung tangan kiri.
Bersin adalah lawan dari menguap yaitu keluarnya udara dengan keras, kuat disertai hentakan melalui dua lubang: hidung dan mulut. Maka akan terkuras dari badan bersamaan dengan bersin ini sejumlah hal seperti debu, haba' (sesuatu yang sangat kecil, di udara, yang hanya terlihat ketika ada sinar matahari), atau kutu, atau mikroba yang terkadang masuk ke dalam organ pernafasan. Oleh karena itu, secara tabiat, bersin datang dari Yang Maha Rahman (Pengasih), sebab padanya terdapat manfaat yang besar bagi tubuh. Dan menguap datang dari syaithan sebab ia mendatangkan bahaya bagi tubuh. Dan atas setiap orang hendaklah memuji Allah Yang Maha Suci Lagi Maha Tinggi ketika dia bersin, dan agar meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk ketika sedang menguap (Lihat Al-Haqa'iq Al-Thabiyah fii Al-Islam: hal 155)

02/11/12

GARUDA INDONESIA: Hentikan Diskriminasi Layanan kepada TKI atau Kami Boikot GARUDA INDONESIA

Faridah Aini adalah Calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang gagal berangkat ke Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) karena ditolak Garuda Indonesia dengan alasan tidak memiliki Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN). Lebih tragis, koper milik Faridah sudah tiba di Dubai dan dikembalikan ke Solo (setelah 4 hari) dalam kondisi rusak, jebol, dan tidak dapat digunakan kembali.

Aneh?, padahal apa wewenang Garuda Indonesia?, apakah Garuda mengurusi KTKLN?, mengapa penerbangan TKI tanpa KTKLN dibatalkan/dicegah?, padahal Maskapai penerbangan, BNP2TKI, atau Pejabat Imigrasi BUKAN pihak yang berwenang untuk mencegah atau membatalkan keberangkatan TKI, sebagaimana diatur dalam Pasal 91 ayat 2 huruf f UU Keimigrasian No.6 tahun 2011 tentang Keimigrasian junto Pasal 100 ayat 2 dan ayat 3 UU No.39 Tahun 2004 Tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri.
Secara hukum, jika tindakan pencegahan yang dilakukan Garuda Indonesia lantaran KTKLN sampai membuat TKI dirugikan dan kehilangan pekerjaaan di luar negeri, maka hal itu adalah bentuk penyalahgunaan kekuasaan (onrechtmatige overheidsdaad) dan bahkan dapat digolongkan sebagai tindak pidana kejahatan jabatan (ambtsmisdrijven) yang melanggar ketentuan Pasal 421 KUHP.
Perlakuan buruk Garuda Indonesia pada TKI tidak hanya dialami Faridah Aini, beberapa TKI yang akan berangkat ke Hong Kong, Taiwan, dan negara penempatan lainnya juga mengalami hal serupa, ditolak Garuda Indonesia karena tanpa KTKLN.
Sekali lagi Garuda Indonesia telah melanggar hukum, karena seperti dijelaskan di UU Keimigrasian, bahwa mereka sama sekali tidak berwenang mencegah atau membatalkan penerbangan TKI tanpa KTKLN. Selain gagal berangkat, terbukti para TKI "diping-pong" Pihak Garuda untuk mengurus KTKLN da TKI juga mendapat pelayanan buruk terkait layanan bagasi.
Cukup sudah pelanggaran hukum yang dilakukan Garuda Indonesia. TKI kembali menjadi korban, gagal berangkat dan bekerja ke luar negeri. Jika pelanggaran ini terus dilakukan oleh Garuda Indonesia, maka melalui petisi ini, ribuan jejaring komunitas TKI di luar negeri, para profesional, dan semua pihak yang peduli pada hak-hak TKI, siap memboikot Garuda Indonesia.

-Salam Perjuangan-

Petition Letter

Hentikan Diskriminasi Layanan kepada TKI atau Kami Boikot GARUDA INDONESIA

Faridah Aini adalah Calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang gagal berangkat ke Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) karena ditolak Garuda Indonesia dengan alasan tidak memiliki Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN). Lebih tragis, koper milik Faridah sudah tiba di Dubai dan dikembalikan ke Solo (setelah 4 hari) dalam kondisi rusak, jebol, dan tidak dapat digunakan kembali.

