Tampilkan postingan dengan label Blogger Cilacap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Blogger Cilacap. Tampilkan semua postingan

22/01/14

Karena Ada CINTA dan CITA-CITA

Sudah lama sekali saya tidak mengeposkan beberapa artikel yang sekiranya dicari oleh beberapa pembaca dan dinilai oleh google sebagai situs blog yang memiliki nilai keywords bahkan tingkat SEO terbaik rangking 1 (pagerank) seperti sebelumnya, mungkin saja karena kurangnya mengalokasikan waktu untuk menulis ataukah karena kurangnya pembaruan cara untuk menjadikan blog stabil dan imbang.

Sejujurnya saja bahwa akhir-akhir ini saya banyak menciptakan beberapa blog yang amburadul baik dimulai dari tata urutan label, katakunci, deskripsi dan postingan. Sehingga seperti anak jalanan bisa juga disapa dengan orang gila yang tidak memiliki pemikiran dan tujuan dalam hidup untuk selalu berkarya.

ya betul sekali, mengalami beberapa dropping mode karena semakin kedepan semakin tua bahkan direkomendasikan membutuhkan backup data tak lain ialah mensinergikan antara ilmu pengetahuan dengan dunia menulis pada ambang-ambang udara atau dunia maya. Selebihnya ialah untuk mengenalkan kepada para penerus, agar supaya tahu menahu siapa dan bagaimana ciri dari orang seperti saya dalam ranah dunia multimedia teknologi dan informasi.

Dizaman ini setiap orang tidak mungkin tidak tahu apa yang merubah sistem dan cara mencairkan ilmu pengetahuan, seperti apa saja yang merubah sistem dan cara mencairkannya ialah dunia atau zaman model pendidikan berbasis teknologi dan informasi serta banyak bermunculan aliran-aliran religius understanding yang merupakan pengenalan agama bertolak belakang dengan aliran agama sebelumnya. Bukan hanya satu atau dua hal yang membangunkan saya untuk terus mengembangkan potensi, baik  dalam diri bahkan potensi yang telah lama menyatu dalam sejatinya diri tak lain ialah merupakan putra bungsu seorang tokoh masyarakat sebagian besar tersebut yaitu Pengasuh Yayasan Pendidikan Islam dan Madrasah Diniyah di pelosok desa kota Cilacap "Yayasan Bercahaya Nurul Haq Cilacap" regional Jawa Tengah.

Pada konteks sebelumnya saya menerangkan bahwa saya seorang putra bungsu seorang tokoh masyarakat, meskipun disisi lain saya tidak menginginkan untuk dihormati maupun disegani. Padahal disatu sisi tersendiri justru saya lebih senang bergaul dengan siapapun tanpa ada batasan cara menyapa Pak, Denbagus bahkan Gus, bila itu tersapa pada saya sepertinya tidaklah pantas untuk disebutkan karena saya lebih senang dengan panggilan bebas yang multi sikap dan silaturahmi. Sepintas cerita bahwa saya pernah berkunjung ke pelosok kota Betawi yang kerap dikenal sebagai desa potensi seni basis pencak silat dan kanuragan (nama dirahasiakan), kali pertamanya saya mendapat julukan Bang Somat, meskipun pada saat itu saya merasa direndah dirikan tapi saya malah sangat bangga sekali dengan sebutan Bang Somat didesa tersebut karena saya merasa itulah nama pangkat dan jabatan yang pantas tertuju untuk saya. Sampai sekian lama saya tidak pernah sowan ke tempat itu saya tetap mendapat julukan Bang Somat pada waktu mendapat informasi pesan berupa rasa kerindu-rinduan mereka dengan adanya saya diantara mereka, mungkin saja karena sikap saya yang seakan-akan membuat orang mudah tertawa atau bahkan karena cara saya menghibur mereka dengan banyak akal, begitulah sekiranya.

Lihat dan baca saja gaya bahasa maupun cara saya menulis dipostingan ini, pastinya sangat berantakan sekali bukan? mungkin saja ini karena ada aliran darah yang sedang menaikkan gejolak "Karena ada CINTA dari sebuh CITA-CITA" jadi seperti inilah kegilaan saya dari amburadulnya pemikiran saya, sebutlah saya sebagai Orang Gila berpangkuh Edan potensi ilmu pengetahuan berlatar belakang banyak metode dan modista.

Sebagian besar menyangka bahwa saya sedang berbicara dan masih menikmati bermimpi dalam dengkuran letih (Nglindur), boleh juga itu tapi silahkan nilai saya sepuas dan unlimited pola anda untuk saya. Sekian dulu dan terimakasih atas perhatian anda wahai para pembaca yang budiman-budiwati Blog Brilswibi / BISWIBI7 (Berbagi Ilmu Sang Windowsbie7).

Send Cloud:
[+] Twitter @macansewu73
[+] WhatsApp +62.89.632.642.343
tampak dari samping si Admin Blog
(Kang Fauzan)



01/09/13

Niat ingsun Ziaroh Makam Waliyulloh - Goa Safar Wadi


Gunung Mujarrob adalah menyimpan banyak misteri karena gunung ini dikenal hanya oleh para Wali khususnya di Indonesia. Jika gunung mujarrob memunculkan sinar terang benderang itu artinya sebagai pertanda lahirnya sosok waliyulloh juru penyelamat di bumi tanah Jawa. Konon lebih dari 350 tahun yang lampau gunung ini raib dari pandangan mata manusia biasa, seperti halnya cerita dari kisah perjalanan hidup Habib Muh, Tegal Rejo Magelang Jateng, yang pernah kami ketahui sewaktu masih dipesantrennya pada tahun 1987 lalu.

Beliau bercerita bahwa dirinya pernah masuk kedalam gua Mujarrob atas panggilan yang empunya yaitu, Syeikh Sanusi, disaat beliau kedapatan anugerah di syahid menjadi Waliyulloh Abdal, pada tahun 1982 lalu, dan lewat kisahnya ini yang menyatakan bahwa disaat beliau baru masuk kedalam gua tersebut, beliau langsung disambut oleh ratusan kalajengking yang sangat besar. Masya Alloh!!! Yaitu berkisar 40 cm.

Bukan hanya sebatas itu saja beliau di uji dalam keyakinannya saat berada di dalam gua Mujarrob, beliau juga sempat melihat secara mata telanjang, beberapa ekor ular raksasa yang besarnya melebihi badan mobil siap menghadangnya. Dan ini bersifat riil bukan hanya sekedar fatamorgana dari sifat lelembut atau binatang jejadian yang hanya sekilas pandang. Sebab semua binatang yang telah mendiami gunung tadi telah berusia lebih dari ratusan tahun dan tidak pernah terusik oleh manusi yang berani masuk. Terangnya.

Juga kisah yang pernah dialami oleh Habib Nur Ali yang pernah masuk kedalamnya disaat mendapat panggilan dari Syeikh Sanusi atas pengangkatan dirinya sebagai Waliyulloh bangsa Rijal. Beliau bercerita "Tidak ada syafaat yang lebih besar di seluruh wilayah yang ada di Indonesia ini kecuali goa gunung Mujarrob. Dan tidak ada suatu pengangkatan waliyulloh yang diakui oleh wali lainnya kecuali lewat tangan Syeikh Sanusi sendiri sebagai makom tertinggi yang telah mendapatkan kefadholan dari Alloh SWT, dengan diberikannya umur panjang sampai hari kiamat tiba karena kemustajabahan air mujarrob yang dimilikinya dan tidak ada satupun wali di dunia ini yang tidak butuh rohmatnya, karena sesungguhnya beliau tercipta sebagai raja dari semua waliyulloh"

"Jangan sesekali masuk kedalamnya sebelum yang empunya datang sendiri memanggil anda, sebab lebih dari seabad yang lalu para manusia yang mengaku dirinya ahli bathin tinggi, lebih dari 77 orang telah raib dan tidak bisa diketahui jasad dan rimbanya". Lanjutnya

Dari beberapa kisah yang pernah dituturkan oleh para masyaikh ini membuat siapapun yang mendengar akan bergidik dan berfikir seratus kali untuk bisa masuk kedalam gua Gunung Mujarrob yang penuh akan karomah juga sebaliknya penuh misteri yang sangat mengerikan.


Mungkin pembaca sekalian masih bertanya dengan kisah ini, sebenarnya dimana letak sesungguhnya gua Gunung Mujarrob tersebut? Menurut cerita para masyaikh tadi bahwa, gunung Mujarrob ini terletak disalah satu areal pesarean Ki Muhyi Pamijahan, Tasik, Jawa Barat yang sangat kondang akan derajat kewaliyan nya dan banyak diziarohi oleh berbagai lapisan masyarakat lokal maupun dari manca negara.

Namun bila anda pernah datang kesana dan membeli buku sejarah yang banyak dijual bebas di sepanjang toko kaki lima seputar areal pesarean Ki Muhyi Pamijahan, dengan judul bukunya " Sejarah perjuangan Syeikh Haji Abdul Muhyi Waliyulloh Pamijahan" yang di tulis oleh, Drs, H. AA. Khaerussalam, disitu tidak dituliskan sama sekali tentang letak gua gunung Mujarrob yang membawa banyak rohmat dan maghfiroh untuk seluruh pengangkatan waliyulloh sedunia.

Mungkin bisa jadi mereka memandangnya tidak perlu membesarkan nama dan letak gua Mujarrob, yang dianggapnya tidak menguntungkan sama sekali dari pihak peziarah/ tidak bisa di komersilkan, alasannya keluarga mereka juga tidak ada yang berani sampai masuk kedalamnya, sehingga dengan ini pula para keturunannya tidak sampai mencantumkan perihal gua gunung Mujarrob yang sebenarnya.

Nah, dari kisah ini pula diawal bulan Syawal 1429,H, lalu, guruku mengundangku yang intinya menyuruh Saya datang ke gua gunung Mujarrob, karena sebuah panggilan darinya (Syeikh Sanusi). Seperti hallintar menyambar disiang bolong, hatiku kaget dan langsung bergetar keras mendengar apa yang barusan di ucapkan oleh guruku tadi, siapa yang tidak takut dengan nama gua gunung Mujarrob yang penuh dengan kengerian dan fenomena gaib yang bisa membawa badan kita seketika raib disaat baru masuk kedalamnya.

Namun sepertinya guruku tidak mau ambil pusing dan mengharuskan aku secepatnya datang kesana. "Ini perintahnya dan bukan kamu yang pinta, lakukan apa yang aku ucapkan" kata sang guru dengan tegas. Sepulang dari kediaman sang guru hatiku terus bergemuruh antara siap dan tidak, untuk sampai bisa melaksanakan datang ke gua gunung Mujarrob dan mulai hari itu pula aku diwajibkan puasa sampai hatiku benar benar merasa tenang dan siap dengan segala keyakinannya untuk sampai datang ke gua gunung Mujarrob.

Setengah bulan telah berlalu, hatiku semakin mantap untuk sesegera mungkin melaksanakan tugas mulia yang di embankan oleh sang guru, dan tanpa menunggu waktu lebih lama lagi akupun langsung pamit minta restunya. Namun sebelum keberangkatanku ke gunung gua Mujarrob, guruku langsung mengijazahkan amaliyah khususiah yaitu berupa, HIZIB JABARUT Dan ULUHIYYAH, " Bawalah santrimu yang banyak untuk mendampingimu sampai tujuan dan pilihlah mereka yang hatinya telah memahami keikhlasan" dan setelah itu beliau juga memberikan beberapa tata cara dan kunci disaat akan masuk ke gua gunung Mujarrob, yang intinya agar selamat dari segala binatang buas dan bangsa lelembut yang sengaja menghadang dan menyesatkan perjalanan mulia ini.

Selepas dari sang guru, aku langsung mengumpulkan beberapa teman Jam’ul Ijazah yang akan mendampingi pemberangkatanku nanti dan ternyata tidak semua Jam’ul Ijazah masuk dalam kategori yang aku inginkan, sehingga waktu itu hanya 15 orang saja yang aku bawa ikut serta. Singkat cerita, sampailah kita semua didepan pintu gua gunung Mujarrob, lewat panduan dari salah satu kepercayaan santri sang guru. Ternyata apa yang aku takutkan selama ini tidak sampai terjadi, sebab gua yang semestinya gelap gulita itu ternyata terang benderang karena ternyata didalamnya sudah lebih dulu ada dua orang sebelum golongan kita datang, dua orang ini berbadan tinggi besar dan sepertinya bukan dari bangsa kita, keduanya memakai pakaian dan sorban serba putih yang disaat kita masuk keduanya menutup wajahnya dengan sorban yang dipakainya. Nah, dari sorban merekalah cahaya terang benderang itu berasal, sehingga dengan pancaran sinar yang teramat terang ini kita semua akhirnya bisa melihat seisi ruangan gua yang ternyata semuanya terbuat dari marmer asli.

Namun sebelumnya, aku mohon maaf kepada pembaca sekalian, karena tidak bisa menceritakan secara keseluruhan apa yang terjadi didalam gua tersebut sebab bersifat sirri/ rahasia, hanya saja di dalam gua tersebut banyak fenomena dan keganjilan yang tidak masuk diakal yang kami rasakan secara nyata, sehingga semua yang ikut serta masuk ikut pula menyaksikannya secara takjub dan ajib yang mungkin menurut mereka tidak bisa hilang dari ingatannya selama umur masih dikandung badan.

Kami lanjutkan lagi ke cerita seputar dunia mistik yang aku peroleh. Lewat panduan sang guru yang telah diajarkan padaku, alhamdulillah akhirnya kita semua selamat dan bisa pulang kembali tanpa sedikitpun ada kendala, walau dalam perjuangan yang sebenarnya penuh haru dan tangisan bahagia yang tidak bisa dilukiskan oleh bentuk apapun juga. Dari kisah inilah alhamdulillah aku sempat bertemu dengan sosok yang selama ini kami cari dan sempat pula mencium tangannya, yaitu, Sulthonul Bahri/ penjaga laut sedunia, Nabiyulloh Hidir AS, dan demi tulisan ini pula kami sempatkan untuk berkata, Demi Alloh, demi Alloh, demi Alloh, apa yang aku dapatkan selama ini adalah barang terbaik yang aku miliki, yaitu, mustika HUT Nabiyulloh Yunus As,/ mustika ikan hutt sewaktu Nabiyulloh Yunus As, dalam perut ikan hutt selama 41 hari lamanya( secara hikayat yang tercantum dalam Al Quran/ tafsirnya).

Sebelum sampai di penghujung cerita, saya atas nama pribadi mohon maaf yang sebesarnya apabila ulasan ini terlalu fulgar dan sangat transparan. Bukan maksud menggurui siapapun, kami hanya ingin menceritakan yang sebenarnya atas apa yang pernah aku peroleh sewaktu datang kedalam gua gunung Mujarrob yang sangat membawa pengaruh besar bagi umat manusia, wabil khusus tentang perputaran zaman yang selalu ditandai beragam fenomena langka yang selalu diawali dari karomah gunung Mujarrob.

Tentunya bagi para ahlillah dan ahli bathin khosois lainya, tidak ada yang tidak paham tentang siapa jati diri, Syeikh Sanusi sesungguhnya dan apa pula yang dimaksud dari maul Mujarrob yang disebut sebagai keluhuran derajat seluruh desa Pamijahan, juga bagaimana Syeikh Abdul Qodir Al Jaelani, sampai bisa datang dari negaranya, Bagdad, hanya sekedar ingin disyahkan derajat kewaliyannya, sehingga beliau mau sampai berlama menetap di daerah Pamijahan sebagai muridnya.

Kini koleksi dari Syeikh Abdul Qodir Al Jaelani, masih bisa anda nikmati disalah satu areal Pamijahan, yaitu gua Safar Wadi, yang telah dibuatnya sendiri, bahkan dalam sejarah Wali Songo gua ini sempat dijadikan tempat bermusyawarohnya para waliyulloh. Semoga kisah ini membawa rohmat bagi para pemimpin bangsa dan selebihnya untuk keselamatan seluruh umat pada umumnya.

Bagi yang penasaran dengan letak gua gunung Mujarrob yang konon tidak ada dalam daftar peta maupun buku panduan, Saya akan sedikit memberi jalan kepada anda sekalian. Apabila anda sudah pernah ke gua Safar Wadi, tentunya anda juga tahu betul akan jalan lurus yang sebelumnya belok ke kanan sebelum arah menuju gua Safar Wadi. Nah, kalau gua gunung Mujarrob sendiri belok ke kiri dan berlawanan arah dengan jalan menuju gua Safar wadi, yaitu naik ke atas bukit lewat jalan setapak yang sama sekali tidak pernah dijamah oleh kaki manusia.

Apabila kita sudah sampai kesebuah bukit paling atas, berputarlah kearah kanan dan nanti disitu ada sebuah jurang yang sangat dalam, masuklah dengan jalan agak merangkak karena sangat licin dan juga terjal, turunlah sampai mentok kesebuah cadas berair, disitu anda bisa melihatnya secara jelas sebuah mulut gua kecil yang bila anda melihat kedalamnya tidak akan tembus pandang karena terlalu gelap. Berhati hatilah bagi yang kurang persiapan mental, karena anda akan di sambut saat akan masuk gua oleh beberapa kalajengking raksasa dengan panjang berkisar antara 30 sampai 40 cm.