Aneh?, padahal apa wewenang Garuda Indonesia?, apakah Garuda mengurusi KTKLN?, mengapa penerbangan TKI tanpa KTKLN dibatalkan/dicegah?, padahal Maskapai penerbangan, BNP2TKI, atau Pejabat Imigrasi BUKAN pihak yang berwenang untuk mencegah atau membatalkan keberangkatan TKI, sebagaimana diatur dalam Pasal 91 ayat 2 huruf f UU Keimigrasian No.6 tahun 2011 tentang Keimigrasian junto Pasal 100 ayat 2 dan ayat 3 UU No.39 Tahun 2004 Tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri.

Secara hukum, jika tindakan pencegahan yang dilakukan Garuda Indonesia lantaran KTKLN sampai membuat TKI dirugikan dan kehilangan pekerjaaan di luar negeri, maka hal itu adalah bentuk penyalahgunaan kekuasaan (onrechtmatige overheidsdaad) dan bahkan dapat digolongkan sebagai tindak pidana kejahatan jabatan (ambtsmisdrijven) yang melanggar ketentuan Pasal 421 KUHP.

Perlakuan buruk Garuda Indonesia pada TKI tidak hanya dialami Faridah Aini, beberapa TKI yang akan berangkat ke Hong Kong, Taiwan, dan negara penempatan lainnya juga mengalami hal serupa, ditolak Garuda Indonesia karena tanpa KTKLN.

Sekali lagi Garuda Indonesia telah melanggar hukum, karena seperti dijelaskan di UU Keimigrasian, bahwa mereka sama sekali tidak berwenang mencegah atau membatalkan penerbangan TKI tanpa KTKLN. Selain gagal berangkat, terbukti para TKI "diping-pong" Pihak Garuda untuk mengurus KTKLN da TKI juga mendapat pelayanan buruk terkait layanan bagasi.

Cukup sudah pelanggaran hukum yang dilakukan Garuda Indonesia. TKI kembali menjadi korban, gagal berangkat dan bekerja ke luar negeri. Jika pelanggaran ini terus dilakukan oleh Garuda Indonesia, maka melalui petisi ini, ribuan jejaring komunitas TKI di luar negeri, para profesional, dan semua pihak yang peduli pada hak-hak TKI, siap memboikot Garuda Indonesia.

-Salam Perjuangan-


di Copy Windowsbie7 dari Website C.Petition

01/11/12

Desa "Ronggeng Dukuh Paruh" Disapu Puting Beliung

Sedikitnya 126 rumah di Desa Gerduren, Kecamatan Purwojati, Banyumas, diterjang angin puting beliung. Dua rumah roboh rata dengan tanah. Sisanya, sembilan rumah, rusak berat, dan 117 rumah rusak ringan.
“Siang hari sangat panas, tiba-tiba hujan turun disertai angin kencang,” kata Katum, Kepala Dusun II Gerduren, Selasa, 30 Oktober 2012.

Ia menuturkan, dalam kejadian itu tidak ada korban jiwa. Selain merobohkan sejumlah rumah, angin ribut juga menyebabkan banyak pohon tumbang. Gerduren adalah desa yang dijadikan inspirasi oleh novelis Banyumas, Ahmad Tohari. Sejak dulu hingga sekarang, kesenian rakyat lengger masih lestari di desa itu. Novel Ronggeng Dukuh Paruk merupakan karya Tohari berdasarkan pengamatannya tentang lengger di desa itu.

Salam Suparji, warga Gerduren yang rumahnya roboh, mengatakan angin datang sangat cepat. Ia sempat melarikan diri sesaat sebelum rumahnya roboh. “Rumah saya memang terbuat dari anyaman bambu, sehingga mudah roboh,” katanya.

Ia berharap pemerintah segera membantunya membangun kembali rumahnya. Untuk sementara, ia tinggal di rumah tetangganya sambil menunggu perbaikan.

Koordinator Tagana Rescue Banyumas, Heriyana Adi Chandra, mengatakan saat ini warga beserta muspika setempat dan Tagana Banyumas bergotong-royong untuk membersihkan puing. “Desa ini memang sangat rawan angin puting beliung,” katanya.