Source: Windowsbie7 Library

Contoh Makalah Pembangunan Sistem Pendidikan Karakter Masyarakat Desa

PERAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)
DALAM MENDUKUNG PROGRAM PENDIDIKAN BERBASIS KARAKTER


SUATU PEMIKIRAN
oleh : Windowsbie7

Abstrak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah salah satu faktor penting dalam pendidikan di Indonesia yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pada tahun 2010 Pemerintah Indonesia, khususnya Menteri Pendidikan Indonesia memulai wacana tentang Pendidikan Berbasis Karakter. Dalam pidatonya pada Hari Pendidikan tanggal 2 Mei 2011 yang lalu, Menteri Pendidikan Indonesia menyatakan bahwa mulai tahun ajaran 2011/2012 pendidikan berbasis karakter akan dijadikan gerakan nasional, mulai dari PAUD sampai dengan Perguruan Tinggi, termasuk di dalamnya pendidikan Nonformal dan Informal. Pelaksanaan Pendidikan Berbasis Karakter pada PAUD, terutama pada jalur formal, tentunya mempunyai hambatan tersendiri antara lain keadaan ekonomi orang tua, kondisi geografis, ketersediaan lembaga PAUD, latar belakang tenaga endidik dan informasi yang terbatas. Maka dari itu, artikel ini bertujuan untuk melihat hambatan-hambatan apa saja yang mungkin akan dihadapi dalam penerapan Pendidikan Berbasis Karakter pada tingkat PAUD dan memberikan rekomendasi metode pembelajaran yang sesuai menurut beberapa sumber buku maupun artikel lain.

Kata Kunci : pendidikan anak usia dini, pendidikan berbasis karakter, metode belajar PAUD,
metode belajar berkarakter, pendidikan holistik.

1. LATAR BELAKANG
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah salah satu faktor penting dalam pendidikan di Indonesia yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dengan dinaikkannya anggaran dana pendidikan pada tahun 2009 oleh pemrintah, hal ini membuktikan bahwa pemerintah Indonesia menyadari betul pentingnya pendidikan di Indonesia.

PAUD di Indonesia dibagi menjadi beberapa jalur menurut Pasal 28 Undang–Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, terdapat tiga jalur PAUD yaitu (1) Jalur pendidikan formal yaitu berbentuk Taman Kanak-Kanak (TK), Raudhatul Atfhal (RA), atau bentuk lain yang sederajat; (2) jalur pendidikan nonformal yaitu dapat berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat; (3) jalur pendidikan informal yaitu berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselanggarakan oleh lingkungan.

Pendidikan memiliki peran dan tanggung jawab yang besar dalam menyikapi perkembangan aktual terhadap munculnya perilaku destruktif, anarkis dan radikalis. Untuk itu para pemangku pendidikan, terutama Kepala Sekolah, Guru, Pemimpin Perguruan Tinggi dan dosen harus memberikan perhatian dan pendampingan lebih besar kepada peserta didik membentuk dan menumbuhkan pola pikir dan prilaku yang berbasis kasih sayang, toleran terhadap realitas keanekaragaman yang di benarkan oleh peraturan dan perundangan.

Maka dari itu pada tahun 2010 pemerintah Indonesia, khususnya Menteri Pendidikan Indonesia memulai wacana tentang Pendidikan Berbasis Karakter. Dalam pidatonya pada Hari Pendidikan tanggal 2 Mei 2011 yang lalu, Menteri Pendidikan Indonesia, Bapak Moh. Nuhmenyatakan bahwa
mulai tahun ajaran 2011/2012 pendidikan berbasis karakter akan dijadikan gerakan nasional, mulai dari PAUD sampai dengan Perguruan Tinggi, termasuk didalamnya pendidikan Nonformal dan Informal. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka artikel ini fokus dalam melihat peran PAUD
dalam mendukung program pemerintah tersebut. Artikel ini juga bertujuan untuk melihat hambatan–hambatan apa saja yang mungkin akan dihadapi dalam penerapan Pendidikan Berbasis Karakter pada tingkat PAUD dan memberikan rekomendasi metode pembelajaran yang sesuai menurut beberapa sumber buku maupun artikel lain. Diharapkan melalui artikel ini dapat dilihat bahwa pencanangan pendidikan berbasis karakter oleh pemerintah dapat
dilaksanakan secara efektif dan menyeluruh.

2. PENDIDIKAN BERBASIS KARAKTER
Menurut Undang–Undang No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan nasional berfungsi (1) Mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa
; (2) Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Sohan Modgil, etc dalam bukunya Multicultural Education : The Interminable Debate (1986) menyatakan bahwa hasil yang diinginkan dalam suatu Pendidikan adalah :

1. Manusia yang kritis, imajinatif, self criticsm, mampu mengungkapkan pendapat mampu berargumen, mampu mengumpulkan bukti yang kuat dan membuat kesimpulan,
2. Suatu hari dapat menjadi manusia yang berpendirian kuat dan hidup sebagai manusia bebas. Bebas disini mempunyai arti bebas dari ketidakpedulian, dogma, prasangka dan pada akhirnya bisa bebas memilih kepercayaan dan dapat merencanakan hidupnya,
3. Meningkatkan kualitas intelektual dan moral, keterbukaan pada dunia, bersikap objektivitas, keingintahuan akan ilmu, kemanusiaan dan pada akhirnya menghormati dan peduli pada sesama,
4. Bertujuan untuk mensosialisasikan peserta didik kepada intelektual yang lebih luas, moral, agama, dan pencapaian lain dalam diri manusia.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka Pemerintah Indonesia, dalam hal ini khususnya Menteri Pendidikan Indonesia mencanangkan pendidikan berbasis karakter sebagai gerakan nasional mulai tahun ajaran 2011/2012. Pendidikan berkarakter ini dinilai penting dimulai sejak dini karena merekalah nantinya yang akan melanjutkan pembangunan Bangsa dan Negara Republik Indonesia.

3. PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)
Menurut Pasal 28 Undang–Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional : (1) PAUD diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar; (2) PAUD dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal dan/atau informal; (3) PAUD pada jalur jalur pendidikan formal yaitu berbentuk Taman Kanak-Kanak (TK), Raudhatul Atfhal (RA), atau bentuk lain yang sederajat; (4) PAUD pada jalur pendidikan nonformal yaitu dapat berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat; (5) PAUD pada jalur pendidikan informal yaitu berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselanggarakan oleh lingkungan.

Tujuan utama PAUD adalah memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak sedini mungkin baik pada aspek fisik, psikis dan sosial secara menyeluruh (Supriadi dalam Agung, 2010). Pembelajaran pada PAUD didasarkan atas sejumlah prinsip, yaitu : (1) didasarkan atas perkembangan anak; (2) belajar sambil bermain; (3) dilaksanakan dalam lingkungan yang kondusif dan inovatif; (4) dilaksanakan dengan pendekatan tematik dan terpadu; serta (5) diarahkan pada pengembangan potensi kecerdasan secara menyeluruh dan terpadu (Iskandar Agung, 2010). Pendidik pada kelembagaan PAUD, menurut Undang–Undang no. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, haruslah berpendidikan minimal S1/D4.

4. HAMBATAN DALAM PENYELENGGARAAN PAUD BERBASIS KARAKTER

4.1 Pendidikan Anak Usia Dini Pada Jalur Formal dan Nonformal Kebijakan pemerintah dalam mencanangkan Pendidikan Berbasis Karakter sebagai
gerakan nasional tentunya perlu mendapat perhatian khusus. Dalam pidatonya pada Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei 2011 yang lalu, Menteri Pendidikan Nasional Bapak Moh. Nuh menyatakan bahwa kita harus mulai memberikan perhatian khusus pada PAUD karena merekalah yang nantinya akan melanjutkan pembangunan Bangsa dan Negara Republik Indonesia. Kondisi tumbuh kembang anak yang baik akan berpengaruh pada kualitas manusia (anak) di kemudian hari. Riset atas perkembangan anak dan hasil pendidikan menunjukkan keuntungan jangka panjang dan jangka pendek dari PAUD (Barnett, S.W 1992; Hart dan Schumacher, 2004; Shore, 1997 dalam Agung, 2010). Keuntungan jangka pendek PAUD adalah peningkatan aspek kecerdasan anak, sedangkan keuntungan jangka panjang adalah peningkatan angka penyelesaian sekolah (Agung, 2010). Penyelanggaran PAUD di Indonesia masih menemui beberapa hambatan, salah satunya adalah tingkat partisipasi masyarakat yang masih rendah. Berdasarkan data
pada tahun 2009, dari 28.6 juta anak berusia 0-6 tahun, 15.3 juta anak sudah terlayani PAUD baik formal mau pun nonformal. Hasil ini walaupun meningkat dari tahun–tahun sebelumnya, tetap saja memprihatinkan, karena jika mengacu pada Pembukaan Undang–Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa negara berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa, berarti negara harus berupaya memberikan dan menyelenggarakan pendidikan bagi seluruh anak Indonesia tanpa kecuali. Rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam menyertakan anaknya mengikuti PAUD formal ataupun nonformal tentu saja disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya :

1. Kemampuan Ekonomi Orang Tua
Sebagian besar lembaga PAUD, baik formal maupun nonformal, yang ada di Indonesia diselenggarakan oleh masyarakat dalam bentuk sebuah yayasan. Oleh karena itu biaya pendidikannya tentu saja dibebankan kepada orang tua dan karena kebutuhan biaya yang besar itulah maka banyak orang tua memutuskan untuk tidak mengikutsertakan anaknya kedalam lembaga PAUD tersebut. Hal ini tentu saja menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah Indonesia agar dapat memastikan pemerataan dan perluasan pendidikan, khususnya PAUD, sehingga semua anak Indonesia dapat menikmati pendidikan sejak usia dini.
2. Kondisi Geografis.
Kondisi geografis yang kurang mendukung pemberian kesempatan memperoleh pendidikan seorang anakadalah jarak dan waktu tempuh
dari rumah ke sekolah. Waktu tempuh dipengaruhi oleh jarak tempuh dan ketersediaan sarana transportasi (Balitbang, 2002). Pada kasus PAUD, dikarenakan peserta didiknya berusia 0–6 tahun, maka lokasi lembaga PAUD terkait menjadi sangat penting bagi orang tua yang ini mengikutsertakan anak–anaknya. Jarak tempuh yang jauh dan minimnya sarana transportasi tentu saja menyulitkan terutama bagi orang tua bekerja.
3.Motivasi Orang Tua.
Motivasi dapat diartikan sebagai keinginan atau dorongan
(Balitbang, 2002). Hambatan ini biasanya kita jumpai di daerah pedesaan dimana masyarakat di pedesaan masih memiliki anggapan bahwa a
naknya tidak perlu disekolahkan sampai ke perguruan tinggi, apalagi dimulai dari TK/RA. Bagi mereka yang terpenting adalah bagaimana nantinya anak mereka dapat membantu perekonomian keluarga. Hal ini juga terkait dengan pemahaman masyarakat bahwa sekolah yang wajib hanyalah SD sampai dengan SMP sesuai dengan program Wajib Belajar 9 Tahun dari pemerintah. Maka dari itu perlu adanya sosialisasi oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah, akan pentingnya pendidikan anak usia dini kepada seluruh lapisan masyarakat.
4. Ketersediaan Lembaga PAUD.
Poin ini sangat erat kaitannya dengan poin 2 sebelumnya. Sebagian besar Lembaga PAUD baik formal maupun nonformal hanya berada di kota–kota besar sehingga bagi orang tua yang lokasi tempat tinggalnya jauh dari tempat penyelenggaraan PAUD tersebut mengurungkan niatnya untuk mengikutsertakan anaknya. Selain itu, rasio antara jumlah penduduk, dalam hal ini anak usia 0–6 tahun, yang tidak sebanding dengan jumlah lembaga PAUD yang tersedia di suatu daerah juga merupakan hambatan dalam pelaksanaan PAUD.

Pada poin ini dapat kita simpulkan pentingnya pemerataan pendidikan oleh pemerintah. Pemerataan pendidikan memiliki arti pemberian kesempatan yang sama kepada setiap anak untuk mendapatkan pendidikan pada usia dini baik secara formal ataupun nonformal. Salah satu indikator yang menunjukkan pemerataan kesempatan pendidikan ini adalah Angka Partisipasi, yaitu rasio antara jumlah penduduk dengan jumlah penduduk usia sekolah yang dalam PAUD berarti usia 0–6 tahun Dari sisi tenaga pendidik, pendidik pada lembaga PAUD terutama pada jalur formal masih sangat memprihatinkan. Berdasarkan data Pusat Statistik Pendidikan tahun 2009/2010, dari total 276.835 orang guru dan kepala sekolah pada tingkat TK, hampir 80% atau 237.446 di antaranya
berlatarbelakang pendidikan dibawah S1 sedangkan Undang–Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mensyaratkan minimal S1/D4. Sebagian besar pendidik di TK/RA berlatarbelakang pendidikan SPG/SLTA keguruan. Selain dilihat dari segi latarbelakang pendidikan,
tenaga pendidik PAUD tentu harus dilihat kompetensinya dalam menghadapi anak–anak usia 0–6 tahun.

Penanganan anak usia 0–6 tahun tentunya jauh berbeda dengan anak 7 tahun ke atas. Maka dari itu perlunya perhatian pemerintah untuk meningkatkan kompetensi tenaga–tenaga pendidik PAUD dengan diselenggarakannya pelatihan–pelatihan ataupun seminar-seminar. Hal lain yang juga dapat menghambat penerapan Pendidikan Berbasis Karakter pada PAUD adalah dalam metode pembelajaran di lembaga–lembaga PAUD tersebut. Sampai saat ini masih belum ada standar resmi yang ditetapkan pemerintah mengenai kurikulum ataupun metode pembelajaran untuk PAUD. Masing–masing lembaga PAUD dapat menentukan sendiri metode pembelajaran dan kurikulumnya. Menurut Profesor Sandralyn Byrnes, Australia's & International Teacher of the Year, saat seminar kecil di acara Giggle Playgroup Day 2011, gelaran Miniapolis & Giggle Management, Jumat, 11 Februari 2011 lalu yang dikutip oleh http://www.kompas.com, menyatakan bahwa pada taraf PAUD anak–anak sudah diajarkan dasar-dasar cara belajar dan pondasinya. Metodenya tentu saja dengan cara belajar sambil bermain. Karena lewat bermain, anak tidak merasa dipaksa untuk belajar. Saat bermain, otak anak berada dalam keadaan yang tenang. Saat tenang itu, pendidikan pun bisa masuk dan tertanam. Kelas haruslah berisi kesenangan, antusiasme, dan rasa penasaran.

Bukan menjadi ajang tarik-ulur kekuatan antara murid-guru. Seharusnya terbangun sikap anak yang semangat untuk belajar. Lewat bermain yang iarahkan, mereka bisa belajar banyak; cara bersosialisasi, problem solving, negosiasi, manajemen waktu, resolusi konflik, berada dalam grup besar/kecil, kewajiban sosial, serta 1-3 bahasa. Dengan metode pembelajaran yang tepat, yaitu melakukan pembelajaran sesuai dengan
kapasitas anak usia dini, maka pendidikan berbasis karakter akan efektif dilakukan dan hasilnya diharapkan menjadi bekal bagi mereka ketika masuk sekolah dasar bahkan pada pendidikan yang lebih tinggi.

4.2 Pendidikan Anak Usia Dini Pada Jalur Informal.
PAUD pada jalur informal berbentuk pendidikan yang diselenggarakan oleh keluarga ataupun oleh lingkungan. Anak usia 0–6 tahun biasanya akan mengikuti apa yang dilakukan oleh orang tua mereka di rumah dan orang–orang terdekat dilingkungannya. Oleh karena itu, PAUD pada jalur informal ini memiliki peran yang jauh lebih penting karena pada kenyataannya pendidikan karakter seorang anak dimulai dari dalam keluarga. PAUD pada jalur informal ini terbentuk ketika para orang tua mengalami hambatan dalam mengikutsertakan anaknya ke lembaga–lembaga PAUD formal maupun nonformal yang tersedia. Sehingga para orang tua memilih untuk mendidik anak-anaknya sendiri di rumah sebagai bekal mereka memasuki sekolah dasar nantinya. Hambatan yang ada dalam PAUD informal ini adalah kurangnya informasi yang didapat oleh para orang tua tentang apa itu pendidikan berbasis karakter yang mulai dicanangkan oleh pemerintah terurtama bagi para orang tua yang tinggal di pedesaan. Tidak ada kurikulum khusus yang mengatur PAUD pada jalur informal ini, terutama dalam pendidikan berbasis karakter. Sehingga para orang tua biasanya hanya melakukan yang biasa dilakukan oleh para orang tua pada umumnya. Misal, untuk membuat anak tersebut berempati pada orang lain, orang tua hanya perlu mencontohkannya sehingga anak bisa melihat dan meniru yang dilakukan orang tua tersebut. Hambatan lainnya adalah masalah tradisi dan adat istiadat. Kita tahu bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan adat istiadatnya. Masing–masing daerah di Indonesia mempunyai aturan dan prinsip–prinsip tersendiri dalam hal mengasuh anak. Sehingga jika ingin Pendidikan Berbasis Karakter ini dijadikan gerakan nasional, maka perlu disesuaikan dengan adat istiadat masing–masing daerah.

Yang penting untuk selalu ditanyakan oleh orang tua adalah 5W1H, yaitu :
1. What.
Contohnya, apakah pendidikan berbasis karakter itu? Hasil apa yang diinginkan oleh pemerintah dengan pencanangan pendidikan berbasis karakter?
2. When.
Kapan harus dimulai pendidikan karakter ini?
3. Where.
Dimana seorang anak dapat mengikuti pendidikan yang mendukung program pemerintah tersebut?
4. Why.
Mengapa pendidikan berbasis karakter ini menjadi penting sehingga dijadikan sebagai gerakan nasional?
5. Who.
Siapa saja yang dapat menyelenggarakan program ini? Siapa saja sasarannya?
6. How.
Bagaimana cara kita, khususnya orang tua yang tidak mengikutkan anaknya ke dalam lembaga PAUD, dapat ikut mendukung program pemerintah tersebut? Bagaimanakah metode yang efektif utnuk membentuk karakter seorang anak sehingga dapat mencapai tujuan dan hasil yang sama dengan yang dicanangkan oleh pemerintah.