Ia mengatakan, kerugian akibat bencana itu diperkirakan Rp 74 juta. "Bencana tersebut tidak menimbulkan korban jiwa, dan tidak ada pohon yang tumbang menimpa rumah," katanya.

Teguh Wardoyo dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Cilacap mengimbau warga di daerah Jawa Tengah bagian selatan untuk mewaspadai potensi angin ribut itu pada awal musim hujan. "Angin puting beliung yang sifatnya lokal biasanya terjadi di tengah-tengah hujan lebat," kata dia.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Jawa Tengah memperkirakan puncak curah hujan terjadi pada Desember hingga Februari mendatang. Menghadapi musim hujan tersebut, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah, Sarwa Permana, khawatir akan adanya lahar dingin di sekitar Gunung Merapi.

"Ancaman bencana musim hujan paling tinggi di Jawa Tengah adalah lahar dingin Gunung Merapi di Magelang," kata Sarwa di Gedung DPRD Jawa Tengah, kemarin.

BPBD sudah mengambil berbagai langkah antisipasi untuk menghadapi ancaman lahar dingin tersebut. Misalnya menyiagakan tujuh rumah sakit rujukan serta 47 lokasi kumpul yang juga bisa dijadikan posko kesehatan. BPBD juga menyatakan sudah menyiapkan kebutuhan logistik untuk penanganan bencana lahar dingin di Badan Koordinasi Wilayah Magelang.

Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo juga meminta semua pihak untuk bersiap mengantisipasi bencana lahar dingin Merapi. “Para ahli vulkanologi menyatakan masih ada jutaan meter kubik lahar dingin yang bisa setiap saat turun ke sungai-sungai di lereng Merapi,” kata Bibit (Gubernur Jateng).

ARIS ANDRIANTO | ROFIUDDIN
dicopy Windowsbie7 dari WEB TEMPO

28/10/12

Barangsiapa Yang Berhaji Tetapi Belum Berziarah Kepadaku, Maka Dia Telah Menjauhiku



Barangkali ada sebagian jema'ah haji kita yang pernah mendengar hadits tentang hal ini, lalu memaksakan diri untuk dapat berziarah ke kubur Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam sekalipun kondisinya berdesak-desakan. Padahal sebenarnya, yang dianjurkan Rasulullah adalah shalat di masjid beliau yang pahalanya amat besar dan hal itulah yang perlu diniatkan ketika akan datang ke Madinah. Baru kemudian, bila memungkinkan bagi jema'ah haji laki-laki bisa menyempatkan berziarah ke kubur Rasulullah sembari memberi salam kepada beliau dan dua orang shahabat beliau yang juga dikuburkan di situ.
Semoga saja, bagi pembaca yang kebetulan akan melaksanakan haji tahun ini atau ada keluarganya yang berhaji dan meyakini bahwa hadits yang berkenaan dengan hal ini adalah shahih, dapat mengetahui informasi ini atau menginformasikannya. "Maka, hendaklah yang hadir (membaca/menyaksikan) menyampaikan kepada yang ghaib."

Naskah Hadits

مَنْ حَجَّ وَلَمْ يَزُرْنِي فَقَدْ جَفَانِي
(Man Hajja Wa Lam Yazurnî Fa Qad Jafânî)
"Barangsiapa yang berhaji tetapi belum berziarah kepadaku, maka dia telah menjauhiku."

Imam as-Suyûthiy mengatakan,
"Hadits ini diriwayatkan oleh Ibn 'Adiy dan ad-Dâruquthniy di dalam kitabnya "al-'Ilal", Ibn Hibbân di dalam kitabnya "adl-Dlu'afâ`" serta al-Khathîb al-Baghdâdiy di dalam ktabnya "Ruwâtu Mâlik" dengan Sanad Dla'if (Lemah) Sekali dari Ibn 'Umar."