5. REKOMENDASI METODE PEMBELAJARAN PENDIDIKAN BERBASIS
KARAKTER PADA PAUD.
Sampai saat ini PAUD pada jalur formal dan nonformal belum mempunyai kurikulum tetap yang ditetapkan oleh pemerintah. Maka dari itu masing–masing lembaga PAUD harus menyusun dengan baik metode pembelajaran yang efektif supaya pendidikan berbasis karakter ini dapat tersampaikan dengan baik. Beberapa artikel ataupun penelitian telah memberikan banyak rekomendasi tentang metode pembalajaran yang efektif terkait pendidikan berbasis karakter ini. UNESCO salah satunya, menerbitkan buku tentang pembelajaran yang dapat moulding the mind and character young generation. Metode pembelajaran yang dimaksud adalah :

1. Learning To Know,
yaitu proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik menghayati dan akhirnya dapat merasakan dan dapat menerapkan cara memperoleh
pengetahuan, suatu proses yang memungkinkan tertanamya sikap ilmiah, yaitu sikap ingin tahu dan selanjutnya menimbulkan rasa mampu untuk selalu mencari jawab atas masalah yang dihadapi. Hasil yang diharapkan adalah menciptakan peserta didik yang memiliki rasa joy of discovery
. Untuk menerapkan proses belajar seperti ini diperlukan sarana dan prasarana yang memadai, guru yang profesional, dan sistem evaluasi yang terus menerus. Pada PAUD jalur informal, proses pembelajaran ini bisa dilakukan dengan cara membacakan buku cerita atau mengajak anak berkunju
ng ke tempat–tempat yang berkaitan dengan pendidikan, tentunya proses ini harus dijalankan secara konsisten.

2.Learning To Do.
Pada proses belajar ini, sasaran akhir yang diinginkan adalah generasi muda yang dapat bekerja secara cerdas dengan memanfaatkan
IPTEK. Proses belajar seperti ini memerlukan suasana atau situasi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik menghadapi masalah untuk dipecahkan. Seperti misalnya bekerja secara berkelompok. Orang tua dapat pula menerapkan proses pembelajaran ini dengan cara mengajak serta anak ketika akan berkebun atau mengerjakan pekerjaan rumah.

3. Learning To Live Together.
Ketidakharmonisan antar umat manusia yang sering terjadi akhir–akhir ini di Indonesia membuat proses pembelajaran ini menjadi sangat penting. Hasil yang diinginkan pada proses ini adah menciptakan manusia yang tidak hanya bisa bekerja serta memecahkan masalah, tetapi juga mempunyai kemampuan untuk hidup bersama dengan orang lain dengan penuh toleransi, pengertian dan tanpa prasangka. Proses pembelajaran seperti ini perlu menciptakan situasi kebersamaan dalam waktu yang relatif lama.

4. Learning To Be.
Proses pembelajaran ini merupakan hasil akhir dari ketiga proses yang sebelumnya. Diharapkan ketika ketiga proses yang sebelumnya dapat
terlaksana dengan baik dan juga mencapai hasil yang diinginkan, maka pada akhirnya akan tercipta manusia yang mempunyai kepribadian mantap dan mandiri. Proses–proses pembelajaran di atas dapat terlaksana dengan baik tentu saja tidak lepas dari peran pendidiknya, dalam hal ini adalah guru dan orang tua. Dalam hal menanamkan karakter kepada anak–anak usia dini tentunya perlu penanganan yang tidak biasa seperti menangani anak–anak usia sekolah dasar atau lebih tinggi. Para pendidik dianjurkan untuk bisa mengasah kreativitasnya dalam melakukan metode pembelajaran. Kreativitas yang dimaksud di sini adalah kemampuan pendidik dalam meninggalkan gagasan, ide–ide, hal-hal yang dinilai mapan, rutinitas, usang, dan beralih untuk menghasilkan atau memunculkan gagasan, ide–ide, dan tindakan yang baru dan menarik, apakah itu utnuk pemecahan suatu masalah, suatu metode atau alat, suatu obyek atau bentuk artistik yang baru, dan lain–lainnya. Kemampuan menghasilkan atau memunculkan gagasan, ide–ide baru itu terwujud ke dalam pola perilaku yang dinilai kreatif pula (Agung, 2007). Kreativitas para pendidik pada PAUD dianggap perlu dan penting dikarenakan anak–anak usia 0–6 tahun pada dasarnya masih senang bermain daripada harus belajar duduk di kelas dari pagi sampai siang. Maka dari itu, walaupun pendidik pada PAUD sudah memiliki kualifikasi pendidikan yang cukup dan dapat menguasai bahan ajaran yang ditentukan, tetapi kurang mampu mengemasnya dalam kegiatan belajar–mengajar kepada peserta didik, mengakibatkan peserta didik akan cepat bosan dan tentunya bahan ajaran yang disampaikan tidak akan diterima dengan baik oleh peserta didik. Pada PAUD, konsep utama dalam belajar mengajar adalah belajar sambil bermain. Maka pelaksanaan konsep belajar sambil bermain inilah yang memerlukan kretivitas pendidiknya.

Metode pembelajaran lainnya yang dapat dijadikan referensi adalah menyelenggarakan pendidikan alternatif seperti sekolah alam. Saat ini sudah banyak lembaga-lembaga PAUD, terutama lembaga PAUD formal, yang menerapkan konsep sekolah alam. Pada dasarnya sekolah alam ini memiliki keinginan untuk memperkenalkan kembali manusia kepada alamnya. Di sekolah alam ini, anak–anak akan diajarka untuk menghargai dan menghormati alam sekitarnya. Konsep belajar kepada alam ini tentu saja dapat membuat anak– anak lebih menghargai dan mempunyai rasa empati dan simpati terhadap makhluk hidup lainnya. Hal initentu saja sejalan dengan Pendidikan Berbasis Karakter yang dicanangkan oleh pemerintah.
Dalam sebuah artikel, Indonesia Heritage Foundation (IHF) juga merekomendasikan sebuah metode pembelajaran yang dapat mendukung program pendidikan berbasis karakter ini, yaitu Model Pendidikan Holistik. Model Pendidikan Holistik ini memfokuskan pada pembentukan 9 Pilar Karakter kepada para peserta didik. 9 Pilar Karakter yang dimaksud adalah

(1) Cinta Tuhan dan segenap ciptaanNya
(2) Tanggung jawab, Kedisiplinan dan Kemandirian
(3) Kejujuran/Amanah dan Arif
(4) Hormat dan Santun
(5) Dermawan, Suka menolong dan Gotong-royong/Kerjasama
(6) Percaya Diri, Kreatif dan Pekerja keras
(7) Kepemimpinan dan Keadilan
(8) Baik dan Rendah Hati
(9) Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan

Disamping 9 Pilar karakter di atas, IHF juga mengembangkan materi untuk mengajarkan kebersihan, kesehatan, kerapian dan keamanan pada anak.
Metode yang digunakan disebut sebagai “Refleksi Rutin” atau Apperception. Setiap pagi anak-anak diminta untuk mengikuti kegiatan refleksi Pilar selama 15-20 menit sesuai dengan Pilar yang sedang diterapkan saat itu (Maryuni, 2011). Beberapa metode yang telah disebutkan di atas hanya merupakan sebuah referensi dari berbagai hasil penelitian dan buku. Pada PAUD tentu saja yang terutama adalah melakukan metode belajar mengajar yang mangacu pada kemampuan masing–masing anak. Dalam satu metode penerapannya tentu bisa berbeda tergantung dari pribadi anak masing–masing yang menjadi sasaran. Peran orang tua juga tidak kalah pentingnya, walaupun sudah diikutsertakan ke dalam lembaga PAUD baik formal maupun nonformal, karakter seorang anak tetap dibentuk dari keluarga sendiri.

5. SIMPULAN DAN SARAN

5.1 SIMPULAN

5.1.1
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan faktor penting dalam pendidikan di Indonesia. Pada tahun 2011, Pemerintah Indonesia, khususnya menteri Pendidikan Indonesia, mulai mencanangkan Pendidikan Berbasis Karakter sebagai gerakan Nasional yang dimulai dari PAUD sampai Perguruan Tinggi.

5.1.2
Menurut Undang–Undang No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan nasional berfungsi (1) Mengembangkan
kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (2) Pendidikan
nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

5.1.3
Menurut Pasal 28 Undang–Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional : (1) PAUD diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar; (2) PAUD dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal dan/atau informal; (3) PAUD pada jalur jalur pendidikan formal yaitu berbentuk Taman Kanak–Kanak (TK), Raudhatul Atfhal (RA), atau bentuk lain yang sederajat; (4) PAUD pada jalur pendidikan nonformal yaitu dapat berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat; (5) PAUD pada jalur pendidikan informal yaitu berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselanggarakan oleh lingkungan.

5.1.4
Pelaksanaan Pendidikan Berbasis Karakter pada tingkat PAUD formal dan nonformal memiliki berbagai hambatan, di antaranya adalah tingkat
partisipasi masyarakat yang masih rendah. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain faktor ekonomi keluarga, kondisi geografis,
motivasi dari orang tua dan ketersediaan Lembaga PAUD baik formal maupun nonformal.

5.1.5
Hambatan lainnya dalam pelaksanaan Pendidikan Berbasis Karakter ini adalah dari segi tenaga pendidik. Dalam Undang–Undang no. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen mensyaratkan latar belakang pendidik minimal S1/D4. Namun pada kenyataannya, tenaga pendidik untuk PAUD pada jalur formal (TK/RA) sebagian besar memiliki latar belakang pendidikan SPG/SLTA keguruan.

5.1.6
Dari segi metode belajar yang dilaksanakan oleh lembaga–lembaga PAUD formal dan nonformal juga dapat menjadi hambatan tersendiri. Metode
belajar pada tingkat PAUD yang diutamakan adalah belajar sambil bermain. Karena lewat bermain, anak tidak merasa dipaksa untuk belajar. Saat
bermain, otak anak berada dalam keadaan yang tenang. Saat tenang itu, pendidikan pun bisa masuk dan tertanam. Kelas haruslah berisi kesenangan, antusiasme, dan rasa penasaran.

5.1.7
Pada PAUD jalur informal, pelaksanaan Pendidikan Berbasis Karakter juga menemui berbagai hambatan. Hambatan yang paling utama adalah
kurangnya informasi yang didapat oleh para orang tua tentang betapa pentingnya pendidikan anak yang berbasis karakter.

5.1.8
Hambatan lainnya adalah masalah tradisi dan adat istiadat. Kita tahu bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan adat istiadatnya. Masing–masing daerah di Indonesia mempunyai aturan dan prinsip–prinsip tersendiri dalam hal mengasuh anak. Sehingga jika ingin Pendidikan Berbasis Karakter ini dijadikan gerakan nasional, maka perlu disesuaikan dengan adat istiadat masing–masing daerah.

5.1.9
Beberapa rekomendasi pembelajaran yang telah banyak diberikan melalui berbagai penelitian dan pendapat para ahli dapat digunakan sebagai bahan
acuan dalam Pendidikan Berbasis Karakter pada tingkat PAUD. UNESCO telah menerbitkan buku tentang pembelajaran yang dapat moulding the mind and character young generation.

Dalam buku tersebut dijelaskan metode pembelajaran yang efektif adalah
- Learning To Know, Learning To
- Do, Learning To Live Together, dan
- Learning To Be.

5.1.10
Indonesia Heritage Foundation (IHF)
merekomendasikan metode belajar
yang disebut
Model Pendidikan Holistik. Model Pendidikan Holistik ini
memfokuskan pada pembentukan 9 Pilar Karakter kepada para peserta
didik. 9 Pilar Karakter yang dimaksud adalah:

(1) Cinta Tuhan dan segenap ciptaanNya
(2) Tanggung jawab, Kedisiplinan dan Kemandirian
(3) Kejujuran/Amanah dan Arif
(4) Hormat dan Santun
(5) Dermawan, Suka menolong dan Gotong-royong/Kerjasama
(6) Percaya Diri, Kreatif dan Pekerja keras
(7) Kepemimpinan dan Keadilan
(8) Baik dan Rendah Hati
(9) Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan

Disamping 9 Pilar karakter di atas, IHF juga mengembangkan materi untuk mengajarkan kebersihan, kesehatan, kerapian dan keamanan pada anak.
Metode yang digunakan disebut sebagai “Refleksi Rutin” atau Apperception. Setiap pagi anak-anak diminta untuk mengikuti kegiatan refleksi Pilar selama 15-20 menit sesuai dengan Pilar yang sedang diterapkan saat itu (Maryuni, 2011).

5.1.11
Metode pembelajaran lainnya yang dapat dijadikan referensi adalah menyelenggarakan pendidikan alternatif seperti sekolah alam. Saat ini
sudah banyak lembaga–lembaga PAUD, terutama lembaga PAUD formal, yang menerapkan konsep sekolah alam. Pada dasarnya sekolah alam ini
memiliki keinginan untuk memperkenalkan kembali manusia kepada alamnya. Di sekolah alam ini, anak–anak akan diajarka untuk menghargai
dan menghormati alam sekitarnya. Konsep belajar kepada alam ini tentu saja dapat membuat anak–anak lebih menghargai dan mempunyai rasa
empati dan simpati terhadap makhluk hidup lainnya.

5.1.12
Selain metode pembelajaran yang baik, Pendidikan Berbasis Karakter perlu didukung oleh kreativitas dari tenaga pendidik dalam mengemas metode
– metode tersebut menjadi sistem belajar mengajar yang efektif. Kreativitas yang dimaksud di sini adalah kemampuan pendidik dalam meninggalkan
gagasan, ide–ide, hal–hal yang dinilai mapan, rutinitas, usang, dan beralih untuk menghasilkan atau memunculkan gagasan, ide–ide, dan tindakan yang baru dan menarik, apakah itu utnuk pemecahan suatu masalah, suatu metode atau alat, suatu obyek atau bentuk artistik yang baru, dan lain–lainnya

5.2 SARAN
Sesuai dengan pencanangan yang telah dilakukan oleh pemerintah, yaitu Pendidikan Berbasis Karakter sebagai Gerakan Nasional yang akan dimulai dari tingkat PAUD sampai dengan Perguruan Tinggi, maka dapat kita simpulkan bahwa PAUD memiliki faktor yang penting dalam membentuk karakter anak.
Dari berbagai hambatan yang telah diuraikan, maka disarankan berbagai langkah
sebagai berikut :

5.2.1
Perlu adanya pemerataan pendidikan, khususnya pada tingkat PAUD formal dan nonformal sehingga seluruh anak di Indonesia usia 0–6 tahun dapat merasakan PAUD pada jalur formal maupun nonformal. Pemerataan pendidikan yang dimaksud adalah memperbanyak lembaga PAUD formal dan nonformal.

5.2.2
Perlu sosialisasi yang menyeluruh, baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, mengenai apa itu Pendidikan Berbasis Karakter,
bagaimana anak–anak mendapatkannya, dan sebagainya.

5.2.3
Peningkatan kualitas tenaga pendidik PAUD pada tingkat formal dan nonformal melalui pelatihan–pelatihan dan seminar–seminar.
Pelatihan–pelatihan yang dilakukan juga harus menyeluruh dan dapat langsung dipraktekan (tidak hanya berupa materi saja).

5.2.4
Jika memungkinkan, PAUD dapat dijadikan pendidikan wajib seperti SD dan SMP untuk menunjang pemerataan PAUD di Indonesia.

5.2.5
Perlu adanya kurikulum yang tetap untuk PAUD sehingga dapat diterapkan menyeluruh oleh lembaga–lembaga PAUD formal di Indonesia. Kurikulum ini tentu harus disesuaikan dengan keadaan masing–masing daerah terkait dengan keragaman adat istiadat yang berbeda di Indonesia.

5.2.6
Adanya pengalokasian dana oleh pemerintah untuk PAUD dalam hal memberikan fasilitas belajar dan bermain untuk PAUD.

Daftar Pustaka

:: Agung, I. 2010. Perluasan Wajib Belajar 12 Tahun : Suatu Pemikiran. Jurnal Penelitian
Kebijakan Pendidikan : 119–135 Agung, I dan Drs. Suharjono, MM
:: 2007. Inventarisasi dan Kajian Inovasi Pendidikan : Penyelenggaraan Pendidikan Alternatif (Sekolah Alam dan SMP Alternatif). Pusat
Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan Balitbang Kemdiknas : Jakarta
:: Agung, I dan Drs. Suharjono, MM. 2007. Kreativitas Pembelajaran di Jenjang Dikdas.
Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan Balitbang Kemdiknas : Jakarta
:: http://female.kompas.com/read/2011/02/12/19564528/Ada.Apa.dengan.Pendidikan.Anak
.Usia.Dini.di.Indonesia. diakses 1 Juni 2011
:: http://female.kompas.com/read/2009/05/15/20340696/Fokuskan.Pendidikan.Usia.Dini.ke
.Anak.Usia.0-6.Tahun. diakses 1 Juni 2011
:: http://female.kompas.com/read/2011/02/13/05354263/Mengapa.Pendidikan.Anak.Usia.D
ini.Penting. diakses 1 Juni 2011
:: Indonesia Heritage Foundation, Model Pendidikan Holistik. Tersedia : http://
ihf-org.tripod.com
. Diakses 1 Juni 2011
:: Pusat Statistik Pendidikan. 2010. Statistik Pendidikan Nonformal.
Kemdiknas : Jakarta
:: Pusat Statistik Pendidikan. 2010. Statistik Pendidikan TK.
Kemdiknas : Jakarta
:: Yendri, W, Nur Berlian
dan LH. Winingsih. 2007. Pemerataan dan Perluasan Akses
Pendidikan. Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan Balitbang Kemdiknas :
Jakarta

31/08/13

Secercak Cerita Pasir dan Batu

windowsbie7-secercak-cerita-pasir-dan-batu
Dua orang pengembara sedang melakukan perjalanan. Mereka tengah melintasi padang pasir yang sangat luas. Sepanjang mata memandang hanya ada pasir membentang. Jejak-jejak kaki mereka meliuk-liuk di belakang. Membentuk kurva yang berujung di setiap langkah yang mereka tapaki. Debudebu pasir yang beterbangan memaksa mereka berjalan merunduk.