CATATAN:

Syaikh Muhammad Luthfiy ash-Shabbaq (penahqiq) buku ad-Durar al-Muntatsirah Fî al-Ahâdîts al-Musytahirah karya Imam as-Suyûthiy (buku yang kita kaji ini) berkata,
KUALITASNYA MAWDLU' (PALSU);
Silahkan lihat,
1. al-Maqâshid al-Hasanah Fî Bayân Katsîr Min al-Ahâdîts al-Musytahirah 'Ala al-Alsinah, karya as-Sakhâwiy, h.419
2. Tamyîz ath-Thayyib Min al-Khabîts Fîmâ Yadûr 'Ala Alsinah an-Nâs Min al-Hadîts, karya Ibn ad-Diba', h.165
3. Kasyf al-Khafâ` wa Muzîl al-Ilbâs 'Amma isytahara Min al-Ahâdîts 'Ala Alsinah an-Nâs, karya al-'Ajlûniy, Jld.II, h.262
4. al-Khulâshah Fî Ushûl al-Hadîts, karya ath-Thîbiy, tahqiq, Shubhiy as-Sâmurâ`iy, h.84
5. Mîzân al-I'tidâl, karya Imam adz-Dzhabiy, jld.IV, h.265

(SUMBER: ad-Durar al-Muntatsirah Fi al-Ahadits al-Musytahirah karya Imam as-Suyuthiy, tahqiq oleh Syaikh.Muhammad Luthfiy ash-Shabbagh, h.178, hadits no.411)

Perhiasan Dunia



Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan terhadap yang diinginkan: wanita-wanita, anak-anak, harta yang bertumpuk dari jenis emas dan perak, kuda-kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah sajalah tempat kembali yang baik.  (Q.S. Ali Imran: 14)


Mengapa Allah menggambarkan hal ini?
Bagaimanakah sesungguhnya tabiat penciptaan manusia itu jika dikaitkan dengan kecintaannya terhadap perhiasan dunia di atas?

Note: Kisah-kisah besar sepanjang sejarah kehidupan manusia yang diwarnai berbagai gejolak dan pertikaian, mulai skala individu hingga tataran kehidupan bernegara? Kisah Qobil dan Habil, Perang Dunia I, Perang Dunia II, Perang Teluk I dan II

Apakah kecintaan demikian itu salah? Bagaimanakah batasannya?
Bagaimana resepnya agar manusia tidak terjerumus pada kecintaan terhadap perhiasan dunia yang membinasakan?

Katakanlah: Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu? Bagi orang-orang yang bertakwa (tersedia) di sisi Tuhan mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan pasangan-pasangan yang suci, serta rida Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya. (Q.S. Ali Imran: 15)
Note:  Ada sesuatu yang jauh lebih baik dari kecintaan apa yang diinginkan manusia selama hidup di dunia: bertakwa kepada Allah dengan imbalan surga dan keridaan-Nya. Siapakah orang yang bertakwa itu? Bagaimana jalan meraihnya?

(Yaitu) orang-orang yang berdoa, Ya Tuhan kami, kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka.  (Q.S. Ali Imran: 16) Note: Hanya orang yang benar-benar beriman, sesungguhnya yang patut berharap diampuni dosa-dosanya, dan hanya mereka yang diampuni dosa-dosanya yang patut berharap mendapatkan perlindungan dari azab neraka.

(Juga) orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan sebelum fajar.  (Q.S. Ali Imran: 17)

Mengapa Allah bisa menegaskan hal demikian? Mengapa Allah bisa mengatakan bahwa ada sesuatu yang jauh lebih baik dari sekadar kecintaan terhadap perhiasan dunia? Mengapa Allah berani memberikan balasan berupa surga dengan segala kenikmatannya? Apa yang Allah jaminkan, kalau sekiranya memang dibutuhkan adanya jaminan?

Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Q.S. Ali Imran: 18)

Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barang siapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (Q.S. Ali Imran: 19)

27/10/12

Muqowwimat Itsbat Wujudud Dakwah



“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentar kan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahhuinya, sedang Allah mengetahui-Nya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya." (Q.S. 8:60)
                       
Ada seorang Al Akh akan pergi haji, meminta nasehat lebih dulu kepada saya.Saya katakan kepadanya haji itu merupakan bagian dari Ibadah lainnya yang kesemuanya dalam rangka “Faaqim wajhaka liddieni hanifa”.

Seluruh Ibadah kita sangat tergantung kepada tawajjuh (orientasi) kita terhadap dien secara lurus hanif. Pertama-tama tentu saja kita harus memiliki tawajjuh aqidi dalam setiap ibadah kita.