Tiba-tiba badai datang. Angin besar menerjang mereka. Hembusannya membuat tubuh dua pengembara itu limbung. Pasir betebaran di sekeliling mereka. Pakaian mereka mengelepak, menambah berat langkah mereka yang terbenam di pasir. Mereka saling menjaga dengan tangan
berpegangan erat. Mereka mencoba melawan ganasnya badai.

Badai reda, tapi musibah lain menimpa mereka. Kantong bekal air minum mereka terbuka saat badai tadi. Isinya tercecer. Entah gundukan pasir mana yang meneguknya. Kedua pengembara itu duduk tercenung, menyesali kehilangan itu. "Ah.., tamatlah riwayat kita," kata pengembara pertama. Lalu ia menulis di pasir dengan ujung jarinya. "Kami sedih. Kami kehilangan bekal minuman kami di tempat ini."
Kawannya, si pengembara dua pun tampak bingung. Namun, mencoba tabah. Membereskan perlengkapannya dan mengajak kawannya melanjutkan perjalanan. Setelah lama menyusuri padang pasir, mereka melihat ada oase di kejauhan. "Kita selamat," seru salah seorang di antara mereka. "Lihat, ada air di sana."

Dengan sisa tenaga yang ada, mereka berlari ke oase itu. Untung, bukan fatamorgana. Benar-benar sebuah kolam. Meski kecil tapi airnya cukup banyak. Keduanya pun segera minum sepuas-puasnya dan mengisi kantong air. Sambil beristirahat, pengembara pertama mengeluarkan pisau genggamnya dan memahat di atas sebuah batu. "Kami bahagia. Kami dapat melanjutkan perjalanan karena menemukan tempat ini.”

Pengembara kedua heran. "Mengapa kini engkau menulis di atas batu, sementara tadi kau menulis di pasir?" Yang ditanya tersenyum. "Saat kita mendapat kesusahan, tulislah semua itu di pasir. Biarkan angin keikhlasan membawanya jauh dari ingatan. Biarkan catatan itu hilang bersama menyebarnya pasir ketulusan. Biarkan semuanya lenyap dan pupus," jawabnya dengan bahasa cukup puitis. "Namun, ingatlah saat kita mendapat kebahagiaan. Pahatlah kemuliaan itu di batu agar tetap terkenang dan membuat kita bahagia. Torehlah kenangan kesenangan itu di kerasnya batu agar tak ada yang dapat menghapusnya. Biarkan catatan kebahagiaan itu tetap ada. Biarkan semuanya tersimpan." Keduanya bersitatap dalam senyum mengembang. Bekal air minum telah didapat, istirahat pun telah cukup, kini saatnya untuk melanjutkan perjalanan. Kedua pengembara itu melangkah dengan ringan seringan angin yang bertiup mengiringi.

Teman, kesedihan dan kebahagiaan selalu hadir Berselang-seling mewarnai panjangnya hidup ini. Keduanya mengguratkan memori di hamparan pikiran dan hati kita. Namun, adakah kita bersikap seperti pengembara tadi, yang mampu menuliskan setiap kesedihan di pasir agar angin keikhlasan
membawanya pergi? Adakah kita ini sosok tegar yang mampu melepaskan setiap kesusahan bersama terbangnya angin ketulusan?

Teman, cobalah untuk selalu mengingat setiap kebaikan dan kebahagiaan yang kita miliki. Simpanlah semua itu di dalam kekokohan hati kita agar tak ada yang mampu menghapusnya. Torehkan kenangan bahagia itu agar tak ada angin kesedihan yang mampu melenyapkannya. Insya Allah, dengan begitu kita akan selalu optimistis dalam mengarungi panjangnya hidup ini.

29/08/13

Dibalik Kata JIJIK ada Kesehatan Yang BAIK

stikerfbtoon
Pernahkah anda berfikir aktivitas Mengupil (baca: ngupil) itu sesuatu yang sangat menjijihkan??

ya, memang benar,,,
aktivitas ini sangat menjijikan, terlebih lagi ketika kita terlupakan aktivitas tersebut langsung mengambil makanan dengan ujung jari kita. Rasanya takkan bisa dibayangkan bukan??

Menurut Admin Berbagi Ilmu Sang Windowsbie7 hal tersebut perlu dilakukan agar supaya tidak terjadi Ampeg (baca: sesak nafas, sesak penciuman pada hidung) tentunya kita musti melakukannya setiap saat, atau akan menunaikan pembersihan badan (baca: Mandi).

tubuh sehat, alat indra penciuman pun sehat dan tak perlu menjalani terapi berbayar bahkan checkup (baca: periksa).

Sedikit Jijik, namun bermanfaat...
Sedikit menjijikkan, namun indra penciuman jadi lebih tajam...

Catatan: Ingat!!! Perlakuan hal ini yang pasti jangan diluar rumah, agar rasa malu tidak diketahui publik.

Lakukan yang terbaik,
Salam Sukses Selalu Untuk Anda, dan
Salam Berbagi Inspirasi Opini

28/04/13

8 Hal Sepele Mengenai Minum dan Manfaatnya Teh

Banyak alasan kenapa orang minum teh. Jika anda punya kebiasaan itu,teruskan saja. Ada 8 manfaat yang terkandung dalam satu cangkir teh. Apa saja ?
1. Antioksidan dalam teh dapat melindungi tubuh dari efek polusi dan penuaan dini

2. Mengandung sedikit kafein. 1/8 cangkir kopi mengandung 135 mg kafein, sementara 1 cangkir teh hanya mengandung 30-40 mg kafein sehingga tidak membuat sakit kepala atau susah tidur

3. Mengurangi risiko serangan jantung dan stroke. Teh membuat peredaran darah lancar dan bersih. Hasil studi di Belanda memperlihatkan, orang yang minum 2-3 cangkir teh hitam perhari memiliki sedikit resiko serangan jantung daripada yang tidak pernah minum teh.

4. Perkuat tulang. Ternyata bukan hanya kalsium susu yang membuat tulang anda kuat, orang yang rutin minum teh memiliki massa tulang lebih padat.

5. Putihkan Gigi. Anggapan teh bisa membuat gigi nampak kusam rupanya tidak benar, sebab ternyata teh mengandung fluoride untuk mengusir karang gigi. Lebih bagus lagi jika seusai menggosok gigi, anda berkumur dengan teh tanpa gula.

6. Cegah Infeksi. Kandungan teh bisa memperkuat sistem kekebalan dan menangkal serangan infeksi.

7. Atasi kanker. Zat antioksidan bernama polyphenols yang ada dalam teh dapat memerangi kanker.

8. Bebas kalori. Tanpa tambahan pemanis, gula atau susu, teh tetap bebas kalori.

Dengan begitu, teh bagus dikonsumsi bagi orang yang berdiet atau yang ingin mempertahankan berat badan. Coba konsumsi teh hijau sekitar 4 cangkir per hari. Itu dapat membakar lebih dari 80 kalori yang tertimbun di tubuh.

03/02/13

Nasib Pengguna Twitter - 250.000 Akun Twitter Dibobol

 Tercekam Sudah Dunia Maya penuh dengan dunia Scream nan Extrem, fahami dan lihat saja sesama penduduk pribumi pun terkadang suka jail dengan penduduk pula masyarakatnya. seperti di bulan Januari kemarin menyangkut alamat situs resmi milik Presiden SBY di Alamat URL www.presidensby.info situs ini dengan seriusnya menjadi obrolan panas ditiap situs di internet bahkan media surat kabar tidak habis-habisnya membicarakan kasus ini. terlebih lagi yang mencoba mengacak-acak direktori situs tersebut pun dikenakan undang-undang pembobolan media elektronik dan digital.


Tepat awal bulan Februari 2013 ini saya mengamati beberapa topik Hangat seputar dunia jejaring sosial, ternyata tidak kalah serunya dengan berita seperti dibawah ini.
Para pengguna Twitter tampaknya harus waspada, sebab Twitter kemarin (01/02) dalam blog resminya menyebutkan bahwa mereka berhasil mendeteksi adanya upaya untuk mencuri data pengguna mereka. Twitter mengungkapkan ‘hacker’ berhasil mencuri user name, alamat email dan password 250 ribu akun penggunanya. Twitter menyatakan telah mereset akun yang dicuri itu dan mengirimkan email khusus kepada penggunanya mengenai perubahan tersebut.