Orientasi aqidah atau menghadapnya kita secara aqidi. Dalam ibadah haji direflesikan dalam kalimat Labbaika Allahumma labbaik, Labbaika la syarikalaka labbaik. Kita menolak segala sambutan terhadap panggilan selain Allah. Dan bila harus menyambut                        panggilan istri, anak, tetaplah dalam kerangka menyambut panggilan Allah atau             dengan kata lain Lillah/Karena Allah.  Karena kita sudah menegaskan: Labbaika laa syarikalaka labbaik innal hamda wani’mata laka wal mulk laa syarikalah. Aku sambut panggilan MU ya Allah tak ada sekutu bagi-Mu sesungguhnya segala puji, kenikmatan dan kekuasaan ada ditanganMu. tak ada sekutu bagi-Mu.

Setelah tawajjuh aqidi, tawajjuh yang kedua adalah tawajjuh syar’i.  Dalam beribadah kita harus memperhatikan orientasi  syar’i, ini karena Allah bukan saja menurunkan a’daa melaikan juga syir’atan  wa min hajan dan dalam melangkah atau beribadah,                     kita harus melalui koridor tsb. Misalnya khudzuu ‘anni manasikakum dalam haji dan shallu kama roaitumuni ushalli sholat. Sejalan dengan itu tentunya juga terfleksi dalam hal jihad atau bisa diparalelkan: jaahidu kama roaitumuni ujaahid.

Tawajjuh yang ketiga, tawajjuh amaliyah (menghadap atau berorientasi pada Allah dan Al-Islam dalam beramal. Artinya kita harus “wa’aiddu mastatho’tum min kuwwah. Segala potensi secara operasianal harus dihimpun dan digabung secara syumul ( integral)
dan  takamul (terpadu) agar bisa merealisir tugas-tugas dan kewajiban-kewajiban dari Allah. Karena segala tugas dan kewajiban dari Allah tidak bisa kita persiapkan secara juz’iyah (parsial). Misalnya untuk sholat kita harus lebih dulu wudhu dan untuk wudhu tentu saja harus ada air. Kemudian untuk sholat harus syatrul aurat  (menutup aurat)                        jadi harus ada baju dan mukena. Lalu agar dengkul kita bisa tegak dan kuat ketika sholat, kita butuh makan lebih dulu. Jadi ada kesyumuliyahan dalam adaa’ish  sholah.
Ketiga tawajjuh tersebut, tawajjuh aqidi, syar’i dan amali harus selalu ada terhimpun secara sekaligus di setiap ibadah yang kita lakukan. yang jelas kita harus senantiasa mempersiapkan segala sarana dan prasarana serta potensi agar tugas-tugas dari Allah swt                          dapat kita kerjakan secara baik karena Allah telah menyuruh kita mengerahkan                      segenap potensi kekuatan “Waa’idduLahum mastatho’tum minquwwah” (Q.S. 8:60) disinilah letak ke syumuliyahan dan  ketakamulliyahannya.

Ikhwah Fillah, dalam lanjutan ayat tersebut (Q.S 8:60) ditegaskan oleh Allah swt., Bila kamu tidak disiplin tidak wala’ tidak menggantungkan diri kepada Allah dan tidak taat kepadaNya juga kepada Rasul-Nya dan Ullil Amri maka  “Iyyaka turhibkum waya’thi bi kholqinjadid wamaa dzalika Allalahi Aziz: Bila Allah menghendaki tak ada sulitnya bagi
Allah untuk meliquidir,menghapus generasi yang tidak disiplin dan membangkang ini menjadi kaum yang marjinal dan berada diemperan-emperan dakwah. Padahal seyogyanya kita menjadi pelaku-pelaku dakwah dan sejarah. Bukan sekedar penonton belaka.

Ayat-ayat yang serupa dan senada dengan itu begitu banyak dalam Al-Qur’an ”Wamaa dzalika allaihi Aziz” dan hal yang demikian bukan sesuatu yang besar bagi Allah. Kenapa banyak?  Kesemuanya tak lain sebagai peringatan bahwa segala sesuatunya menjadi begitu tak berarti bila komitmen atau ketergantungan kita kepada Allah, Rasul dan Ulil amri merosot.