Tampaknya Twitter dibobol setelah sistem komputer milik media dan perusahaan teknologi Amerika Serikat termasuk The New York Times dan The Wall Street Journal diserang. Hal ini dikemukakan Direktur Keamanan Informasi Twitter Bob Lord yang menduga serangan ini dilakukan oleh pelaku serupa yang menyerang sistem New York Times. Kedua surat kabar AS itu melaporkan bahwa sistem komputer mereka telah diinfiltrasi oleh hacker asal China. (Red.Tabloid Pulsa)

Dengan Metode seperti ini kapankah kita, anak-anak kita dapat menikmati kebebasan maya didunia edukasi?? ya Benar sekali kawan "Hidup tidak adanya Ujian dan Coba memang tidaklah mengasikkan", namun mengapa masih juga ribet layaknya orang kepepet setoran BANK (mumeti bin Pusing).

14/01/13

MENYESALI KIAMAT YANG GAGAL

Agama-agama samawi Islam, Nasrani dan Yahudi ketiganya mengakui bahwa hari kiamat akan terjadi. Dunia dan seisinya akan hancur, manusia akan diadili dan alam yang baru akan dimulai. Tetapi tidak disebutkan kapan akan terjadi, kecuali dalam bentuk lambang dan tamsil. Dalam Qur’an Surat al-A’raf dijelaskan bahwa pengetahuan tentang kiamat haya ada disisi Allah. Tak seorang pun yang tahu kapan akan datangnya kecuali Dia. Mungkin itulah sebabnya kita jarang mendengar ramalan hari kiamat dari alim-ulama Islam.

Benjamin Radford, kolumnis Live Science mencatat 11 ramalan kiamat yang gagal dari 1806 –  1900 - 2011 yang kebanyakan berasal dari para pendeta, ahli astronomi dan peramal seperti Nostradamus. Ramalan kiamat 21 Desember 2012 yang juga gagal tidak berasal dari tokoh atau perspektif agama, tetapi dari salah penafsiran tentang berakhirnya kalender jangka panjang suku Maya oleh orang-orang masa kini. Prasasti suku Maya tidak menuliskan ramalan akan datangnya kiamat.

Bermacam-macam sikap orang menanggapi ramalan kiamat dari yang ketakutan dan membuat bunker bawah tanah sampai yang tidak peduli, tergantung siapa dan seberapa kuat karisma sang peramal. Setelah ramalan tak terbukti, reaksi orangpun beragam; kebanyakan orang yang percaya merasa bergembira, sebagian lain tidak percaya lagi dengan segala jenis ramalan, dan ada pula yang (anehnya) makin percaya dan justru meyakini bahwa kiamat itu dibatalkan Tuhan karena doa mereka; seperti yang pernah saya kutip dalam tulisan saya “Kiamat Sudah Dekat” Stephen Kent, soiolog dari Universitas Alberta mengatakan dampak kiamat yang gagal  21-12-12 lalu dapat menyebabkan penganut setia ramalan itu menderita trauma. Ini karena mereka menganggap hari itu akan menjadi arena pergulatan manusia melawan maut.

Orang-orang yang percaya biasanya yakin pada akhirnya mereka akan menang, baik karena diselamatkan Tuhan atau karena berhasil mambuat perlindungan yang kuat. Mereka memprediksi bahwa pengetahuan khusus mereka akan memungkinkan mereka bertahan hidup, bahwa mereka akan lolos dari maut sementara orang lain belum tentu. Kemenangan yang mereka idam-idamkan terpaksa pupus karena pertandingan yang akan mereka menangkan ternyata batal. Pantas bila mereka merasa kecewa sampai menderita trauma.
Demikian pula perangkap yang dialami penganut aliran agama yang terlalu fanatik.

Mereka merasa bangga karena yakin bahwa mereka lebih berhak memiliki Allah dan sorganya dari pada orang lain. Orang yang taat dan khusuk seharusnya bersikap lemah lembut karena sadar bahwa mereka adalah milik Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Memiliki adalah status yang lebih tinggi daripada dimiliki; dan secara tersirat kita tahu penganut aliran fanatik berkeyakinan bahwa Allah dapat mereka monopoli dan berpihak kepada mereka. Ini adalah kesempitan hati yang menyamar sebagai ketaatan beragama. Sikap memonopoli Allah, tanpa mereka sadari telah melambungkan ego mereka manjadi takabur dan sekaligus mengecilkan arti kebesaran Allah.

Kita menengarai adanya orang-orang seperti itu. Seolah-olah merekalah pemilik sorga (nauzubillah). Mereka selalu manganggap bencana alam sebagai azab Allah bagi umat yang berdosa dan cenderung memandangnya sebagai sesuatu yang positip. Mereka meyakini bahwa Allah menghukum rakyat Aceh dengan tsunami karena telah mengotori serambi Mekah itu dengan kemusyrikan dan kemunafikan. Kalau ada ramalan bencana alam yang gagal, tidak mustahil mereka merasa menyesal karena kehilangan kesempatan menyaksikan Allah menyiksa para pendosa. Wallohu a’lam bissawaab.

Sumber

Baca Juga Artikel Halaman 1

25/10/12

Niat Yang Suci


Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, ''Sesungguhnya segala perbuatan itu dinilai berdasarkan niatnya dan setiap orang akan memperoleh apa yang diniatkannya. Barang siapa yang berhijrah menuju Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya benar-benar menuju Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang berhijrah karena kehidupan dunia yang ingin diperolehnya atau perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya akan sampai kepada segala yang menjadi tujuannya.''

Niat adalah faktor yang menentukan nilai suatu perbuatan. Baik dan buruknya nilai suatu perbuatan tergantung pada niat pelakunya. Bahkan, perbuatan bisa tidak bernilai sama sekali jika tidak didahului oleh niat. Menurut para ahli fikih, niat dapat membedakan mana aktivitas yang merupakan ibadah dan mana yang hanya merupakan tradisi atau budaya. Niat juga dapat membedakan satu bentuk ibadah dari ibadah lainnya walaupun keduanya mempunyai bentuk aktivitas yang sama.

Rasulullah SAW mendudukkan keutamaan niat setingkat dengan keutamaan hijrah. Beliau bersabda, ''Tidak ada hijrah setelah Fath Makkah, tetapi (yang ada) adalah jihad dan niat.'' (HR Muslim). Dalam sebuah hadis qudsi, Rasulullah SAW juga menegaskan, ''Sesungguhnya Allah telah menentukan kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan. Maka barang siapa yang berniat melakukan kebaikan tetapi tidak melaksanakannya, Allah akan menetapkan baginya kebaikan yang sempurna. Dan jika ia melaksanakannya, Allah akan menetapkan baginya sepuluh kebaikan sampai dengan tujuh ratus kali lipat. Dan barang siapa yang berniat melakukan keburukan tetapi tidak melaksanakannya, Allah akan menetapkan baginya kebaikan yang sempurna. Dan jika ia melaksanakannya, Allah akan menetapkan baginya satu keburukan.'' (HR Bukhari).

Niat termasuk perbuatan hati. Inti niat terletak pada hati bukan pada ucapan atau perkataan. Karena itu, hanya Allah SWT dan pelakunya yang mengetahui hakikat niat. Perbuatan seseorang boleh jadi tidak sesuai dengan niatnya.

Perbuatan baik boleh jadi didorong oleh niat yang jahat. Jika demikian, Allah-lah yang akan menilai semua perbuatan berdasarkan niatnya. Niat yang dapat memberikan nilai kebaikan kepada setiap aktivitas adalah niat yang suci. Niat yang suci adalah niat yang mendahului setiap perkataan atau perbuatan yang dimaksudkan hanya untuk mendapatkan anugerah dan ridha Allah SWT. Niat yang suci menunjukkan prestasi kehidupan seorang Muslim. Setiap perbuatan dan perkataannya selalu berorientasi jangka panjang, tidak hanya jangka pendek.

Aktivitas Muslim yang selalu menyucikan niatnya, hanya ditujukan agar Allah SWT senantiasa melimpahkan kebaikan kepada dirinya. Orang yang niatnya suci lebih mengedepankan nilai pengabdian dari setiap aktivitasnya daripada mengharap balasan orang lain. Orang yang niatnya suci akan mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT seperti sabda Rasulullah SAW, ''Barangsiapa yang menghendaki mati syahid dengan niat yang suci, Allah akan tempatkan dia bersama para syuhada walaupun ia mati di atas tempat tidurnya.'' (HR Muslim).

Setiap Muslim hendaknya selalu menyucikan dan meluruskan niat dalam setiap aktivitas baik politik, ekonomi, sosial, seni, budaya, pendidikan, dan lain-lain. Dengan niat yang suci akan hilang egoisme dan senantiasa berorientasi kepada kepentingan orang banyak, bangsa, dan negara. Wallahu A'lam.

Cari Blog Ini

Halaman

Popular Posts

Advertisement

Responsive Advertisement