Seperti misalnya dalam Qur’an surat 5:54,  artinya “ Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kalian murtad dari agama Allah maka Allah gantikan  dengan suatu kaum yang dicintai Allah dan mereka mencintai-Nya, lemah lembut terhadap mukmin, tegas terhadap orang kafir, berperang di jalan Allah dan tidak takut celaan orang yang  suka mencela. Itulah karunia Allah, diperuntukkan-Nya bagi siapa yang kehendaki-Nya. Dan Allah maha luas pemberian-Nya lagi maha mengetahui.”

Al jihadu maadhin ila yaumil qiyamah, jihad akan terus berlangsung sampai hari qiyamat,kata imam Syahid. Addakwah akan terus berjalan bina au ghairina, dengan atau tanpa kita. Kita ikut atau tidak dengan dakwah dan jihad, akan selalu ada orang atau generasi lain yang ditunjuk oleh Allah untuk melaksanakan-Nya karena memang dakwah atau jihad tidak bergantung kepada suatu individu atau kaum.

Dari dulu ada orang-orang yang futur, insilakh, dibantai, dipenjarakan dsb tetapi dakwah tetap saja besar. Ketika dulu dakwah sedang digebuk di Mesir seperti air digebuk, muncratnya kemana-mana. Termasuk ke Indonesia, Amerika, dan Eropa serta seluruh dunia. Mula-mula muncratnya dari emperan-emperan Mesir, kini orang-orang yang dari                   Mesirnya sendiri langsung datang kesemua negri. Jadi karena dakwah dan jihad adalah
proyek Allah maka ia akan tetapa eksis bina au ghairina, dengan atau  tanpa kita.

Masalah optimisme ini penting sebab sekarang banyak godaan  kepada kita. Mengapa kita begini-begini saja, diam-diam saja sementara si ini bermanuver, sianu bermanuver. Kalau kita saat ini bersifat seperti ini belum melakukan manuver-manuver yang                    berarti, semata-mata karena manhajatud da’watina dan bukan karena kita takut.
Hal ini merupakan  Ihtiyajatul Marhalah. Jadi bukan masalah takut enggak takut, melainkan karena kebutuhan marhalah kita saat ini adalah seperti ini dulu. Kita juga siap untuk melakukan marhalah-marhalah berikutnya. Bermanuver seperti yang dilakukan Bintang Pamungkas sebetulnya juga merupakan bagian dari Fikhu Dakwah asalkan memang terprogram.
Hal seperti itu pernah dilakukan Abdulah Bin Mas’ud ketika masih di Mekkah. Ia berniat
melakukan manuver berupa pembacaan Al-Qur’an di hadapan orang-orang Quraisy. Mula-mula sahabat-sahabatnya melarangnya, tetapi setelah bermusyawarah akhirnya                        membolehkannya.

Bacaan Al-Qur’an Ibnu Mas’ud memang sangat indah dan merdu sehingga Rasulloh menyamakannya dengan bacaan Qur’an Malaikat Jibril. Abdullah bin Mas’ud pun membaca surat Ar Rahman dan orang-orang Quraisy sempat terkesima mendengarkannya. Namun begitu mereka sadar bahwa itu ayat Al Qur’an mereka pun ramai-ramai memukuli Ibnu Mas’ud hingga babak belur dan akhirnya pulang kerumah dengan digotong oleh kawan-kawannya.

Hebatnya Ibnu Mas’ud masih berucap “Wallahi kalau kalian izinkan, Aku akan pergi lagi ke sana dan membacakan Al-Qur’an “ tetapi semuanya mencegah: Sudah… sudah cukup yang penting mereka sempat geger … heboh.”

Jadi memang ada fikhu dakwahnya, manuver seperti itu. Syaratnya harus muncul dulu syaksiyah barizah atau sosok pribadi yang berpengaruh sehingga kemunculannya menimbulkan goncangan atau kehebohan di kalangan musuh. Kalau belum berpengaruh, belum termashur sudah memaksakan diri akan terbentur sana sini kan kasihan.

Allah swt memperingatkan kita bahwa ketika implementasi aqidah kita secara moral dalam bentuk loyalitas (Q.S. 5:55) dan operasional dalam bentuk mentati Allah dan Rosul-Nya (Q.S. 4:69) merosot maka mudah saja bagi Allah (wamaadzalika alallahi bi Aziz) untuk menggantikan kita dengan orang lain atau generasi lain (Q.S. 5:54)

Selain itu adalagi dalam surat 6:133 Allah itu maha kaya sumber segala kasih sayang, jika Allah menghendaki kalian dihapus, maka akan digantikan dengan generasi sesudahmu sebagaimana kamu telah menggantikan generasi sebelummu. Diisyaratkan pergantian kaum itu terjadi jika suatu kaum atau bangsa sudah ingkar, menyimpang atau melampai batas maka akan digantikan dengan yang labih baru dan lebih baik.

Generasi baru yang harus melahirkan generasi yang lebih baik dan membanggakan karena Rasulullah ingin membanggakan umatnya di atas umat-umat yang lain tidak serta merta terkait dengan banyaknya anak melainkan mutu atau kualitas generasi. Hal itu bisa berarti generasi yang banyak dan membanggakan, namun bisa pula generasi yang  sedikit dan membanggakan, karena nashul hadits “fainni mubahi bikumul umam“                         Seandainya pun yang ditunjuk adalah kalimat nashul hadits yang lain  ”Fainni mukatsirun bikumul umam “ tetap saja tidak bisa diartikan serta merta sebagai berbanyak-banyakan karena  kata mukatsirun dalam bahasa arab, seperti misalnya dalam surat At Takatsur, adalah membanggakan.

Visi jamaah juga visi Islam dalam hal soal anak adalah silahkan banyak dan boleh juga sedikit asalkan membanggakan, tiga orang anak pun sudah terkatagori katsir.Bila sanggup melahirkan 12 atau 18 dan semuanya membanggakan Alahamdulilah.tetapi bila hanya dapat  melahirkan 2 atau 3, banggakanlah apa yang sudah diberikan oleh Allah kepada kita.

Anak adalah rizki dari Allah swt. kita tidak bisa mengukur atau mematoknya, yang penting generasi baru yang kita lahirkan adalah yang membanggakan. Sehingga kembali ke pembahasan kita di awal jangan sampai nanti kita disisihkan oleh Allah bahkan boleh jadi bukan hanya secara fisik (Q.S 17:85-86) tetapi juga ditilik dari segi hidayah, ilmu                     pengetahuan, dan fikhu da’wah bila kita menyimpang pasti Allah akan menghapus hidayah itu dari kita.

Jadi bahaya likudasi itu bukan hanya secara fisik tetapi juga dari segi-segi yang lainnya, misalnya bisa saja secara fisik kita tidak dilikuidasi oleh Allah, tetapi hidayah, ilmu, manhaj, tashowwur fikroh kita yang dilikuidasi oleh-Nya, bila kita tidak konsisten pada                         nilai-nilai kebenaran.

Oleh sebab itu Ikhwan fillah, saya mencoba mengingatkan kita semua akan pesan Ustadz Musthofa Mansyur tiga tahun yang lalu. Beliau berbicara tentang DHOMANATUL BAQO’ bahwa komitmen kita  terhadap arkanul bai’ah adalah jaminan eksistensi keberadaan kita di dalam dakwah. Suatu gerakan politik bila diterjemahkan sebagai                         sebuah gerakan dakwah baru bisa eksis dan survive bila memiliki muqowimat yang disebut MUQOWWIMA ITSBAT WUJUDUD DA’WAH:
1. Memiliki prinsip yang kokoh yang disebut RUSUKHUL MABDA. Aqidah kita jelas
    memiliki prinsip-prinsip yang kokoh.
2. Memiliki visi yang jelas.
3. Mempunyai konsep yang aplikatif. Minhaj kita yang berasal dari Qur’an memberikan
    pada kita konsep SYIR’ATAN WA MINHAJAN yang disebut juga sebagai konsep
    yang aplikatif dan qobilit tanfidz.
4. Memiliki kader-kader yang mumpuni. 
5. Memiliki organisasi yang efektif atau TANDZIMUN FA’AL.  Mmang Jama’ah bukan
    sebuah oganisasi, tetapi Jamaah menggunakan sistem organisasi untuk menata sistem
    organisasi.
6. Memiliki DA’AM SYA’BI atau dukungan masyarakat.
7. Mempunyai kemampuan ekonomi yang berkembang.
8. Dukungan birokrat.
9. Dukungan tentara.

Cari Blog Ini

Halaman

Popular Posts

Advertisement

Responsive Advertisement